Bab 5: Serangan Abyss - Bagian 4
Volume 5 - Chapter 11
February 6, 2026
7
Aku menendang pinggir tebing dengan Aro di punggung, melompat ke bawah. Segera merentangkan sayap, mengurangi kecepatan jatuh, hati-hati menuju dasar. Saat menyebarkan Presence Sense, mungkin karena makin dekat dasar, perlahan hawa Abyss mulai terasa di kulit. Merinding (zowazowa). Sisikku rasanya mau berdiri.
"Ve..." "Ve, ve... ve..." "Veeee..."
Dari dasar, suara kecil Abyss bergema memantul di dinding. Semakin turun, semakin lembap, sekitar menjadi gelap.
Akhirnya, sosok Abyss yang berdesakan di dasar tebing mulai terlihat. Kupikir sudah biasa, tapi melihat jumlah Abyss sebanyak ini berdesakan lumayan kena mental juga. Mungkin bermaksud mengancam, mereka mengarahkan mulut bergigi banyak itu padaku (gajigaji) sambil menyemburkan air liur. Dari lubang dinding tebing juga Abyss merayap keluar, terlihat mengarahkan permusuhan ke sini.
...Jarak segini, sudah bisa kan. Sikat mereka, Aro. Aro berjongkok menyentuh punggungku menghisap mana. Saat aku memberi isyarat mata, dia mengangguk kecil dan berdiri.
"...Clay"
Aro mengarahkan tangan ke tempat di mana gerombolan Abyss sangat padat. Menyibak Abyss yang berdesakan, tanah menyembul membentuk tiang besar. Abyss terlempar ke udara sambil menyemburkan cairan tubuh. Tentu saja satu serangan ini tidak membunuh Abyss mana pun, tapi harusnya memberi luka yang lumayan.
"...Gale"
Tornado mencerai-beraikan Abyss yang sedang panik. Abyss yang perhatiannya teralih oleh perubahan medan tidak bisa bertahan, terlempar ke segala arah, menghantam dinding.
Kalau begini bakal lancar... pikirku, tapi dari tempat Abyss berkumpul tadi muncul sesuatu yang luar biasa. Tulang naga besar berwarna kekuningan. Benang kuning tebal yang lembek (buyo-buyo) melilit di rongga mata maupun tulang rusuk, dan Abyss kecil berwarna hijau cerah yang anehnya transparan menempel erat. Mungkin itu bayi Abyss.
Tubuh bayi Abyss hijau, tapi wajah dan ujung pantatnya oranye cerah. Kaki oranye panjang saling tumpang tindih, persis mie ramen. Kaki panjang itu dan benda kuning lembek misterius itu saling melilit... jijik banget aku nggak mau lihat jelas-jelas.
"Oooooo..."
Sobatku memutar leher sambil terisak (oetsu). Mungkin itu nasib akhir naga yang dikerubungi Abyss dan dijadikan tempat bertelur. Aku juga kalau mati di sini bakal jadi begitu.
Pokoknya, itu nggak apa-apa. Sampai situ nggak apa-apa. Tidak, tidak ada yang nggak apa-apa sih, tapi sementara kesampingkan dulu. Masalahnya adalah, naga itu, kepalanya ada dua.
"...De, wa, Naga?"
Aro bergumam pelan.
D, dimakan rupanya. Katanya tiba-tiba pergi entah ke mana, ternyata dimakan Abyss! Ngapain aja woy, eh, seriusan?
Aku menaikkan ketinggian lagi, mengambil jarak dari bangkai yang sepertinya Dewa Naga itu. Abyss melompat dive terbang ke arahku, jadi kutangkis dan jatuhkan dengan sayap.
Aro juga mungkin syok, dia bengong. Lagian ini, gimana jelasin ke Aro. Maksudku itu, beneran Dewa Naga?
[[Amphis]: Monster Peringkat C+]Naga berkepala dua yang sifatnya tenang.Karena suka memakan Abyss yang membahayakan manusia, cenderung disucikan oleh manusia yang tinggal di hutan.Saat itu terjadi, Amphis karena tidak terlalu pintar, senang dengan polos tanpa mengerti artinya.
Dewa Nagaaaaaaaaa!?
Gimana nih Dewa Naga... ternyata nggak sekuat dugaan. Kupikir minimal B, ternyata malah jadi makanan Abyss. Punya sayap jadi kalau terbang dan menyerang dadakan, tergantung skill mungkin bisa menang... tidak, karena tidak bisa makanya jadi begini ya.
Pantesan nggak mau lawan Manticore. Jelas nggak mungkin lah. Dewa Naga, dari awal cuma makan Abyss doang, nggak ada niat nolongin manusia sama sekali tuh.
Akhirnya aku paham kenapa aku ngomong sebanyak itu sama Hibi lewat Telepathy tapi nggak dicurigai sama sekali. Dari awal emang nggak ngomong hal penting ya. Malah, karena nanya macem-macem mungkin dicurigai.
Pergantian generasi juga pasti sering terjadi secara alami. Bukan individu (naga) tertentu, tapi kayaknya sifat semua Amphis begitu. Pantesan ada jeda waktu. Kalau nunggu Amphis lain datang terus-terusan. Malah kalau dua ekor datang barengan juga nggak aneh.
Eh, tapi kalau gitu, tumbal Manticore itu... yah, nanti dipikirin lagi deh. Sekarang yang penting, Abyss di depan mata.
Aku melihat Aro yang ada di punggungku. Aro melihat aku dan Dewa Naga bergantian dengan bingung dan panik, tapi saat bertatapan denganku dia menggeleng kecil, lalu berdiri.
"Gale!"
Aro mengangkat kedua tangan. Dua tornado besar yang diciptakan sihir muncul, menginjak-injak Abyss yang hanya bisa merayap di tanah. Abyss yang dive dari atas, terus kujatuhkan dengan sayap dan tangan.
Bisa, gampang ini mah. Kebanyakan mikir aku. Abyss yang merayap di tanah nggak punya serangan yang bisa nyampe ke aku. Sepihak jadi ladang perburuan Aro.
Mendapatkan 44 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 44 poin pengalaman.
