Bonus Spesial: Sisi Lain Naga Berkepala Dua ~Edisi Tidur Bersama~
Volume 5 - Chapter 14
February 6, 2026
Larut malam, aku terbangun karena merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku. Aduh... ada apa ini... pikirku, dan benar saja, pelakunya adalah Partner. Partner membuka matanya sedikit dan menatap ke arahku.
"Guu..." 『Sori, aku ngelindur.』
Pesan telepati dikirimkan dari Partner. Aduh, aduh... orang ini, kepalanya keras banget... yah, karena kami ini bisa dibilang satu individu, mungkin sama saja. Kau juga pasti sakit, kan? Apes banget.
"Gaa."
Saat Partner bersuara, cahaya hangat keluar dari ujung hidungnya dan masuk ke dahiku. Rasa sakitnya perlahan mereda. Itu skill 〖High Rest〗. Oh, trims ya. Padahal luka segini dibiarkan saja juga bakal sembuh sendiri pakai pemulihan otomatis.
"Gaa."
Partner bersuara lagi. Kali ini sepertinya dia sedang menyembuhkan dahinya sendiri. Rupanya dia mendahulukanku karena merasa tidak enak. Aku terkejut. Partner... kau bisa peka juga ternyata.
『Apa maksudmu?』
Tuk, Partner membenturkan kepalanya lagi dengan pelan. Ti-tidak, habisnya waktu itu kau lebih memprioritaskan nafsu makanmu dan malah membuat Aro yang harus peka padamu...
『...Kau itu kalau menyangkut pihak ketiga, pendendam juga ya.』
Ma-Maaf. Niatnya cuma bercanda, tapi entah kenapa suasananya jadi serius begitu. Aku tidak bermaksud begitu, kok. Kita sudahi saja pembicaraan ini.
Saat aku membalas lewat pikiran, Partner menundukkan lehernya dan menutup kelopak mata. Perasaanku saja atau dia terlihat lebih menyusut dari biasanya. Sepertinya dia berusaha berhati-hati agar tidak membenturku lagi. Aku merasa tingkahnya itu agak lucu, jadi aku tersenyum pahit. Tidak perlu sehati-hati itu, lah. Kita kan berbagi tubuh yang sama.
Partner membuka satu kelopak matanya dan melirik ke arahku.
『...Maaf ya, sudah membangunkanmu.』
Apa sih, hari ini kau anehnya jujur sekali, atau lebih tepatnya rendah hati. Jadi bikin bingung. Apa kau salah makan? Aku juga minta maaf karena tumbuh di tubuh yang merepotkan ini. Nanti kalau evolusi lagi, jangan sampai kepala kita jadi tiga ya. Cukup dua kepala saja. Kalau lebih ramai dari ini, bakal susah diatur.
『Kalau pilihan evolusinya cuma ada yang satu kepala, bagaimana?』
Kalau begitu kita tidak usah evolusi, tenang saja. Kalau sekarang kau tiba-tiba menghilang, sisi leherku bakal terlalu sepi dan rasanya pasti aneh banget.
Tiba-tiba rasa kantuk menyerang, dan aku ingin menguap. Aku memalingkan wajah dari Partner dan menguap lebar. Kalau menguap sambil bertatapan, nanti air liurku bisa muncrat kena dia, dan aku tidak tahu bakal diomeli apa. Partner waktu itu kelihatan kesal banget saat kena air liurku, jadi aku harus hati-hati.
Partner sempat diam sebentar, tapi dia kembali mengirimkan pesan pikiran padaku.
『Kalau begitu, seandainya ada musuh yang super kuat muncul, dan kita tidak bisa apa-apa kalau tetap seperti ini, bagaimana?』
Oou? Benar-benar ada apa denganmu hari ini? Tumben sekali kau ngotot bertanya. Kenapa, tidak bisa tidur?
Aku pikir dia cuma main-main atau mau mengejekku, jadi aku menoleh ke arahnya. Partner mendekatkan wajahnya ke wajahku, menatapku lekat-lekat dari jarak dekat sambil mendongak. Karena kaget, aku menarik leherku sedikit ke belakang untuk memberi jarak. Dibilang puppy eyes atau tatapan memelas pun tidak imut sama sekali. Kalau aku manusia, ditatap naga dari bawah begini pasti sudah berbusa mulutku karena ketakutan.
...Tapi, sepertinya dia tidak bertanya dengan nada bercanda atau iseng. Kelihatannya dia serius. Aku membunyikan leherku, krek, mengubah suasana hatiku, dan menghadap kembali ke Partner.
