Bab 5: Serangan Abyss - Bagian 3
Volume 5 - Chapter 10
February 6, 2026
5
Setelah selesai makan, aku meninggalkan sisa gunungan daging Graphant dan mengawasi dari jauh. Abyss susah dicari dari pihak kita, tapi kalau dipancing makanan pasti gampang muncul.
Untuk menemukan sarang Abyss, pertama harus tangkap Abyss dan suruh dia memandu. Karena itu pancing pakai daging, lalu beri damage besar dari jauh pakai skill Kamaitachi buat melemahkan, itu rencananya.
Tiba-tiba lihat ke samping, terlihat anak-anak laba-laba perutnya buncit banget guling-guling (goro-goro). ...Mereka kelihatan puas, syukurlah. Selagi memandangi anak-anak laba-laba yang main-main, dua ekor Abyss muncul dengan suara gasa-gasa yang tidak enak.
Mengincar momen saat Abyss-abyss itu menyentuh sisa daging Graphant, aku menggerakkan sayap melepaskan dua Kamaitachi. Pisau angin mengenai ujung tubuh dua Abyss. Kalau kena telak bakal mati, jadi sengaja incar setengah badan. Abyss terpental dengan mudah sambil menyemburkan cairan tubuh, berguling di tanah lalu menabrak pohon.
"Ve, ve..."
Dua Abyss berdiri sempoyongan. Keduanya kehilangan sebagian besar kaki di satu sisi tubuhnya. Nah, mulai sekarang antarkan kami ke sarang kalian. Saat aku berpikir begitu dan hendak mendekat dengan semangat, anak-anak laba-laba serentak menyerbu (saaa) ke arah Abyss.
...Eh, mereka ngapain? Selagi aku bengong, delapan ekor itu mengepung Abyss yang jatuh dan mulai menggigitnya. Gigitan menyerang dari segala arah ke tubuh Abyss yang berusaha kabur.
Kalau aku ikut campur sembarangan, bisa-bisa salah bunuh anak laba-laba. Tapi, Abyss juga belum sepenuhnya kehilangan kemampuan tempur. Kalau kena serangan balik telak, anak-anak laba-laba malah bisa mati.
"Veeeeeee!"
Abyss mengibaskan tubuh, anak-anak laba-laba terpental ke sekeliling. Untungnya cuma berusaha menepis dan tidak pakai tenaga berlebih, sepertinya tidak ada anak laba-laba yang luka parah.
...Tapi, anak-anak laba-laba pantang menyerah menyemprotkan jaring laba-laba ke Abyss, mencoba mengikat gerakannya. Abyss merobek jaring dengan mudah, membuka mulut besar menyerang anak laba-laba.
Aku memenggal kepala Abyss yang sedang melawan anak-anak laba-laba dengan Kamaitachi.
Mendapatkan 88 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 88 poin pengalaman.
...Y, yah, masih ada satu lagi kan?
Begitu Abyss kehabisan tenaga, anak-anak laba-laba mengerumuni bangkai Abyss lagi. Nafsu makan mereka gimana sih, nggak meledak apa badannya.
Selagi aku menghela napas memikirkan itu, anak-anak laba-laba mulai menyerang Abyss satunya. Berhenti dua langkah dari jangkauan serangan, membidik kaki tipis Abyss dan menembakkan jaring. Mereka ingat tadi dipentalin, jadi belajar rupanya.
Abyss yang setengah badannya hancur meronta mencoba menghindar, tapi dikepung delapan ekor nggak ada obatnya. Terus-terusan dijerat benang yang terbang, sampai nggak bisa gerak. Terhadap Abyss yang lumpuh total, delapan anak laba-laba menyerang hati-hati dari titik buta.
Kalian masih kurang makan!?
Tanpa sempat aku hentikan, Abyss kedua dalam sekejap berubah jadi bola benang putih, berguling (gorori) di tanah. Karena Abyss masih meronta sedikit, bola putih itu bergoyang kiri kanan. ...Apa ini, makanan darurat?
Di dekat bagian mulut Abyss, bergerak naik turun lemah. Melihat itu anak-anak laba-laba saling pandang, satu ekor memuntahkan benang memperkuat bola itu. Beneran nggak ada ampun ya... lagian, kalau dibunuh aku yang repot...
Yah, anak laba-laba cuma monster Peringkat E. Dengan perbedaan status ini, susah memberi luka fatal ke Abyss yang peringkatnya di atas. Kalau anak laba-laba sudah tenang, pisahkan saja, lalu selamatkan Abyss-nya...
Beneran deh, nggak nyangka bakal ada saatnya aku harus nyelametin Abyss.
Mendapatkan 63 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 63 poin pengalaman.
ABYSSSSS!! Dia mati lemas! Wajar sih!
Oi, anak-anak laba-laba, tolong dong! Aku mau tangkap Abyss hidup-hidup! Harus nyari lagi kan jadinya! Kalau nggak dididik dikit, beneran nggak bakal bisa dikontrol nih mereka.
Anak-anak laba-laba tidak mempedulikan Abyss yang sudah jadi bola, mereka berkeliaran ke sana ke mari dengan gelisah (fura fura). ...Hm, ini... kok, firasatku nggak enak ya...