Akhirnya satu Abyss kehabisan tenaga, God Voice memberitahuku kalau EXP-nya dibagikan. Dari situ serentak, Abyss-abyss yang kerusakannya sudah menumpuk, berhenti bergerak diiringi erangan tak terhitung jumlahnya. Di dalam otakku, jendela pesan pemberitahuan perolehan EXP muncul dan menghilang dengan sibuk.
Bayi Abyss yang menempel di bangkai Dewa Naga juga terlempar tinggi ke udara oleh Gale Aro sambil menyemburkan cairan tubuh, berubah jadi EXP.
Abyss sepertinya sadar tidak bisa menang, mereka mundur masuk ke dalam lubang di dinding. ...Aku tidak bisa lewat situ. Secara jumlah, di dalam sarang pasti lebih banyak lagi, Abyss dalam jumlah besar berdesakan di tempat sempit... nggak mau bayangin ah.
Selama perkembangbiakan abnormal Abyss tidak dikurangi, tidak ada kedamaian bagi suku Lithoviar dan aku. Abyss yang mundur ke sarang juga harus dihajar.
Dindingnya, dihancurin kali ya? Atau, masukin benda panjang, atau bawa daging monster enak terus bakar, pancing pakai baunya...
Pokoknya, kalau pertarungan sudah agak tenang, aku ingin menguburkan Dewa Naga pendahulu dengan layak. Di tulang Dewa Naga, benang kuning lembek misterius melilit di mana-mana, dan yang terparah bangkai bayi Abyss menempel rapat. Kalau dibiarkan begitu, kasihan banget. Aku ingin membersihkannya sedikit.
Saat itu, Aro menusuk-nusuk punggungku (tsun-tsun). Saat menoleh, Aro merentangkan tangan ke kiri kanan dan mengibas-ngibaskannya (pata-pata). A, ada apa? ...Ja, jangan-jangan.

O, oo... Uwoooo! Akhirnya, akhirnya, Lv-nya maksimal.
Sambil senang dengan kenaikan level Aro, untuk sementara aku mendarat di depan bangkai Dewa Naga. Menginjak beberapa mayat Abyss, tapi sementara diabaikan dulu. Dulu kalau mereka mendekat aja udah histeris, ternyata terbiasa itu menakutkan ya.
Aro melompat turun dari punggungku sambil memperhatikan pijakan.
Aku melirik lubang-lubang yang ada di tebing. Lubangnya besar kecil, tapi kebanyakan cuma cukup buat Abyss lewat pas-pasan. Manusia pun harus agak menunduk buat masuk.
Mungkin buat Heavy Abyss, ada lubang yang agak besar. Kalau yang itu, pakai Art of Humanification mungkin bisa masuk. Sempit banget jadi nggak bisa tarung bener, lagipula gelap gulita sih kekurangannya.
Untuk sementara, sepertinya Abyss tidak akan keluar.
"......"
Aro gelisah tidak tenang. Apa Aro berniat kembali ke desa setelah ini? Aku memikirkan hal itu dengan perasaan agak gundah.
'Evolusi, nggak nih?'
...Ah, Sobat, tolong seperti biasa.
Saat aku menjawab dalam hati, Sobatku mengangguk lalu menghadap Aro.
"Gaa!"
Saat Sobatku bersuara, cahaya hitam membungkus Aro. Skill Soul Append: Fake Life.
Dari cahaya hitam itu, terdengar suara aneh jijiji, jijijijijiji seperti sesuatu hangus. Suara yang memancing rasa jijik. Aku jadi cemas, tanpa sadar maju selangkah. Cahaya hitam melebar bowa, spontan aku memejamkan mata. Saat membuka mata, cahaya hitam bercampur dengan udara, mulai menipis.
Dari dalam cahaya tangan putih terulur (suuu). Bukan tanah. Setidaknya, dilihat dari luar sama sekali tidak terasa seperti itu. Tidak terasa ada aliran darah, tapi itu lengan gadis yang mulus.
Akhirnya, cahaya hitam sepenuhnya hilang. Mata merah yang terbuka lebar, terasa penuh mana, menatapku. Kualitas rambut, kualitas kulit, warna mata, kesan yang diterima sama sekali berbeda, tapi kontur wajah, tinggi badan, panjang rambut, semuanya persis sama dengan Aro. Memang menyisakan bayangan bentuk sebelumnya. Tidak salah lagi, itu Aro.
Aro melihatku yang terkejut lalu berkedip, kemudian dengan takut-takut melihat lengannya sendiri. Saat menyentuh kulitnya sendiri dengan tangan, tubuhnya gemetar puru-puru, lalu dia jatuh terduduk di tempat. Sambil memeluk tubuhnya sendiri, entah karena terlalu senang, dia memasang wajah seperti mau menangis.
Akhirnya, akhirnya sampai di sini. Kulit putih pucat tanpa hawa kehidupan dan mata merah dengan pupil yang agak lebih besar dari biasanya memang terlihat agak menyimpang dari manusia biasa, tapi sama sekali berbeda dari wujud yang sangat undead sebelumnya.
Pertama-tama, cek info spesies.
[[Levana Low Lich]: Monster Peringkat C+]Memanipulasi tanah dengan bebas, menciptakan tubuh sementara.Memiliki keterikatan kuat pada yang hidup, sering menggoda dan memancing manusia bodoh.Saat sadar, mereka sudah berada di dalam pesta gila Levana Low Lich.
C+, ya. Naik peringkat lumayan juga. Kalau begini terus, selanjutnya Levana Lich ya.
...Kok agak serem ya, nggak apa-apa kan? Aro tetap Aro kan?

L, Lv 1 segini...
Eh, kuat nggak sih? C+ segini ya? Ini, naikin level dikit lagi, tanpa aku pun bisa bantai Abyss nih. Kuncinya apakah bisa pakai Mana Drain dengan baik atau tidak.
...Lagian, kok skill serem muncul terus sih. Earth Ruler sih oke... Privilege of The Dead, Evil Mystic Eye, Rope of Lingering Regret, Mist of the Dead, Undecaying Body...
Eh, ini, aman... kan? Nggak ngerti sama sekali mana buat apa...
