Bonus Spesial: Reinkarnasi Menjadi Telur Abyss ~Tak Ada Tujuan Lain Selain Kresek-Kresek
Volume 5 - Chapter 13
February 6, 2026
1
Saat aku terbangun, pandanganku dipenuhi oleh selaput kekuningan yang lembek dan bergelambir. Di balik selaput itu, aku bisa melihat langit. Meski sekarang terlihat agak kuning karena terhalang selaput, pasti jika dilihat langsung warnanya biru cerah.
Apa ini? Apa yang terjadi...? Di mana ini? Aku ingin melihat sekeliling, tapi leherku sulit digerakkan. Tangan dan kakiku juga tidak bergerak sesuai keinginan. Apakah memendek...? Eh, kok kakiku ada banyak...?
Dengan susah payah aku meronta dan berhasil keluar dari selaput kuning itu. Anehnya, aku merasa sangat lapar. Saat melihat ke bawah kaki, aku melihat bulu-bulu halus berwarna cokelat. Sepertinya aku berdiri di atas bangkai suatu makhluk.
Di atas bulu bangkai makhluk itu, banyak serangga merah mirip lalat yang berkerumun. Sepertinya bangkai ini sudah mati cukup lama. Lalat merah ini adalah jenis serangga yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Secara naluriah, aku menundukkan tubuh dan menancapkan taringku ke daging berbulu itu. Tercium bau darah binatang. Ada bau busuk yang sangat menyengat bercampur di dalamnya, yang seharusnya menjijikkan, tapi anehnya nafsu makanku tidak berhenti. Malah, bau busuk ini justru membangkitkan selera makanku. Sungguh tak bisa dipercaya.
Aku menekuk kaki-kakiku untuk menempel pada gundukan daging itu, mendekatkan mulut, dan melahap dagingnya dengan rakus. Darah hitam kental merembes keluar dari daging busuk itu, tapi aku sama sekali tidak peduli. Makan, makan. Aku hanya terus makan. Semakin aku makan, semakin aku dipenuhi rasa bahagia dan puas, hingga aku tidak bisa memikirkan apa pun selain memakan daging di hadapanku. Tak peduli seberapa kotor tubuhku oleh darah busuk, entah kenapa aku sama sekali tidak keberatan.
Setelah melahap selama sekitar sepuluh menit, perutku kenyang, dan akhirnya aku bisa berpikir jernih kembali.
Eh, aku punya taring...? Tunggu, tubuhku ini pasti bukan manusia, kan? Posisi tubuh seperti ini mustahil bagi manusia... Begitu keraguan itu muncul, pikiranku langsung bekerja cepat. Jangan-jangan... tubuhku sekarang telah menjadi hewan lain? Tidak mungkin, mana bisa begitu... tapi tidak ada penjelasan lain. Apakah aku bereinkarnasi menjadi hewan lain?
Aku buru-buru menoleh ke belakang. Pada selaput kuning bergelambir yang baru saja kutinggalkan, terpantul bayangan serangga besar yang menjijikkan. Kepalanya berwarna oranye pucat dengan dua titik hitam kecil yang polos. Dari tubuhnya yang berwarna kuning kehijauan pucat, tumbuh delapan kaki yang sangat panjang dan kurus. Aku mencoba mengangkat tangan dengan cepat. Serangga aneh di pantulan itu juga mengangkat kaki depannya yang panjang dengan gerakan yang sama.
"Vweeeeeeek!?"
Seharusnya aku berteriak, tapi yang terdengar adalah suara pekikan aneh. Suara itu sama sekali tidak cocok dengan hewan apa pun yang kutahu.
Bo, bohong, kan...? Ini, aku...? Aku, jadi ini...? Aku tidak ingat banyak tentang kehidupan sebelumnya selain fakta bahwa aku dulu manusia... tapi bukankah karmaku terlalu berat? Apa sih dosa yang kuperbuat di kehidupan sebelumnya?
Saat aku sedang terpaku menatap wajahku sendiri di pantulan selaput itu karena saking syoknya, tiba-tiba di dalam otakku muncul sesuatu seperti jendela pesan kotak ala game.

Be, Baby Abyss...? Eh, apa ini? Jangan-jangan, itu aku?
