Bab 5: Serangan Abyss - Bagian 1
Volume 5 - Chapter 8
February 6, 2026
1

Setelah mengalahkan Manticore, aku kembali ke kuil Dewa Naga bersama Aro. Di samping kuil ada pohon besar yang tidak biasa, saat kulihat, akarnya tercabut dan membuka mulut lebar. Ooh, ternyata Tuan Lesser Treant.
Treant menggoyangkan dahannya, lalu jatuhlah seekor anak laba-laba berwarna kuning kehijauan (bote!). Baby Aranea. Laba-laba sejenis juga merayap keluar dari dalam kuil (gasagasa).
"Gaa! Gaa!"
Sobatku memanjangkan leher, mendekat ke anak-anak laba-laba. Anak-anak laba-laba itu mendekat ke wajah Sobatku. Mereka menepuk-nepuk wajah Sobatku dengan kaki mereka (beshi-beshi), bermain-main.
...Benar-benar mau dipelihara ya. Terserah deh, aku nggak ikut-ikutan.
Tapi, disambut begini rasanya memang seperti punya rumah ya. Anak laba-laba, Treant, Aro... lalu kelinci tanah. Yah, ramai sih bagus. Bagus sih, tapi... ini beneran masuk rute Raja Iblis nggak sih? Kalau mereka tumbuh besar, bakal jadi kekuatan tempur yang lumayan lho.
"Gaa! Gaa!"
Sobatku mengeluarkan suara seperti jeritan. Saat kulihat, wajah Sobatku sudah penuh dengan jaring laba-laba. Main apa sih ini anak.
'Ambilin! Ambilin!'
Segitu doang kan bisa digelengin...
'Kalau dijatuhin kasar, mereka bakal mati tahu!'
O, oke... Kurasa mereka nggak selembek itu sampai harus dijaga segitu hati-hatinya deh. Jarang-jarang ada laba-laba yang berani bikin sarang di kepala Naga Jahat Peringkat A. Aku menepuk-nepuk kepala Sobatku dengan kaki depan (beshi-beshi), menjatuhkan semua anak laba-laba.
"Gaa..."
Sobatku menundukkan kepala ke tanah dengan lelah.
...Anak laba-laba sih masa bodo, yang harus diperhatikan itu di sana. Agak jauh dari kuil, ada makanan diletakkan lagi. Sepertinya orang suku Lithoviar datang menaruhnya. Pantas saja Treant menyamar tadi. Tiba-tiba terbayang Baron yang kecewa melihat kuil kosong.
Selalu saja bikin bersyukur. Sobatku juga sudah pulih dari kondisi pusing, menatap makanan yang berjejer sambil meneteskan air liur. Jujur saja, tadi sempat ketinggalan makan jadi sekarang lapar.
Guci arak, babi hutan, kotak besar... eh, tutup kotaknya agak miring nggak sih? Apa isinya?
Sambil mendekati makanan, aku memikirkan masa depan. Masalah utamanya adalah perdamaian antara faksi Dewa Naga dan anti-Dewa Naga. Walau faksi anti-Dewa Naga mau mengalah, masalahnya apakah faksi Dewa Naga yang kelihatannya keras itu mau menerimanya atau tidak. Tatalk juga bilang itu bagian tersulitnya.
Kalau Dewa Naga punya pengaruh, harusnya bisa diatur sampai batas tertentu... tapi masalahnya, aku sendiri nggak tahu seberapa besar antipati faksi Dewa Naga itu.
Saat mendekati makanan, entah kenapa aku punya firasat buruk.
'Arak! Arak! Arak!'
Sobatku mengirimkan call arak padaku.
Yah, nggak perlu dipikirin kali ya. Kalaupun dibuka terus meledak, aku masih bisa tahan dengan mudah. Berpikir begitu, aku mengulurkan kaki depan ke tutup kotak kayu. Terdengar suara gasagoso yang tidak enak, aku menghentikan tanganku.
Kotak kayu itu sedikit bergetar. Presence Sense-ku yang tadi tidak merasakan apa-apa, tiba-tiba mulai memberikan peringatan keras. Punggungku merinding (zozozo). Pe, perasaan ini, aku ingat.
Tapi, tidak mungkin dibiarkan terus begini. Aku juga tidak tega menghancurkan kotak beserta isinya yang merupakan hadiah dari suku Lithoviar. Siapa tahu ada hewan hidup yang ditangkap untukku. Apa yang harus dilakukan, sebaiknya dipikirkan setelah melihat isinya.
Aku mengaitkan cakar ke tutup kotak kayu.
'...Mending jangan deh.'
Sobatku sepertinya juga merasakan sesuatu. Tapi, aku tetap mengayunkan kaki depanku ke atas.
Tutup kotak kayu terbang dengan kuat. Dengan reaksi cepat seolah mengejar tutup itu, seekor serangga monster besar melompat keluar.
Tubuh belang-belang, delapan kaki panjang yang menjulur dari sana. Di sekitar mulut, benda mirip taring yang terlalu banyak.
"Veeeeeee!"
Sesuai dugaan, itu Abyss. Karena tidak mau meremasnya dengan tangan kosong, aku mundur selangkah.
"Veaa!"
Saat itu juga, Abyss memuntahkan sisa-sisa sesuatu dari mulutnya. Darah dan potongan daging yang dibungkus air liur kental kekuningan. Mungkin Abyss sedang makan daging persembahan yang ada di dalam kotak kayu itu.
Spontan aku menangkis dengan sayap. Aku harus merasakan sensasi hangat menempel di sayapku.
"Veeeeeee! Veeeeeee!"
Abyss menggerakkan kakinya dengan cepat, berlari zig-zag menjauh dariku.
"Guooooooo!"
Aku mengisi sayap yang kututup untuk menangkis tadi dengan mana, lalu membukanya dengan kuat dan melepaskan Kamaitachi.
Bukan satu, tapi delapan tembakan sekaligus. Pisau angin yang terbang acak itu melaju lurus sambil menyayat tanah, pohon, dan batu. Salah satunya membelah tubuh Abyss jadi dua.
Level Skill Normal Kamaitachi naik dari 5 menjadi 6.
Cairan berwarna krem menyembur dari tubuh Abyss. Poten, tubuhnya terbelah ke kiri dan kanan, memamerkan isi perut yang menjijikkan.