Kalau situasinya sampai aku harus membuangmu agar bisa selamat, aku akan menganggap cara itu tidak pernah ada sejak awal dan mencari jalan lain sekuat tenaga. Kalau masih tidak ketemu juga, aku akan bertahan sampai titik darah penghabisan, dan kalau masih gagal juga, ya sudah, biarkan saja. Aku tidak tahu situasi macam apa yang kau bayangkan, tapi mungkin aku dan kau akan mati. Kalau dilihat dari hasilnya saja mungkin itu keputusan bodoh, tapi sudah sewajarnya begitu, kan. Kenapa kau mengkhawatirkan hal yang tidak cocok denganmu begitu, sih?
Saling bertatapan lama-lama membuatku malu, jadi aku memalingkan mata. Su-Sudah cukup kan, ayo, cepat tidur? Ya?
『Partner... Dulu kau pernah galau apakah harus membuangku atau tidak kalau situasinya mendesak, kan?』
"Gafoh!"
Ditembak tepat sasaran oleh Partner, aku tersedak tanpa sadar.
Pa-Partner-san... waktu itu kan, anu, aku sama sekali belum mengenalmu... dan aku sedang panik soal Nina... itu lho, cuma terlintas sekilas di kepala... Sekarang aku tidak akan memikirkan hal seperti itu! Benar-benar tidak akan! Ma-Maaf. Ternyata waktu itu pikiranku bocor semua ya. Pantas saja waktu itu kau mengamuk tidak jelas. Ditambah lagi kau mengingatnya dengan jelas... Bukan cuma maaf, tapi, anu, aku benar-benar minta maaf. ...Be-Besok, kau mau makan apa? Partner-san...? K-Kau marah?
Partner yang tadinya memasang wajah serius, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
『Aku tahu kok. Cuma menggoda sedikit.』
Syu-Syukurlah...
『Tapi, besok aku mau makan Graphant kayaknya.』
Ba-Baik... dimengerti. Serahkan padaku, Partner-san.
Setelah puas tertawa, Partner memejamkan mata dan mulai tidur.
...Begitu ya, aku heran kenapa dia tiba-tiba bertanya hal aneh, ternyata apa yang kupikirkan waktu itu masih tersisa di sudut kepalanya. Tenanglah, Partner. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah melakukan hal seperti mengorbankanmu.
Aku menatap wajah tidur Partner sejenak. Cahaya bulan yang masuk samar-samar dari mulut gua menyinari pipi Partner dengan lembut. Sisiknya memantulkan cahaya pucat bulan, pemandangan yang fantastis dan indah. Aku sempat terpesona sejenak, tapi segera sadar kembali. Tidak, tidak, ini adalah Tuan Partner Naga Rakus itu.
Rasa kantuk mulai menyerang, jadi aku meletakkan daguku di tanah dan memutuskan untuk tidur. Kalau begitu, sampai jumpa besok, Partner. Mimpi indah ya.
...Beberapa saat kemudian, aku terbangun karena merasakan sesuatu menabrak wajahku. Sepertinya Partner mengigau, dia menyusupkan wajahnya ke bawah leherku dan bergerak-gerak gelisah.
"Gaaaa... Guuuu..."
Untungnya tidak sakit... kalau dipaksa lepas dan dia bangun lagi kan repot juga...
"Gaaaa..."
Sambil mendengkur pelan, dia menggesek-gesekkan pipinya dengan kuat. Wo-Woy, hentikan! Bikin malu tahu!
Saat aku mencari celah untuk menjauhkan leher, leher Partner malah memanjang mengejarku.
Gu, gugugu... posisinya, posisinya susah! Bangunkan saja ya? Sudah begini, boleh dibangunkan kan!?
"Guu, Gaa, Guu..." 『...Muze, Partner... Guu...』
...Tapi melihat wajah bahagia Partner, entah kenapa aku tidak tega. Apa dia sedang bermimpi menggigit Graphant? Dari igauannya—atau lebih tepatnya pikiran tidurnya—sepertinya aku muncul di mimpinya... Yah, bermimpi tanpa ada aku di dalamnya mungkin lebih sulit bagi Partner. Habisnya aku menempel di samping wajahnya 24 jam sehari. Sejak lahir pula.
Aku menyerah, membiarkan posisi wajahnya terkunci menempel di pipiku, dan memutuskan untuk tidur lagi. Kalau sudah terbiasa, sisik Partner yang dingin ternyata cukup nyaman. Ujung hidungnya sesekali menyentuhku dan terasa geli, tapi itu bukan masalah besar.