【〖Baby Abyss〗: Monster Peringkat D-】 【Bentuk larva dari 〖Abyss〗. Memiliki penampilan yang mengerikan, tetapi masih lebih baik dibandingkan setelah berevolusi, jadi jika menemukan individu pada tahap ini, disarankan untuk segera memusnahkannya.】 【Lebih sering melakukan kanibalisme dibandingkan bentuk dewasa, dan saat lapar bahkan bisa memakan bagian tubuhnya sendiri.】
E-Evolusi!? Bisa berevolusi? Tunggu dulu, kalau begitu bakal jadi lebih menjijikkan lagi, dong!? Lebih dari sekarang!? Gak ada mimpi dan harapan sama sekali, woy!?
Tenang, tenanglah diriku. Mari berpikir dingin sejenak. Tidak, ini pasti aneh. Ini pasti mimpi. Kalau aku mencubit pipi, pasti aku akan segera sadar kalau ini mimpi... Aah, kaki depanku tidak sampai ke wajah, sial, bikin emosi saja... Lagian, pipiku di sebelah mana?
Saat aku sedang panik dan menggerak-gerakkan kaki depan dengan heboh, dari selaput telur merayap keluar serangga-serangga menjijikkan yang berwujud sama denganku. Tiba-tiba, kata 'kanibalisme' yang baru saja kubaca terlintas di benakku. A-Aku bakal dimakan!? Baru reinkarnasi lima menit langsung tewas! Tanpa pikir panjang, aku memunggungi saudara-saudaraku itu dan berlari sekuat tenaga dengan kedelapan kakiku. Karena panjang kaki yang tidak rata, bergerak jadi sangat sulit. Struktur tubuh cacat macam apa ini?
Begitu turun dari gunung makhluk cokelat itu, terhampar tanah biasa. Di sekeliling banyak pepohonan, sepertinya ini di dalam hutan. Aku menoleh sekilas ke belakang dan bertatapan dengan wajah hewan cokelat itu. Hewan cokelat itu jelas-jelas sudah jadi bangkai, tapi mata tanpa cahayanya seolah sedang memelototiku. Ada tanduk besar yang tumbuh di dahinya. Rupanya selaput telur itu menutupi bangkai sapi raksasa. Melihat secara keseluruhan, aku baru sadar betapa mengerikannya pemandangan itu.
Pokoknya... pokoknya, aku harus kabur dari sini! Mati dikerubungi makhluk menjijikkan seperti itu, aku sama sekali tidak mau!
Aku terus berlari sekuat tenaga. Setelah merasa agak tenang, aku menghentikan langkah.
Hah... hah, kalau sudah sampai sini, mereka pasti tidak akan mengejar. Kakiku juga sudah gemetar. Aku tidak bisa melangkah lagi.
Aku menekuk kaki dan ambruk di tempat. Gara-gara berlari, aku jadi lapar lagi... saat sedang berpikir begitu, aku melihat bayangan sesuatu mendekat dari balik pepohonan.
Makhluk itu jauh lebih besar dari Baby Abyss, tubuhnya berwarna merah menyala, dan lidah panjang menjulur dari mulutnya. Wujudnya adalah... ya, laba-laba raksasa.

A-Ada makhluk yang jelas-jelas lebih kuat dariku datang!? Aku mencoba kabur seketika, tapi benang yang dimuntahkannya dengan cepat melilit tubuhku. Meski aku meronta sekuat tenaga, benang itu tidak bergeming. Tamat sudah, benar-benar tamat. Wajah laba-laba raksasa itu mendekat ke arahku sambil menjulurkan lidah ungu kemerahannya. Setidaknya... setidaknya, tolong bunuh aku dalam satu gigitan. Hanya doa itu yang bisa kupanjatkan sambil gemetar ketakutan.
"Vweaaaaa!" "Vweaaaaa!"
Tiba-tiba, terdengar dua teriakan. Saat kulihat, ada dua serangga aneh berkepala oranye yang sepertinya mengejarku tadi. Itu Baby Abyss. Penampilan menjijikkan itu tidak mungkin salah lihat. Dua ekor Baby Abyss itu berbaris dan memekik ke arah laba-laba raksasa itu, seolah memprovokasinya.