Mendapatkan 180 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 180 poin pengalaman.
...Fuh, aku mulai terbiasa membasmi Abyss nih. Tapi tetap nggak mau lihat bangkainya.
Pantas tutup kotaknya geser, ternyata ada Abyss yang muncul di sana. Tolong hentikan, serius. Aku mengintip isi kotak kayu dengan hati-hati, ada tiga ekor monster mirip burung yang dimasukkan di sana. Semuanya perutnya sudah dicabik-cabik, isi perutnya keluar.
...Kenapa semuanya dimakan sedikit-sedikit sih, ngeledek ya. Lapar sih, tapi aku nggak mau makan sisa Abyss... Lagipula burung ini, perutnya nggak ditelurin Abyss kan? Aman kan?
Seingatku kata God Voice, dia punya kebiasaan bertelur di monster yang lebih besar darinya. Berarti burung yang lebih kecil dari Abyss ini aman... harusnya, tapi cara makannya berantakan banget... Ada cairan mirip air liur juga nempel.
Sobatku juga menatap sisa makanan Abyss dengan mata serius yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bahkan Sobatku pun nggak mau makan ini rupanya. Wajar sih.
'...Kalau merem, bisa dimakan.'
S, serius lu... jangan maksa deh. Sesuai ucapannya, Sobatku memejamkan mata erat-erat (gyu), lalu melahap habis daging ayam (sisa Abyss) dalam sekali makan. Setelah selesai makan, dia membuka mata sambil napas kasar.
'Air, mau minum... air...'
N, nggak perlu sampai segitunya juga kali... Yah, karena kita berbagi tubuh yang sama, aku tahu kalau aku juga lapar sih.
'Mungkin cuma perasaan aja, tapi dalem mulut, lengket...'
...Ah paham banget, aku juga pernah ngerasain gitu. Lagian, kalau segitu kepikirannya, kenapa dimakan sih.
Aku melihat guci arak dengan takjub. Pokoknya, sterilkan mulut pakai alkohol dulu. Itu, minum semua boleh kok.
Sobatku menancapkan taring di pinggiran guci, mengangkatnya ke atas kepala, dan meminum isinya sekaligus. Setelah selesai minum, dia menaruhnya kembali di tanah.
'Aah... rasanya mendingan...'
Bagus lah kalau gitu...
Saat aku menghela napas lega bercampur takjub, aku melihat anak-anak laba-laba mengerumuni bangkai Abyss. Mereka menggigit Abyss sampai putus, lalu melilit dagingnya dengan benang guru-guru. Spontan mataku jadi titik.
I, itu mereka, jangan-jangan mau makan Abyss? Bisa dimakan emang, itu.
Setelah menghabiskan sisa persembahan bersama Sobatku, aku memutuskan tidur siang di kuil. Sobatku langsung tidur, tapi aku tidak bisa tidur.
Kasa kasa kasa kasa kasa kasa kasa kasa kasa kasa kasa kasa kasa kasa kasa kasa.
...Baby Aranea, anak-anak laba-laba itu, merayap di dalam kuil dengan sangat aktif. Bikin kepikiran terus, jadi nggak bisa tidur. Tolong lebih tenang dikit napa, seriusan.
Satu anak laba-laba menempel di ujung hidungku. Geli, rasanya mau bersin.
K, kurang ajar! Ngapain sih! Aku mengibaskan kepala menjatuhkan anak laba-laba itu, lalu bangun.
"Guasshyun!"
Terdengar bersin besar Sobatku dari samping. Kau juga dibangunin anak laba-laba ya. Ekor rasanya gatal, saat aku menoleh, aku bertatapan dengan Abyss yang sedang menggigit ujung ekorku.
Kau lagi wooooy! Abyss bisa menghilangkan hawa keberadaan, jadi telat ketahuan itu sakit banget. Anak-anak laba-laba itu ternyata mengerumuni hidungku buat ngasih tahu soal Abyss.
Dalam situasi begini pun, anehnya aku tenang. Rasanya sedih karena mulai terbiasa sama Abyss.
"Gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Sobatku berteriak, mengibaskan lehernya bun bun. Sobatku sepertinya sama sekali belum terbiasa.
"A, ze, ho... ge, Gale."
Aro mengarahkan tangannya ke ujung ekorku di mana Abyss berada. Tornado kecil muncul menyerang Abyss. Tapi Abyss tidak kalah oleh tornado Gale, dia tetap menggigit ekorku dan tidak mau lepas. Tapi saat tornado berhenti, Abyss melilitkan kakinya yang panjang ke ekorku, melepaskan gigitannya, dan menghadapkan wajah ke Aro.
"Veeeeeee!"
Abyss membuka mulut besarnya, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu banyak dan menyeramkan. ...Kalau dilihat baik-baik giginya ada dua baris ya. Selama ini nggak mau lihat jadi nggak sadar, atau lebih tepatnya sekarang rasanya mau muntah.
Aku mengangkat ekor ke atas. Cairan kuning yang ditembakkan Abyss meleset dari Aro dan mengenai dinding di belakangnya. Terdengar suara juuu, dinding terkikis. Rupanya itu balasan buat Gale tadi.
Ni makhluk, semua jurusnya kok menjijikkan semua sih, nggak bisa diapa-apain apa.
Aku mengayunkan ekor ke atas, membenturkan Abyss ke langit-langit.
"Vea!"
Seluruh kuil bergetar. Tubuh Abyss penyok, lalu dari mulutnya memuntahkan cairan krem. Aku langsung membanting Abyss ke lantai. Abyss gepeng, kakinya kejang-kejang piku-piku. Satu kakinya putus kena hantaman ekor, jadi tinggal tujuh. Aku menoleh ke belakang, menancapkan cakar dalam-dalam ke punggungnya.
Mendapatkan 173 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 173 poin pengalaman.Level Ouroboros naik dari 65 menjadi 66.
Uwek, ada potongan daging Abyss nyelip di kuku... Di ekor juga nempel, harus pergi cuci nih.
Lagian... tingkat pertemuan sama Abyss kok tinggi amat? Emang segini ya biasanya? Kok firasatku nggak enak ya...
Ngomong-ngomong, anak-anak laba-laba dan Aro juga ikut bertarung, levelnya naik dikit nggak ya?