Selagi aku pusing lihat status, Aro sudah berdiri. Menatap mataku lekat-lekat (jiii).
Kupikir apa, ternyata dia mengecek wajahnya sendiri lewat mataku.
Melihat pantulan dirinya di bola mataku, wajahnya bersinar, lalu dia memeluk bagian daguku. G, geli. Saat aku refleks mengangkat leher, Aro mengulurkan tangan padaku, sedikit menggembungkan pipi.
Aku menyentuh dagu dengan kaki depan, mengingat sensasi Aro. Benar-benar, sensasi lembut kulit manusia. Hampir tidak terasa panas, tapi kualitas kulitnya tak diragukan lagi manusia itu sendiri. Sama sekali tidak terasa terbuat dari tanah.
Aro tiba-tiba melihat ke bangkai Dewa Naga melewatilewatiku. Bangkai Dewa Naga berlumuran benang kuning lembek, bangkai bayi Abyss, dan cairan tubuh.
...Kalau dilihat tenang, benda lembek ini mirip sarang busa. Sarang busa itu yang buat ngelindungin telur ikan atau katak, yang unyu-unyu setengah transparan itu. Karena ada bayi di dekatnya, mungkin benda kuning lembek ini tadinya berisi telur.
Saat aku menghadap ke arah bangkai Dewa Naga, Aro pindah ke depan bangkai itu. Aro mengamati bangkai Dewa Naga lekat-lekat, lalu menatapku lagi. Kupikir dia curiga padaku, tapi sepertinya bukan begitu.
"...Kasihan."
Aro bergumam pelan (potsuri). Aku melihat bangkai Dewa Naga yang diinjak-injak Abyss, lalu mengangguk setuju. Aku menarik napas dalam-dalam mengumpulkan mana di tenggorokan, lalu menyemburkan Scorching Breath ke tulang Dewa Naga. Api dahsyat membakar habis benang lembek dan bangkai bayi Abyss yang melilit Dewa Naga. Gougou bersuara, tak lama kotoran entah daging busuk atau tanah yang tersisa di tulang terbakar habis. Hanya tersisa kerangka bersih dengan sedikit bekas terbakar.
Aro mendekati kerangka Dewa Naga yang sudah bersih, lalu mengelus kepalanya dengan lembut.

"...Terima kasih, Dewa Naga. Istirahatlah dengan tenang."
Suaranya juga tidak serak lagi, terucap dengan lancar.
Aro juga melihat kerangka itu, sadar kalau itu naga berkepala dua yang dulu dipuja sebagai Dewa Naga. Aku hanya diam mengamati. ...B, bukan cemburu lho ya.
"...Anu, Dewa Naga?"
Dengan nada agak bertanya, Aro menatapku. Entah kenapa aku jadi canggung. Di mata Aro tidak ada kecurigaan atau permusuhan. Mungkin sebagian besar suku Lithoviar sudah samar-samar sadar kalau Dewa Naga berganti tiap generasi. Kalau dipikir sekarang, Hibi si Miko Dewa Naga juga rasanya tidak pernah menanyakan hal yang terlalu mendalam padaku.
Tapi keraguan tetap ada, dan bagaimana Hibi melihatku juga agak mencurigakan. Saat aku membuang muka dengan canggung, saat itulah. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang tidak enak.
"Guo..."
Saat aku bersuara, Abyss tumpah ruah dari lubang sarang. Saat aku memutar leher mengecek sekeliling, dari salah satu lubang sarang, sejumlah besar Abyss terdorong keluar bercampur aduk. Ada Abyss yang terbalik, menggeliat dengan perut di atas.
A, apa... apa yang terjadi?
Dari dalam tempat Abyss didorong keluar itu, tentakel biru hitam besar misterius memanjang, dan memukul tubuh Aro. Kejadiannya sekejap. Kecepatan yang luar biasa. Walau perhatianku teralih, reaksiku benar-benar terlambat. Aku buru-buru menendang tanah terbang mengejar, menangkap Aro dengan melilitkan ekor sebelum dia menghantam dinding. Kalau dihentikan begitu saja Aro bisa hancur karena dampak, jadi aku memutar ekor membuat lingkaran untuk mematikan momentumnya.
"Au..."
Aro mengerang. Baju di bagian samping perut yang terkena pukulan robek, dagingnya tercungkil besar. Walau tidak berdarah, potongan daging putih yang tercungkil itu cukup mengerikan. Tidak kena telak, dan dampaknya sudah kuredam, tapi kekuatannya segini. Aku juga mungkin, tidak bisa santai-santai nih.
Tentakel misterius besar yang memanjang dari lubang sarang (zuru zuru). Jauh lebih besar dari Abyss. Sebenarnya apa yang bersembunyi di lubang sarang ini...
「Uveeeeeeeeeeeeeee!」
Suara ledakan yang melengking bergema di udara. Bersamaan dengan itu, area dinding tempat tentakel tadi muncul mulai runtuh dengan suara gemuruh.
Dinding tebing itu ambruk, menerbangkan debu tanah ke udara. Di balik kabut debu itu, ada sesuatu yang memancarkan hawa keberadaan yang luar biasa menekan. Meskipun sosoknya tertutup debu, bayangan yang terpancar di sana jelas satu ukuran lebih besar dariku. Dari balik debu, tentakel-tentakel biru kehitaman yang sangat panjang menyembul keluar. Sepertinya tidak salah lagi, ini adalah bos para Abyss. Kalau aku bisa mengalahkannya, perkembangbiakan abnormal Abyss ini harusnya berhenti.
Di sekitar sini, Abyss merayap dalam jumlah yang mengerikan. Berada di tanah terlalu berbahaya. Menilai demikian, aku mengulurkan ekorku pada Aro. Aro melompat ke ekorku dan berpindah ke punggungku.
「Veeeeeeeeeeeee!」
Jeritan tinggi kembali bergema di sekitarnya. Suara itu seketika menyapu bersih debu tanah yang menghalangi pandangan. Makhluk yang muncul dari dalamnya adalah Abyss raksasa berwarna biru kehitaman dengan bentuk tubuh yang lebih memanjang vertikal daripada biasanya.
