Bab 5: Serangan Abyss - Bagian 2
Volume 5 - Chapter 9
February 6, 2026
3
Saat aku sampai di kuil, Lesser Treant sudah dalam posisi siap tempur, dan Aro yang seharusnya disembunyikan agar tidak terlihat orang juga sudah keluar.
"Veeeeeeeeeee!"
Dan yang mereka hadapi adalah monster yang wujudnya seolah dirancang khusus untuk memancing rasa jijik, meliuk-liukkan delapan kakinya yang tidak simetris, Abyss.
Aku mulai trauma sama pola belang-belang nih. Ini sudah ketiga kalinya ketemu di kuil. Abyss, seriusan deh, kebanyakan woy. Jangan-jangan ini lebih gawat dari dugaanku.
Tapi, yang penting masalah di depan mata dulu. Aro dan Lesser Treant sama-sama monster Peringkat D, dan level mereka juga belum tinggi. Lawan Abyss yang Peringkat C jelas tidak mungkin menang. Perbedaan statusnya terlalu jauh.
Aku berlari ke kuil untuk menghentikan pertarungan. Di sekitar Aro ada empat kelinci tanah. Itu ciptaan skill Earth Doll. Kelinci-kelinci tanah itu terlihat siap menghadapi serangan Abyss dari arah mana pun.
Aro mengulurkan tangan ke arah Abyss.
"...Ze, ho... Clay."
Tanah di bawah kaki Abyss bersinar, lalu tanah mencuat tajam mengarah ke Abyss. Detik berikutnya, Abyss mulai berlari dengan kecepatan tinggi.
"Veeeeeeeeeee!"
Dia berlari mengelilingi Aro. Kecepatan itu... Abyss itu, Speed-nya pasti ada 200. Abyss memang monster yang unggul dalam status kecepatan. Aro paling banter cuma punya Speed sekitar 20. Mustahil bisa menandinginya.
"Guoooooooooo!"
Aku mengaum sambil berlari, tapi Abyss tidak merespons. Aro tampak panik sambil mengikuti gerakan Abyss dengan matanya.
Sementara itu, kelinci tanah yang melindungi Aro satu per satu hancur berantakan dan berterbangan di udara. Tanpa sempat mengeluarkan jeritan kematian. Dalam sekejap kehilangan daya hidup, kembali menjadi gumpalan tanah biasa.
"Gyashaaaaaaa!"
Lesser Treant mengayunkan dahan besarnya... lengannya. Tidak mungkin bisa mengejar kecepatan Abyss.
Itu pasti serangan membabi buta untuk menarik perhatian. Tentu saja, tidak kena. Bukan cuma tidak kena. Lengan Lesser Treant yang patah melayang di udara, dan tubuh utama Lesser Treant pun terdorong mundur jauh akibat dampak serangan.
Di dalam mulut Abyss, tersangkut serpihan kayu yang hancur. Dia menggigit dengan counter ya. Di balik deretan gigi Abyss yang terlalu banyak, bercampur dengan serpihan kayu, terlihat sisa-sisa kelinci tanah yang hancur.
"............Ve, ve! Vehe! Vehe!"
Tiba-tiba, gerakan Abyss berhenti. Dia memuntahkan sisa-sisa kelinci tanah dari mulutnya (ge-ge).
"Guooooooo!"
Oke, masuk jangkauan tembak! Aku mengepakkan sayap, melepaskan dua Kamaitachi sekaligus.
Pisau angin itu bersilangan tepat di posisi Abyss dan meledak. Abyss hancur menjadi potongan daging yang berserakan di tempat.
Mendapatkan 105 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 105 poin pengalaman.
Untung masih sempat. Kalau telat semenit lagi, Aro, Lesser Treant, dan Baby Aranea mungkin sudah dimakan Abyss semua.
...Tidak, dimakan sih enggak ya. Dia makan kelinci tanah tapi dimuntahin lagi soalnya. Mungkin dia salah kira itu kelinci beneran terus diserang. Pas dimakan, ternyata nggak enak. Walau tanah dibentuk mirip daging pakai sihir, tanah ya tetap tanah.
"Ke, lin... ci..."
Aro duduk lemas di tempat, mengais sisa-sisa kelinci tanah yang berserakan dengan tangan.
...Kalau begini aku tidak bisa meninggalkan kuil. Kapan Abyss datang tidak bisa diprediksi. Aku tidak menyangka musim kawin Abyss semengerikan ini.
Mulai sekarang aku harus serius menaikkan level Aro dan yang lain. Cuma itu cara melindungi mereka. Aro sejauh ini sudah berevolusi dari Wight: F, Skull Low Mage: E, sampai Levana Mage: D.
Kalau jadi monster Peringkat C, dia bisa bertarung seimbang dengan Abyss. Kalau kerja sama dengan Treant yang sudah berevolusi, harusnya bisa mengalahkan Abyss dengan stabil.
Anak laba-laba Baby Aranea juga, nggak tahu kapan efek buruk Dragon Scale Powder bakal muncul. Kalau kena status Curse, harus segera dikembalikan ke alam liar. Sebelum itu terjadi, harus dibesarkan sampai bisa berburu sendiri. Karena sudah dipungut, itu kewajibanku.
Mereka juga kelihatannya biasa aja makan Abyss, kalau bisa sih biar hafal rasa Abyss dan jadi pemburu Abyss di masa depan...
Kalau begitu, yang diburu ya Abyss. Yah, jalan dikit juga bakal muncul sih... terpaksa berburu Abyss ya. Padahal aku lebih bersyukur kalau monsternya yang lain secara visual...
4
Demi leveling Aro dan kawan-kawan, aku memimpin Aro, Treant, dan Baby Aranea menyusuri hutan. Karena tidak mungkin bertemu suku Lithoviar dengan kondisi begini, aku memutuskan menuju arah yang berlawanan dengan desa.
Baby Aranea merayap sesuka hati, tapi sepertinya masih mengikutiku. ...Takutnya mereka nyasar terus jadi makanan Abyss, jadi jangan sembarangan dong. Tapi karena nggak bisa disuruh, mau gimana lagi.
Aku menyusuri hutan sambil hati-hati agar tidak bertemu suku Lithoviar menggunakan Presence Sense.