Oh, padahal baru evolusi kemarin, ternyata naiknya lumayan. Walau baru evolusi levelnya gampang naik, tapi ini kelihatannya lancar. Evolusi berikutnya mungkin bakal lebih cepat dari dugaan.
"Gaa! Gaa!"
Hm, kenapa Sobat?
'Di ekor, nyangkut!'
Saat aku menoleh, kaki Abyss nyangkut di ujung ekor. Kelihatannya masih gerak piku-piku.
"Guooooooo!"
Aku mengibaskan ekor, melempar kaki Abyss itu jauh-jauh. Anak-anak laba-laba masih mengerumuni bangkai Abyss. Satu ekor mengejar kaki yang kulempar tadi. Tangguh bener mereka itu.
Saat aku menghela napas, Presence Sense bereaksi.
Ada beberapa yang menuju ke kuil. Rasa ini... manusia.
Aku memberi isyarat mata pada Aro, dia mengangguk koku-koku membalas. Aro memeluk kelinci tanah dan berlari ke bagian dalam kuil.
Saat aku melongokkan kepala dari kuil, ada Hibi dan Baron. Mereka sering berdua, apa Baron itu pengawal Hibi? Keduanya berlari dengan panik. Walau kalau lari biasa Baron lebih cepat, dia beberapa kali berhenti menunggu Hibi menyusul. ...Samain dong kecepatannya.
Hibi pakai topeng jadi ekspresinya tidak kelihatan, tapi wajah Baron pucat pasi. Tapi melihat sosokku, dia terlihat lega dan ekspresinya sedikit melunak.
"Gawat! Desa, terjadi hal gawat...! Tolong, tolong pinjamkan kekuatan Anda pada kami yang malang ini!"
Baron yang sampai duluan, duduk ambruk di tanah dan menundukkan kepala padaku.
Ke, kenapa panik banget begitu. Hibi yang datang belakangan napasnya tersengal-sengal di balik topeng.
"...Baron, mundurlah."
"Ma, maafkan saya Nona Hibi. Tapi, tapi, saya jadi tidak sabaran..."
Baron menunduk pada aku dan Hibi, lalu mundur ke belakang Hibi.
Mengabaikan pria besar Baron yang gelisah, Hibi menghadapku. Dia memejamkan mata lalu mengirimkan Telepathy.
'...Sebenarnya, desa sedang diserang. Saya datang memohon bantuan kekuatan Anda.'
Di, diserang?
'Wanita dan anak-anak sudah diungsikan ke ruang bawah tanah balai pertemuan, tapi jumlah musuh banyak, kalau begini terus...'
O, oke. Pokoknya harus buru-buru kan. Penjelasannya nanti saja, boleh aku jalan duluan?
'Itu akan sangat membantu. Terima kasih, Dewa Naga.'
Hibi menunduk dalam-dalam.
Setelah itu, seperti sebelumnya aku menaikkan Hibi dan Baron ke punggung, lalu menuju desa. Di jalan, aku melihat Abyss lagi. Karena tidak ada waktu meladeninya, aku pura-pura tidak lihat dan terus berlari.
Diserang, kata yang menyeramkan. Ja, jangan-jangan orang dari desa faksi anti-Dewa Naga? Tidak, hal yang memicu konflik sudah kuhindari sebisa mungkin. Tidak mungkin karena Manticore dikalahkan hubungan faksi Dewa Naga dan anti-Dewa Naga jadi buruk. Atau, ada yang kelewatan olehku?
Selagi berlari, desa faksi Dewa Naga mulai terlihat. Aku mengirim pikiran pada Hibi di punggungku. Terus, tadi belum sempat tanya, apa yang menyerang?
'...Mereka.'
Mereka? Sambil bertanya-tanya, aku melihat ke depan berpikir nanti juga bakal tahu.
Terlihat pria suku Lithoviar memegang tombak, tiga orang saling membelakangi menutupi titik buta. Di belakangnya, ada orang yang menggendong orang berlumuran darah. Tapi, lawan yang mereka hadapi tidak kelihatan. Para pria itu melihat sekeliling dengan gugup, tapi begitu melihatku ekspresi mereka melunak.
"Dewa Naga datang!" "Bodoh! Jangan lengah!"
Saat pria itu berteriak, tiba-tiba gumpalan hitam muncul (fuu), menyerbu ketiga orang itu. Delapan kaki panjang yang bengkok bergerak sibuk, lari lurus ke depan, tak salah lagi itu Abyss.
"Datang! Datang!" "Tenang dan usir dia!"
Saat ketiga orang itu memecah formasi dan menghadapi Abyss, dari belakang mereka muncul Abyss baru. Du, dua ekor sekaligus!?
"Guoooooooooo!"
Aku mengeluarkan Roar, Abyss yang kaget dua-duanya kabur ke bagian dalam desa, menyembunyikan diri. Untuk sementara bahaya lewat, tapi mereka masuk ke dalam ya.
Sial! Kupikir Abyss kok banyak banget, ternyata di desa juga muncul toh! Serius nggak bisa santai nih!
Aku menurunkan Hibi dan Baron, lalu bertanya pada Hibi sambil menatapnya.
Gimana ceritanya tuh jumlah Abyss.
'Karena musim kawin Abyss sudah dekat, mereka jadi lebih aktif untuk mencari nutrisi buat melahirkan anak. Beberapa tahun terakhir, entah kenapa jumlah perkembangbiakan melonjak, skala dan frekuensi serangan juga makin tahun makin naik... Untuk mendapatkan nutrisi dalam jumlah besar, menyerang kami yang berkumpul di desa secara berkelompok mungkin lebih efisien.'
Ueeeh... nggak pengen tahu info gituan. Yah, tapi sebagai Dewa Naga info itu wajib sih. Abyss-nya, ada berapa ekor?
'Mereka bisa menghilangkan hawa keberadaan, jadi jumlah pastinya tidak diketahui. Tapi, pasti ada lebih dari dua puluh ekor.'
O, oke... Abyss itu monster Peringkat C. Manusia yang bisa menang satu lawan satu hampir tidak ada. Apalagi kalau jumlahnya lebih dari dua puluh. Selama Dewa Naga nggak ada, hebat juga desa ini bisa bertahan.