Me-Mereka, kenapa...? Bukannya mereka mau memakan sesamanya, alias aku? Aku... padahal aku kabur karena takut dan jijik pada kalian, tahu? Tapi kenapa kalian malah mempertaruhkan nyawa untuk menolongku? Aku merasakan mataku memanas. Bersamaan dengan itu, rasa bersalah menyerangku.
Namun, aku segera sadar. Laba-laba merah ini jauh lebih kuat dari kami. Situasi ini hanya berarti makanannya bertambah jadi tiga. Tidak ada yang berubah.
Da-Dasar bodoh! Biarkan saja aku! Cepat lari sana! Harapanku sia-sia, si laba-laba merah menoleh ke arah dua Baby Abyss yang memekik putus asa itu, lalu syut, menyemburkan benang panjang dari mulutnya dan membuat kedua Baby Abyss itu tak bisa bergerak. Kemudian dengan langkah santai dan penuh percaya diri, ia berjalan menuju kedua Baby Abyss itu.
"Vweeeeeeek! Eeeeeekk!"
Aku berteriak sekuat tenaga. Oi! Laba-laba lidah panjang! Kalau mau makan, makan aku duluan sini! Kau takut padaku ya, hah!
Mungkin makian dalam hatiku sedikit tersampaikan, laba-laba merah itu menghentikan gerakannya sejenak dan menoleh kembali ke arahku. Para Baby Abyss di seberang sana kembali memekik putus asa untuk menarik perhatiannya, tapi kali ini target si laba-laba merah tidak goyah. Dia berjalan perlahan ke arahku.
Maju... majulah sini. Biarpun peluang menangnya tipis, aku akan menggigitmu sekuat tenaga dan membunuhmu. Gigiku beradu karena gemetar. Nyawaku sekarang sudah tidak penting lagi. Tapi! Mereka! Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti para Baby Abyss yang mencoba melindungiku itu. Biarpun harus mati bersama, akan kugigit kau sampai mati! Saat aku sudah membulatkan tekad, terdengar pekikan keras yang menggelegar.
"Vweeeeeeeeeeeeeeeekk!"
Terlihat seekor serangga raksasa datang mendekat. Ukurannya bahkan lebih besar satu tingkat dari laba-laba merah itu. Kecepatannya luar biasa. Dia menggerakkan kaki-kakinya yang panjangnya tidak rata itu dengan terampil, meliuk-liuk dengan kecepatan tinggi. Menjijikkan setengah mati. Wujudnya mirip dengan kami, tapi tubuhnya didominasi warna hitam. Dan, dia jauh lebih menjijikkan daripada kami. Apakah itu... bentuk dewasa dari Abyss!? Aku kalau sudah tua bakal jadi seperti itu!? Eh, sebentar, itu sih keterlaluan, kan!? Maaf, tolong jangan sampai aku jadi begitu!
Daripada merasa lega karena bantuan datang, kepalaku lebih sibuk meratapi betapa beratnya dosa masa laluku. Laba-laba merah yang melihat Abyss dewasa itu langsung mencoba kabur, tapi dengan mudah punggungnya ditindih, dan kepalanya digigit putus hingga mati. Kejadian itu berlangsung dalam sekejap. A-Abyss dewasa, kuat banget... tapi menjijikkan...
"Vweeee!" "Vweeee!" "Vweeee!"
Berkat bantuan si dewasa yang melepaskan benang kami, kami saling membelitkan kaki dan menggeliat-geliat merayakan keselamatan kami. Anehnya, aku sudah tidak lagi merasa mereka semenjijikkan di awal tadi.
2
Aku menggoreskan tanda silang di tanah dengan kaki depanku. Krek krek. Hari ini tepat hari ketiga puluh sejak aku bereinkarnasi menjadi Baby Abyss. Kehidupan sebagai monster serangga ini, kalau sudah terbiasa, ternyata cukup nyaman juga. Rutinitasku adalah menunggu orang tua (Abyss yang menolong kami waktu itu sepertinya adalah orang tua kami) membawakan makanan, sambil bermain dengan saudaraku Abi-o dan Abi-ko (dua Baby Abyss yang menolongku waktu itu).