Evolusi sudah bisa... semuanya kah? Semuanya ya, soalnya mereka dasarnya ngelakuin hal yang sama terus. Di saat begini... Yah, karena E Rank, berburu Abyss yang sekarat juga pasti udah cukup buat evolusi, tapi kenapa sekarang...
Anak-anak laba-laba gelisah, mondar-mandir di tempat yang sama (kasa kasa), berkeliaran dengan mencurigakan. Salah satu dari mereka mendekatiku dengan sempoyongan. Sobatku menurunkan wajah perlahan, dan anak laba-laba itu mendekat ke Sobatku. Bukan aku, tapi Sobatku ya tujuannya.
Yang mutusin buat mungut kan Sobatku, yang pertama kali dilihat pas lahir juga Sobatku, apa mereka ngerti ya. Tapi, anak laba-laba itu tidak melakukan apa-apa, cuma berkeliaran di sekitar wajah Sobatku seolah menempel.
'Kenapa nih mereka?'
Sobatku menatapku cemas.
Nggak apa-apa kok. Mungkin cuma evolusi biasa. Di saat begini, cuma itu kemungkinannya.
Saat aku mengamati dengan seksama, anak-anak laba-laba serentak berhenti bergerak. Kepala, perut, dan kaki mereka mulai gemetar (puru puru). Sambil merasa cemas aku melihat, salah satu getarannya berhenti. Otomatis pandanganku tertuju ke sana. Tubuh anak laba-laba itu mulai mengembang (guuu). Anak laba-laba yang tadinya hanya sebesar dua telapak tangan manusia, berubah menjadi seukuran anjing sedang.
Kulitnya yang tidak kuat menahan pengembangan meregang kencang, kulit di bagian leher robek. Kulit yang menutupi kepala anak laba-laba terkelupas (perori), memperlihatkan isinya. Kepala yang muncul dari kulit terlihat lembut seperti kulit bayi. Terpapar udara, kepala itu berdenyut gugup (hyuku hyuku). Kalau dilihat dengan mata menyipit, terlihat sedikit bulu halus.
I, ini, ganti kulit ya. Kupikir ada apa. Gu, gu, dia meregangkan tubuh, melepaskan diri dari kulit yang menutupi perutnya seolah melepas kostum badut.
Terakhir dia memiringkan tubuh dan meliukkan kakinya, sepenuhnya lepas dari kulit lama. Bangkit berdiri, lalu menggoyangkan tubuh sekali lagi (buru buru). Kulit yang terpapar udara perlahan mengeras.
Dimulai dari satu yang lepas dari kulitnya, tujuh sisanya juga menyusul melepas kulit. Jatuh ke samping (bitan bitan), menggeliat melepas kulit lama (kune kune). Setelah lepas sepenuhnya, mereka menggoyangkan tubuh untuk membiasakan diri dengan udara luar, lalu, astaga, mereka mulai melahap kulit yang baru saja mereka lepas (mosha mosha).
...Ra, rasanya aku baru saja melihat sesuatu yang langka.
Coraknya tidak berubah, semuanya punya kulit hijau cerah. Sepertinya mereka berevolusi di jalur Aranea. Aranea sih, harusnya sifatnya tenang...
Induk Aranea lebih besar dari manusia. Laba-laba sekarang paling cuma seukuran anjing sedang. Mungkin butuh satu evolusi lagi untuk mencapai bentuk induknya. Kalau sudah evolusi sempurna mungkin sifatnya bakal lebih tenang, mari berharap begitu. Coba cek status salah satunya.

Hmm hmm, Kids Aranea ya. Kalau dipikir-pikir, dulu aku juga punya jalur evolusi tipe Kids.
Sobat, tolong pulihkan HP laba-laba itu dulu. Aku mengirim pikiran begitu, tapi entah kenapa tidak ada respon dari Sobatku. Aku heran, memiringkan kepala melihat ke arah Sobatku. Ada apa Sobat, ada masalah?
Sobatku menempelkan dagu ke tanah, berhadapan dengan monster hitam yang entah sejak kapan muncul.
Monster hitam itu menggerakkan banyak kakinya (gasa gasa), mendekat ke Sobatku. Sobatku kaget dan mendongak, tapi benang hitam yang ditembakkan monster itu menempel di sisik Sobatku. Monster itu menelusuri benang itu dan melompat ke wajah Sobatku, lalu menempel di dahinya.
"Gaa! Gaa!"
Sobatku kaget, mengibaskan leher bun bun.
A, apa itu... laba-laba, kan?
Saat aku menghitung Kids Aranea, cuma ada tujuh. Awalnya ada delapan. Kurang satu.
Sepertinya satu ekor berevolusi bukan jadi Kids Aranea, tapi jadi wujud hitam lain. Mungkin itu anak laba-laba yang ada di dekat Sobatku sebelum evolusi. Apa karena pengaruh Ouroboros dia jadi berevolusi aneh...?
Saat aku menatap curiga laba-laba hitam itu, wajah manusia putih bersih memelototiku.
"Guo!?"
Aku kaget dan bersuara. Kalau dilihat baik-baik, cuma ada semacam topeng putih yang menempel di laba-laba hitam. Di bawah topeng itu ada mulut lain yang hampir tersembunyi, dan di sekitar topeng ada delapan mata merah berjejer. Wajah manusia ini... bukan wajah, tapi semacam cangkang...?