Merasakan hawa kecil, aku mendongak dan melihat lagi kurcaci-kurcaci yang memancarkan cahaya hijau samar duduk di dahan. Raran, si kurcaci hutan. Berjejer rapi di dahan dekat situ. Kali ini lebih banyak dari biasanya, delapan ekor. Kupikir mereka tidak punya berat badan, tapi dahan pohon sedikit berderit. Raran tidak melakukan apa-apa, cuma mengamatiku dari jauh.
Saat aku menatap bengong, mereka semua turun dari dahan dan lari ke arah yang berbeda-beda. Segera sosoknya menghilang, tak bersisa satu pun. ...Masih sama, makhluk yang nggak jelas.
'Sini, sini!'
Saat aku celingukan mencari Raran yang hilang, Sobatku menarik-narik leherku. Sepertinya menemukan sesuatu. Aku juga mencoba melacak ke arah yang ditunjuk Sobatku dengan Presence Sense.
Terasa ada hawa yang agak besar. Saat aku menempelkan kepala ke tanah, terdengar suara langkah kaki samar. Monster tipe raksasa ya. Tanpa melihat statusnya belum bisa dipastikan, tapi sepertinya tidak cepat. Aku bisa bantu dari samping, pas banget buat cari EXP.
Arah monster besar itu sepertinya menuju ke sini, jadi aku berdiri di tempat yang agak tinggi dan luas untuk menyambut musuh. Besar pun paling cuma sedikit lebih kecil dariku. Paling banter seukuran Little Rock Dragon.
Pohon di kejauhan tumbang dengan heboh. Yang muncul di akar pohon adalah sapi besar yang tertutup bulu cokelat dengan panjang hampir enam meter. Bulu di wajahnya anehnya panjang. Matanya merah padam, dan napasnya kasar menandakan dia sedang興奮 (excited/marah). Baik wujud maupun wajahnya, terlihat jelas dia buas. M, menyerahkan lawan ini ke Aro mungkin agak berat. Perbedaan fisiknya terlalu besar.

...Status Aro adalah Magic: 42, Speed: 22.
Berdasarkan pengalaman selama ini, untuk memberi damage saat bertabrakan langsung, setidaknya butuh kekuatan serangan setengah dari pertahanan lawan. Kalau aku bikin luka dan suruh serang di situ, harusnya dapat jatah EXP karena berkontribusi dalam pertarungan... tapi kalau kena satu serangan bisa mati instan, agak bahaya sih.
Tapi, ini target yang bagus, tak diragukan lagi. Dengan kecepatanku, saat Graphant itu menyerang Aro dan yang lain, aku bisa menangkisnya seketika. Lagipula, untungnya dia tidak punya skill aneh. Ada skill yang belum pernah kulihat, tapi dari namanya sepertinya cuma serangan ke depan. Kalau aku biarkan Aro menyerang dari belakang sementara aku di depan, serangan ke arah Aro dan yang lain bisa sangat dibatasi.
Levelnya lumayan tinggi jadi EXP-nya bisa diharapkan. Demi melindungi diri dari Abyss juga, aku tidak boleh melepaskan mangsa di sini. Harus ambil risiko.
Aku melepaskan Kamaitachi ringan ke arah kaki Graphant yang tebal. Pisau angin bermana itu mendekat seolah terhisap ke kaki Graphant, sedikit melukai kulitnya.
Tentu saja, kalau mau aku bisa memotong kakinya sekalian. Tapi, satu serangan ini hanya untuk provokasi.
"Buumoooooooooo!"
Graphant yang diserang menunjukkan kemarahannya, membuka mulut lebar dan meraung, lalu menyeruduk ke arahku. Menghadapi serudukan Graphant, aku menendang tanah, merentangkan sayap, dan melompat. Aku mengambil posisi tepat di atas Graphant, mengepakkan sayap, dan melepaskan empat Kamaitachi lurus ke bawah.
Targetnya adalah kaki belakang dan pantat Graphant. Kalau kaki belakangnya tidak bisa gerak, risiko Aro dan yang lain yang menyerang dari titik buta kena tendang bisa ditekan. Kalau kulit pantatnya dikupas, serangan Aro dan yang lain yang levelnya di bawah pun harusnya lebih mudah masuk. Dua tembakan pertama menyayat daging dari kedua kaki belakang tebal yang menopang tubuh raksasa Graphant. Darah dan daging berhamburan, darah segar menyembur. Graphant menekuk kaki depannya mencoba menyeimbangkan tubuh yang goyah.
"----!"
Dan sebelum sempat menjerit, dua sisa Kamaitachi mengupas kulit pantat Graphant. Ekspresi marahnya makin dalam, memelototi aku yang menari di langit.
"BUUUMOOOOOOOOOO!!"
Graphant mengamuk. Sambil mendengarkan raungannya, aku mendarat dengan kaki belakang di tempat yang agak berjarak.
Segini cukup. Sebenarnya aku ingin memotong keempat kakinya sekalian, tapi kalau begitu mungkin tidak akan dapat banyak EXP. Aku belajar dari saat membesarkan Ball Rabbit atau melemahkan Semut Merah dengan bola racun. Kalau tidak dianggap sebagai pertarungan, EXP yang didapat cuma segitu. Harus melemahkan sampai batas yang pas.
Mobilitas sudah dikurangi. Titik lemah di titik buta juga sudah dibuat. Perhatiannya sudah teralih, dan kalau bahaya aku bisa ikut campur. Ini adalah batas aman bagi Aro dan yang lain yang monster Peringkat D dan E untuk menghadapi Graphant yang monster Peringkat C.
"Buumo! Buumoooooo!"
Graphant menyeret kaki belakangnya mendekatiku. Ternyata walau kuat, kecepatannya turun drastis. Di belakang Graphant ada Aro, Lesser Treant, dan anak-anak laba-laba yang bersiap.
"Ta, nah, si, hir... Clay."
Saat Aro merapal, tanah menonjol membentuk ujung tajam. Jarum tanah itu menusuk daging Graphant yang terbuka. Graphant tampak kesal, memutar tubuh sambil menyeret tubuh bagian bawah. Dia menghadap Aro yang paling dekat, lalu menarik dagunya. Tanduk ganas Graphant membidik Aro.