"Vwe?" 『Kenapa, Kak?』
Abi-ko mendekat dan menatap tanda silang yang kuukir di tanah dengan heran. Aku memalingkan pandangan ke kejauhan untuk mengalihkan perhatian, dan Abi-ko ikut melihat ke arah yang sama. Saat aku mulai berlari, dia langsung mengikuti di belakangku. Ternyata dia cukup imut.
Dalam satu bulan ini, aku mengetahui bahwa selain ingatan masa lalu, aku juga memiliki keistimewaan yang cukup unik di dunia ini. Jendela pesan kotak misterius yang bisa kulihat saat bertemu monster... sepertinya hanya aku yang bisa melihatnya. Benda yang biasa disebut 'Status' ini tidak hanya menunjukkan indikator pertumbuhan seperti Lv dan HP (kesehatan), tapi juga kekuatan serangan dan skill yang dimiliki. Dengan ini, aku bisa segera menghindari musuh berbahaya, dan karena aku tahu apa yang akan dilakukan monster yang kutemui, aku bisa mengambil tindakan yang tepat. Saat aku menggunakan ini untuk menyelamatkan saudara-saudaraku dari monster, induk Abyss sangat terharu.
Selain itu... sepertinya ada banyak skill yang bisa dipelajari jika berniat melatihnya. Mungkin ada batasan bahwa skill tersebut harus cocok dengan rasku, Baby Abyss. Aku mencuri-curi waktu dari pengawasan saudara lain dan orang tua untuk berlatih skill, dan setelah trial and error, aku berhasil membuat kami bertiga—aku, Abi-o, dan Abi-ko—menguasai 〖Telepathy〗 (Nenwa) untuk komunikasi pikiran, 〖Rest〗 yang merupakan sihir pemulihan, dan 〖Presence Sense〗 (Deteksi Kehadiran) untuk mengetahui posisi monster di sekitar. Tiga skill ini tidak dimiliki oleh Abyss lain mana pun. Ini adalah buah dari usaha keras kami.
〖Rest〗 dan 〖Presence Sense〗 sangat berguna dalam penjelajahan. Dengan menggunakan skill ini, di antara hampir dua puluh saudara kami, hanya kami bertiga yang levelnya naik dengan stabil. Aku 【Lv: 12/25】, Abi-o 【Lv: 9/25】, dan Abi-ko 【Lv: 8/25】. Baby Abyss lainnya paling tinggi hanya level 3.
Skill 〖Telepathy〗 jika dikembangkan bisa digunakan untuk mencuri dengar pikiran monster lain. Dari informasi yang kumpulkan dengan cara itu, aku tahu bahwa Ayah Abyss kami ternyata gugur bersamaan saat melawan Graphant demi membuat tempat penetasan (media tanam) untuk kami, dan sekarang Ibu Abyss membesarkan kami seorang diri. Kisah yang cukup mengharukan. Aku menangkupkan kaki depanku, berdoa diam-diam untuk ayah di kehidupan ini yang belum pernah kutemui. Ayah, aku berjanji akan menjadi Abyss yang hebat...!
Kami bertiga, aku, Abi-o, dan Abi-ko menyelinap keluar dari sarang untuk melakukan penjelajahan rahasia. Akhirnya, kami berhasil mengepung dan menghabisi musuh bebuyutan masa lalu kami, laba-laba merah Taran Rouge. Sebenarnya peluang menang kami sudah cukup besar karena level individu itu cukup rendah, tapi kami cukup kewalahan... Kami berhasil membunuhnya karena dia bersikeras tidak mau kabur. Kecepatannya di atas kami. Kalau dia mau kabur, pasti bisa, tapi sepertinya harga dirinya tidak mengizinkan dia lari dari sekadar Baby Abyss.
Saat kami sedang bersorak gembira... seekor Abyss dewasa muncul dari kedalaman hutan. Itu bukan Ibu, juga bukan Paman yang sering datang bermain. Dan lagi... saat kulacak dengan 〖Telepathy〗, aku merasakan permusuhan yang nyata.
『Hihi... hihi... Kelihatan enak... Serahkan... Enak... Hihi...』
Abyss itu meneteskan air liur dari mulutnya. Ini... adalah laba-laba merah yang kami kalahkan mati-matian. Tapi... tapi, kami belum sanggup melawan Abyss dewasa... Apalagi Abyss ini levelnya sedikit lebih tinggi dari Ibu kami. Sial, tapi kita harus mundur, Abi-o...