Tiba-tiba, aku menyadari Aro tidak ada di dalam kuil. Belakangan ini, Treant dan para laba-laba tidur di luar, tapi seharusnya Aro beristirahat di bagian paling dalam kuil...
Saat aku mencari sosok Aro hanya dengan menggerakkan bola mata, aku melihatnya berjejer dengan Petit Nightmare di dekat pintu masuk, menatap tajam ke arahku.
Tidak... Petit Nightmare menatapku tajam, tapi Aro menatap tajam ke arah Partner?
Ada apa Petit Nightmare-san, apa kau pikir Partner akan direbut olehku? Biasanya kau memang selalu menempel pada Partner, sih. Tapi sebelum itu, asal kau tahu saja, aku dan Partner ini hampir satu individu. Cemburu aneh begitu benar-benar salah alamat, tahu. Ini bukan masalah direbut atau tidak.
Dan ada apa denganmu, Aro-san. Yah, sejak Aro hidup kembali, karena hutan berbahaya dan Partner juga agak berbahaya, secara alami dia selalu menempel padaku, jadi mungkin dia menganggapku semacam orang tua keduanya. Mungkin dia cemburu sama seperti Petit Nightmare, tapi arah cemburunya juga agak salah kaprah.
Aro-san, kenapa kau bersekongkol dengan Petit Nightmare, menatap ke sini dalam diam begitu. Hentikan, itu menakutkan. Lagi pula, kalau dilihat dengan tatapan seperti itu, aku malah jadi sadar diri dan merasa aneh. Tidak ada hal yang mencurigakan terjadi di sini, kok. Contohlah Treant-san, dia tidur dengan gaya seolah berkata "Aku sama sekali tidak tertarik".
Sambil memikirkan itu dengan mata setengah terpejam, kesadaranku perlahan menjauh, dan kelopak mataku memberat. Akhirnya, aku pun tertidur.
"Gaaaaaaaaa!"
Pagi hari, aku terbangun oleh teriakan marah Partner. Aku merasakan sensasi jatuh bebas ke tanah, dan detik berikutnya sisi kepalaku menghantam lantai. Sepertinya kepalaku dijatuhkan dari tempat tinggi. Aku segera mengangkat leher dan mengguncang tubuh untuk membuang kotoran pasir.
A-Ada apa Partner, ada Abyss muncul lagi!?
Saat kulihat, wajah Partner berlumuran lendir dan tanah. Tunggu, lendir... itu air liur, ya? Tapi, kenapa bisa menempel sebanyak itu di wajahnya...
『Brengsek! Kau mengigau, menjadikan aku bantal, terus ngiler seenaknya sebanyak ini, hah!』
Se-Serius!? Bohong!? Kejadiannya begitu!? Ja-Jadi... setelah itu, kepalaku naik ke atas...
『Setelah "itu" yang mana, bangsat! A-Apa yang kau lakukan saat aku tidur!』
Bu-Bukan begitu! Itu bukan salahku!
Aku buru-buru menjauhkan wajah dari Partner, tapi taring Partner dengan cepat menancap di leherku. Sisik Ouroboros yang kuat, ditembus dengan mudah oleh taring Ouroboros yang juga kuat. Darah biru memuncrat, menodai dinding Kuil Dewa Naga. Saat aku mengerang kesakitan karena leherku digigit, Partner melancarkan serangan susulan, menggigitku dua kali lagi dengan ganas. Krek krek.
Hentikan! Serius hentikan! Aku bisa mati! Biarpun aku Ouroboros, kalau digigit sungguhan berkali-kali dari jarak dekat dengan Attack Power milikmu, aku bakal mati!
Aku melihat sekeliling kuil mencari pertolongan.
Aro dan Petit Nightmare melihat pertengkaran aku dan Partner dari sudut kuil dengan tatapan seolah melihat sesuatu yang mengharukan. Tidak ada lagi atmosfer tajam seperti kemarin dari satu orang dan satu monster itu, malah mereka terlihat lega. Mereka saling bertatapan dan mengangguk-angguk. Aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan, tapi aku ini benar-benar dalam bahaya, tahu!? Tunggu, sebentar, jumlah pendarahan ini agak tidak lucu!
Partner! High Rest! Berikan aku High Rest! Mohon maaf, tolong berikan aku High Rest! Aku minta maaf! Sial, percuma, darah sudah naik ke kepalanya! Treant-saaan, Rest! Rest saja juga tidak apa-apa, berikan padaku! Aku kompromi deh! Sialan, dia cuma melihat dari pintu masuk tapi sama sekali tidak mendekat! Kalau terseret pertengkaran internal monster Peringkat A, yang ada dia bakal mati duluan sih!