Aku sempat berpikir mau menolong, tapi melihat tanah di kaki Aro berubah bentuk, aku berhenti menggerakkan sayap.
"Buumoo!"
Hampir bersamaan dengan raungan Graphant, Aro melompat ke belakang. Aro menggunakan Clay untuk melontarkan tanah di kakinya, dan menggunakan dampaknya untuk bergerak.
Mungkin saat Graphant mengarahkan tubuh ke Aro, dia sudah bersiap.
Aro jauh lebih unggul dalam sihir daripada kecepatan. Dibanding menghindar biasa, menggerakkan diri dengan sihir memang lebih cepat.
Aro mendarat di dahan Lesser Treant yang ada di belakang. Anak-anak laba-laba mungkin takut menghadapi Graphant, mereka bubar ke empat penjuru.
Tanduk Graphant yang gagal menangkap Aro menancap dalam ke tanah. Otot kaki depan Graphant menegang karena mengerahkan tenaga. Aro mengarahkan tangannya ke tanduk Graphant. Tanah yang dikendalikan skill Clay berubah bentuk, menutupi seluruh tanduk Graphant dan mengeras.
"Buu!?"
Tanah itu terus memanjang sampai ke mulut Graphant. Mau bikin mati lemas ya.
Graphant mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Lesser Treant sepertinya merasakan bahaya, dia menjauh dari Graphant sambil tetap membawa Aro di dahannya. Aro menghentikan pengendalian tanah sebentar, lalu mengarahkan tangan ke wajah Graphant.
"...Ze, sihir, Gale."
Angin kencang menerpa organ sensorik di balik kelopak mata Graphant yang terbuka lebar, bola matanya.
Zashu! Mata yang tergores menjadi merah darah.
Namun bola mata itu tidak kehilangan fungsinya, tetap memelototi Aro.
Graphant menghentakkan kaki depan yang diangkatnya ke tanah. Sekitar bergetar, tubuh raksasa Graphant melompat tinggi. Mungkin itu skill High Jump. Kaki belakangnya sudah kuhancurkan, tapi hebat juga masih bisa lompat segitu.
Lesser Treant merayapkan akarnya menjauh dari Graphant. Di tengah jalan tubuhnya berderit, mengarahkan lubang seperti mata di batangnya ke Graphant di udara.
"Ta... hir, Clay."
Saat Aro merapal, tubuh Aro sedikit kehilangan vitalitas. Kulitnya jadi kering, berubah menjadi kualitas yang mendekati tanah. Sepertinya dia menuangkan sebagian besar sisa mananya ke Clay ini.
Mendorong rumput liar, jarum tanah raksasa muncul dari tanah. Tingginya hampir dua meter, diarahkan ke perut Graphant yang sedang jatuh. Dia berniat memanfaatkan percepatan gravitasi dari jatuhnya High Jump Graphant untuk memberikan kerusakan.
Bisa kena... pikirku, tapi Graphant memiringkan tubuh ke depan, mengoreksi lintasannya ke arah gerak Aro.
Merasakan ekspresi Aro mendung, aku memutuskan untuk membantu.
Aku melepaskan dua Kamaitachi. Pisau vakum yang terbang lurus menyerang wajah dan perut Graphant. Tembakan pertama menghancurkan wajah Graphant, merusak postur condong ke depannya. Kamaitachi kedua menyayat daging perut Graphant.
"Buumoooooooooo!"
Jarum tanah raksasa menusuk perut Graphant yang tersayat saat jatuh. Tapi jarum tanah itu tidak kuat menahan benturan di tengah jalan, patah dan hancur berkeping-keping. Dampak jatuhnya Graphant mengguncang sekitar.
"Bu..."
Graphant jatuh telungkup, tapi dia menegakkan badan dengan kaki depan. Di tengah perutnya yang terangkat, tertancap ujung dan pecahan jarum besar Clay. Darah mengucur deras.
M, menerima kerusakan segitu banyak, masih bisa berdiri. Malah, gerakannya tidak terlihat melambat. Ini sih, masih lama baru bisa dihabisi. Monster spesialis stamina dan pertahanan memang begitu ya, mau bagaimana lagi.
Aro yang ada di dahan Lesser Treant jatuh lemas ke tanah (furari). Lesser Treant segera memungutnya dan lari menjauh dari Graphant.
Aro, MP-nya sudah limit ya. Clay terakhir tadi sepertinya pakai banyak mana. Sisanya, biar aku beresin cepet... hm?
Terlihat anak-anak laba-laba mendekati luka di pantat Graphant yang kukoyak dengan Kamaitachi.
"Bumo! Bumooo!"
Anak-anak laba-laba menempel di luka dan memuntahkan jaring. Graphant melawan dengan mengibaskan tubuh, tapi mungkin karena kakinya hancur akibat dampak jatuh, tenaganya tidak keluar. Mau menyerang pun, karena di pantat jadi tidak sampai.
Aku menghancurkan kaki depan Graphant dengan Kamaitachi. Dosari, Graphant jatuh telungkup. Bersamaan dengan itu, anak-anak laba-laba mulai menggigit luka itu.
"Bumooo! Buumoooooooooo!"
Anak-anak laba-laba memakan Graphant dari lukanya. Sepertinya belum masuk terlalu dalam, tapi jumlah pendarahannya makin bertambah. Awalnya Graphant mengangkat kaki yang hancur dengan sisa tenaga dan mengibaskan tubuh untuk melawan, tapi lama-lama makin pelan. Akhirnya cuma kejang-kejang saja. Darah menetes dari semua luka di tubuhnya, HP Graphant berkurang.
Akhirnya jadi nol, bola mata Graphant berputar ke atas, kehilangan kehidupan. Terasa kekuatan hilang dari seluruh tubuhnya.
Mendapatkan 173 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 173 poin pengalaman.Level Ouroboros naik dari 71 menjadi 72.
Diberitahu perolehan EXP, aku tahu Graphant akhirnya mati.
Nah, dengan ini EXP Graphant juga masuk ke Aro dan yang lain... kan? Kalau level Aro dan yang lain naik, harusnya bisa berburu dengan stabil.