『Gak, gak mau... Ini, bukti usaha dan persahabatan kita! Jangan sampai diambil orang seperti dia...!』
Abi-o... aku mengerti perasaanmu, tapi tidak bisa. Kita masih larva. Mustahil menang. Meski kita yang paling hebat di antara para bayi, jangan salah paham. Anak kecil tidak bisa melawan orang dewasa. Perbedaan statusnya terlalu jauh. Tidak ada peluang menang satu banding sejuta pun. Kecepatan dan kekuatan serangan, selama itu tidak sebanding, kita tidak punya harapan menang.
『Hah! Kalau begitu, kau mundur saja!』
Tiba-tiba Abi-o melompat maju. O-Oi! Sudah kubilang jangan! Aku berpikir untuk mengejarnya, tapi aku ragu sejenak. Dengan statusku, seharusnya aku bisa menyusul Abi-o. Tapi jika aku melakukannya... aku pasti akan dibunuh. Karena aku bisa melihat dengan jelas kekuatan Abyss dewasa itu, aku tahu bahwa jika aku maju, peluang selamatnya nol, dan itu membuatku ragu. Padahal saat baru lahir... Abi-o tanpa pikir panjang langsung menerjang untuk menolongku.
Aku segera sadar kembali, tapi saat aku mulai berlari, semuanya sudah terlambat. Abyss itu bergerak cepat dan menggigit hancur separuh tubuh Abi-o. Tubuh Abi-o terguling, kakinya bergerak lemah.
Abi... o? Be-Bertahanlah, Abi-o! Benar, aku akan merapal 〖Rest〗 padamu sekarang! Ya?
Saat aku mendekat dengan sempoyongan ke arah Abi-o, terdengar suara 〖Telepathy〗 darinya.
『Maaf, ya... Aku, bikin kesalahan. Seharusnya aku, dengar kata-katamu, seperti biasa... Kau itu hebat, bisa melihat segalanya... Tapi, entah kenapa, aku merasa kesal akan hal itu... Aku, jadi iri padamu... Makanya, saat kau bilang menyerah begitu saja, aku malah memberontak...』
Abi-o... jangan bicara seperti mau mati begitu... Ti-Tidak apa-apa. Di dunia ini, ada skill untuk memulihkan anggota tubuh yang hilang! Kalau kita berusaha mempelajarinya, pasti...! Aku akan berusaha! Jadi...!
『...Bawalah Abi-ko, lari... Aku, sudah tidak tertolong. Kau pintar, pasti paham kan?』
Mendengar itu, aku tersadar. Abi-o... sudah tidak bisa diselamatkan. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah membawa Abi-ko lari. Aku kembali ke tempat Abi-ko, menggendong Abi-ko yang mematung tak bisa bergerak, lalu berlari.
Abyss itu... aneh. Sejak awal, dia penuh dengan niat membunuh terhadap kami. Kalau terus berada di dekat sini, Abi-ko juga dalam bahaya! Sekarang, sekarang... hanya bisa lari...
"Vwe...?" 『A, apa kita akan meninggalkan Kak Abi-o...?』
Abi-ko memekik dengan suara gemetar. Aku mengabaikannya dan berlari tanpa memikirkan apa pun. Kalau kembali ke sarang, ada Ibu Abyss. Ada Paman Abyss juga. Kalau bekerja sama, satu ekor Abyss seperti itu pasti bisa diatasi. Aku pasti akan membalaskan dendam Abi-o...!
『Hihi, hi, hihi』
Dari belakang, terdengar suara basah dan renyah, suara sahabat sekaligus saudaraku, Abi-o, sedang dimakan.
Sesampainya di sarang tempatku melarikan diri... aku terpaku. Tempat itu telah menjadi neraka. Di gundukan daging busuk sapi raksasa Graphant yang menjadi tempat penetasan Baby Abyss, kini dipenuhi oleh Abyss dewasa asing yang tak dikenal. Di sekitarnya, berserakan bangkai-bangkai Baby Abyss yang tubuhnya terkoyak-koyak. Itu saudara-saudaraku. Di dekatnya, ada sisa-sisa tubuh yang sepertinya Ibu dan Paman...