Empat matanya bersinar tajam. Dari sekitar kepalanya, tumbuh tentakel-tentakel panjang dan pendek yang aneh, melambai-lambai di udara.
Dan yang paling mengerikan adalah punggungnya. Di sana, bayi-bayi Abyss dalam jumlah besar saling berdesak-desakan. Benda lembek berwarna kuning yang kulihat sebelumnya tampak melilit tubuh bayi-bayi itu.
Bayi-bayi itu menggeliat satu per satu, seolah-olah mereka sedang memakan punggung Abyss raksasa itu untuk membuat tempat bagi diri mereka sendiri. Awalnya kupikir punggungnya hanya cekung, tapi ternyata bayi-bayi itu menggerogoti dan menjadi parasit di sana.
Jujur saja, baru melihatnya saja niat bertarungku sudah luntur. Sobatku juga sepertinya kehilangan kata-kata dan hanya bisa ternganga.

Ugh... a-aku sedikit meremehkannya. Meskipun tidak setinggi aku, statusnya gila-gilaan. Jadi monster seperti ini yang bersembunyi di dasar tanah? Aku langsung paham kenapa Abyss berkembang biak secara massal. Makhluk inilah yang terus-menerus memproduksi Abyss di dasar jurang ini.
【〖Mother〗: Monster Peringkat B+】 【Ratu Abyss yang telah hidup selama ratusan tahun.】 【Ia menelan kembali sebagian telur yang dilahirkannya ke dalam tubuh, menetaskannya, lalu membiarkan mereka menjadi parasit di punggungnya dan memakan dagingnya.】 【Abyss yang tumbuh dengan cara ini akan menjadi Abyss elit yang melindungi 〖Mother〗.】 【Pejantan akan mati setiap kali kawin dan menjadi nutrisi bagi 〖Mother〗.】
O-oh... Begitu aku melihat ke arah Mother, memang ada Heavy Abyss dengan kulit biru kehitaman yang ditempatkan di sekelilingnya.


Itu bukan Heavy biasa, itu pengawal khusus (Bodyguard). Levelnya tinggi banget pula, apaan sih mereka ini? HP di kisaran 400 dan berkumpul sebanyak itu. Ditambah lagi ada koreksi pertahanan... ah, itu pasti efek skill 〖Physical Barrier〗 milik Mother. Kalau begini ceritanya, tidak akan ada habisnya.
Mother bergerak mendekati bangkai Dewa Naga, lalu menekuk kakinya dan menduduki tempat itu. Segerombolan Mother Guard naik ke atas bangkai Dewa Naga satu per satu. Bangkai Dewa Naga itu sedikit tenggelam ke tanah karena beban mereka.
Aku mengibaskan kaki depan dan ekorku, menepis Abyss yang mendekat, lalu terbang ke udara. Sambil melayang, aku melancarkan 〖Kamaitachi〗 ke arah Mother.
Mother memang jauh lebih tangguh dibanding musuh-musuh sebelumnya, tapi kalau dia menerima beberapa serangan telak dariku dan pemulihannya tidak bisa mengejar, dia pasti akan tumbang. Bagaimanapun juga, 【Attack: 837】 adalah milikku. Meski Mother berlevel tinggi, peringkat kami berbeda.
Aku melepaskan dua bilah angin. Pada saat itu, seekor Mother Guard yang berada di atas bangkai Dewa Naga melompat ke depan dan menahan bilah angin itu. Tubuh Mother Guard itu terbelah lebar, menghamburkan cairan tubuh. Namun, ia tidak kehilangan keseimbangan, kakinya mendarat kokoh di tanah, bertahan agar tidak tumbang.
Mother Guard yang terluka itu mundur ke belakang, dan dengan segera bertukar posisi dengan Mother Guard lainnya.
「Sihir Angin, 〖Gale〗!」
Aro melepaskan tornado. Tornado itu melesat sambil menggerus tanah menuju Mother, tapi Mother Guard menahannya di tengah jalan dan membuyarkannya. Mother Guard itu pun tampaknya tidak menderita kerusakan berarti.
Aro baru saja berevolusi. Meskipun dia menggunakan mana-ku, levelnya masih terlalu rendah untuk menghadapi Mother Guard yang berlevel sekitar 40. Sepertinya lebih baik membiarkan dia memburu Abyss biasa dulu.
Saat aku sedang melayang, tentakel di kepala Mother meliuk dan melesat dengan kecepatan tinggi ke arahku. Tentakel itu rupanya bisa memanjang dan memendek; meskipun seharusnya aku berada di luar jangkauan, cambuk itu mencapai tempatku dengan mudah. Kalau begini, terbang pun tidak memberiku banyak keuntungan.
Aku menghindari tentakel itu dengan gerakan memutar (cartwheel), lalu menancapkan taringku ke tentakel tersebut. Buchut, cairan tubuh Mother merembes ke dalam mulutku. Hangat, dengan rasa pahit dan bau yang khas, serta rasa sepat yang luar biasa... aarggh, kalau dipikirin aku bakal kalah. Kosongkan pikiranmu sekarang, Aku. Setelah ini selesai, kau boleh muntah sepuasnya, jadi tahanlah sekarang, Aku.
Aku mengubah lintasan terbangku ke atas, mencoba menarik Mother dan melepaskannya dari para penjaganya.
Tubuh Mother sedikit terangkat, tapi tentakel itu segera terlepas dan tubuh besarnya jatuh kembali ke tanah dengan suara berdebum.
Karena kesal, aku melakukan putaran lagi untuk menambah akselerasi pada tentakel yang masih tergigit, lalu memutar leherku untuk menghempaskannya kembali ke arah Mother. Karena momentum itu, tentakelnya terlepas dari mulutku, tapi karena gerakannya yang tak terduga, para penjaga tidak sempat bereaksi dan tentakel itu menghantam telak dahi Mother. Cangkang Mother retak, cairannya bocor keluar, dan jeritan mengerikan bergema di dasar jurang.