Berkat jumlah MP Ouroboros aku bisa memulihkan tanpa batas, jadi kalau bisa tahan satu serangan saja itu sudah beda jauh.
Nah, mari kita cek seberapa banyak levelnya naik. Aku mengalihkan pandangan ke Aro, Treant, dan satu dari delapan Baby Aranea.

Aro ternyata naik dari Lv 6 ke Lv 14. Akhirnya sudah dekat titik balik. Kalau lewat sini, Aro resmi jadi monster Peringkat C.
Tapi Aro sepertinya menderita karena kehabisan mana, dia terlihat sangat lemah. Posturnya agak rendah, dan terlihat kesakitan entah di mana.
Tekstur kulitnya juga jadi sangat buruk, awalnya tubuh yang terkesan tanah mirip kulit, sekarang hampir jadi tanah biasa. Mungkin Aro mempertahankan tubuhnya dengan mana. Kekurangan MP bagi Aro mungkin lebih serius daripada bagiku.
Treant naik dari Lv 4 ke Lv 9. Mungkin karena aku punya skill pengganda EXP jadi rasanya lambat, tapi yah lancar lah. Pada dasarnya di pertarungan tadi dia cuma jadi kaki buat Aro, nggak langsung lawan Graphant sih...
Baby Aranea naik dari Lv 1 ke Lv 5. Cuma lihat satu, tapi yang lain pasti nggak beda jauh. Cuma gigit-gigit Graphant bisa naik segitu, lumayan lah. Evolusi berikutnya sudah kelihatan. Baby Aranea Peringkat E memang gampang dibawa sampai evolusi.
Inginnya sih terus leveling, tapi... Aro yang spesialis serangan sihir cuma bisa bertindak selama MP ada. Itu hambatan terbesar buat naikin EXP. Kalau MP bisa diatasi dia bisa nyerang tanpa henti, dan level juga bakal cepet naik. Yah, nggak ada cerita semanis itu ya.
Besok lagi aja ka... hm?

Skill Normal Aro nambah tuh! Dapet dari naik level ya.
Mana Drain, skill ini samar-samar aku ingat. Karena Status Inspection nggak tembus sempurna jadi nggak bisa lihat jelas, tapi kayaknya Slime punya Life Drain dan Mana Drain. Namanya mirip, mungkin sering dipelajari satu set. Aro punya Life Drain, jadi nggak aneh kalau belajar ini.
Dari namanya Mana Drain, pasti skill menyerap MP jadi milik sendiri. Kalau begitu, suruh dia hisap MP-ku saja beres kan. Soalnya aku punya MP: 1926/1926. Hitungan kasar, aku bisa isi ulang Aro sampai penuh dua puluh dua kali. Ditambah lagi berkat efek Auto MP Recovery, MP-ku bakal pulih sekejap.
Dengan terus melakukan Mana Drain dariku, Aro harusnya bisa menembakkan sihir tanah Clay dan sihir angin Gale dengan kekuatan penuh terus-menerus. Di antara statusnya, kekuatan sihir Aro yang paling menonjol, dan sekarang sudah Lv 14, mungkin bisa memberi damage ke monster Peringkat C.
Monster yang peringkatnya di atas Aro, pertahanannya tidak terlalu tinggi, dan banyak berkeliaran di sekitar sini, aku tahu satu. Benar, Abyss. Aro yang sekarang mungkin bisa memburu Abyss tanpa bantuanku. Kalau bisa memburu Abyss, dia harusnya bisa tumbuh sampai level maksimal dalam sekejap.
Aku segera mencoba efek Mana Drain Aro. Aku menyodorkan ekor ke depan Aro yang terbaring lemas di dahan Lesser Treant. Aro melihat ekorku yang disodorkan padanya, lalu menatapku. Aku mengangguk (koku-koku) sambil mengibaskan ekor.
"Te... ri, ma, kasih... ma..."
Aro bicara terputus-putus, lalu menyentuh ekorku. Dia memeluknya erat (gyu). Pasari, permukaan tubuh Aro yang seperti pasir karena kehabisan mana rontok dan beterbangan. Bagian yang bersentuhan antara tubuh Aro dan ekorku bersinar samar. Aku merasakan sensasi mana berpindah.
"A, aa..."
Kulit Aro yang rusak beregenerasi dengan cepat dan kembali lembap. Rasanya kondisi kulitnya jadi sedikit lebih bagus dari biasanya. Terutama rambutnya yang tadi kering banget, perubahannya agak terlihat jelas... rasanya sih. Perubahan yang sangat halus.

Kondisi tubuhnya sudah kembali. Tapi, mungkin karena menghisap manaku, ada cahaya hitam tipis merembes. Coba lihat, mananya sudah balik belum.

Oh, sudah pulih. Sisanya tinggal apakah sihirnya mempan ke Abyss, tapi mungkin karena menghisap manaku, ada status abnormal aneh yang menempel.
Magical Power Correction kah. Keberuntungan tak terduga. Dengan Magical Power Correction yang meningkatkan kekuatan, ditambah Mana Drain yang bikin nggak perlu mikirin sisa MP, bisa nembak sepuasnya. Kalau begini ada harapan menembus pertahanan Abyss walau beda peringkat.
"......"
Walau sudah selesai menghisap MP, Aro masih memeluk ekorku.
....... ...Ooi, sudah selesai lho.
"...Ra, sanya, tenang."
O, oke. Setelah Aro tenang, untuk mencoba leveling Aro, kami memutuskan meninggalkan Graphant sebentar dan mencari Abyss.
"Gaaaa..."
Sobatku menatap Graphant dengan tatapan sayang, tapi itu nanti diambil pas pulang. Nanti kubakar sampai matang kok, tunggu dulu.
Aku mengusir anak-anak laba-laba yang mengerumuni Graphant dengan ujung ekor (peshi-peshi). Setelah diulang tiga kali, akhirnya mereka menyerah dan mulai memutar ke belakangku.
Setelah persiapan selesai, kami berjalan di hutan mencari Abyss. Tidak sangka bakal mencari mereka dari pihak kita.
Kalau sihir Aro bisa memberi damage, Abyss yang monster Peringkat C akan jadi target leveling yang empuk. Kalau berhasil, harusnya bisa langsung dibawa ke evolusi berikutnya.