Topeng putih itu digambari mata sipit seperti bulan sabit dan mulut, terlihat seperti senyum menyeramkan. A, apa laba-laba ini...

Eh... apa, ini... Be, beda banget statusnya. Kenapa skill-nya banyak banget. To, tolong detailnya, God Voice.
[[Petit Nightmare]: Monster Peringkat D+]Bentuk evolusi langka yang dicapai individu yang tumbuh di lingkungan keras dan menerima intervensi sihir yang kuat.Selain punya banyak skill dan status tinggi, dia lebih ditakuti karena kecerdasan dan sifat pendendamnya.Karena akan semakin sulit ditangani jika dibiarkan, di kalangan petualang disarankan untuk mengejar dan membunuhnya.Tapi, entah tahu atau tidak tentang hal itu, seringkali justru dia yang memasang perangkap dan menunggu dengan santai mereka yang mengejarnya.

...Waduh, beneran nggak beres nih. Lagian, sama sekali nggak disebutin soal topeng yang nempel di mukanya itu. Apaan itu, kalau dilepas jadi gimana?
Laba-laba topeng itu masih menempel di Sobatku. ...Kalau begini sih kelihatan polos-polos aja, tapi deskripsi sama skill-nya nyeremin banget.
Lingkungan keras... intervensi sihir kuat... Keras... kah? Rasanya dia sendiri yang seneng nyemplung ke masalah deh. Intervensi sihir kuat... yah, sembilan dari sepuluh pasti gara-gara aku. Entah karena sering pakai High Rest, atau karena Sobatku nembakin High Rest pas sebelum evolusi, atau pengaruh kutukan Dragon Scale Powder, terlalu banyak kemungkinan jadi nggak bisa dipastiin.
Tadinya kalau udah gede mau kulepas karena udah nepatin janji sama induk Aranea, tapi kalau Aranea yang harusnya tenang sih nggak apa-apa, tapi Petit Nightmare yang seneng ngejebak petualang ini kayaknya nggak bisa dilepas sembarangan.
...Untungnya aku punya Curse Resistance, jadi bisa aja sih dipelihara terus. Dia kayaknya nempel sama Sobatku. Tertulis pendendam, kalau dendamnya dalem berarti cintanya juga dalem kali ya, mungkin. Kalau ngambek bakal serem, tapi dia nggak deket-deket aku sama sekali, jadi Sobat berjuanglah ngadepinnya. Lagian yang mau melihara kan Sobatku, waktu lihat Ball Rabbit nempel sama aku dia iri kan! Keinginanmu terkabul tuh, bagus kan.
Aku melihat ke arah Sobatku. Di atas kepalanya, laba-laba topeng itu duduk.
"Kiki, kikiki!"
Suara seperti logam bergesekan terdengar dari laba-laba topeng. Suara... kah? Karena agak aneh, aku coba perhatikan baik-baik, ternyata di wajah Sobatku muncul sedikit bintik-bintik merah ungu.
'Kepala, gatel...'
O, oke... semangat ya, aku dukung kok. Eto, dia beracun jadi hati-hati ya. Berkat Poison Resistance bintiknya nggak terlalu kelihatan, dan berkat Auto HP Recovery sepertinya sembuh sendiri.
...Kecemasan tak berujung, tapi cari sarang Abyss lagi yuk.
Petunjuk cari sarang sama kayak tadi, ngandelin insting pulang Abyss sesuai cerita Pahlawan Gazaza... tapi karena dua-duanya udah mati, harus cari Abyss baru lagi.
'Gampang kan kalau gitu?'
Pikiran Sobatku masuk ke kepalaku. Hah? Apa?
"Gaa"
Bersamaan dengan suara Sobatku, gumpalan benang laba-laba yang membunuh Abyss dengan mencekiknya itu bersinar hitam samar. Gunyo gunyo, gumpalan benang itu mulai bergerak. I, ini jangan-jangan...
Level Skill Gelar Path of The Evil naik dari 7 menjadi 8.Level Skill Gelar King of Despicableness naik dari 8 menjadi 9.
Jelas banget itu Soul Append: Fake Life. Tu, tunggu bentar Sobat!?
'...Salah ya?'
Sobatku bertanya dengan nada bersalah.
...Y, ya, gitu deh. Aku yang ngomong gini emang nggak pantes sih, tapi itu skill yang nggak terlalu pengen kupakai, jadi gimana ya... susah dijelasin.
Yah sudah dibangkitkan mau gimana lagi. Kalau dicekik mati lagi juga kejam, jadi kucabik aja benangnya pakai kuku. Dari dalam, Abyss merangkak keluar sempoyongan.
[[Abyss Zombie]: Monster Peringkat E]Monster mayat Abyss yang dirasuki roh jahat.Meski lemah, dia bisa menyebarkan racun yang membusukkan daging dan tulang.
...Ya, ya, namanya gampang dimengerti, bagus. Lagian, bukan F Rank ya. Apa karena peringkat aslinya berpengaruh?
"Ve, ea..."
Dia melotot ke sini, lalu mulai berjalan tertatih dengan kaki yang pincang. ...Aku beneran nggak bisa biasa sama skill ini.
