Bab 4: Pemukiman Lainnya - Bagian 3
Volume 5 - Chapter 6
February 6, 2026
6
Setelah Tatalk kembali ke atas, aku melepas Art of Humanification dan kembali ke wujud naga. Harus menghemat MP. Aku tidak berniat kalah dari Manticore, tapi harus ekstra hati-hati.
Aku berbaring di tanah, memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuh.
"...Benar-benar, Kakak?" "Kenapa... baru sekarang... selama ini, ke mana..."
Mungkin karena interaksi tadi rasa takut agak berkurang, satu per satu anak mulai menyapa. Tapi maaf, Dewa Naga di mana dan ngapain, aku nggak tahu.
Aku membuka mata, melihat ke arah Sobatku. Sobatku juga pas melihat ke arahku. Kami saling bertatapan, dan saling menggeleng kecil.
"Dewa Naga... sama."
Anak tertua memanggil.
"...Jujur saja, banyak yang tidak kutahu. Bilang begini mungkin egois... tapi, anu... berjuanglah!"
Anak ini, beneran dewasa banget. Selagi aku kagum, Sobatku mengangguk.
"Guo."
"...Itu, Kakak ya."
He, hebat bisa tahu.
"Guuu..."
Sobatku mendengus seolah senang.
Cahaya merah senja yang bocor ke gua makin lemah seiring waktu. Segera, kegelapan menyelimuti gua. Hanya cahaya bulan yang tersisa sedikit. Tiap malam, ditinggal di gua begini, anak-anak pasti kesepian. Saat aku berpikir begitu, suara Yarg terdengar.
"Oi, waktunya. Geser batunya."
"...Ba, baik."
Tatalk menjawab Yarg, dan tutup pintu masuk digerakkan. Sepertinya waktu tumbal sudah dekat. Akhirnya, saatnya tiba. Aku menggunakan Art of Humanification lagi, menarik leherku dan memindahkan kendali ke Sobatku. Perubahan ini juga sudah jadi sangat mulus. Setelah Art of Humanification selesai, Sobatku memegang baju yang hampir jadi kain perca itu, dan memakainya dengan enggan.
Setelah Art of Humanification selesai, aku baru sadar. Talinya, kan tadi diputus paksa!
Kalau nggak diikat, Yarg bakal kabur nggak ya. Dia pasti trauma jarinya putus. Ta, tangannya minimal harus diikat.
"Ta, tali... oi,iket tangan gue di belakang."
"Eh? Ba, baik..."
Anak-anak heran tapi berkumpul ke Sobatku. Sobatku memunggungi mereka, menyodorkan tangan. Mereka berhasil mengikat tangan dengan susah payah. ...Ikatannya cukup lemah, kasar banget, tapi y-yah, bisa lah.
Dari atas terdengar percakapan Yarg dan Tatalk.
"Tatalk, wajahmu pucat sekali. Ternyata kau memang tidak cocok."
"Itu, soal rapat... bagaimana... desa ini..."
"Belum saatnya memberitahu kau yang aslinya orang luar."
"Ta, tapi..."
Setelah bantahan Tatalk, terdengar suara tumpul gon.
"A, aga...!"
Terdengar suara seperti Tatalk jatuh berjongkok. Mungkin, Yarg memukul dagu Tatalk dengan gagang tombak.
"Kalau pikir di sini bahaya, kau mau sujud dan merayap ke desa sana lagi? Nyawamu seberharga itu? Kau, benar-benar tidak punya harga diri ya Tatalk. Kalau tidak, kau tidak akan berpikir pindah desa sekarang."
"Bu, buka... aku..."
Mendengar ucapan Yarg, aku merasakan alis Sobatku berkedut.
Tatalk bilang dia ingin mengorbankan diri demi menyelamatkan para sandera dan mendamaikan kedua desa. Tapi Tatalk malah dicaci maki sebagai pengecut yang tidak punya harga diri. Mendengarnya memang tidak menyenangkan.