Oke, aku bisa memasukkan damage. Keunggulan jumlah ada di pihak mereka, tapi kalau duel langsung, aku tidak akan kalah. Aku harus memikirkan cara untuk mengacaukan formasi penjaga itu sambil terus mencicil damage.
Memaksakan pertarungan jarak dekat dengan mengandalkan kekuatan pukulan mungkin bisa saja, tapi status Mother Guard itu lumayan bagus... Aku ingin mengurangi jumlah mereka dari jarak di mana Mother Guard tidak bisa menyerang. Kalau aku memukul tapi ditahan oleh penjaga, lalu dikepung dan digigiti sampai mati, itu konyol sekali.
Merasakan sensasi aneh, aku melirik ke arah Aro di punggungku.
Dua lengan baru yang tumbuh dari punggung Aro menjulur keluar dari celah pakaiannya dan mencengkeram tubuhku erat-erat. Lengan-lengan itu lebih kecil dari lengan ketiga yang dia buat sebelumnya dan lebih mirip lengan manusia, jadi rasanya agak bikin merinding. Saat mata kami bertemu, Aro panik dan mencoba melepaskan lengan tambahannya. Ti-tidak, kalau kau lepas pegangan, kau bakal jatuh.
Setelah mengambil jarak dari Mother, aku menurunkan ketinggian.
Untuk saat ini, aku perlu Aro menaikkan levelnya. Aku sempat berpikir untuk naik ke atas dan mengamankan Aro, tapi dalam pertarungan yang melibatkan musuh tingkat B-Rank atas, hanya Aro satu-satunya yang bisa diandalkan. Dengan jumlah seranganku saja, sangat sulit untuk memisahkan para penjaga dari Mother sekaligus memberikan serangan fatal.
Aku ingin menghabisi Mother di sini. Mother menempatkan Mother Guard dalam formasi pertahanan yang ketat. Tapi, bukan berarti tidak ada celah sama sekali.
Begitu aku turun hingga hampir menyentuh tanah, Aro menembakkan 〖Gale〗 bertubi-tubi untuk menerbangkan Abyss biasa. Karena sepertinya sulit untuk membunuh mereka dalam sekali serang, aku membantu dengan 〖Kamaitachi〗, dan Sobatku dengan 〖Death〗.
Dalam sekejap, hampir sepuluh Abyss berubah menjadi bangkai. Jendela pesan perolehan experience point muncul beruntun di dalam kepalamu.
【Mendapatkan 138 Exp.】 【Berkat Skill Gelar 〖Walking Egg: Lv--〗, mendapatkan tambahan 138 Exp.】 【Level 〖Ouroboros〗 naik dari 79 menjadi 80.】
Sip, sip, lancar jaya. Mother sepertinya tidak ingin merusak formasinya dengan menyerang duluan, jadi meskipun dalam status 〖Wrath〗, dia tidak bergerak secara aktif. Dia memang menjulurkan tentakelnya, tapi aku bisa menahannya dengan 〖Kamaitachi〗 meskipun tidak sampai memotongnya.
「〖Gale〗!」
Tornado menerbangkan segerombolan Abyss. Saat aku menarik napas untuk menghabisi Abyss yang melayang itu, aku menyadari ada yang aneh dengan Mother. Keempat mata Mother menyala dengan cahaya merah.
「Veeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!」
Jeritan Mother menggelegar. Bersamaan dengan itu, cahaya hitam menyebar membentuk setengah bola dengan Mother sebagai pusatnya. Tanah yang tertelan cahaya hitam itu ambles dalam-dalam seolah ditimpa beban berat, lalu retak-retak.
Karena aku pernah melihatnya sekali, aku langsung tahu skill apa itu. Skalanya jauh berbeda, tapi itu adalah skill 〖Gravity〗. Dulu aku pernah terkena serangan ini dari Twin Head.
Abyss di sekitarnya juga terbenam ke dalam tanah dan berhenti bergerak. Aku pun segera terperangkap dalam jangkauan 〖Gravity〗. Terbungkus cahaya hitam, tubuhku mendadak terasa sangat berat. Aku mencoba melawan, tapi sayapku tidak bisa terangkat. Ketinggianku menurun, dan tak lama kemudian kakiku menyentuh tanah.
Hanya bayi Abyss yang menunggangi Mother yang tampaknya tidak terkena efek 〖Gravity〗, tapi selain itu, meskipun kaki mereka bergerak, mereka tidak bisa berpindah tempat. Kalau musuh juga tidak bisa bergerak, tidak ada yang perlu ditakuti. Aku masih bisa bergerak meski harus merayap di tanah.
「...〖Clay〗.」
Aro menggunakan sihir sambil tiarap di punggungku. Topografi berubah, dan jarum-jarum tanah muncul dari permukaan. Jarum-jarum itu menembus perut Abyss yang tidak bisa bergerak di sekitar kami, menyemburkan cairan tubuh mereka.
【Mendapatkan 120 Exp.】 【Berkat Skill Gelar 〖Walking Egg: Lv--〗, mendapatkan tambahan 120 Exp.】
Bagus, bagus, ritmenya enak. Nah, yang harus kuwaspadai adalah...
「Veaaaaaaaaaaaaa!」
Tentakel yang ditembakkan dari Mother melesat ke arahku. Aku melawan gravitasi, mengangkat kedua sayapku dan memutarnya ke depan. Bitaan, cambuk tentakel itu menghantam sayapku. Rasa sakit yang tajam menjalar.
Saat terhempas, cahaya hitam itu tiba-tiba lenyap dan tubuhku menjadi ringan seketika. Karena efek reaksi balik dari melawan gravitasi, aku sedikit terdorong mundur akibat dampak cambukan tadi.
Sakit... tapi luka segini, kalau segera dipulihkan...
「Veee!」「Veee!」「Veeeeeee!」
Bersamaan dengan itu, para Abyss yang terbebas dari ikatan gravitasi serentak terbang ke arahku. Beberapa dari mereka menggigit kakiku dan mulai memanjat tubuhku. Aku menendang tanah dan melebarkan sayap, tapi ada beberapa Abyss yang juga menggigit sayapku.