Para laba-laba mendekati Abyss Zombie lagi. Jangan-jangan mereka mikir mau jadiin bola benang atau dimakan lagi. Aku mengusir mereka dengan tangan shoo shoo, tapi ada tujuh jadi nggak ada habisnya.
"Kiki! Ki!"
Laba-laba topeng di kepala Sobatku mengeluarkan suara aneh. Laba-laba lain tersentak kaget, lalu menjauh dari Abyss Zombie dengan lesu. Me, mereka nurut sama laba-laba topeng ya. Sesama laba-laba mungkin ada komunikasi. Dia lihat aku kesusahan ngusir, jadi bantuin. Beneran sesuai deskripsi, di antara laba-laba dia paling pinter ya.
"Kiki, kikiki!"
Walau dilihat, laba-laba topeng cuma mengeluarkan suara tinggi seperti tangisan. Wajah topengnya juga nggak berubah dari senyum sipit itu. ...Serem juga. Nanti dia nggak bakal bawa pasukan Aranea buat kudeta kan?
"Vee, ea, aa!"
Saat itu, Abyss Zombie membuka mulut lebar ke arah laba-laba yang mundur. Bagian ujung mulutnya robek, cairan tubuh menetes deras. Aku buru-buru menepisnya dengan kaki depan, menggulingkan Abyss Zombie.
"Vea, aa!"
Abyss Zombie bangkit, menatapku dengan mata penuh permusuhan. G, gak bisa nih. Aro juga punya ingatan masa lalu, mungkin Abyss juga punya insting atau ingatan dibunuh.
Susah bikin dia nuntun sukarela. Coba ancam sekali deh.
"Guoooooooooooooooooo!"
Aku mengumpulkan mana di tenggorokan, melepaskan Roar yang dahsyat. Zaaaaa, sekitar berisik sesaat, lalu detik berikutnya sunyi senyap. Abyss Zombie yang menerima Roar langsung dari depan, tubuhnya gemetar biku-biku dan berhenti bergerak.
Level Skill Normal Roar naik dari 2 menjadi 3.
Roar barusan bagus juga. Kalau latihan lagi, rasanya masih bisa ditingkatin kekuatannya. Pas banget buat ngusir monster level rendah, mungkin nanti latihan lagi kalau ada kesempatan.
"Ve, ee..."
Abyss Zombie membalikkan badan, mulai kabur tertatih-tatih. ...Agak males sih, tapi ayo kita ikutin dia. Abyss Zombie kakinya copot beberapa dan jalannya nggak stabil, statusnya juga rendah jadi lambat, ngejarnya gampang. Malah bikin gemes.
Sobatku menatap Abyss Zombie dengan agak kesal. Laba-laba lain juga tadi nyebar seenaknya, tapi begitu Petit Nightmare melotot langsung ngumpul. ...Syukurlah ada pemimpinnya.
Mengejar Abyss Zombie tidak susah. Tapi, monster lain yang muncul di jalan lumayan bikin repot. Kupotong pakai Kamaitachi jadi EXP, atau kudesak pakai Roar sambil melindungi Abyss Zombie dan mengikutinya.
Lama-kelamaan, entah kenapa aku merasa Abyss Zombie yang lari mati-matian itu agak... imut? Mungkin karena dilindungi jadi muncul rasa ingin melindungi, atau karena sudah terbiasa sama tampang jijiknya, atau karena sudah dibangkitkan jadi merasa bertanggung jawab...
'...Mikir aneh-aneh ya?'
Sobatku menyipitkan mata menatapku. Ti, tidak, cuma mikir kalau Abyss evolusi bakal jadi gimana...
'Gue, nggak mau lho.'
Tapi kan, udah dibangkitkan, jadi tanggung jawab...
'Gue, nggak mau lho!'
Sobatku mengirim pikiran dengan kuat. ...Yah, bener juga sih.
'Lagian, tadi dia nyerang kan.'
Iya sih, tapi pas dicek dia juga punya Servant of the Evil Dragon lho... Treant juga nurut perintah, harusnya ada efeknya dikit. Mungkin di jalan ini dia ngerasa "dilindungi" sedikit, mungkin di sana ada perubahan...
Sesekali Abyss Zombie menoleh ke sini, berhenti bergerak. Ekspresi Abyss Zombie nggak kelihatan, tapi mungkin ada perubahan di dalam dirinya...
'Nggak mau lho.'
Ah, iya...
Semakin maju, jalan semakin terjal. Pohon-pohon keras yang bengkok makin banyak, tanah juga makin keras. Sering terlihat bangkai monster yang sepertinya baru dimakan dan masih berdarah. Akhirnya, kami sampai di tebing besar. Tebing, atau lebih tepatnya retakan tanah besar. Abyss Zombie melirik ke sini sebentar, lalu turun ke dasar tebing itu.
6
Setelah memastikan Abyss Zombie turun ke dasar tebing, aku menoleh ke Aro dan yang lain. Setelah konfirmasi lewat kontak mata, aku juga ikut turun ke dasar tebing.
Dinding tebing hampir tegak lurus, jadi aku turun hati-hati dengan menancapkan kuku. Para laba-laba sepertinya ahli di medan begini, merayap lincah di dinding tebing sesuka hati. Lesser Treant juga turun hati-hati sambil menancapkan akar.