"Tugasmu sebagai penjaga gerbang berakhir hari ini. Atas perintah Tuan Nagrom, aku tidak akan membunuhmu, tapi aku tetap tidak bisa mempercayaimu. Kau adalah pria yang pernah berkhianat dan datang ke sini. Tidak ada jaminan kau tidak akan berkhianat lagi. Aku tidak bisa membiarkan orang sepertimu menjaga di luar desa."
"..."
"Aku akan turun dan membawa tumbal hari ini. Kau tunggu di situ."
Setelah Yarg berkata dingin, seutas tali diturunkan ke dalam gua. Begitu melihatnya, Sobatku langsung berlari menuju lubang keluar masuk.
Tu, tunggu sebentar! Apa yang kau pikirkan!?
Sobatku menendang dinding dan melompat, lalu menendang dinding lagi di tengah udara untuk menambah ketinggian, melompat keluar dari lubang tanpa menggunakan tali.
"A, apa!"
Yarg yang sedang mengintip ke dalam lubang terkejut dan mundur. Sobatku berputar di udara, lalu menghantam wajah Yarg dengan lututnya.
"Buu!"
Yarg terhuyung dan jatuh berlutut. Sambil memegangi hidungnya, dia memelototi Sobatku dengan tatapan seolah melihat sesuatu yang tak bisa dipercaya.
O, oi, Sobat...
"Apaan? Gue udah nahan tenaga kok, lagian gue juga abis diracun kan."
Kalau bergerak sembarangan sekarang, rencana kita bisa berantakan! Aku paham perasaanmu, tapi tahan! Orang itu kan nggak tahu apa yang dibilang Tatalk, jadi wajar saja!
"Ke, kenapa, ikatanmu jadi longgar...?"
"Woy, kenapa diem? Bukannya mau jadiin gue tumbal?"
"K, kau ini!"
Yarg berdiri, mencoba menekan bahu Sobatku ke tanah. Sobatku mengeraskan tubuh, melawan tekanan itu.
Stop! Stooop! Aku tahu kau benci dia, tapi sekarang tenang dulu! Kalau ribut di sini dan semuanya gagal, yang mati itu anak-anak itu lho!
"...Cih."
Sobatku melemaskan tubuhnya. Dengan mudah dia dibanting ke tanah.
"...Haa, haa. Rupanya kau sudah tidak punya tenaga untuk mengamuk lagi ya."
Sebenarnya tenaganya masih banyak sih...
"B, bagaimana ini, Tuan Yarg."
"...Bawa dia. Dengan kekuatannya sekarang yang bisa kutahan, dia tidak akan mengamuk sampai membuat Manticore marah. Tadinya aku mau menunda sampai tubuhnya melemah untuk jaga-jaga... tapi dia bisa lepas dari tali dan melompat keluar dengan menendang dinding, itu mengerikan. Kalau dibiarkan, dia malah bisa kabur. Jadikan dia tumbal duluan."
Nyaris saja. Ternyata tadinya mau ditunda ya. Amukan Sobatku secara ajaib malah berdampak positif. Boleh deh tendang Yarg lagi.
"Boleh nih?"
Maaf, bercanda. Jangan dianggap serius. Aku lupa kalau kau benar-benar bisa melakukannya.
Yarg memerintahkan Tatalk untuk mengikat kembali lengan Sobatku dengan tali baru. Karena dua jari Yarg sudah digigit putus oleh Sobatku, dia tidak bisa mengikat tali dengan benar.
Setelah Tatalk selesai mengikat, Yarg menarik ujung tali dan membawa Sobatku menuju tempat Manticore seperti membawa tawanan.
Dari belakang, Tatalk menodongkan tombak ke belakang kepala Sobatku. Di tangan Tatalk yang tidak memegang tombak, ada benda seperti lentera berisi batu bercahaya.
Yarg sepertinya sangat kesakitan setelah ditendang tadi, sesekali dia menekan hidungnya dengan tangan yang diperban tebal.
Di perjalanan, Tatalk berkali-kali melirik Sobatku dengan cemas. Saat Sobatku membalas tatapannya, Tatalk membuang muka dengan canggung. Setelah membuang muka, dia bergumam pelan.