'Kalau di masa ini kita tidak bisa mengurangi jumlah Abyss sedikitpun, setelah musim kawin akan jadi lebih mengerikan lagi...'
Terbayang di benakku ratusan Abyss sedang berbaris. Nggak mau bayangin... Ini mah Abyss lebih bahaya daripada Manticore kalau dilihat dari prediksi kerusakannya. Beneran bencana besar ini mah.
"Jangan mendekat, jangan mendekat dasar barbar!"
Saat itu, terdengar suara ribut dari belakang.
"Aah! Nona Hibi, pas sekali! Sebenarnya kami menemukan petualang, kami coba ancam untuk mengusirnya, tapi lukanya parah sekali... Mungkin diserang Abyss."
Orang suku Lithoviar berdua membopong pria berlumuran darah.
Pria itu memakai baju desain militer warna biru, dan celana merah. Mungkin karena panik ketakutan, dia memberontak sambil meneteskan darah. Darah masuk ke matanya, sepertinya dia tidak bisa melihat sekitar dengan jelas. Di pinggangnya ada sarung pedang, tapi pedangnya tidak ada. Mungkin senjatanya jatuh di suatu tempat.
Petualang ya. Ternyata memang kadang ada yang datang. Tapi datangnya pas waktu terburuk sih. Kalau aku jadi manusia, aku nggak bakal masuk ke tempat yang ada kecoa seukuran manusia begini.
"Monster lagi... sepertinya bukan ya. Bawa ke ruang bawah tanah balai pertemuan, obati dia."
"Baik, dimengerti. Tu, tunggu, diamlah sedikit, sekarang sedang darurat. Kalau tidak segera evakuasi, bisa gawat."
"Diam, dasar barbar! Kalian mau jadiin aku tumbal dewa jahat kan! Aku tahu kok!"
Pria itu diangkat dan dibawa pergi.
"Apa ada temanmu? Apa mereka selamat?"
"Diam! Tak ada yang perlu kuberitahukan pada kalian!"
Terlihat dia berteriak sampai akhir. ...Adoff juga bilang suku Lithoviar itu berbahaya, apa itu reaksi normal ya. Padahal mereka orang baik, jadi agak sedih. Yah sudahlah, sekarang masalah di depan mata.
Aku menuju bagian dalam desa sambil mencari hawa keberadaan Abyss dengan Presence Sense. Sebagian besar suku Lithoviar sepertinya sudah selesai evakuasi ke bawah tanah, jadi tidak banyak orang terlihat.
Abyss bisa menghilangkan hawa keberadaan. Aku mengubah cara pencarian, mencari manusia. Aku menangkap hawa keberadaan manusia, jadi aku mendekat ke sana.
"Di dalam rumah juga bahaya. Kami akan antar ke ruang bawah tanah balai pertemuan!" "Ba, baik..."
Sepertinya orang dewasa sedang berkeliling membantu dan mengumpulkan anak-anak dan orang tua yang bersembunyi di rumah. Apa aku sebaiknya bantu yang begini juga? Saat aku memutari bangunan untuk mengecek keadaan, pihak sana juga menyadari kehadiranku.
"Ah, Dewa Naga!"
Seorang anak melambai padaku dengan senang. Aku tidak terbiasa diperlakukan begini, melihat reaksi begitu jadi malu. Saat itu, tanah di belakang anak itu menyemburkan debu, dan Abyss muncul.
"""Veeeeeeeee!"""
Tiga ekor sekaligus lagi.
Sembunyi bareng-bareng di tanah ternyata! Beneran nggak bisa lengah!
"Sial! Jangan mendekat!"
Pria itu menyembunyikan anak itu di punggungnya, memegang tombak.
"Veee..." "Veaaae" "Veveve"
Tiga Abyss mengeluarkan suara aneh, membunyikan gigi sambil mendekat.
"Guooooooo!"
Aku mengeluarkan Roar untuk mengancam Abyss, tapi ketiga Abyss itu cuma melirikku sebentar, lalu detik berikutnya mereka meliuk-liukkan kaki dan berlari kencang (dash) ke arah pria itu.
Tadi kabur pakai cara ini, sekarang malah lebih mentingin buruan!
Waktu itu Abyss dua, orang suku Lithoviar tiga, jadi mungkin mereka pikir butuh waktu buat memburu.
Aku menendang tanah, merentangkan sayap dan terbang rendah.
"Ka, kamu kembali ke dalam rumah!"
Saat pria itu berkata, anak itu lari ke rumah sambil menangis. Menembus dinding, Abyss keempat muncul.
"Veaa!"
"Kyaaaaaaa!"
Anak itu berteriak, jatuh di tempat. Aku juga pengen teriak. Mereka nggak ada ampun banget sih.
Kalau begini, harus bikin Abyss-abyss itu takut dulu.
Aku memiringkan sayap untuk naik, mengangkat kaki depan tinggi-tinggi di udara. Lalu menukik tajam, menghentakkan kaki depan ke tanah. Skill Earth Reversal yang didapat dari Skill Gelar Hero. Sekitar bergetar, gemuruh tanah terdengar, tanah retak. Mengincar celah saat Abyss kaget dan berhenti bergerak, aku mengepakkan sayap dan melepaskan empat Kamaitachi. Agak jauh, tapi mumpung diam harusnya kena!
"Eaa!" "Ve!"
Dua Abyss terkena Kamaitachi dan terlempar ke udara.
Mendapatkan 360 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 360 poin pengalaman.Level Ouroboros naik dari 66 menjadi 67.
Dua sisanya berhasil menghindari Kamaitachi tipis-tipis. Tapi ancaman itu cukup, mereka melepaskan pandangan dari orang suku Lithoviar dan kabur. Aku menendang tanah dengan kaki belakang untuk mendekat, lalu menumpukan berat badan pada kaki depan dan menginjak Abyss sampai gepeng. Terdengar suara buchat, sensasi kaki Abyss yang menggeliat terasa di telapak kaki depanku.
...Ada rasa jijik, tapi perasaan mulai terbiasa sama Abyss ini bikin aku benci banget.
Tapi, Abyss yang datang ke desa ada lebih dari dua puluh ya.
"Te, terima kasih Dewa Naga... anu, bisakah Anda ikut sampai saya mengantar anak ini ke ruang bawah tanah balai pertemuan?"