Tapi, ...pas dicari malah nggak ketemu... Padahal kalau lagi nggak mau ketemu munculnya banyak banget.
...Ah, mereka bisa ngilangin hawa keberadaan sih.
"Gaa... Gaa..."
Makin jauh berjalan, Sobatku mengeluarkan suara menyedihkan.
'Oi, laper nggak sih? Ya? Ya?'
...Segitu kepikirannya ya sama itu. Bisa nggak biarkan aku verifikasi dulu apakah leveling Aro dengan hisap MP pakai Mana Drain berhasil?
'...Abis makan juga bisa kan? Ya?'
...Haa, Abyss juga nggak ketemu-ketemu, makan dulu deh. Aku juga bohong kalau bilang nggak semangat makan daging utuh setelah sekian lama.
Soalnya itu bongkahan daging sapi lho. Sayang nggak ada garam dan bumbu lain. Aku balik arah, kembali ke tempat Graphant. Di belakangku Lesser Treant, Aro yang duduk di dahannya, dan anak-anak laba-laba yang bergerak sesuka hati mengikutiku.
Begitu Graphant terlihat di antara pepohonan, Sobatku memanjangkan leher sambil meneteskan air liur.
'Daging! Daging! Daging! Daging!'
...Padahal kalau jadi manusia, dia wanita yang wajahnya rapi lho. Sayang banget, atau lebih tepatnya banyak yang salah. Anu, tolong lebih dijaga sikapnya atau kata-katanya dikit gitu...
'Daging! Daging! Da... ging...?'
Begitu mendekati Graphant, pikiran Sobatku terputus. Alasannya jelas terlihat.
"Veeeeeeeeeeeeee!" "Vee, veeeaa!" "Veaaaaaa!"
...Saat mendekat, terlihat Abyss mengerumuni bangkai Graphant. Abyss-abyss itu menggerogoti Graphant, mencoba merobek dagingnya. Oh ya mereka kan menjadikan monster besar sebagai sarang.
"GUAAAAAAAAAAAAAA!"
Sobatku meraung marah, mengibaskan lehernya bunbun. Ada air mata menetes sedikit.
'Makanya, makan duluan tadi...'
So, sori... aku agak meremehkan Abyss. Tapi kan berhasil memancing mereka, jadi nggak apa-apa kan? Tuh, kalau dibakar bisa dimakan kok!
Aku mengalihkan pandangan dari Sobatku ke Aro. Aro sepertinya mengerti pikiranku, dia mengangguk (kokuri).
Mungkin berkat Skill Gelar Servant of the Evil Dragon, enaknya Aro dan Lesser Treant bisa mengerti maksudku tanpa perlu bicara. Nggak mungkin setiap mau ngomong harus Art of Humanification kan.
Aku mendekatkan ekor ke Aro yang ada di dahan Lesser Treant. Aro melompat dari dahan ke ekorku. Aku memanjangkan ekor, membawa Aro ke depan wajahku.
Oke, nggak perlu mikirin MP habis. Tembak sekuat tenaga dengan kekuatan penuh.
Aro mengangkat tangan kanannya ke udara. Cahaya hitam yang menyelimuti tubuh Aro berkumpul ke tangan kanan yang diangkat.
"Kua... ze, sihir, Gale!"
Cahaya mana berkumpul dan memadat, lalu dilepaskan sekaligus. Mana itu memanggil angin, menjadi tornado kecil, mencungkil tanah dan menerbangkan debu saat mendekati Abyss. Mungkin karena kenaikan level yang drastis, kekuatannya jauh beda dari sebelum mengalahkan Graphant.
"Vea!"
Tornado menghantam langsung salah satu Abyss yang sedang asyik makan Graphant. Tubuh Graphant tersayat, darah muncrat. Abyss yang terjepit antara tornado dan Graphant terlempar ke udara, lalu menghantam tanah dengan punggungnya.
"Veeeee!"
Abyss menggerakkan delapan kakinya, bangkit dengan pantulan itu.
"Gale!"
Tornado kedua menangkap Abyss yang baru saja bangkit. Tubuh Abyss terlempar beberapa meter lagi. Punggungnya menghantam batu, memuntahkan cairan tubuh berwarna krem dari mulutnya.
Bagus! Sepertinya bukan luka fatal, tapi damage-nya masuk. Bisa memberi damage yang layak dengan serangan dari depan adalah pencapaian besar. Kalau bisa memburu peringkat atas sendirian, levelnya pasti melonjak.
"......"
Aro merendahkan posisi, napasnya terengah-engah. Mungkin lelah karena menghabiskan mana sekaligus. Tekstur kulitnya tidak berubah, jadi sisa mana masih ada.
"Veeeeeeeee!"
Dipimpin oleh Abyss yang diserang Aro, dua Abyss lain juga menoleh ke sini dan menyerbu. Dua Abyss di belakang sha berpisah ke kiri dan kanan, menghilangkan hawa keberadaan. Aku mengikuti dengan mata, tapi begitu menyentuh pohon, mereka tiba-tiba menghilang.
...Dua yang itu biarkan saja sampai muncul. Kalau mau makan, mereka tinggal nempel di Graphant, harapannya sih kabur atau ngincar aku... tapi harus waspada juga ke arah Lesser Treant dan anak-anak laba-laba. Gerakan mereka nggak bisa ditebak.
"Veaaaaaaaaa!"
Abyss meliuk-liukkan delapan kakinya, makin mendekat ke sini.
"Tana... si, hir... Clay!"
Aro mengarahkan tangan ke Abyss. Tanah menyembul mengincar Abyss. Tapi Abyss sambil tetap menghadap ke sini, mundur jauh ke belakang menghindari tanah dengan indah, lalu mendekat lagi. Lincah juga.
Rasanya Gale yang jangkauan serangannya lebih luas lebih gampang kena deh.
Aro menekan wajah dengan tangan. Tidak ada perubahan berarti di kulitnya, tapi cahaya hitam yang menyelimuti Aro agak melemah.
Habis mana? Sedot aja nggak usah sungkan?