"...Sebentar lagi, sampai di tempat tinggal Manticore. Pihak sana juga tahu kalau kita akan datang saat matahari terbenam. Sekarang, dia pasti sedang menunggu di kuil sambil meneteskan air liur."
Memang tidak ada jaminan dia bakal diam seharian di satu tempat sih. Bagian itu pasti sudah dinegosiasikan lewat pemilik darah Miko yang bisa Telepathy.
Berarti sekarang Manticore pasti sedang lengah dan bersantai. Menunggu sampai jam segini mengikuti jadwal orang desa ternyata ada gunanya.
"Oi Tatalk, jangan banyak omong."
"Ba, baik..."
Tatalk menunduk setelah dimarahi Yarg, lalu kembali menatap Sobatku. Seolah bertanya, apa benar-benar berniat melawan Manticore? Sobatku mengabaikan tatapan Tatalk, diam saja sambil ditarik Yarg.
Akhirnya kami sampai di depan gua besar. Mirip dengan gua tumbal, seperti rongga di gunung batu. Tapi, lubangnya jauh lebih besar dan kedalamannya juga terlihat lebih dalam.
Di dinding pintu masuk terukir gambar Manticore. Sepertinya gua yang sudah ada dipercantik demi Manticore. Ternyata benar mereka berusaha keras mengambil hati Manticore.
Yarg berhenti di depan pintu masuk, melirik Sobatku dan menyipitkan mata. Sepertinya dia curiga karena Sobatku sama sekali tidak melawan. Mengingat kelakuan Sobatku sebelumnya, wajar saja dia curiga. Yarg sudah kehilangan jarinya digigit Sobatku, ditendang, dan hidungnya dipatahkan.
"Ah? Kenapa?"
"...Rasanya ada yang salah."
"Mending gue ngamuk aja?"
Yarg dipelototi Sobatku, dan sesaat melihat ke tangannya yang terluka. Meski tidak menunjukkannya di wajah, dia pasti teringat rasa sakit saat jarinya digigit.
Mengandalkan cahaya lentera yang dibawa Tatalk, kami masuk ke dalam gua. Tapi, aku tidak menyangka guanya sebesar ini. Lebarnya seukuran sarang semut tertentu, dan panjangnya juga lumayan. Kalau begini, dia tidak akan mudah lolos.
Saat Sobatku berjalan di dalam gua, tiba-tiba terdengar suara besar dari dalam. Sepertinya ada sesuatu yang bangkit. Kemudian, suara langkah kaki binatang raksasa mendekat.
"...Manticore, datang."
Yarg bergumam. Suaranya sedikit gemetar. Sepertinya dia ketakutan. Saat itu, Tatalk melempar lenteranya ke udara, lalu mengarahkan tombak ke Sobatku dan menerjang.
"Ta, Tatalk, apa yang..."
"Tuan Yarg, minggir! Minggir!"
Tatalk menabrak bahu Yarg. Yarg terhuyung, melepaskan ujung tali Sobatku. Tatalk mengayunkan ujung tombak ke tali di lengan Sobatku. Sobatku melompat mundur dengan lincah untuk menghindarinya.
"Aaah!"
Karena gerakan tak terduga Sobatku, Tatalk tersandung dan jatuh.
Bagi Tatalk, itu mungkin keputusan nekat untuk membebaskan Sobatku sebelum Manticore datang. ...Hanya saja, bagi kami yang ingin membuat Manticore lengah sebisa mungkin, lebih baik tali di lengan tetap terpasang. Lagipula, bisa dilepas kapan saja kok.
"Tatalk! Kau, apa yang kau pikirkan! Dari tadi kau bertingkah konyol terus!"
Yarg berteriak sambil memperbaiki posisinya.
"Eh, ah, tidak... eh?"
Tatalk menatap Sobatku dan Yarg bergantian dengan bingung.
"...Hei, jangan-jangan gue, mendingan nggak ngehindar ya tadi?"
Sobatku bergumam padaku. Ti, tidak, yang tadi itu bagus kok dihindari... yah, mau gimana lagi.
Kupikir bakal jadi ribut, tapi tidak ada waktu untuk itu. Dari dalam gua, bersamaan dengan suara langkah kaki besar, monster raksasa yang tidak asing muncul.