Tiba-tiba aku sadar Aro tidak ada. Apa dia tidak bisa turun? Aku berhenti. Abyss Zombie tidak akan menunggu, tapi kalau sudah sampai sini tidak perlu penunjuk jalan lagi. Kemungkinan besar, turun di sini langsung ketemu sarang Abyss.
Terdengar suara gatsun gatsun dari titik buta. Saat menoleh, dari punggung Aro tumbuh lengan ketiga. Lengan ketiga itu diameternya sama dengan leher Aro, dan di ujung jarinya ada cakar kait yang mengerikan. Mungkin supaya bajunya tidak rusak, dia menurunkannya sampai bahu terbuka. Bajunya memang bekas dan sudah melar, jadi gampang ditarik.
Dan dari celah yang terbuka itu, dia menjulurkan lengan ketiga. Pemandangan yang lumayan grotesque.
"............Ah."
Saat mata kami bertemu, bahu Aro tersentak pikuri, dia mengeluarkan suara dan berhenti bergerak. Mungkin dia malu bajunya, atau lebih tepatnya lengan besar di punggungnya dilihat. Dia sepertinya tidak mau tubuhnya yang tidak berbentuk manusia dilihat. Aku kembali menghadap depan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ve, ee, veee..."
"Vee?" "Vea!" "Veee?"
Dan, jauh di bawah kami, Abyss Zombie dan Abyss saling berhadapan.
Ada tiga Abyss. Kaget dari mana mereka muncul, aku melihat sekeliling. Pohon bengkok keras yang cocok buat sembunyi Abyss tumbuh banyak di dinding tebing. Mengingat ini sarang Abyss, aku mengubah suasana hati.
Gatsun gatsun gatsun gatsun, zugagagagagagagagaga!
Suara dahsyat terdengar, aku spontan menoleh. Bertatapan lagi dengan Aro. Sepertinya Aro hampir jatuh dan berusaha menancapkan kuku untuk berpegangan.
"----!!"
Karena aku tiba-tiba menoleh pasca kejadian tadi, dia kaget. Tubuh Aro tersentak pikuri, ujung kukunya lepas dari dinding tebing. Tubuh Aro terlempar ke udara. Aku buru-buru merentangkan sayap mau menangkap Aro. Tapi sebelum itu, perut Aro menghantam punggung Lesser Treant, dan jatuhnya berhenti.
"......"
Aro menatapku dengan mata jito.
"Guoo..."
Aku mengaum minta maaf, menundukkan kepala. Aro dalam posisi menimpa punggung Lesser Treant menggelengkan kepala dengan panik, menggerakkan tangan dan kaki pata pata. Dia tidak berniat menyalahkanku rupanya.
Lalu Aro sepertinya memutuskan turun sambil naik di punggung Lesser Treant. Lengan besar di punggungnya masuk kembali ke tubuh Aro zuru zuru. Dia menarik bajunya yang agak kendor, membenahinya.
Setelah tenang, aku kembali menghadap depan.
Oh ya, Abyss...! Gara-gara Aro, aku jadi lengah.
"Guo?"
Abyss Zombie menghadap ke arahku, menonjolkan taringnya yang patah.
"Veha! Ve, veve!"
Puih, dia memuntahkan cairan tubuh. Dari sikapnya, aku cukup sadar kalau dia tidak bersahabat. Bersamaan dengan itu aku merasakan hawa dingin, aku menoleh. Di pinggir tebing tempatku turun tadi, Abyss berjejer. Abyss berbaris dengan jarak yang sama membentuk barisan.
Firasat buruk, aku memutar leher gururi. Dari empat penjuru, Abyss bermunculan wara wara dan membentuk barisan. Celahnya besar, tapi kami terkepung.
Sekilas lihat, ada sekitar lima puluh Abyss. Ratusan kaki menggeliat, mengeluarkan suara tidak enak.
Terkepung. Padahal niatnya aku yang nyerang, kalau nggak sempet ya kabur, tahu-tahu udah dikepung. Mana di tempat pijakan jelek begini lagi.
Waktu Abyss Zombie pertama kali menunjukkan permusuhan, harusnya aku lebih hati-hati.
"Veee!" "Ve!" "Vea, ve!" "Veee!"
"Vee!" "Vea!" "Veee!" "Vee, veeeeeeee!"
Suara jeritan yang tidak enak tumpang tindih, menjadi nada sumbang yang mengacaukan pikiran.
Aku benar-benar lengah. Karena Abyss selama ini selalu menyerangku yang lebih kuat, aku meremehkan mereka tidak terlalu pintar. Kena deh. Lagipula, alasan mereka menyerang yang lebih kuat kan karena kebiasaan Abyss bertelur. Dari perilaku mereka selama ini, Abyss tidak menganggap berat kematian satu per satu individu. Mereka monster tipe Semut Merah yang penting spesiesnya berkembang biak. Karena pertarungan Abyss selama ini gampang, aku jadi terlalu santai.
"Ve, veeeee, veeeeeeeee!"
Yang memprovokasi dengan membenturkan gigi patah gatsu gatsu adalah Abyss Zombie. Dia pasti yang memberitahu kalau aku menuju ke sini. Di jalan, aku berkali-kali mengusir Abyss. Mungkin saat itu dia memberitahu. Sial, aku benci diriku yang sempat berpikir mau membesarkannya.