Pria itu duduk dengan napas kasar, setelah agak tenang dia memanggilku begitu. Karena tidak tahu Abyss ada di mana, tidak ada alasan menolak. Dalam kondisi begini kalau cuma satu orang dewasa, meragukan apakah bisa sampai ke tempat evakuasi ruang bawah tanah balai pertemuan dengan aman.
Aku mengangguk setuju, memutuskan mengikuti mereka berdua menuju ruang bawah tanah balai pertemuan. Dipandu mereka berdua, kami maju di dalam desa. Bekas amukan Abyss terlihat di sana-sini. Gudang tiangnya digerogoti dan roboh, di kandang ternak hanya tersisa kaki dan bulu makhluk mirip ayam.
Segera terdengar suara aneh gachu gachu. Sepertinya Abyss sedang memakan sesuatu dengan rakus. Aku merasakan darahku surut seketika. Aku memberi isyarat mata pada pria itu, lalu berlari ke arah suara.
Di tengah jalan, tiga ekor Abyss saling berhadapan, sepertinya sedang memakan sesuatu. Yang ada di tengah itu sangat tidak mungkin masih hidup.
"Guooooooo!"
Aku melompat sambil mengaum. Mendarat sekaligus mencabik Abyss-abyss yang sedang makan tanpa pertahanan dengan cakar.
Mendapatkan 558 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 558 poin pengalaman.Level Ouroboros naik dari 67 menjadi 68.Level Skill Gelar Pest Killer naik dari 4 menjadi 5.
Dapat pengalaman tiga ekor sekaligus. Tapi, bukan waktunya peduli soal itu.
Aku menahan keinginan untuk membuang muka, memeriksa mayat yang dimakan Abyss.
Abyss. Abyss sedang memakan Abyss. Tubuh Abyss tercabik-cabik, kakinya tinggal satu. Kanibal mereka, bajingan...
Di bangkai Abyss yang setengah dimakan itu tertancap sekitar lima anak panah, dan ada luka tusukan tombak juga. Sepertinya mereka memakan Abyss yang dibunuh oleh suku Lithoviar.
Aku membersihkan kuku yang berlumuran cairan tubuh Abyss ke tanah. ...Kalau yang dimakan Abyss, nggak perlu sepanik ini kan, sial. Harusnya kuserang pakai Kamaitachi biasa aja tadi.
"Bangunan di sana itu balai pertemuannya! Terima kasih! Kalau sudah sampai sini, sisanya saya sendiri bisa..."
Sebelum pria itu selesai bicara, dua ekor Abyss menerobos masuk ke balai pertemuan itu.
"""Veeeeeeeeeee!"""
Mereka memakan pintu dan memaksa masuk.
"Tidak apa-apa... tidak apa-apa..."
Pria itu bergumam mengulang kata-kata yang sama (butsu-butsu). Di kakinya, anak kecil memeluknya dengan cemas.
...Eh, ruang bawah tanah balai pertemuan, aman kan?
Po, pokoknya harus ke sana. Kalau Abyss menduduki tempat itu, orang-orang yang mengungsi juga bakal dimakan.
2
Aku berlari ke balai pertemuan, dan langsung memasukkan kepala ke lubang yang dibuat Abyss. Langit-langit runtuh, puing-puing yang jatuh menghujani kepalaku tanpa ampun.
Di dalamnya, ada lebih dari sepuluh Abyss berkumpul. Mereka berdesak-desakan di atas pintu besi yang ada di lantai. Mungkin itu pintu masuk ke bawah tanah. Abyss menempel di sana berarti ada yang melihat orang masuk lewat sana.
Abyss merayap sambil menancapkan gigi ke lantai. Lantai terkikis, lubang membesar. Kalau begini terus, Abyss bakal membanjiri ruang bawah tanah balai pertemuan.
Tidak ada waktu lagi. Aku tidak hanya memasukkan kepala, tapi juga kaki depan ke dalam balai pertemuan. Mau tidak mau Sobatku juga memasukkan kepala dan muncul di dalam balai pertemuan. Seluruh balai pertemuan berguncang hebat.
"Gaaaaaaaaaaaaaaa!"
Melihat balai pertemuan penuh sesak dengan Abyss, Sobatku berteriak. Aku juga mau teriak, tapi tidak ada waktu.
Tiba-tiba, tiga ekor Abyss menerjang ke arah wajahku.
"Veeeeeeeeeeeeee!"
Mulut besar Abyss terbuka. Lendir keruh meregang di rahang atas dan bawah, mengeluarkan bau khas.
"Guoooooooooo!"
Mustahil! Mustahil mustahil! Itu mustahil kan!
Menyusul tiga ekor itu, Abyss lain juga mengalihkan target ke sini. Lalu membuka mulut besar dan menyeruduk. Lima, enam, tujuh... aah, nggak sempet ngitung.
"Guoo!"
Aku mengayunkan kaki depan, memasukkan tubuh bagian atas sepenuhnya ke dalam balai pertemuan. Langsung saja dengan kaki depan kanan dan kiri, masing-masing menghancurkan Abyss yang berbeda dengan cakar. Daripada membunuh, prioritasnya adalah membuat mereka tidak bisa bergerak.
Abyss di depan terbagi jadi tiga baris, melompat ke wajahku. Aku mengosongkan pikiran, menggigit hancur satu Abyss dengan taring. Sensasi hangat menyebar di dalam mulut. Kakinya masih bergerak. Rasa jijik naik dari tenggorokan.
"Ve, vehe! Ve ve!"
Aku batuk hebat, memuntahkan potongan Abyss dari mulut. Mu, mual... rasanya mau muntah.
Melihat ke samping, Sobatku menjatuhkan Abyss dengan sundulan kepala. ...Harusnya aku juga begitu tadi.
Lho, Abyss tadi terbagi tiga baris, satu hilang ke mana...?
"Gaaaa!"
Sobatku menyundulku. Karena tiba-tiba, sundulannya cukup keras. Pandanganku berkedip-kedip.
"Guoo!"
Aduh, rahangku rasanya mau remuk! Aku terhuyung ke belakang, kepala membentur langit-langit.
Suara tumpul bergema. Saat itu, Abyss yang sepertinya naik di kepalaku jatuh (bote) ke lantai.
Me, melompat naik ternyata. Sobatku menyundulku buat jatuhin itu rupanya.
