Bab 4: Pemukiman Lainnya - Bagian 2
Volume 5 - Chapter 5
February 6, 2026
4
Setelah itu, Sobatku yang ambruk di lantai diikat dengan tali besar melingkar-lingkar oleh Nagrom dan kawan-kawan. Sekarang dia jadi seperti ulat kantung. Sobatku memelototi Yarg dengan tatapan tidak terima.
"...Benar-benar tidak apa-apa begini?"
Yarg bergumam cemas.
"I, ini tali untuk mengikat Graphant. Tidak apa-apa... se, seharusnya. Walau Demi-human, dia cuma manusia sama seperti kita."
Nagrom berkata seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Sobatku mendengar ucapan Nagrom, lalu memberikan sedikit kekuatan pada lengannya. Terdengar suara tali berderit. 'Gampang nih', begitu pikiran Sobatku yang tersampaikan padaku. Ja, jangan diputus di sini sekarang ya.
"Tapi... padahal sudah minum racun Molz sebanyak itu, dia kelihatan masih sehat..."
"...Cuma ketahanan racunnya yang kuat. Sifat Demi-human itu lebih sudah ditebak daripada monster, begitu kata ayahku dulu."
Tatapan Sobatku sejak tadi terkunci pada Yarg. Karena ini sudut pandang Sobatku jadi aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku bisa dengan mudah membayangkan wajah Sobatku yang cemberut sedang memelototi Yarg.
Saat mata mereka bertemu, bola mata Yarg bergerak sedikit. Sepertinya dia sengaja menahan diri untuk tidak membuang muka. Pasti ada rasa bersalah.
"...Tuan Nagrom, jika kita jadikan demi-human ini sebagai tumbal, bukankah malah akan membuat Manticore marah? Kalau suasana hatinya memburuk, dia mungkin akan mengajukan permintaan aneh lagi."
"Selama tetap diikat tali, harusnya tidak masalah."
Seperti dugaanku, memang untuk tumbal Manticore. Mendengar soal 'permintaan' dan semacamnya, sepertinya Manticore itu meminta tumbal rutin sebagai ganti tidak menyerang manusia secara membabi buta.
Ngomong-ngomong, saat Manticore menduduki kuil Dewa Naga juga agak aneh. Anak yang ada di kuil itu memakai topeng. Waktu itu kupikir semua orang suku Lithoviar memakainya, tapi kalau diingat-ingat, yang pakai topeng cuma anak itu dan orang-orang yang membawakan persembahan untukku.
Meskipun diasumsikan bahwa yang berhubungan erat dengan Dewa Naga yang memakai topeng, tetap aneh kenapa anak-anak itu memakainya. Ini murni spekulasi, tapi jangan-jangan tumbal juga dipakaikan topeng? Wajah anak yang dibawa sebagai tumbal pasti bukan sesuatu yang ingin dilihat lama-lama oleh orang lain. Kalau di sini mereka menyerahkan tumbal untuk mencegah Manticore mengamuk, tidak aneh kalau di desa seberang juga melakukan hal yang sama.
Kalau begitu, apa Aro... juga tumbal? Pantas saja ibunya sangat terpukul. Kalau disuruh menyerahkan anak sendiri pada monster karena keputusan desa, siapa yang tidak gila.
Bagi Manticore, manusia mungkin makanan mewah di antara jenis makanan lainnya. Kalau dia makan sepuasnya, desa sekecil ini pasti sudah kosong sejak lama. Fakta bahwa dia hanya mengincar anak-anak yang jumlahnya sedikit juga menguatkan dugaan itu.
Tapi, itu berakhir hari ini. Begitu sampai di depan Manticore, aku akan melepas Art of Humanification dan langsung menggigitnya sampai mati.
"...Gaa."
Sobatku menggeram rendah sambil mengertakkan gigi. ...Aku mengerti perasaanmu, tapi tolong tahan sedikit.
Mendengar geraman Sobatku, Yarg seolah teringat sesuatu dan menekan tangan kanannya dengan tangan kiri pelan-pelan.
"Yarg, mau minta orang lain saja?"
"Ti, tidak, karena saya yang membawanya."
"Begitu ya. Kalau begitu, kuandalkan padamu. Hati-hati jangan sampai digigit lagi."
Tangan kanan Yarg dibalut perban tebal. ...Jari itu, pasti tidak bisa kembali. High Rest paling banter cuma bisa menghentikan pendarahan dan mempercepat penyembuhan alami.
Yarg pergi ke bagian dalam rumah sebentar, lalu kembali membawa karung goni seukuran manusia dan topeng bulat berbentuk hewan yang disambung dengan kain. Topeng itu, mau dipakaikan ke aku ya. Benar-benar tepat sasaran.
Saat Yarg hendak memakaikan topeng ke Sobatku, Sobatku sengaja membunyikan giginya dengan suara gatik-gatik. Gerakan Yarg terhenti sesaat, bahunya tersentak kaget. A, aku mengerti perasaanmu, tapi hentikanlah...
Setelah memakaikan topeng ke Sobatku, Yarg membaringkannya dan memasukkannya ke dalam karung. Tapi, yang bikin cemas di sini adalah waktu. Art of Humanification paling lama cuma tahan tiga puluh menit lagi. Kalau sampai saat itu belum sampai ke tempat Manticore, bisa gawat. Kalau waktunya mepet, aku harus memikirkan cara kabur.