Abyss Zombie membalikkan badan membokongiku, merayap ke arah teman-temannya. ...Tapi, langkahnya tiba-tiba berhenti. Aku yang melihat dari jauh pun bisa merasakan. Mata para Abyss tertuju pada Abyss Zombie dengan aneh.
"Ve...?"
Saat Abyss Zombie mundur, sekitar lima Abyss melompat serentak.
"Veeeeeeeeee!"
Jeritan kematian bergema. Sisa-sisa Abyss Zombie jatuh ke dasar jurang. Abyss memakan bangkai temannya, ternyata zombie temannya juga dimakan. Tapi, bukan waktunya mengasihani Abyss Zombie. Kalau lengah, kami bakal senasib sama Abyss Zombie itu.
"Gaa!"
Aku menendang dinding, mengepakkan sayap, dan melayang. Di pijakan seburuk itu, aku tidak bisa melawan jumlah segini sambil melindungi Aro dan yang lain. Maaf buat musuh dan teman, tapi aku mau tarung dari zona aman.
"Gaa!"
Aku menurunkan ketinggian sedikit, mengaum ke arah Aro. Aro melompat turun.
Aku mendekat ke dinding, menangkap Aro dengan punggung.
"...Tsu!"
Sip, dengan ini aku bisa menembak Abyss yang menempel di dinding dengan bantuan Aro. Sebenarnya pengen ambil semua terus kabur dulu, tapi susah ngambil semua laba-laba yang lagi panik sambil terus kabur. Bagaimanapun juga, harus mengurangi jumlah gerombolan Abyss.
Saat berpikir begitu, ada sesuatu yang terbang ke arahku.
"Kiki!"
Num pang pada Aro, ada yang aneh jatuh. Petit Nightmare. Pakai benang kayaknya, dia melompat dengan gerakan ala wire action. ...Bukan, harusnya kau pimpin laba-laba lain dong.
"Veeee!"
Tiga Abyss yang melompat gaba dengan kaki terbuka, kupukul dengan ekor sampai terlempar ke dinding seberang.
Gimanapun juga, kalian nggak bakal gue kasih tumpangan woy!?
Melihat Abyss yang terlempar, walau sekarat mereka masih gerak-gerak piku piku. ...Lumayan alot juga ya mereka.
Gerombolan Abyss merayap serentak mengincar Lesser Treant dan laba-laba yang tertinggal di dinding. Sambil melayang, aku melepaskan Kamaitachi seiring kepakan sayap, menahan Abyss yang mau menyerang laba-laba dan Lesser Treant, sekaligus memberi damage. Abyss yang dihantam pisau angin menyemburkan cairan tubuh, gepeng, dan menempel di dinding.
Mendapatkan 456 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 456 poin pengalaman.Level Ouroboros naik dari 72 menjadi 73.
Langsung dapat EXP tiga ekor. I, ini jangan-jangan tempat hunting yang sempurna...?
Serangan Abyss nggak nyampe ke aku, dan mereka jelas nggak bisa terbang. Yah, walau Abyss ngumpul karena Lesser Treant dan laba-laba dalam bahaya sih.
Hiaaa!
Mendapatkan 156 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 156 poin pengalaman.
Oraaa!
Mendapatkan 192 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 192 poin pengalaman.
Soryaa!
Mendapatkan 138 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 138 poin pengalaman.
Uryaaa!
Mendapatkan 204 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 204 poin pengalaman.Level Ouroboros naik dari 73 menjadi 74.Level Skill Gelar Pest Killer naik dari 6 menjadi 7.
Perlahan tapi pasti, mengurangi sekitar lima puluh Abyss. Abyss baru melangkahi bangkai temannya yang sudah dikalahkan, mendekati Lesser Treant. Di punggungku, Aro melepaskan Gale dengan mana maksimal menjatuhkan Abyss beserta dindingnya, Petit Nightmare memuntahkan benang menempel di punggung Abyss dan menariknya jatuh ke dasar tebing. Lesser Treant juga mati-matian mengayunkan dahan mengamuk agar tidak ditarik Abyss.
Laba-laba... Kids Aranea, meski bergerak sesuka hati, mereka menyebarkan jaring di dinding membuat sarang darurat, menghambat gerakan Abyss. Saat Abyss masuk ke sarang dan kecepatannya turun, aku tembak pakai Kamaitachi. Khawatir sih laba-laba pada nyebar, tapi berkat ada tiga (termasuk aku) yang bisa nembak dari jauh, entah gimana bisa dijaga tanpa lepas pengawasan.
Terutama aku yang pukul pakai Kamaitachi, Abyss yang lolos diurus Aro dan Petit Nightmare. Kalau masih nggak keburu, Sobatku nutupin pakai Death dan High Rest. Satu per satu Abyss jatuh ke dasar tebing.
Levelku juga naik dari 74 ke 75, 75 ke 76, terus naik. Sadar-sadar sudah Lv 78.
Walau bisa bertahan, Lesser Treant dan laba-laba makin terdesak ke tengah. Tapi kalau jangkauannya menyempit, makin gampang bidik Abyss. Lagipula, Abyss yang ikut mengepung juga tinggal bisa dihitung jari. Aku habisi sekaligus.