Rasa kebas mulai menjalar di tubuhku. Mereka pasti menyuntikkan cairan tubuh padaku. ...W-waduh, ini lumayan gawat kan? Di satu kaki ada sekitar tiga atau empat ekor, yang sudah memanjat sampai ke badan ada tiga, yang menempel di satu sayap ada dua, jadi total empat di kedua sayap. Tubuhku berat, aku tidak bisa terbang dengan benar.
「Guaaaaa!」
Sobatku menjatuhkan satu Abyss di sayap dengan 〖Death〗.
【Mendapatkan 186 Exp.】 【Berkat Skill Gelar 〖Walking Egg: Lv--〗, mendapatkan tambahan 186 Exp.】
Namun, selama waktu itu, jumlah Abyss yang melompat ke tubuhku makin bertambah. Kalau begini terus tidak akan ada habisnya. Selama ini aku bisa bertarung dengan baik karena terbang di luar jangkauan mereka, tapi kalau diseret turun ke tanah, jumlah sebanyak ini benar-benar merepotkan.
「Guooooooooonnnnn!」
Sambil mengaum, aku mengayunkan ekorku secara vertikal dan menggunakan momentum itu untuk melakukan satu putaran penuh yang kuat.
「Kyaaa!」
Aro terlempar ke udara. Aku menangkapnya dengan mulutku, lalu mempercepat putaranku dan jatuh ke tanah. Setelah mendarat, aku langsung melesat lurus dengan 〖Roll〗, menabrak dinding dan tertanam di sana. Sekitar dua puluh Abyss yang menempel di tubuhku, serta Abyss lain yang terseret dalam lintasan, semuanya gepeng. Jeritan kematian Abyss bergema berlapis-lapis di dasar jurang.
【Mendapatkan 2760 Exp.】 【Berkat Skill Gelar 〖Walking Egg: Lv--〗, mendapatkan tambahan 2760 Exp.】 【Level 〖Ouroboros〗 naik dari 80 menjadi 83.】
Haaah, haaah. Akhirnya bisa lolos, rasain tuh. Seluruh tubuhku sudah berlumuran cairan tubuh Abyss, dan rasanya ada bangkai yang menempel di punggungku, tapi aku tidak peduli sekarang. Lupakan saja. Ternyata 〖Roll〗 memang yang paling kuat dan hebat.
Aku menarik kepalaku yang tertanam di tebing dengan gerakan mundur. Para Abyss yang mengamatiku dengan takut-takut dari sekeliling serentak melarikan diri dariku.
「Veee!」「Veeeeeeee!」
Rupanya mereka sangat ketakutan dengan kekuatan 〖Roll〗-ku barusan. Ja-jangan-jangan, kalau aku pakai 〖Roll〗 dan main sruduk, aku bisa menghajar Mother beserta pengawalnya sekalian...?
Aku berputar balik, mengubah arah, dan melaju kencang menuju Mother dengan 〖Roll〗. Di tengah jalan, aku melindas Abyss yang menghalangi jalan dan mengubah mereka menjadi experience point.
「Veaaaaaaaaaaaaa!」
Begitu suara Mother terdengar, cahaya hitam menyelimuti sekitarnya. Tubuhku kembali menjadi berat dan melambat. Sepertinya dia menggunakan skill 〖Gravity〗 lagi. Meski begitu, aku tidak berhenti dan terus melaju lurus. Sesuatu yang mirip tentakel Mother menepis tubuhku, tapi aku tidak akan pernah mengubah arah.
「Veaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!」
Mother pun tampaknya gemetar melihat kekuatan 〖Roll〗 itu, ia menjerit lebih keras dari sebelumnya.
Kalau mau menghindar, menghindarlah. Jika Mother terpaksa bergerak, pertahanan Mother Guard akan runtuh meski hanya sesaat. Kalau tidak mau menghindar, ya sudah. Terimalah 〖Roll〗-ku yang telah memburu banyak monster ini dengan tubuhmu itu!
「Veee!」「Veeeeeee!」 「Vee!」「Vea!」「Veaa!」
Di depan Mother, sejumlah besar Abyss, Heavy Abyss, dan Mother Guard berkumpul. Mereka terus menumpuk, dan akhirnya menjadi dinding Abyss. Rupanya mereka berniat melindungi Mother apa pun yang terjadi. Pemandangan kerumunan besar Abyss yang saling berdesakan membentuk dinding itu sudah level trauma tanpa perlu dijelaskan lagi, tapi aku mematikan perasaanku dan terus menerjang.
Akhirnya aku menabrak dinding Abyss. Saat aku menginjak dan menerobos maju, mereka hancur dengan suara buchibuchi.
【Mendapatkan 144 Exp.】 【Berkat Skill Gelar 〖Walking Egg: Lv--〗, mendapatkan tambahan 144 Exp.】 【Mendapatkan 156 Exp.】 【Berkat Skill Gelar 〖Walking Egg: Lv--〗, mendapatkan tambahan 156 Exp.】
Suara yang menjijikkan, sensasi yang menjijikkan. Dengan ritme ini, jendela pesan muncul dan menghilang sekitar sepuluh kali berturut-turut.
【Mendapatkan 138 Exp.】 【Berkat Skill Gelar 〖Walking Egg: Lv--〗, mendapatkan tambahan 138 Exp.】 【Level 〖Ouroboros〗 naik dari 83 menjadi 84.】
Aneh... levelku naik drastis dan lancar banget, tapi kok aku nggak merasa senang sama sekali ya.
Namun, dinding Abyss ternyata lebih padat dari dugaanku. Putaranku akhirnya melambat tepat setelah melewati dinding itu, dan akhirnya berhenti total. Sialan. Aku berhenti di tempat yang paling buruk. Dari empat penjuru, Abyss langsung mengerumuni tubuhku.
「Veaaaaaaaaaaaaa!」
Mother meraung. Cambuk tentakel yang ditembakkan dari jarak dekat menembus sisa-sisa dinding Abyss dan menghantam dadaku. Telak sekali. Sisikku terkelupas, darah berhamburan. Kalah oleh dampaknya, tubuhku melayang ke udara.