"Geba geba gebaa!"
Dari kegelapan di dalam gua, wajah monster itu muncul (nuuu). Mengibaskan surai panjang, dia menyeringai jelek sambil memperdalam kerutan di wajahnya. Akhirnya reuni dengan Manticore.
Selain tubuh yang jauh lebih besar dari manusia, wajah campuran macan tutul dan manusia itu menakutkan. Cakar yang memanjang dari kakinya sepertinya bisa menusuk manusia dengan mudah. Waktu ketemu sebelumnya ukurannya sama jadi tidak terlalu takut, tapi dilihat dari sudut pandang manusia, ini ngeri banget.
Manticore melihat Sobatku, air liur menetes dari sela-sela taringnya. Yarg berlari, berhenti setelah cukup jauh dari Manticore, lalu berbalik.
"...K, kuberikan tumbalnya."
Yarg berkata pada Manticore seolah memohon ampun.
Sobatku tersenyum menantang sambil memelototi Manticore, memutar pergelangan tangannya ke arah sebaliknya, dan membunyikan jarinya (koki-koki). Lengannya sangat bertenaga. Terasa sekali tekadnya untuk menghajar monster itu sekarang juga.
"Akhirnya boleh ngamuk kan?"
Tu, tunggu bentar! Sebelum masuk mode tempur, biarkan aku cek statusnya lagi! Aku mau menghilangkan faktor kecemasan!
Lagipula kalau bisa, aku mau mengincar saat Manticore paling lengah. Tolong pertahankan keadaan sekarang sampai dia lengah atau curiga.
"...Hati-hati amat sih."
A, abis itu, incar kakinya dulu ya! Biar kalau dia lolos masih bisa dikejar!
"...Cih. Aaah, iya iya."
Aku paham perasaan tidak sabarnya, tapi dia sudah lolos dua kali. Kali ini, benar-benar akan kuhajar dia. Statusnya adalah...

Sip, tidak ada yang berubah. Aku juga mau memastikan Skill Karakteristiknya. Pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan Art of Humanification.
Skill Karakteristik NekomataSkill karakteristik yang terutama dimiliki monster tipe kucing yang pandai menipu manusia.Dapat mengurangi konsumsi MP Art of Humanification secara drastis.
Benar kan, itu dia. Mengurangi konsumsi MP Art of Humanification... ya. Skill yang bikin iri. Bagaimanapun, aku harus waspada agar tidak kena tipuannya lagi.
"Geba geba geba... Geba?"
Manticore mungkin merasa curiga pada tumbal yang terlalu berani berdiri tegak itu, dia memelototi Sobatku. Memang sih, kalau tidak ketakutan sedikit malah mencurigakan.
Yarg saja sampai ketakutan begitu pada Manticore. Mana mungkin tumbal yang baru dibawa bisa sesantai ini. Sobat, akting takut dikit dong...
"...Ga, gaaaa."
Sobatku menggoyang-goyangkan lengan yang terikat tali sambil menjerit pura-pura yang dibuat-buat banget, lalu lari menjauh dari Manticore. Pelan-pelan, biar tidak terlalu jauh.
Aktingnya jelek banget, lagian ujung-ujungnya naga juga yang keluar!
"Geba geba geba gebaa!"
Manticore mulai bergerak. Sobatku berhenti dan menoleh ke Manticore, sambil merobek talinya. Saat itu kaki depan Manticore menekan tubuh Sobatku. Sobatku dijatuhkan terlentang.
"Gaa!"
Mulut besar Manticore terbuka lebar, membentuk senyum menyeramkan.
Tertangkap ya. Kalau begini tidak bisa mengincar kaki. Apa sebaiknya lepas wujud manusia sekarang...?
Tidak, belum. Saat memangsa, itu adalah saat makhluk hidup paling tidak waspada. Di situ tusuknya.
Sobatku meronta, Manticore sedikit mengernyit. Tapi, dia tidak bisa melepaskan diri dari Manticore. Saat Art of Humanification, status kemampuan fisik berkurang setengah. Kekuatannya sekarang tidak cukup.
"Geba geba gebaa!"