Aku memberi isyarat mata pada Aro, menekuk ujung ekor ke atas. Aro mengangguk kecil, memeluk ekorku dengan lengan. Cahaya berpindah (pooo), cahaya hitam yang menyelimuti Aro menguat.
Selagi Aro mengisi mana, Abyss sudah hampir sampai di depan mata. Sedikit lagi Abyss masuk jangkauan ekorku.
...Mungkin sebaiknya aku bantu secara fisik. Aro segera mengembalikan pandangan ke Abyss, mengarahkan kedua tangannya.
"Gale!"
Cahaya yang dilepaskan dari kedua tangan kiri dan kanan memanggil angin, berubah menjadi tornado. Tornado yang terlihat terbang memutar menjauhi Abyss itu, menyerang Abyss dari samping seolah menjepitnya.
Karena Abyss mempercepat kakinya, kedua tornado tertinggal di belakang serong. Aro mengangkat kedua tangan lagi.
"Gale!"
Dua tornado baru yang muncul menyerang Abyss dari depan. Total empat tornado mengepung Abyss dari empat arah.
Ooh, ini kayaknya damage-nya lumayan nih?
Furari, Aro bersandar pada bagian ekorku yang menekuk. Mana yang menyelimuti Aro menipis lagi. Empat tembakan kekuatan penuh sudah mendekati batas ya.
Sambil menyentuh ekorku, Aro mengarahkan tangan satunya ke Abyss.
"Clay!"
Abyss baru saja menekuk kakinya hendak melompat ke celah antara tornado. Tiang tanah yang diciptakan Clay secara tepat merebut tempat tujuan lompatan Abyss. Abyss yang spontan berhenti bergerak dijepit oleh tornado dari empat arah.
Gouuu, dengan suara gemuruh, tornado-tornado itu saling meniadakan. Dampaknya menjadi angin kencang yang sampai ke arahku. Aku memajukan sayap sebagai perisai, melindungi Aro dari dampaknya.
Saat itu, sesuatu seperti ranting pohon tertiup angin dan terbang ke arah mataku. Malas menghindar, kupikir bukan benda penting, jadi kuterima dengan kelopak mata.
Benda yang menempel di kelopak mata itu, anehnya, memanjang memendek dengan gerakan kecil hyoko-hyoko. Detik berikutnya aku sadar. Benda hitam dan agak berlendir itu adalah kaki panjang Abyss.
"Gua!?"
Spontan aku memalingkan wajah ke belakang sekuat tenaga. Segera tenang kembali, aku fokus agar Aro yang ada di ekor tidak jatuh. Kaki Abyss yang jatuh ke tanah bergerak-gerak sendiri piku-piku.
Mungkin karena sesaat aku lengah, Abyss yang tadi dilawan Aro pun menghilang. Saat aku melihat ke belakang untuk mewaspadai anak-anak laba-laba juga, aku melihat Abyss yang bersembunyi di titik buta melompat ke arah Aro.
Tujuh kaki yang tidak seimbang kiri kanan... tak salah lagi, ini Abyss yang tadi. Dia mengincar Aro, bukan aku. Balas dendam karena diserang, atau karena melihat aku tidak ikut campur jadi dia pikir Aro lebih berbahaya.
Aro masih belum sadar. Aku mengangkat ekor tinggi-tinggi. Aro kehilangan keseimbangan di atas ekor, jatuh dan berpegangan erat. Abyss menabrakkan kepalanya ke ekorku, lalu jatuh lurus ke bawah.
Demi EXP aku berusaha tidak ikut campur, tapi Aro juga sepertinya butuh istirahat, apa kuhabisi saja dia di sini...?
Berpikir begitu aku melihat Aro, dia masih berpegangan di ekorku, tapi tangannya masih diarahkan ke Abyss. Aku berpikir mau menurunkan ekor dan menginjak Abyss, tapi Aro masih mau lanjut ya. Anak ini cukup antusias leveling rupanya. Kalau dia mau berjuang, coba lihat sebentar lagi deh.
"Gale!"
Sihir angin yang dilepaskan Aro meledak pada Abyss yang tergeletak tanpa pertahanan dengan perut di atas. Mungkin karena menekan waktu aktivasi, kekuatannya tidak seperti tadi. Tapi cukup untuk mementalkan Abyss.
Abyss yang terpental angin sedikit mengangkat kepala, mungkin mencoba memahami situasi.
"Gale! Gale! Gale!"
Mengincar celah itu, dia melepaskan tiga sihir angin baru. Skala tornadonya lebih kecil dari tadi, dan hanya bertahan sekitar satu detik. Abyss meringkuk, menahan tekanan angin tornado.
"Kyaa!"
Di ujung tangan Aro yang terulur, angin berputar dan meledak kecil. Menjerit tinggi, Aro jongkok di atas ekor. Mungkin karena kena angin, lengannya jadi kering dan penuh retakan.
Mungkin karena mananya terlalu sedikit, dia tidak bisa mengendalikan Gale sepenuhnya.
Aro menyentuh ekorku lagi dengan satu tangan, menghisap mana dengan Mana Drain. Entah karena konsentrasi terambil Mana Drain atau level skill-nya rendah, sepertinya dia tidak bisa menggunakannya bersamaan dengan skill lain. Paling banter sambil menghisap mana dengan satu tangan, tangan satunya membidik target agar siap pakai sihir. Tidak bisa menembak beruntun seperti senapan mesin rupanya.
"Veaa!"
Abyss melompat lagi. Abyss lebih unggul dalam kecepatan.
"Ga..."
Mungkin karena pergantian skill memakan waktu lebih lama dari dugaan, reaksi Aro terlambat total. Aro menghentikan sihir Gale yang hendak dirapalnya di tengah jalan, mematung dengan lengan terhenti. Tanpa ampun, Abyss memanjangkan kaki depannya yang agak tebal dan tidak rata, hendak memukul Aro dari kedua sisi.
Kaki depan Abyss yang dipanjangkan ternyata lebih panjang dari dugaan. Benar saja kalau didekati, jeda pengisian mana tidak keburu ya. Aro sudah cukup berjuang, EXP-nya pasti lumayan masuk. Berpikir begitu, aku mengangkat kaki depan hendak meremas mati Abyss dengan kuku. Saat itu, lengan Aro yang terulur membesar, mencengkeram kepala Abyss.