Aku membentangkan sayap untuk menahan angin, memanfaatkan gaya itu untuk menahan tubuh di udara, dan pada saat yang sama, sambil menepis Abyss yang menempel, aku menggigit tentakel Mother. Dengan tentakel sebagai benang layang-layang, aku melayang tegang di udara, nyaris saja terhempas jauh. Gakun, tubuh raksasa Mother berguncang.
Mumpung sudah bisa sedekat ini, aku akan hajar dia dengan damage besar sekalian.
『Ini, mending kita terlempar dulu buat ambil jarak...』
Tidak, kita lanjut terus. Mother telah mengerahkan sejumlah besar Mother Guard untuk menjadi dinding daging. Mother Guard itu sekarang tertimbun dinding yang runtuh dan tidak bisa bergerak. Sebelum mereka bangkit kembali, kita hajar Mother.
『Hajar katamu...』
Gunakan 〖Soul Append: Fake Life〗 untuk bikin mereka kaget setengah mati. Aku nggak terlalu suka skill ini, tapi dalam situasi begini kita nggak bisa pilih-pilih.
『Maksudmu bangkitin Abyss? Kayaknya nggak bakal ngefek banyak deh...』
Bukan, yang digerakkan itu adalah bangkai Dewa Naga yang ada di dekat Mother.
「Gaaa!?」
Ada banyak Mother Guard yang nangkring di atas benda itu 'kan. Pokoknya, lakukan sekarang juga. Kita tidak boleh melewatkan kesempatan ini.
「............」
Sobatku mengangguk, lalu menggunakan 〖Soul Append: Fake Life〗 pada bangkai Dewa Naga yang berada tepat di samping Mother. Bangkai Dewa Naga terbungkus cahaya hitam, lalu mukuri, ia bangkit.
「............t?」
Bangkai Dewa Naga itu mengarahkan rongga matanya yang kosong ke arah Mother. Abyss dan Mother Guard yang menungganginya merosot jatuh dan panik. Sebagian Abyss berlarian ke segala arah karena kacau balau.
Pasukan elit Mother Guard segera melompat menyerbu untuk menghancurkan bangkai yang mulai bergerak itu. Tentu saja, Dewa Naga yang bangkit itu cuma Level 1, jadi bukan tandingan Mother Guard. Dalam sekejap ia hancur, roboh kembali, dan tertidur lagi.
Maaf ya sudah sengaja membangunkanmu. Tapi berkat itu, meski hanya tipuan sesaat, pertahanan Mother jadi menipis.
Aku memanjangkan leher dan membuka mulut lebar-lebar. Aro yang ada di dalam mulutku merayap maju di atas lidahku mencari cahaya. Dan meskipun sempat tersentak melihat pemandangan mengerikan di hadapannya, dia melepaskan sihirnya sekuat tenaga.
「U, ugu... S... Sihir Tanah 〖Clay〗!」
Jarum-jarum tak terhitung jumlahnya mencuat dari tanah, meskipun tidak menembus Mother, tapi berhasil membuat pijakannya menjadi tidak stabil. Mother Guard yang masih merayap di dekat Mother pun kehilangan keseimbangan dan terguling di tempat.
Serangan dadakan dengan 〖Roll〗, kepanikan akibat bangkitnya Dewa Naga, dan 〖Clay〗 milik Aro. Dengan tiga serangan beruntun ini, akhirnya kami berhasil memancing celah besar pada Mother. Kesempatan ini tak boleh lolos.
Aku menarik tentakel Mother, memanfaatkan reaksi baliknya untuk melompat menerjang ke arahnya. Buchii, tentakel itu putus, dan tubuh Mother tersentak. Pertama-tama, aku membebankan seluruh berat badanku pada kaki depan, menancapkan cakar, dan menginjak dahi Mother sampai amblas.
「Veaaaaaaaaaaaaaaa!」
Kepalanya retak dan penyok parah, cairan tubuh muncrat ke mana-mana. Bayi-bayi Abyss yang menjadi parasit di punggung Mother sepertinya merasakan bahaya, mereka merayap melalui tubuh Mother dan berbondong-bondong mendekatiku.
Me-menjijikkan! Mereka juga bisa bertarung?!
Sementara aku memikirkan ini dan itu, Mother Guard di sekitar mulai memulihkan posisi mereka. Aro melompat turun dari mulutku dan mendarat di atas tubuh Mother.
「Sihir Angin 〖Gale〗!」
Gerombolan bayi Abyss itu terhempas jatuh oleh sihir angin Aro. Nice Aro, dengan begini aku bisa fokus menghabisi Mother. Punggung Mother setelah ditinggal bayi-bayi Abyss itu penuh lubang yang mengerikan, tapi aku pura-pura tidak melihatnya dan mengembalikan fokusku pada Mother.
Aku menekan Mother dengan kedua kaki depanku.
Sobat, dalam hitungan ketiga kita gigit dia, sedalam mungkin!
『Eh... se-serius lu?』
Kalau kita lepaskan sekarang, kita bakal dikeroyok Abyss lagi lho!
『............』
Sobatku memejamkan mata, lalu membuka mata kanannya sedikit untuk melihat Mother lagi.
『...Hei, gimana kalau cara la—』
Oke, satu dua tiga!
Sobatku membuka mulut dengan panik. Aku juga membuka mulut, dan hampir bersamaan kami menancapkan taring ke tubuh Mother. Mulutku seketika penuh dengan cairan kental yang pahit. Rasanya ada sesuatu yang menggeliat di dalam mulutku. Kuharap itu cuma ilusi.
「Veaaaaaaaaaaaaaaa!」
Dan, dan, don, dandon! Cambuk tentakel Mother memukuli punggungku dengan membabi buta. Sambil memulihkan diri dengan 〖Self-Regeneration〗, aku menendang tanah dan melompat terbang sambil tetap menggigit Mother. Meskipun tidak stabil, tubuh raksasa Mother terangkat ke udara.
Aro sepertinya sadar dia akan terseret kalau tetap di situ, jadi dia menendang Mother dan melompat turun ke tanah.
Menghadapi perlawanan mati-matian Mother di udara, aku membalas dengan menghantam kepalanya berkali-kali menggunakan kaki depan. Sambil menangkis serangan tentakel dengan ekor, aku mengerahkan seluruh tenaga untuk terus terbang.