Mulut Manticore mendekati Sobatku. Setelah mulutnya cukup dekat, dari sudut pandang tertentu tubuh Sobatku masuk ke titik buta Manticore. Sekarang.
"Gaaaaaaa!"
Sobatku meraung sambil mengayunkan lengan ke arah taring Manticore.
Aku memusatkan kesadaran pada lengan. Panas menjalar seolah darah mendidih, lengan membesar. Akibat dampak pukulan Sobatku, debu mengepul.
Sensasi kuku menancap di tubuh Manticore tersalur ke tangan. Kemungkinan besar, gusi Manticore. Sobatku mencungkil daging yang tersangkut di kuku, lalu merobeknya. Taring Manticore yang terpotong beserta sarafnya, melayang di tengah kepulan debu.

"Gebaaa!"
Jeritan terdengar dari balik asap, aku merasakan hawa keberadaan Manticore mundur. Debu menipis, aku sadar hanya lengan Sobatku yang membesar dan berubah menjadi kulit hitam kasar.
Hanya lengannya yang kembali ke wujud naga. Pelepasan Art of Humanification sebagian. Manticore dulu juga pernah melakukan hal serupa, jadi aku coba, ternyata aku juga bisa.
Sobatku langsung menendang tanah, mengejar kaki depan Manticore yang mundur.
"Gaaaaa!"
"Gebaaa!"
Kuku mencungkil dalam daging kaki depan Manticore. Bulu tebal robek, potongan daging beterbangan. Tanpa henti dia menghantamkan tinju ke rahang Manticore yang sedang goyah. Tubuh raksasa Manticore menggelinding sambil menggerus lantai gua.
"A, apa! Siapa kau sebenarnya!"
Yarg memungut lentera yang dilempar Tatalk dan berteriak sambil menyinari Sobatku. Di dekatnya, Tatalk menganga lebar.
"Oooooo ooooooooo..."
Di dalam gua, mata Manticore bersinar. Menekan rahang dengan kaki depan, dia memelototi Sobatku dengan ekspresi murka. Kali ini, aku benar-benar melepas Art of Humanification sepenuhnya.
Panas menjalar ke seluruh tubuh, membesar. Seiring tubuh kembali ke wujud semula, amarah Manticore menghilang, wajahnya memucat seketika. Akhirnya dia sadar siapa aku. Padahal punya skill yang sama, lambat banget sadarnya.
"Guoooooooooo!" "Gaaaaaaaaaa!"
Aku dan Sobatku meraung bersamaan.
"Ge, geba..."
Manticore mundur. Tapi, aku sudah konfirmasi ke Tatalk kalau di dalam sana jalan buntu. Kalau Manticore mau keluar, dia harus menembusku.
"De, Dewa Naga!? Ti, tidak mungkin! Kenapa, kenapa Dewa Naga ada di sini!"
Saat aku melirik ke belakang, Yarg mengarahkan tombak padaku. Tombak yang dibawa Tatalk. Tapi suara dan tangannya gemetar, sepertinya dia tidak akan tiba-tiba menyerang.
"Gaaaa..."
Saat Sobatku memelototinya, dia menjatuhkan tombak dan terduduk lemas di tempat.
"A, aa... aa, apa yang terjadi..."
...Jangan terlalu ditakut-takuti lah.
Ups, tidak bisa terus memperhatikan belakang. Aku mengalihkan perhatian kembali ke Manticore. Manticore berhenti bergerak, menghentakkan kaki ke tanah.
"Gebaa!"
Badai pasir bertiup di dalam gua. Di kegelapan yang hanya diterangi lentera Tatalk, ditambah serangan buta seperti ini sangat efektif. Anginnya juga meredam suara.
Skill Sandstorm mungkin. Kekuatannya lebih besar daripada skill sejenis yang dipakai monster gurun. Mungkin karena level skill-nya, tapi mungkin juga karena di ruang sempit jadi kekuatannya lebih mudah diatur. Dia sepertinya masih menimbang mau kabur atau mengalahkanku.