"Gua...?"
Spontan aku mengeluarkan suara bodoh. Tubuh Abyss melayang di udara, kaki panjangnya bergerak-gerak hyoko-hyoko membabi buta.
"...Ve? Ve?"
Abyss menggeliat dan meronta. Tapi karena kepalanya dicengkeram di udara dan pandangannya tertutup, dia hanya bisa menggerakkan kaki sembarangan.
"......"
Aro juga refleks mencengkeram, tapi sepertinya bingung harus apa selanjutnya. Dia diam tak bergerak sambil memegang Abyss. ...Lalu dia menoleh ke arahku, menatap dengan mata memohon bantuan.
...Dia kayak mau nangis nggak sih? Yah, megang Abyss gitu wajar sih mau nangis. Aku juga pas pertama kali megang beneran nggak mau banget rasanya.
"Veeeeee! Veeeee!"
Amukan Abyss makin parah, Aro juga panik.
...Lagian, lengan apa itu.
Lengan Aro membesar melebihi tubuhnya sendiri, terutama bentuk kukunya yang menyeramkan, ujungnya sangat tajam. Kalau tidak salah di Skill Karakteristik ada Flesh Deformation. Awalnya Levana itu menempelkan tanah yang menyerupai daging ke tubuh kan. Segini sih gampang baginya.
Gugu, Aro memperkuat cengkeramannya. Kuku menancap di tubuh Abyss, mengubah bentuknya.
"Veee! Veee!"
Abyss makin mengamuk. Aro menelan ludah (gokuri), memelototi Abyss seolah membulatkan tekad.
"Gale!"
Mana berkumpul di ujung tangan yang membesar, lalu bersamaan dengan teriakan Aro, meledak menciptakan badai angin. Jari, punggung tangan hancur runtuh, dan Abyss yang ada di tengahnya terlempar sambil kaki-kakinya berhamburan.
Keruntuhan lengan tidak berhenti di punggung tangan, sampai dekat bahu Aro berubah jadi pasir, tertiup angin dampak ledakan. Saat Aro mengangkat bahu, lengan yang membesar itu sepenuhnya jadi pasir dan jatuh ke tanah. Dan dari dalam lengan besar itu, Aro menyibak pasir, lengan rampingnya yang biasa muncul.
...Lengan kekar tadi, penampilannya agak mengejutkan, tapi kayaknya praktis juga.
"Vee..."
Abyss yang kehilangan separuh kakinya terbalik sambil menyebarkan cairan tubuh. Dia mencoba membalikkan badan dengan momentum memanjangkan dan memendekkan kaki yang tersisa, tapi sepertinya tidak bisa bergerak. Aro menyentuh ekorku menghisap mana, lalu mengarahkan kedua tangan ke Abyss.
"Gale!"
Abyss yang terkena tornado langsung terlempar tinggi ke atas, lalu menghantam tanah sambil menyebarkan cairan krem. Abyss sekuat apa pun pasti tamat dengan ini.
Mendapatkan 44 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 44 poin pengalaman.
Lho, aku juga dapat? Aku nggak ngapa-ngapain lho?
...Yah, mungkin karena aku bantu hindarin Abyss, pinjemin mana, naikin kekuatan sihir, jadi dianggap berkontribusi dalam pertarungan. Terus EXP-nya dibagi... gitu. Tapi kalau segini sih bagiku kecil banget, nggak perlu masuk juga nggak apa-apa, mending kasih ke Aro semua, tapi nggak bisa gitu ya. Tapi, yah, tetap saja sebagian besar pasti mengalir ke Aro jadi nggak masalah sih...

...Lv 14 ke Lv 17 ya. K, kupikir bakal naik lebih banyak. Memang sudah masuk pertengahan jadi susah naik level, dan Abyss yang dibunuh juga levelnya nggak terlalu tinggi, tapi cuma 3 ya... Kalau dilihat secara umum, ini cepet banget sih.
Merasakan kekecewaanku, Aro sedikit menunduk. Ti, tidak, kalau dipikir sebaliknya, naik 3 lho, bagus kan. Kalau berusaha dikit pasti cepet tercapai.
Memang kalau lewat Lv 20 bakal makin susah naik. Tapi, kekuatan sihir Aro juga naik seiring Lv. Selanjutnya bakal lebih gampang bunuh Abyss, dan selanjutnya lagi bakal lebih gampang lagi. MP juga tak terbatas selama hisap dariku.
Lagipula... di sekitar sini, yang tadi sembunyi, harusnya masih ada dua ekor lagi.
Tapi, jumlah Abyss yang harus diburu Aro sampai evolusi... estimasi terendah, sekitar lima belas ekor lah. Kalau dilebihkan mungkin dua kali lipatnya, tiga puluh ekor.
Waktu Ball Rabbit juga gampang banget naikin sampai Peringkat D... tapi D ke C itu tembok ya... Kalau gampang evolusi, di mana-mana bakal penuh bentuk evolusi dong.
Aku melirik Aro.
...Mau coba intip sarang Abyss? Kalau beneran ada, harusnya bisa capai target tiga puluh Abyss dengan cepat. Lagipula, aku ingin memenuhi harapan suku Lithoviar sebisa mungkin.
...Aku sih, bisa lah, mungkin. Sekali ayun lengan bisa gepengin Abyss. Lawan sepuluh ekor sekaligus pun, aku yakin bisa menang hampir tanpa luka.
Jujur saja, sejak jadi Ouroboros aku jarang lihat yang lebih kuat dariku. Si Pahlawan itu agak bahaya sih, tapi dengan status sekarang walau ada handicap pun bisa kucabik. Abyss doang...
"Gaa..."
Sobatku bersuara cemas.
'Lu, mikir yang aneh-aneh kan...?'
Ti, tidak tapi, selama Abyss berkeliaran di mana-mana, aku harus terus jagain Aro dan yang lain... kalau terus nggak bisa nongol di desa suku Lithoviar, mereka bakal curiga dan sering datang ke kuil... kalau begitu, kondisi Aro sekarang bisa ketahuan. Mending aku yang bergerak...
"......"
Sobatku memasang wajah muak. ...Aku juga setuju sih nggak mau ketemu Abyss.