Aku dan Abi-ko menyembunyikan hawa keberadaan dengan skill 〖Stealth Step〗, memandang semua itu dengan tatapan kosong dari balik pepohonan. Berkat 〖Presence Sense〗, kami menyadari pembantaian ini sebelum ketahuan. Aku dan Abi-ko tidak bisa berbuat apa-apa... hanya bisa menatapnya. Tidak ada 〖Telepathy〗 apa pun dari Abi-ko. Aku pun tidak berminat mengirimkan pesan apa pun.
Rasa marah sudah terlampaui, kini hanya tersisa kehampaan. Rasanya aku ingin melompat keluar dan mengakhiri semuanya. Sarang Abyss yang kucintai sudah tidak ada lagi di mana pun. Kaki depan dari sisa tubuh yang sepertinya milik Ibu bergerak lemah. Dia masih hidup. Tapi kemudian Abyss lain melompat ke arahnya dan memakan tubuhnya tanpa ampun.
Sebelum aku sempat melangkah maju dengan goyah, Abi-ko sudah maju duluan. Melihat itu, aku jadi tersadar kembali. Aku menahan punggung Abi-ko, dan dengan paksa membawanya pergi dari sana.
『Sudah, sudah tidak kuat... Ini batasnya... Aku sudah tidak mau lagi...』
Beberapa saat kemudian, pesan 〖Telepathy〗 datang dari Abi-ko.
Abi-ko... ayo kita balas dendam pada mereka. Kita akan memusnahkan sarang mereka sampai tak bersisa.
『Hal seperti itu, mana mungkin bisa...』
Tidak, kita bisa. Karena aku punya... mata yang bisa melihat status. Aku pasti akan mendapatkan kekuatan untuk mengalahkan mereka, dan pasti akan membalaskan dendam.
Beberapa waktu kemudian, Abyss yang menyerang sarang kami waktu itu mulai berkeliaran di sekitar sini. Setelah bersembunyi dan mencuri pikiran mereka lewat 〖Telepathy〗, ternyata mereka adalah Abyss yang datang dari sarang besar yang jauh. Rupanya baru-baru ini lahir bos baru, dan atas perintah bos itu, mereka keluar melakukan penjelajahan untuk memperluas wilayah berburu. Dan di tengah perjalanan itu, mereka menemukan pemukiman kecil Abyss dan memusnahkannya sesuai perintah.
Amarahku membara. Aku akan menghancurkan sarang mereka, sama seperti mereka menghancurkan sarang kami. Bos mereka itu juga akan kugigit sampai mati.
3
──Sejak saat itu, tujuh tahun telah berlalu. Terasa sangat lama sampai di titik ini. Setelah berhasil kabur bersama Abi-ko, aku membangun sarang Abyss kecil yang bahagia di tanah yang jauh. Setelah hidup stabil, aku menghabiskan hari-hari dengan leveling yang efisien menggunakan skill unikku 〖Status Inspection〗, serta mempelajari skill baru. Aku yang dulu hanya seekor Baby Abyss, telah melalui evolusi dari 〖Baby Abyss: D-〗, 〖Abyss: C〗, 〖Abyss Knight: B-〗, dan akhirnya menjadi 〖Abyss Brave: A-〗. Ukuran Abyss Brave kira-kira sebesar Graphant, tapi statusnya jauh melampaui Graphant. Terlebih lagi, sejak menjadi spesies ini, aku mendapatkan beberapa skill yang sangat kuat. Tubuhku diselimuti cahaya keemasan. Penjelasannya sederhana: 【Abyss yang berharap menjadi pahlawan sejati.】
Saat menjadi Abyss Knight, skill gelar 〖Final Evolver〗 muncul di statusku, jadi aku sempat putus asa mengira ini batas akhirku. Namun, saat aku sedang berjalan di hutan dan dikejar-kejar oleh seorang pendekar pedang berambut emas yang gigih, aku memancingnya ke sarang cintaku bersama Abi-ko dan menggunakan gerombolan anak-anak kami untuk menghabisinya. Saat itulah aku mendapatkan skill suci 〖Path of Humanity〗, dan tiba-tiba gelar 〖Final Evolver〗 menghilang, lalu di pilihan evolusi muncul 〖Abyss Brave〗. Itu benar-benar benang penyelamat dari langit.