"Guoooooooooo!"
Aku menggeram, memberi peringatan pada Aro dan Petit Nightmare. Aro dan Petit Nightmare berhenti bergerak, berpegangan erat di punggungku.
Aku mengisi kedua sayap dengan mana maksimal, mendorongnya ke depan sekaligus. Karena menggunakan kedua sayap untuk Kamaitachi bersamaan, melayang jadi sulit, ditambah lagi dorongan balik Kamaitachi menyerangku. Aku memutar ekor ke depan, berputar ke belakang untuk mematikan momentum dan kembali ke posisi melayang. Dua pisau angin besar menghancurkan empat Abyss beserta dinding tebing.
Mendapatkan 450 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 450 poin pengalaman.Level Ouroboros naik dari 78 menjadi 79.Level Skill Gelar Pest Killer naik dari 7 menjadi 8.Level Skill Normal Kamaitachi naik dari 6 menjadi 7.
Tempat Abyss berada terkikis membentuk lubang besar, kaki dan pecahan bercampur pasir berjatuhan para para. Abyss yang tersisa tinggal sekitar sepuluh ekor. Saat kupikir pertarungan di dinding sudah hampir selesai, dari lubang di dinding, Abyss besar merangkak keluar.
Lebarnya hampir dua kali lipat Abyss lain. Kecepatannya jauh lebih lambat dari Abyss biasa, tapi sosoknya yang maju zun zun selangkah demi selangkah memiliki kewibawaan misterius.
Apaan tuh, pikirku, lalu dari lubang lain muncul satu lagi. Pas banget, dari lubang atas dan bawah, mengepung Lesser Treant dan laba-laba. Gaccha gaccha, menggerakkan banyak kaki, menuju ke arah Lesser Treant dengan santai.
"""Veeeeeeeeeeeeee!"""
Suara teriakannya yang berat terdengar seperti teriakan om-om. A, apa itu. Ada spesies tingkat tinggi rupanya.
[[Heavy Abyss]: Monster Peringkat C+]Evolusi yang dicapai oleh individu Abyss yang rakus dan bertubuh besar.Permukaan tubuhnya sangat keras, tidak bisa ditembus dengan mudah.Sering diproses menjadi perisai.
He, Heavy Abyss... Abyss tipe pertahanan ya. Ternyata jenisnya banyak ya. Rasanya udah kenyang nih.
Mendengar teriakan Abyss besar, Abyss lain makin ganas mendesak Lesser Treant dkk. Satu Abyss yang mencoba kabur merayap turun dinding, kuinjak gepeng sambil lewat.
"Gale!"
Tornado mana yang dilepaskan Aro menggunakan manaku menyerang Heavy Abyss yang di bawah. Gouu, bunyi terdengar, permukaan tebing runtuh berterbangan. Tapi Heavy Abyss cuma berhenti sebentar, lalu maju tanpa ragu. Padahal Lv Aro sudah naik banyak, kekuatan sihirnya juga harusnya naik, tapi tidak ada luka sedikit pun.
Aku juga buru-buru melepaskan Kamaitachi. Pisau angin menembus punggung Heavy Abyss. Retakan besar muncul, cairan tubuh mengalir keluar. Tapi, Heavy Abyss tetap tidak berhenti maju. Mengisi mana ke sayap lebih banyak dari tadi, aku bersiap untuk Kamaitachi baru.
Heavy Abyss saat sampai di sarang laba-laba, dia menginjak bangkai temannya untuk menghindar, tapi karena sudah sampai di dalam dan bangkainya sedikit, akhirnya dia menyerah dan menginjak dinding yang penuh jaring laba-laba.
Untuk melepaskan lengketnya benang, Heavy Abyss mengangkat kaki tinggi-tinggi. Saat itu, seutas benang menempel di punggung Heavy Abyss yang di atas.
"Ve...?"
Benang Petit Nightmare. Petit Nightmare menempel kuat di tubuhku, jadi aku melepaskan Kamaitachi yang sudah terkumpul ke Heavy Abyss yang di bawah, lalu menggunakan dampaknya untuk terbang ke belakang. Ditarik benang, tubuh raksasa Heavy Abyss yang di atas lepas dari tebing.
"Veeeeeeeeeeeeee!"
Heavy Abyss yang di atas menjerit berat saat sekarat, melaju ke dinding seberang dengan lintasan seperti pendulum.
"Kiki, ki!"
Di tengah jalan, benang diputus putsuri. Tubuh raksasa Heavy Abyss jatuh begitu saja, tak lama terdengar suara tumpul gosha.
Mendapatkan 156 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 156 poin pengalaman.
...Sadis juga ya laba-laba ini. Mungkin karena aku yang narik, aku juga dapat EXP. Sementara itu, Heavy Abyss yang di bawah juga tidak tahan menerima Kamaitachi kedua, sambil menyemburkan cairan tubuh dia merosot jatuh ke dasar tebing.
"Veveveveveveveve!"
Gerakannya makin cepat, beberapa kaki terlempar, lalu sosoknya hilang seketika.
Terakhir sama seperti Heavy Abyss tadi, berakhir dengan suara gosha.