Aku menumpukan berat badan pada kaki depan, menginjak perut Abyss dengan kuat. Tentu saja aku jijik, tapi lebih jijik kalau membiarkannya hidup setengah mati. Habisi dengan pasti.
"Vea!"
Lantai penyok, tubuh Abyss hancur. Abyss menjerit pendek.
Mendapatkan 144 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 144 poin pengalaman.
Lenganku jadi lengket (necha-necha) kena cairan tubuh Abyss. Agak kebas. Kalau tidak salah cairan tubuhnya mengandung racun lumpuh. ...Lebih dari itu, aku nggak mau mikir apa-apa lagi.
"Veee!" "Veeeee!" "Veaaaaaaa!"
Abyss lain menyerangku. Saat aku menarik tubuh keluar, runtuhnya balai pertemuan dimulai dengan serius. Dinding dan pilar roboh, debu mengepul.
"Veeeee!"
Abyss lari kencang (dash) mau kabur lewat lubang tempatku mundur. Terlihat salah satu puing yang jatuh menimpa punggung Abyss dan melemparnya. Dalam sekejap tertimbun puing, tidak terlihat apa-apa lagi.
Mendapatkan 684 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 684 poin pengalaman.Level Ouroboros naik dari 68 menjadi 69.
...Lantai balai pertemuan, sepertinya tidak jebol, bagus.
Ini, mungkin dari awal pas lihat Abyss ngumpul mending langsung dihancurin aja kali ya. Kalau gitu kan, nggak perlu ngerasain penderitaan macem-macem.
Tapi kalau dihitung mundur dari EXP, yang mati sekitar empat ekor ya... Artinya, masih banyak yang bakal keluar nih.
Hampir bersamaan saat aku bersiaga, dari tumpukan puing merangkak keluar banyak Abyss. Karena sudah terluka akibat puing, memburu mereka jadi mudah.
"Veee!" "Veeeee!" "Veeeeee!"
Aku menghancurkan Abyss yang merangkak keluar dengan pasti menggunakan Kamaitachi. Dalam sekejap tujuh bangkai Abyss baru tercipta. Saat mengalahkan Abyss ketiga, level naik lagi jadi 70. Satu ekor terakhir kucincang dengan Kamaitachi.
Mendapatkan 186 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 186 poin pengalaman.Level Ouroboros naik dari 70 menjadi 71.
Efisiensi leveling-nya bagus ya, beneran, sia-sia banget. Nggak mau ketemu lagi sumpah.
Level Skill Gelar Pest Killer naik dari 5 menjadi 6.Level Skill Gelar Hero naik dari 4 menjadi 5.
...Hero naik berarti, bisa dianggap sudah beres kali ya. Masih belum boleh lengah sih... pokoknya, bersihin puing itu dulu biar orang bisa keluar.
Aku menyingkirkan sisa-sisa balai pertemuan yang kuhancurkan sendiri dengan kaki depan, memperlihatkan pintu menuju bawah tanah. ...Sip, lantai aman.
Syukurlah, syukurlah. Seriusan syukurlah. Semoga bisa pisah sama Abyss setelah ini.
Pintu bawah tanah terbuka, Hibi muncul dari dalam. Di bawahnya sepertinya ada tangga.
Hibi memejamkan mata lalu bertanya padaku.
'Dewa Naga, Abyss-nya...'
Sudah kullahkan hampir dua puluh ekor. Harusnya sudah habis... pikirku, tapi tidak bisa yakin. Mereka jago menghilangkan hawa keberadaan soalnya.
Selanjutnya, pria berseragam militer yang tadi dibawa masuk, naik tangga sambil dipapah pria suku Lithoviar. Sebagai pengganti perban, kain tipis membalut tangan dan kakinya.
"Tuan Derek, sepertinya Abyss yang menyerang sudah dibereskan."
"......"
Mendengar itu, pria berseragam militer menghela napas lega dan duduk di tangga. Waktu dibawa masuk dia panik, tapi sepertinya sudah agak tenang.
Derek, begitu dia dipanggil. Karena dia menyebut suku Lithoviar barbar dan ribut, kupikir bakal susah diajak bicara, tapi sepertinya namanya berhasil ditanyakan. Derek menatapku seolah menilaiku, lalu berdiri. Dia menepis tangan pria yang memapahnya, lalu mulai berjalan ke arah hutan.
"Oi, sudah mau keluar? Dengan luka begitu, kau bakal jadi makanan Abyss lagi lho."
Derek mengabaikan panggilan itu dan mencoba pergi. Tapi, dia langsung terhuyung dan jatuh ke depan. Hibi menggeser topengnya memperlihatkan wajah, lalu berlari ke sisi Derek.
"Istirahatlah setengah hari lagi, bagaimana? Senjatamu juga hilang kan. Kalau begitu, kau tidak akan bisa melewati hutan ini."
"......"
"Kalau untuk mencari temanmu, kami akan bantu. Meskipun karena lagi banyak Abyss, tidak bisa cari terlalu jauh..."
"...Mereka, selamat."
Derek bergumam pelan, seolah baru teringat. Akhirnya ngomong juga.
"Begitu ya. Itu bagus..."
"Mereka meninggalkanku duluan, kabur begitu saja. Tanpa bertarung dengan benar... karena aku orang baru, kurang satu juga nggak masalah katanya..."
Dia bicara dengan suara gemetar, lalu menelungkupkan wajah dan meringkuk di tempat. O, ow, lebih berat dari dugaan...
Bahunya gemetar (piku-piku). Lho, nangis kayaknya. Hibi mengusap punggung Derek dengan lembut seolah menghibur.
Y, yah, serahkan orang itu pada suku Lithoviar. Aku pergi patroli saja deh.
Aku berlarian di dalam desa menggunakan Presence Sense, tapi sama sekali nggak ada apa-apa. Desa yang jadi kota hantu gara-gara penduduknya mengungsi itu sepi banget. Ada tempat di mana hawa keberadaan manusia terkonsentrasi, saat kulihat ternyata ada bangunan besar mirip balai pertemuan. Mungkin di dalamnya ada ruang bawah tanah buat evakuasi juga. Respon terhadap serangan Abyss sepertinya sudah sangat terlatih.
Aku merasakan hawa mirip Abyss lagi, saat mendekat ternyata ada semacam seni instalasi berupa Abyss yang ditusuk banyak tombak.