"...Sudah waktunya pergi?"
Wanita cantik berambut hitam yang duduk di atas batang kayu itu bergumam pelan dengan nada kesepian. Dia adalah Abi-ko. Dia mempelajari 〖Human Form〗 di evolusi selanjutnya. Menggunakan skill ini, kami berhasil menjalin aliansi dengan manusia yang tinggal di sini, suku Lithoviar, yang dulu sempat berperang dengan kami.
Omong-omong, Abi-ko melalui jalur evolusi 〖Baby Abyss: D-〗, 〖Abyss: C〗, lalu 〖Abyss Priest: B-〗.
Ya, ayo pergi, Abi-ko. Demi hari inilah aku terus berlatih sampai sekarang.
Kami tidak akan melibatkan anak-anak kami. Jumlah dan kualitas musuh, terus terang, jauh di atas anak-anak aku dan Abi-ko. Mereka tidak akan banyak membantu.
Ras bos musuh yang kami benci itu adalah... 〖Mother: B+〗. Dia memiliki kekuatan yang menguntungkan untuk membesarkan keturunan, dan daya reproduksinya jauh di atas kami. Ditambah lagi, karena beraliansi dengan suku Lithoviar, kami membatasi perluasan sarang agar tidak melebihi ketentuan.
Kekuatan bos itulah yang membuatku sempat yakin bahwa evolusi terakhirku mentok di B-. Aku juga berusaha mati-matian mengumpulkan skill gelar dan informasi agar bisa berevolusi menjadi lebih kuat, tapi berdasarkan hasil verifikasi, sepertinya untuk mencapai 〖Mother〗 ada syarat harus berjenis kelamin betina dan harus dibesarkan langsung oleh 〖Mother〗. Itu adalah lawan yang seharusnya mustahil kami kalahkan.
Jujur saja, aku bisa menjadi 〖Abyss Brave: A-〗 adalah berkat kebetulan si rambut emas itu datang. Kalau tidak secara ajaib mendapatkan skill misterius dan evolusi baru itu, peluangku menang melawannya tidak ada satu banding sejuta pun. Terima kasih, orang berambut emas yang kalau tidak salah namanya Irushia. Kematianmu tidak akan kusia-siakan.
Aku bersama Abi-ko (dalam mode Abyss), hanya berdua menyerbu lubang besar yang menjadi sarang Mother. Cuci lehermu dan tunggulah. Kami akan membasmi mereka tanpa sisa.
Aku dan Abi-ko menghabisi kerumunan Abyss, Heavy Abyss, dan Mother Guard yang menyerang, mengurangi jumlah mereka dengan pasti. Akhirnya Mother yang sudah tidak sabar meruntuhkan dinding dan menampakkan wujudnya. Tentakel yang menggeliat dalam jumlah banyak, dan empat mata yang mengerikan. Di hadapan tubuh raksasa Mother yang abnormal itu, aku dan Abi-ko tidak bisa berhenti gemetar. Tentu saja, ini gemetar karena semangat bertarung. Hari ini, adalah hari yang telah kami tunggu selama tujuh tahun...
Ibu, Paman... dan Abi-o, saudara-saudaraku... maaf membuat kalian menunggu selama ini. Aku membayangkan sosok kerabatku yang terbunuh satu per satu. Yah, sebenarnya mereka semua punya tubuh dan wajah yang sama jadi aku tidak bisa membedakannya, tapi yang penting adalah perasaannya.
"Vweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek!"
Mother meraung.
"Vweeeeeeeeeek!" "Vweeeeeeeeeeeeeeeeeek!"
Aku dan Abi-ko membalas raungan itu tanpa mau kalah, menendang para kroco, dan menerjang ke arah Mother.