Mendapatkan 250 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 250 poin pengalaman.
...Kalian, kayaknya nggak cocok deh di sarang ini.
Melihat Heavy Abyss yang datang membantu jatuh dengan memalukan, Abyss-abyss akhirnya mulai mundur. Aku juga capek, jadi kembali ke atas tebing untuk istirahat sebentar. Kamaitachi entah sudah berapa puluh kali kutembakkan. Mana juga banyak disedot Aro. Mau memulihkan MP.
"Guoo..."
Saat aku memanjangkan leher dan menempelkan dagu ke tanah, Aro yang turun dari punggung menyentuh pipiku dengan cemas. Mengikuti di belakang, Lesser Treant dan laba-laba merayap naik.
Ups, benar juga. Harus cek berapa level Aro dan yang lain naik. Kali ini, semuanya berjuang keras. Pasti dapat EXP yang sepadan.
Aku segera mengecek level Aro dan yang lain.

...Aro tinggal 2 lagi. Belum sampai evolusi, tapi sudah hampir.
Lesser Treant mungkin melihat ekspresiku, memiringkan batangnya ke depan dengan rasa bersalah, melengkungkan lubang matanya. Aku juga ikut menunduk.
Ti, tidak, kau selalu membantu di saat penting kok. Mohon bantuannya ya ke depan.
Di antara para laba-laba, kenaikan Lv Petit Nightmare paling tinggi. Dia cerdik sih. Jatuhin musuh poi-poi, dari zona aman ganggu pakai benang, ngacak-ngacak medan perang. Tuan Treant, harusnya mencontoh dia tuh... Senior Treant, malah udah disalip Petit Nightmare baik Peringkat maupun Level-nya tuh.
...Karena sudah sampai sini, aku ingin segera membawa Aro sampai evolusi.
Abyss-abyss itu, pasukan lima puluh itu pasti bukan semuanya. Itu cuma pasukan depan. Abyss yang sudah berkembang biak sebanyak ini di hutan, nggak mungkin cuma lima puluh ekor. Kemungkinan besar di ujung jurang tempat turun tebing ini, ada lebih banyak Abyss menunggu. Kalau lawan mereka, Aro pasti bisa mencapai level maksimal dengan aman.
Akhirnya, saat ini tiba. Aku menatap wajah Aro lekat-lekat. Aro, awalnya cuma tulang. Lalu berevolusi jadi tulang yang bisa sihir, sekarang walau kulitnya jelek dan rambutnya kering, sudah berbentuk manusia. Mungkin, selanjutnya sudah hampir tidak bisa dibedakan dengan manusia biasa.
Berjalan sedikit, mengintip dasar tebing. Dasarnya gelap dan jauh jadi tidak terlihat jelas, tapi sepertinya ada tanah datar. Akar pohon hitam keras menonjol dari dinding tumbuh di sana-sini, di dinding juga terlihat banyak lubang. Terlihat juga beberapa benda seperti bangkai monster. Dan, sunyi senyap yang menyeramkan.
Tapi kalau dilacak dengan Presence Sense, terasa ada kekosongan yang aneh di dasar sana. Abyss punya skill menghilangkan hawa keberadaan, mungkin karena mereka berkumpul dan menggunakan skill itu, jadi terasa seolah tempat itu terpotong dari dunia.
...Entah kenapa aku jadi paham kenapa dinamakan Abyss (Jurang). Selain Aro, sebaiknya yang lain ditinggal saja.
Kalaupun diserang saat menunggu, kalau Petit Nightmare jadi petarung utama dan yang lain support, harusnya bisa mengatasi Abyss satu lawan satu. Walau belum tentu satu lawan satu, kalau aku merasakan hawa di atas dan buru-buru kembali, harusnya aman. Untuk sementara minta Sobatku memulihkan HP semua orang sampai penuh dengan High Rest.
Selanjutnya, biarkan Aro menghisap MP. Aku berhenti saat cahaya hitam mulai merembes dari tubuh Aro.
"Guo!"
Aku menggonggong pada Petit Nightmare. Petit Nightmare sedang merayap di dekat Sobatku, mendengar suaraku dia menoleh. Aku menoleh ke samping. Petit Nightmare ikut menoleh ke arah yang sama.
Di arah pandanganku, ada laba-laba lain yang mengerumuni sisa-sisa Abyss yang dibawa pulang (wara wara). Petit Nightmare sepertinya mengerti disuruh jaga anak, tapi dia membuang muka dariku (pui), memuntahkan benang, pindah ke atas kepala Sobatku dan menekuk kakinya.
...Sobat, bisa minta tolong kau yang minta? Sobatku diam sebentar lalu mengangguk, melihat ke atas kepala.
"...Gaa"
Mendengar suara Sobatku, Petit Nightmare melompat turun dari Sobatku, saling berhadapan.
"Kiki! Kiki!"
Setelah bersuara, dia pindah ke tempat laba-laba lain. ...O, oke deh bisa diminta tolong.
Menoleh ke Aro. Saat mata kami bertemu, Aro melirik ke arah tebing, lalu mengangguk kecil seolah membulatkan tekad. Entah itu tekad untuk melompat ke dasar tebing, atau tekad untuk mendapatkan kembali wujud manusianya, aku tidak tahu.