Abyss yang ditusuk itu sudah kering, jadi bukan yang dibunuh hari ini. Apa ada efek pengusir Abyss? Katanya banyak hewan yang kabur kalau lihat bangkai temannya karena merasa bahaya. Tapi kalau mereka sih, rasanya malah bakal datang karena bau bangkai temannya deh...
Setelah itu aku keliling desa sebentar, tapi Abyss tidak ditemukan. Di tengah jalan aku memungut nenek-nenek yang gemetaran di balik kotak kayu dan anak kecil yang sembunyi sendirian di dalam bangunan. Karena sepertinya sudah keliling semua, aku memutuskan kembali ke reruntuhan balai pertemuan membawa dua orang itu.
"Guooooooo"
Setelah sampai di reruntuhan balai pertemuan aku bersuara, pintu logam yang tersisa di tanah kosong terbuka, Hibi keluar dari dalam.
...Tapi gimana ya, tumpukan puing yang berantakan dan dikais-kais kasar itu menyedihkan. Bangkai Abyss juga bergelimpangan (goro-goro). Yah, yang ngerusak, ngais, sama ngegelindingin itu aku sih. Setidaknya aku harus bantu bangun ulang ini. Aku mungkin bisa bangun satu rumah lebih cepat dari manusia.
Setelah Hibi, beberapa orang naik tangga bawah tanah, melihatku dan ribut kegirangan (kyakkya). Aku ingin melambaikan kaki depan membalas, tapi Hibi menahan orang-orang suku Lithoviar yang naik dengan tangan dan menyuruh mereka turun.
Hibi memejamkan mata, bicara lewat telepati.
'Bagaimana?'
Aku mungut dua orang di punggung nih. Abyss nggak ketemu. Karena aku nggak hafal kebiasaan mereka, aku nggak tahu mereka mundur atau sembunyi sih.
'Sembunyi... itu tidak mungkin.'
Kenapa? Pas di kuil, mereka nyusup di dalem persembahan lho.
'Tidak, kalau ada Abyss di dalam desa, mereka pasti sedang melahap bangkai Abyss.'
............Ah, iya, bener.
'Karena kita menyembunyikan diri di tanah, makhluk hina itu pasti menyentuh bangkai temannya. Saat makan hawa keberadaan mereka akan terekspos, jadi kalau Dewa Naga tidak melihatnya, berarti sudah tidak ada di desa.'
B, begitukah. Begitu ya... begitu...
'Memang hebat Dewa Naga. Memusnahkan Abyss sebanyak itu dalam waktu sesingkat ini...'
Maaf nih walau dipuja-puja, tapi hari ini aku nggak bisa semangat, capek juga jadi aku balik ke kuil ya... Mau cuci badan di sungai. Harus bersihin jus Abyss.
'Sudah mau kembali, Dewa Naga?'
Ah, iya... Maaf, hari ini aku pulang dulu.
'Bangkai Abyss bagaimana? Nanti, akan kami antarkan...'
Nggak, nggak usah! Nggak usah kok!
Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga. Sobatku yang sepertinya nggak dengerin cerita juga menggelengkan kepala bun bun dengan semangat. Gara-gara itu kepala kami tabrakan dengan keras. Hibi menatapku cemas. Tapi, kebentur kepala doang nggak masalah. Yang jadi masalah itu pembuangan Abyss.
Hibi memiringkan kepala heran. Tidak, yang heran itu sini. Pokoknya jangan Abyss.
'...Saya mengerti. Akan saya sampaikan pada orang Lithoviar lainnya.'
...Syukurlah nyambung. Kalau tiba-tiba ada bangkai Abyss berjejer sebagai persembahan, aku bakal nangis dan pergi dari desa karena dikira dibully.
Oh ya, Abyss itu ada berapa banyak? Hari ini sudah menghabisi sekitar dua puluh ekor, jadi udah mau punah atau...
'Selama sarang mereka tidak dibongkar, sulit untuk memusnahkan Abyss. Untuk mencari biang keladi perkembangbiakan abnormal juga cuma itu caranya.'
...Sarang Abyss itu neraka banget. Masih banyak ternyata. Tapi kalau perkembangbiakan abnormalnya nggak dihentikan, korban Abyss bakal makin banyak...
'Tapi sebaiknya jangan berpikir untuk masuk ke sarang. Dulu pernah ada preseden pasukan suku Lithoviar membentuk tim untuk mencari sarang Abyss. Tapi, tidak ada cerita yang tersisa kalau mereka benar-benar masuk.'
Maksudnya susah nemuinnya?
'Karena mereka yang mengejar Abyss terlalu dalam, tidak ada yang kembali.'
...Hah? Tidak ada itu... maksudnya musnah semua?
'Seratus tahun lalu, saat Pahlawan Gazaza ada di sini... katanya dengan kekuatan Dewa Naga juga, berhasil membasmi semua serangan Abyss.'
Ooh, ternyata ada hero ya. Suku Lithoviar rata-rata kemampuan tempurnya tinggi, jadi wajar kalau muncul orang yang luar biasa.
'Tapi karena itu nenek moyang suku Lithoviar kami jadi besar kepala, dan setengah memaksa Tuan Gazaza untuk mencari sarang Abyss. Lalu mengumpulkan prajurit dari seluruh desa di bawah nama Tuan Gazaza, dan pergi mencari sarang Abyss.'
...Kok, tiba-tiba firasatku jadi nggak enak banget.
'Menusuk tubuh Abyss yang ditangkap hidup-hidup dengan tombak, mematahkan kakinya lalu membiarkannya lari dan mengejarnya. Mereka pikir dengan begitu bisa sampai ke sarang. Wanita, anak-anak, orang tua yang ditinggal di desa, semua keluar mengantar kepergian mereka.'
............
*'Setelah itu matahari terbit dan tenggelam berkali-kali. Akhirnya masa kawin Abyss berakhir... namun, tak ada yang kembali. Dewa Naga juga, kudengar setelah itu menyembunyikan diri untuk sementara waktu...'
Eh? A, aaah, begitu ya...
Ka, kalau dibilang begitu, rasanya kayak pernah denger atau nggak ya...