4
Pertarungan berlangsung selama sehari penuh. Namun, akhirnya saat-saat terakhir tiba. Skill Mother, 〖Eat and Regenerate〗 yang memakan temannya sendiri untuk memulihkan diri, sempat membuat kami kewalahan. Tapi aku yang kehabisan MP akhirnya memutuskan untuk bertaruh dalam satu serangan habis-habisan, dan aku memenangkan taruhan itu. Pertarungan yang sangat tipis. Ternyata, Mother memang kuat. Mungkin seharusnya aku menaikkan level sedikit lagi... tapi yah, hasilnya oke.
Pada akhirnya kami... tidak memusnahkan sarang Mother. Setelah mengalahkan Mother, aku mendekati bangkai monster di dekat sana yang ditempeli selaput telur Baby, tapi di sana ada seekor Abyss yang dengan gigih menyerang kami. Padahal dia tidak mungkin menang melawanku yang sudah mengalahkan Mother. Tapi, ibuku juga pasti melakukan hal yang sama. Memikirkan itu, dadaku tiba-tiba terasa sesak. Abi-ko dengan lembut menyentuh kaki depanku yang gemetar terarah ke Abyss itu, lalu menurunkannya.
『Ayo pulang?』
Aku menundukkan kepala dalam diam. Kemudian kami berdua meninggalkan sarang Mother dan kembali ke sarang kami. Di sarang, anak-anak berkerumun menyambut kami. Mereka marah karena kami pergi menyerbu sarang musuh tanpa mengajak mereka. Maaf ya, tapi ini hasil pertimbangan yang matang. Maafkan keegoisan Ayah.
"Guaaaaaa!"
Aku mengelus kepala anak-anak dengan kaki depanku. Eh, digigit. Hahaha, marahnya lumayan serius nih...
"Guaaaaaa! Guaaaaaa!"
Cih, berisik amat. Apa ini, suara apa? Naga?
Naga setengah matang macam itu, biar Sang Abyss Brave Pahlawan dari Abyss ini yang menjadikannya abu. Aku mengarahkan kaki depanku ke arah suara itu dan melepaskan 〖Brave Wave〗. Itu jurus andalan Abyss Brave. Terasa kena, aku menang. Detik berikutnya, rasa sakit yang luar biasa menjalar di kepalaku dan aku terbangun.
Tanpa sadar aku sudah berada di kuil Dewa Naga. Partnerku (kepala naga satunya) memelototiku dengan wajah murka. Di wajahnya ada garis merah miring, seolah baru saja terkena 〖Wind Scythe〗 (Kamaitachi) secara telak.
"Gaaaaaa!" 『Kau, jangan ngelindur woy!』
I, ini pertama kalinya aku melihat Partner semarah ini... Eh, apa ini? Apa yang terjadi? Tunggu, mana istriku tercinta Abi-ko dan anak-anakku? Saat memikirkan itu, taring ditancapkan ke kepalaku. Sakit banget.
Aku mencari istriku Abi-ko dan anak-anak, menepuk-nepuk sekitar dengan kaki depanku. Tanganku menyentuh sesuatu. Itu Abyss. Syukurla...
『Gak syukur woy!? Kau ini ngomong apa! Buang! Buang! Menjijikkan!』
Saat aku masih linglung, Aro menatapku dengan cemas dari dalam kuil.
"Tu, Tuan Naga...?"
Melihat sosok Aro, akhirnya otakku mulai sadar. ...Eh, mimpi? Itu tadi, semuanya mimpi!? Abi-ko-ku cuma mimpi!?
Aku buru-buru melempar Abyss yang kupegang. Rupanya karena tadi bertarung melawan kawanan Abyss saat penaklukan Mother, aku jadi bermimpi gila seperti itu. Abyss ini pasti sisa-sisa keturunan Mother.
『Oi, cepat bunuh itu pakai angin! Kalau kabur nanti beranak pinak lho!』
Aku mengarahkan fokus sayapku ke Abyss yang melarikan diri itu, hendak menembakkan 〖Wind Scythe〗. Tapi... aku tidak bisa. Di benakku, terbayang sosok Abi-ko yang dengan lembut menghentikan kakiku. Aku... tidak bisa... Akhirnya aku menurunkan sayapku. Partner menatapku dengan wajah garang.
Partner... Abyss juga punya... kehidupan serangga Abyss-nya sendiri... mereka hidup dengan gigih...
『Masih ngelindur ya kau, oi!』
Aku digigit lagi.