Aku mencari posisi Manticore dengan Presence Sense. Hawa keberadaan Manticore bergerak ke kiri dan kanan di depanku, lalu berhenti. Sayang sekali, Manticore. Kalau kau bisa lihat skill-ku, kau tidak akan ambil cara ini.
Manticore melompat tinggi ke arah kiri atasku. Tapi, kekuatan kaki yang dia banggakan sudah melemah drastis akibat gigitan Sobatku tadi. Dengan kecepatan segitu, ditambah posisinya ketahuan lewat Presence Sense, kau tidak bisa melewatiku. Aku membalikkan badan, menghantam Manticore yang ada di udara dengan ekor.
"Gebaa!?"
Sobatku menggigit Manticore yang baru saja menghantam tanah, mengangkatnya, lalu membantingnya ke dinding kanan dengan lehernya. Aku menyusul dengan sundulan kepala ke Manticore yang ada di depan mata.
"Geo!?"
Manticore jatuh dengan pinggang menghantam tanah, lalu menggelinding akibat dampak sundulan. Aku mau maju untuk menyerang lagi, tapi aku sadar mata Manticore tertuju ke belakangku.
Di belakangku ada Yarg dan Tatalk. Merasakan sesuatu yang tidak beres, aku berhenti.
"Geba geba gebaa!"
Manticore memperbaiki posisi dan bertahan, sambil memutar ekornya ke depan.
Ujung ekornya berbentuk bola berduri. Jangan-jangan dia mau pakai skill Thousand Needles? Dilihat dari pandangan Manticore, sasarannya pasti manusia di belakangku. Mengeluarkan ekor saat jarak jauh berarti skill jarak jauh. Kalau begitu, cara serangan Thousand Needles yang mungkin cuma satu. Menembakkan jarum.
Aku merentangkan sayap lebar-lebar. Puluhan jarum dari ujung ekor Manticore ditembakkan serentak. Aku mengepakkan sayap menciptakan angin, dan mengisinya dengan mana.
Kamaitachi membelokkan lintasan jarum. Semua jarum jatuh berserakan di antara aku dan Manticore.
"Ge... ge, geba..."
Sepertinya dia berniat mengalihkan perhatianku dengan mengincar manusia... sayang sekali. Itu tadi pasti kartu as-nya. Sampai di sini saja ya, Manticore pun tak berkutik. Secara status, aku lebih unggul. Kecepatan yang jadi masalah juga sudah kuhancurkan dengan menyerang kakinya duluan. Karena ada Status Inspection, serangan kejutan pun tidak akan mempan padaku. Jelas sudah tidak ada lagi yang disembunyikan.
Manticore bangkit perlahan, memelototiku dengan napas kasar. Bola matanya bergerak liar melihat sekeliling. Pasti mencari sesuatu yang bisa digunakan.
"Geba........ geba........"
Tiba-tiba, Manticore mulai menubruk dinding. Seluruh gua bergetar hebat. Masa sih, dia mau bikin lubang di dinding buat kabur sekarang? Mana mungkin berhasil di saat genting begini. Kegigihannya patut diacungi jempol. Pantas saja dia bisa lolos dariku dua kali.
Aku menerjang Manticore, mengangkat kaki depan tinggi-tinggi. Ini akhirnya.
"Ge, gege..."
Saat aku mengayunkan lengan hendak memenggal kepalanya, tubuh Manticore mengecil. Dalam sekejap, berubah menjadi sosok wanita berambut cokelat.
Spontan aku membelokkan lintasan cakar. Kuku kaki depan menancap di tanah.
D, dia pakai Art of Humanification di saat terakhir begini. Aku buru-buru mengangkat kaki depan satunya, tapi kaki itu pun terhenti di udara.
'Oi, ngapain lu!'
Pikiran Sobatku melayang, aku kembali tenang. Saat aku hendak memberi kekuatan pada kaki depan, saat itulah.
"Maafkan aku, maafkan aku..."
Manticore menutupi wajah dengan lengan, mengulang kata maaf. Sosoknya terlihat sangat lemah.