'Dalam keadaan normal saja semengerikan itu, apalagi sekarang di mana ada sesuatu yang menjadi biang keladi perkembangbiakan abnormal tidur di sarang... Mencari sarang Abyss itu...'
Hibi sampai di situ, tubuhnya gemetar buru-buru. Sepertinya sudah diceritakan sebagai pelajaran sejak dulu. Mengucapkannya saja menakutkan.
'Hei, mending jangan deh.'
Sobatku memanggil dari samping. ...Iya, aku juga mau minta ampun deh.
Saat aku membalikkan badan mau pulang ke kuil, petualang yang disembunyikan, Derek, sedang naik dari tangga bawah tanah balai pertemuan. Mengikuti Derek, beberapa orang suku Lithoviar muncul dengan wajah cemas.
"Lukanya belum sembuh, sudah mau berangkat?"
Hibi bertanya, Derek diam sebentar lalu mengangguk.
"Tidak bisa lama-lama di sini. Harus memberitahu teman kalau aku masih hidup. Kalau terlalu lama..."
Kalau terlalu lama kenapa, pikirku, tapi dia tidak melanjutkannya. Mungkin, dia pikir bakal ditinggal pulang. Dikira mati jadi pasti nggak bakal ada bantuan datang.
"Oi, sendirian beneran nggak apa-apa?"
Pria yang keluar mengikuti Derek bertanya padanya. Pria itu memegang tombak. Suasananya seperti mau jadi pengawal.
"...Tidak apa-apa. Lagipula, kalau ketemu teman nanti repot."
"Nggak punya senjata gimana mau nyebrang."
Pria itu menyerahkan tombak yang dipegangnya ke Derek. Derek bingung, tapi perlahan memegang tombak yang dipaksakan itu.
"Itu tombak kesayanganku. Abyss nyerang dari belakang, hati-hati. Graphant jalannya lambat, Molz juga kalau nggak diganggu aman. Kalau cuma lurus keluar dari sini, yang paling harus diwaspadai ya Abyss."
"......"
Derek melihat tombak itu, walau tidak mengucapkan terima kasih, dia menunduk kecil. Derek hendak pergi, tapi segera berbalik lagi ke arah orang-orang desa. Melihat pria yang memberinya tombak, lalu melihat Hibi.
Saat mata Derek bertemu Hibi, wajahnya sedikit memerah, lalu segera menghadap depan lagi. Hibi memiringkan kepala heran.
Jangan-jangan orang ini, jatuh cinta karena diperlakukan baik saat bahaya? Memang Hibi cantik banget sih. Melihat situasinya sepertinya di bawah tanah juga dia banyak bicara sama Hibi, mungkin saja terjadi. Awalnya musuhan banget, sekarang jadi santai.
"...Anu, nanti, aku mau ngucapin makasih lagi. Nanti, kalau sudah tenang... boleh datang lagi?"
Hibi diam sejenak mendengar kata-kata Derek, lalu perlahan menggeleng.
"...Orang luar, sebaiknya jangan terlalu sering datang ke desa kami. Kami juga, kalau Anda tidak terluka, pasti sudah mengancam dan mengusir Anda. Kata-kata Anda di awal 'mau dijadikan tumbal dewa jahat' juga... kalau dibilang tidak tahu, itu bohong. Tolong lupakan kejadian hari ini."
Mendengar kata-kata Hibi, orang suku Lithoviar lainnya juga menunduk. ...Mengamankan tumbal buat Manticore ya. Kalau kerabat sendiri diserahkan, nggak ada alasan buat ngelepasin musafir kan. Di sini juga ngelakuin itu ya. Baru aja nyulik orang, krisis lewat terus tiba-tiba ramah sama musafir, nggak bisa langsung berubah gitu. Makanya kalau bukan orang luka pasti diusir, sebaliknya kalau luka, ada rasa bersalah sama musafir jadi ditolong. Terus malah nampung Manticore yang nyamar.
"............Begitu, ya."
Derek terdiam sejenak setelah mendengar ucapan Hibi, lalu menunduk dalam-dalam.
"Aku berterima kasih karena nyawaku telah diselamatkan. Tapi walau disuruh melupakan, sepertinya hari ini tidak akan mudah dilupakan."
Derek berkata begitu, berjalan beberapa langkah, lalu berbalik lagi.
"Setelah ini, di sini............ tidak, lupakan saja."
Dia menunjukkan ekspresi rumit. Sepertinya ragu mau mengatakannya atau tidak, tapi akhirnya dia tidak mengatakan apa-apa. Namun setelah menghadap depan lagi, aku mendengar dia bergumam pelan, "Tenang saja, aku tidak akan membiarkan apapun terjadi." ...Ada apa sih, apa dia melihat monster aneh?
Sempat terpikir mau mengawalnya sampai tengah jalan... tapi saat aku coba mengejarnya, wajah Derek langsung pucat pasi dan dia lari terbirit-birit. ...Sepertinya dia sudah cukup pulih, syukurlah.
"Gaa."
Tapi dengan status itu, kalau diserang Abyss bakal bahaya banget lho, apa beneran tidak apa-apa? Karena dia sendiri bilang tidak perlu, mungkin aku cuma ikut campur. Lagipula kalau aku sembarangan ikut, aku tidak mau kalau harus bertarung dengan teman-teman Derek.
Sambil pulang ke kuil, aku membuntuti Derek dari jauh menggunakan Presence Sense. Aku berniat melompat keluar kalau ada masalah, tapi akhirnya tidak terjadi apa-apa.
Di tengah jalan, ada pedang seseorang terjatuh. Derek juga lewat situ jadi pasti sadar, tapi dia tidak memungutnya. Entah karena dia pikir tombak panjang lebih aman buat mengusir monster, atau karena dia ingin memakai tombak yang diberikan dengan niat baik jadi pura-pura tidak lihat, aku tidak tahu.
Waktu pertama lihat, Derek teriak-teriak dasar barbar, dasar barbar, tapi nggak ketebak ya. Derek sendiri mungkin yang paling mikir begitu. Setelah memastikan dia sampai di bagian hutan yang aman, aku menghentikan pengejaran dan memutuskan pulang ke kuil.
...Tapi, rutenya melenceng jauh banget, jadi bukan sekalian lagi namanya. Jaraknya jadi dua kali lipat lebih jauh kayaknya. Yah, sekali-kali begini juga nggak buruk sih.