'...Ah! Oi belakang!'
Mendengar peringatan Sobatku, aku berbalik sambil melepaskan Kamaitachi sebagai gertakan. Kamaitachi menabrak tanah kosong, menerbangkan debu. Dua Abyss yang mendekati anak-anak laba-laba kaget dengan Kamaitachi-ku, mundur jauh ke belakang.
...Aro, masih bisa? Dua lagi, kita habisi.
Mereka jago menghilangkan hawa keberadaan, jadi walau kelihatannya kabur, mereka bakal nyerang lagi berkali-kali. Selanjutnya pasti segera muncul lagi.
"Gale!"
Mana yang dilepaskan dari kedua tangan Aro memanggil angin, menjadi tornado. Abyss yang melompat ke semak-semak berniat sembunyi terpental tornado, menampakkan wujudnya.
Aro segera mengisi ulang mana, melepaskan serangan kedua.
"Gale!"
Sebelum Abyss memperbaiki posisi, tornado baru menyerang Abyss. Aro memeluk ekorku sambil mengecek kondisi Abyss, masuk ke mode pengisian mana. Aro juga mulai menangkap timing pengisian mana dan interval aktivasi sihir yang efisien. Berkat bisa menembak sihir terus-menerus tanpa mempedulikan MP, level skill Gale dan Clay juga naik pesat. Dia menahan Abyss yang menyerang dari dua arah secara merata, dan jika ada celah, dia menyerang lalu pindah ke pengisian mana.
"Veea!"
Salah satu dari dua Abyss jatuh ke tanah sambil menyemburkan cairan tubuh. Gemetar piku-piku, tapi dalam beberapa detik jadi bangkai.
Mendapatkan 36 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 36 poin pengalaman.
Pertama, satu ekor tewas...
Aro dengan cepat pindah ke pengisian mana. Begitu sosok Abyss terlihat, tanpa menunggu MP pulih penuh dia berhenti, mengarahkan lengan.
"Gale! Clay!"
Menjepit dengan tornado dan dinding tanah, merampas jalan lari Abyss. Abyss terpental tornado, menabrak dinding tanah dan memantul, lalu terpental tornado lagi. Aro mungkin tidak berniat lebih dari sekadar merampas jalan lari Abyss, tapi combo-nya masuk dengan indah.
Mendapatkan 43 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 43 poin pengalaman.
...Lumayan banyak EXP yang ngalir ke aku ya. Memang Aro sendirian nggak bisa nahan serangan gencar Abyss, dan susah kasih damage yang layak, MP juga kurang banget... tapi ini agak terlalu ketat nggak sih.
Saat mengecek level Aro, tertulis Lv: 20/30.
...Oke, Lv 17 ke Lv 20. Sudah dua per tiga... tapi, dari sini bakal makin susah naik. Tapi, berbanding terbalik dengan itu, kekuatan sihir Aro naik pesat.
Sebagai ganti level yang susah naik, damage ke Abyss jadi makin gampang masuk.
Ayo, coba kita intip sarang Abyss sebentar. Kalau lihat contoh Pahlawan Gazaza, kalau menangkap satu Abyss hidup-hidup, menemukan sarang Abyss seharusnya tidak sulit.
"Gaa..."
Sobatku menggonggong lemas. ...Ternyata, Sobatku mau nolak ya?
'Mending, makan daging dulu yuk?'
Sobatku memanjangkan leher ke arah Graphant.
...Ah, iya ya. Kalau ditinggal lama baru balik, nanti malah ditelurin Abyss beneran. ...Sekarang belum kan?
'Jangan ngomong yang nggak-nggak dong...'
So, sori. Kalau ditelusuri, salahku juga sih nunda-nunda.
Selagi aku ngobrol sama Sobatku, anak-anak laba-laba mengerumuni bangkai Abyss. Begitu selesai makan mereka bubar, menyisakan kulit dan kaki Abyss yang berlumuran benang, tipis gepeng. Kupikir kakinya nggak dimakan, tapi terlihat satu anak laba-laba menggigit kaki itu dan pergi. ...Rasanya kayak cemilan buat mereka.
Untuk jaga-jaga aku cek luka Graphant apakah ada telur yang ditanam. Setelah selesai, aku mulai memotong-motong Graphant.
Pertama seret Graphant ke atas batu besar, potong kepalanya dengan kuku. Buat sayatan tipis di seluruh tubuh, lalu mulai menguliti dari situ. Setelah itu belah perut vertikal, keluarkan isi perut dan kumpulkan di satu tempat. Terakhir belah dari punggung jadi dua.
Lalu angkat dengan ekor dan goyang-goyangkan, atau banting ke batu berulang kali, lakukan pembuangan darah sederhana. Kerja ginian sudah biasa kulakukan sejak zaman Naga Kecil Pembawa Wabah. Bau darah sekarang sudah sama sekali tidak mengganggu.
Potong daging lebih kecil lagi, semburkan Scorching Breath ke batu biar panas, jadikan hot stone steak Graphant. Juuu, daging terpanggang, lemak menetes, bau enak tercium.
Sejak datang ke dunia ini, ini pertama kalinya makan daging sapi. Aku juga jadi kangen dan nafsu makan naik mencium bau ini. Sayang di sini nggak nemu rempah-rempah sama sekali.
Mumpung ukurannya big size, aku juga mau makan tanpa sungkan. Belakangan ini aku sering ngalah soal makanan ke Sobatku, jadi rasanya enak banget. Rasanya tenaga meluap dari dalam perut. Sobatku juga makan lebih lahap dari biasanya.
'Buruan lagi yuk yang ini, hei, hei!'
Kasih ke anak-anak laba-laba juga, mereka ngerubungin waa, kalau abis langsung pindah ke daging lain. Lagian, mau daging mentah atau jeroan, mereka lahap aja tuh.
Aku coba kasih potongan daging kecil ke Aro. Dia kelihatan agak bingung, tapi langsung memakannya (hyoi).
...Ternyata bisa makan ya. Kupikir pada dasarnya nggak makan. Tapi mungkin nggak ada rasa, dia pasang wajah agak sedih. ...Treant juga, kelihatannya bukan tipe yang makan lewat mulut sih.