Dia adalah monster pemakan manusia yang sudah lama menyengsarakan suku Lithoviar. Selain menyakiti langsung, dia juga menghasut ketidakpercayaan pada Dewa Naga, menciptakan perpecahan dan konflik di desa, memaksa penyerahan tumbal, bertindak seenaknya dan menyiksa mereka. Aro pun dibunuh olehnya. Tapi, kenapa sekarang... ini curang namanya.
Meski aku mencoba meyakinkan diriku begitu, kaki depanku tidak mau bergerak.
Wujud manusia Manticore, meski tergolong tinggi untuk ukuran wanita, memberikan kesan rapuh. Mungkin karena sedang lemah, sosoknya terlalu jauh dari monster pemakan manusia.
Aku tidak bisa mengayunkan tangan. Lenganku terasa berat seolah berubah jadi logam.
'Oi, sadar woy!'
Aku tanpa sadar menurunkan lengan. Seolah menunggu momen itu, Manticore mengangkat wajah. Meski berwujud manusia, ekspresinya bukan ekspresi manusia. Senyum jelek yang penuh niat jahat. Dari celah kelopak mata yang menyipit, terpancar kilatan membunuh. Mulut yang robek lebar adalah bukti tak terbantahkan bahwa Manticore sudah mulai melepas wujud manusianya.
Lidah menjulur dari mulutnya. Taringnya makin membesar. Manticore bertumpu pada kaki yang tidak terluka, melompat ke arah tenggorokanku.
Cepat. Dia pasti mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk serangan ini.
"Geba geba geba geba gebaa!"
Aku dijebak. Saat aku menyadarinya, taring Manticore sudah menancap di leherku. Tepat di bawah daguku, taring Manticore menancap dalam. Dalam pertarungan hidup dan mati, harga keraguan sesaat terlalu mahal.
"Guuu..."
Kepalaku, mati rasa. Kalau tidak salah... dia punya skill Paralysis Bite.
Sial! Padahal dari status dan kelakuannya selama ini aku sudah tahu dia ahli serangan dadakan dan tipuan!
Manticore semakin kembali ke wujud aslinya... saat sudah kembali sempurna, tubuh Manticore terlepas dari tenggorokanku.
Sobatku menggigit tenggorokan Manticore dan menariknya lepas. Mungkin racun lumpuhnya belum sampai ke leher Sobatku. Manticore terlempar ke udara sambil menyemburkan darah dari leher, lalu jatuh terlentang.
Sobatku memuntahkan darah (peh peh).
'Lu selalu terlalu lembek sih.'
...Aku tahu, kok. Untung ada kau.
Aku menekan bagian yang digigit Manticore dengan kaki depan untuk menahan pendarahan, sambil memulihkan kulit yang tertembus dengan Self-Regeneration. Luka segera menutup, dan rasa kebas pun menjauh.
Level Skill Karakteristik Paralysis Resistance naik dari 5 menjadi 6.
Aku melihat ke arah Manticore. Manticore menggemeretakkan giginya pelan, lalu benar-benar berhenti bergerak.
Mendapatkan 2044 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 2044 poin pengalaman.Level Ouroboros naik dari 61 menjadi 65.
Dapat banyak EXP setelah sekian lama.
Level Skill Gelar Hero naik dari 2 menjadi 4.
Waduh, lompat kelas. Manticore, dari yang pernah kulihat, secara status ancamannya di atas Giant Centipede sih.
Skill Normal Star Drop: Lv2, Nutcracker: Lv3 berubah menjadi Heaven's Fall: Lv3.Mendapatkan Skill Normal Earth Reversal: Lv1.
Eh? I, ini, skill punya Pahlawan kan?
Boleh nih aku ambil? Nggak apa-apa? Sifat buruknya nggak nular kan?
Tiba-tiba aku teringat saat melawan Pahlawan. Di paruh kedua pertarungan, saat Pahlawan memanggil sekumpulan serangga, kalau tidak salah dia bilang begini.
'Fu, fufu, fufufu... Kau benar-benar membuatku marah. Sudah cukup. Akan kutuk seluruh negeri ini sampai mati. Selain aku yang punya Holy, takkan ada yang selamat.'