Setelah terbang sekitar tiga puluh meter, aku menggunakan 〖Roll〗 di udara untuk berputar dengan kecepatan tinggi. Karena titik beratnya sangat tidak seimbang, putarannya jadi tidak stabil, tapi aku berhasil memaksakan kecepatan naik. Menyesuaikan waktu dengan Sobatku, kami membuka mulut dan melepaskan Mother. Punggung Mother yang terlempar ke bawah dengan kuat itu kuhantam lagi dengan ekor yang juga penuh gaya sentrifugal.
Begii! Suara mengerikan terdengar, dan tubuh raksasa Mother jatuh melesat ke bawah.
【Level Skill Normal 〖Heaven's Fall〗 naik dari 3 menjadi 4.】
Aku langsung merentangkan sayap dan menukik mengejar Mother. Saat jatuh, aku menendang dinding tebing untuk menambah kecepatan, dan tepat saat Mother menghantam tanah, aku menancapkan cakar kedua kaki depanku dan menginjaknya sekuat tenaga. Doshin! Dasar jurang berguncang hebat, dan retakan besar muncul di tanah. Mother tidak mampu menahan dampaknya dan memuntahkan cairan tubuh dalam jumlah besar dari mulutnya.
【Level Skill Normal 〖Earth Reversal〗 naik dari 1 menjadi 2.】
Pikupiku, tubuh raksasa Mother kejang-kejang. Harusnya ini sudah berakhir. Ternyata kombo 〖Heaven's Fall〗 dan 〖Earth Reversal〗 memang kuat. Tapi aku sama sekali tidak berniat berterima kasih pada Pahlawan itu.
「Veeeeee...」
Mother merintih lemah, kakinya merayap tanpa tenaga. Abyss-Abyss lain segera berdatangan dengan suara kasakasa. Semangat bertarung mereka sudah hilang, tampak terpana melihat kekalahan bos mereka.
「Veeeeeeeeeeeeee!」
Tiba-tiba, Mother memamerkan taringnya pada seekor Abyss yang mendekat ke wajahnya. Abyss itu mencoba menghindar dengan panik, tapi kecepatan mereka jauh berbeda. Dalam sekejap ia dicabik oleh taring itu, dan tiga ekor Abyss dimakan oleh Mother. Yang tersisa hanyalah kaki-kaki Abyss dan cairan tubuh yang berserakan.
Ke-kejam banget... Oh iya, makhluk ini punya skill 〖Eat and Regenerate〗 ya. Ball Rabbit juga punya. Kalau tidak salah, skill itu bisa memulihkan diri dengan cara makan.
Mother menyeret tubuhnya yang hancur, mencoba menyerang Abyss lain. Aku menekan kaki depanku agar dia tidak bisa bergerak. Taring Mother hanya menyerempet Abyss itu, kurang beberapa sentimeter untuk bisa memangsanya. Para Abyss pun langsung bubar melarikan diri.
「Veee... Veeeeeeee...」
Mother masih belum menyerah, mencoba menjulurkan tentakelnya yang sudah babak belur ke arah Abyss terdekat. Aku menginjak pangkal tempat tentakel itu tumbuh, tepat di kepala Mother. Tentakel dan kakinya bergetar purupuru, dan akhirnya Mother berhenti bergerak.
【Mendapatkan 3240 Exp.】 【Berkat Skill Gelar 〖Walking Egg: Lv--〗, mendapatkan tambahan 3240 Exp.】 【Level 〖Ouroboros〗 naik dari 84 menjadi 87.】
Ooh... gede banget...
【Level Skill Gelar 〖Hero〗 naik dari 5 menjadi 6.】
Gelar Hero naik? Apa sebentar lagi bakal dapat skill baru...?
【Mendapatkan Skill Normal 〖Holy: Lv1〗.】
D-Datang! Ini skill yang bisa menghapus kutukan itu 'kan? Kalau ada ini, aku tidak perlu khawatir lagi soal 〖Dragon Scale Powder〗! Coba ah! 〖Holy〗! 〖Holy〗!
...Lho, kok nggak berhasil ya?
「Gaa」
Saat Sobatku bersuara, bola cahaya yang agung muncul di ujung hidungnya. Bola itu segera pecah dan kehilangan bentuknya, lalu menyebar dengan lembut. Butiran-butiran cahaya kecil menyebar sambil memudar. Pemandangan yang cukup indah.
Wah! Hebat juga. Jadi ini yang namanya 〖Holy〗 ya.
...Yaa, begitulah. Katanya diambil lagi sama Si Sobat. Yah, aku sih samar-samar udah punya firasat bakal begini.
Aro berjalan mendekat ke sisiku. Sebaiknya aku cek juga berapa kenaikan level Aro. Dia 'kan tadi membantai Abyss dengan cukup ganas. Meski mungkin setelah ini dia tidak perlu ikut bertarung lagi...

Wa-wah, langsung naik 23 level... Memang tadi dia mengalahkan banyak Abyss sekaligus sih. Aku memastikan sekali lagi bangkai Mother, lalu mengalihkan pandangan ke bangkai Dewa Naga. Aro mengarahkan tangannya ke bangkai Dewa Naga.
「...〖Clay〗.」
Tanah menyembul naik, menutupi dan mengubur bangkai Dewa Naga. Aro menundukkan kepalanya, memejamkan mata, dan mengambil sikap seperti berdoa pada bangkai Dewa Naga yang telah dikuburkan. Aku pun menirunya, menundukkan kepala dan memejamkan mata ke arah makam Dewa Naga.
Dengan ini, biang keladi perkembangbiakan massal Abyss sudah tiada. ...Yang jelas, aku ingin cuci badan sekarang.
Saat aku mengangkat kepala, aku melihat sesuatu yang kecil berwarna hijau sedang menatapku dari atas tebing. Saat aku menyipitkan mata, terlihat bahwa itu adalah sepuluh orang Kurcaci Hutan (Forest Dwarf/Raran). Para Kurcaci Hutan itu menunjuk ke arah pemukiman suku Lithoviar, lalu menghilang seolah menyatu dengan udara.