...Dilihat dari cara bicaranya, Holy itu skill yang bisa menghilangkan kutukan. Kalau bisa dipelajari lewat Skill Gelar Hero, apa aku bisa mengendalikan kutukan yang disebar oleh Dragon Scale Powder yang merepotkan ini?
7
Melihat bangkai Manticore yang menyemburkan darah, aku menghela napas lega.
Saat hendak berbalik, aku melihat Yarg. Yarg memegang tombak, melihat Manticore dan aku bergantian dengan gelisah. Tangannya yang memegang tombak masih belum bertenaga.
Yarg pasti belum bisa memproses apa yang terjadi. Tatalk juga sama seperti Yarg, cuma bisa bingung. Aku melewati Yarg dalam diam.
"Tu, tunggu! A, apa! Kau ini sebenarnya apa!"
Meninggalkan teriakan Yarg di belakang, aku keluar dari gua begitu saja.
Dengan ini, desa ini tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan pada Manticore. Aku juga sudah membalaskan dendam Aro. Sekarang, balik dulu ke dekat desa sebelah kali ya.
Semoga dengan melihat aku mengalahkan Manticore, Yarg dan Tatalk bisa menyelesaikan masalah Dewa Naga dengan baik... tapi sepertinya itu butuh waktu. Jaraknya terlalu dalam. Kalau bisa aku yang membujuk pihak faksi Dewa Naga sih bagus.
Setelah itu aku berkeliling hutan mencari Aro dengan Presence Sense. Hawa keberadaan Aro agak unik jadi mudah dideteksi. Aro duduk bersandar di akar pohon. Di lengannya dia memeluk makhluk seperti kelinci.
Melihatku, dia berdiri dan mendekat dengan gembira. Saat itu, kelinci di tangannya jatuh ke tanah. Kelinci itu mendarat dengan indah, lalu mengikuti Aro.
Jinak sekali... eh, itu beneran kelinci? Kalau dilihat baik-baik, tidak ada bulunya... atau lebih tepatnya, permukaan tubuhnya seperti terbuat dari tanah yang dipadatkan.
Mungkin tubuh kelinci itu rapuh, baru lari beberapa langkah kaki belakangnya sudah mulai hancur. Ini, jangan-jangan...
[[Levana Pet]: Monster Peringkat F]Sebutan umum untuk monster yang dibuat dengan mendekatkan tanah menjadi daging menggunakan sihir.Satu per satu lemah, tapi biasanya bertambah tanpa batas, jadi bisa jadi masalah besar.
...Ini, jangan-jangan, monster yang dibuat Aro pakai skill Earth Doll ya.
Ja, jangan banyak-banyak ya bikinnya. Aro mengangguk-angguk (kokukoku), memungut kelinci tanah itu dan mengelus kepalanya. Saat Aro menyentuhnya, kaki kelinci tanah yang rusak beregenerasi. Kalau sudah dibuat, harus dirawat baik-baik ya... sip.
"Laik... kah?" (Baik... kah?)
Aro mengalihkan pandangan dari kelinci tanah, menatap wajahku. Pasti mau bilang 'Apa baik-baik saja?'.
"Guoo."
Aku mengangguk (kokukoku). Aro tersenyum senang.
"Yuku, lah..." (Syukur, lah...)
Cadelnya juga pasti bakal sembuh kalau berevolusi. Sedikit lagi, sedikit lagi. Di tahap ini pun bentuknya sudah hampir manusia. Evolusi berikutnya, secara penampilan pasti tidak bisa dibedakan dengan manusia.
Bersama Aro, kami pindah ke kuil Dewa Naga. Di tengah jalan, aku melihat lagi sosok Raran, kurcaci hijau yang bersinar samar. Tiga ekor duduk berjejer di pohon jauh, mengawasi kami seperti sebelumnya.
...Rasanya nggak tenang, tolong berhenti dong. Kalau ada yang mau diomongin, bilang yang jelas.
'Rasanya gimana ya kalau dimakan.'
Sobatku menjilat sekitar mulutnya. Raran seolah merasakan sesuatu, berdiri di atas dahan, lalu melompat turun bertiga. Di tengah jatuh, sosok Raran menghilang (fuu) di udara. Sobatku, ngeri juga lu...