Yarg memasukkan Sobatku ke karung, lalu memanggulnya dan mulai berjalan. Awalnya terdengar suara orang bicara dan langkah kaki orang lain. Tapi setelah sekitar sepuluh menit, suara selain langkah kaki Yarg hampir tidak terdengar lagi. Apa sudah sampai di tempat Manticore?
"Oi Tatalk, ini aku."
Yarg berhenti dan memanggil seseorang.
"Tuan Yarg, itu... siapa?"
Suara balasan terdengar. Meski sopan, suaranya berat, terasa lebih tua dari Yarg.
"Musafir. Demi-human yang kuat, hati-hati jangan sampai dia melepas talinya."
Akhirnya sampai juga. Tapi, aku harus menghadapi Manticore dengan MP kosong melompong. Asalkan bisa serangan dadakan, pertarungan fisik saja harusnya cukup sih...
"Anak-anak lain... para tumbal, apa mereka tidak melepas talinya?"
"Itu tali khusus anti-monster. Tuan Nagrom yang mengikatnya dengan kuat. Mereka yang sudah lemah itu tidak mungkin bisa melepasnya."
"...Benar juga."
Hm? Ada tumbal lain juga?
Saat aku berpikir begitu, karung diletakkan di tanah. Yarg dan Tatalk berdua mengeluarkan Sobatku dari karung.
"Minggir..."
Setelah keluar dari karung, Sobatku mengibaskan kepala, menjatuhkan topeng tumbal itu. Yarg melirik Sobatku tajam, tapi sepertinya tidak berniat memakaikannya lagi.
Nah, setelah keluar dari karung akhirnya aku bisa melihat sekitar. Di depan terbentang gunung batu. Dari celah-celah batu abu-abu itu, tumbuh pohon di sana-sini.
Sesuai dugaan, Tatalk terlihat lebih tua dari Yarg. Umurnya... susah ditebak, tapi mungkin sekitar tiga puluh lebih sedikit. Entah karena kurus kering atau memang wajahnya tua, kulitnya terlihat tidak sehat dan membuat orang ingin menaksir umurnya lebih tua.
Yarg dan Tatalk mendekati gunung batu, lalu berdua menggeser batu besar. Saat batu itu bergerak, terlihat lubang di bawahnya. Tatalk mengintip ke dalam lubang itu dengan hati-hati, lalu menggelengkan kepala dengan sedih.
"Tuan Nagrom bilang orang luar cocok karena kasih sayang pada tumbalnya tipis, tapi sepertinya kau tidak cocok jadi penjaga tumbal. Akan kusampaikan padanya."
Ditegur oleh Yarg, Tatalk menegakkan punggung dan menoleh padanya.
"Ti, tidak ada hal seperti itu. Serahkan pada saya."
Yarg menatap Tatalk dengan curiga, tapi segera mengalihkan pandangan dan kembali ke dekat Sobatku. Dia memegang pinggang Sobatku untuk membuatnya berdiri, lalu membawanya ke depan lubang.
"Wahai musafir. Kalau mau membenci, bencilah..."
"Puih."
Sobatku meludahi wajah Yarg dari jarak dekat, lalu melompat sendiri ke dalam lubang. Tingginya lebih dari tiga meter, tapi Sobatku mendarat dengan indah meski tangannya tidak bisa digunakan.
Tapi, Sobat... anu, aku nggak bilang itu nggak boleh sih...
"Hah, ada masalah?"
Tidak, tidak ada... Maaf, justru kau menahan diri dengan baik. Aku benar-benar berterima kasih. Maaf selalu memaksamu mengikuti cara pikirku.
Sobatku melihat sekeliling. Di dalamnya terbentang gua yang luas, dan langit-langitnya lebih tinggi dibanding di dekat pintu masuk. Tergantung lokasinya, ada yang tingginya hampir empat meter. Dikelilingi dinding batu di segala sisi, tapi di bagian atas banyak celah antar batu, cahaya masuk dari sana-sini sehingga tidak terlalu gelap.
...Di dalam gua, terlihat sepuluh anak perempuan yang dikurung. Umurnya mungkin sekitar enam sampai dua belas tahun. Dilihat dari penampilannya, tidak salah lagi mereka suku Lithoviar.
Di sekitar mereka, topeng-topeng yang tadi berserakan diletakkan begitu saja. Ada juga tiga anak yang masih setia memakai topengnya. Semuanya berwajah murung, berkumpul di atas alas kotor yang terhampar di sudut gua. Mereka pasti sadar akan kehadiran kami, tapi hampir tidak menunjukkan reaksi.
"...Oi. Apa ini?"
Sobatku bersuara. Setelah jeda sesaat, anak perempuan yang paling depan mengangkat wajah dan melihat ke arah kami.
"Kakak juga, dijadikan tumbal?"
"Dijadikan tumbal? Nggak lah, gue sendiri yang mau jadi."
"...Begitu ya?"
Sobatku berkata dengan nada ketus, lalu menggelengkan kepala kuat-kuat. Anak itu memiringkan kepala sedikit, tapi tidak bertanya lebih lanjut.
...Ini pola yang tidak terlalu bagus dari yang kubayangkan. Ini bukan tempat Manticore berada, tapi tempat mengurung tumbal sebelum diserahkan ke Manticore.
Waktu Art of Humanification juga sudah mau habis. Kalau cuma Sobatku sendiri, bisa saja lepas wujud manusia dan fokus isi MP, tapi ada orang lain begini jadi susah. Apa putusin tali terus kabur dulu?
...Tapi kalau begitu aku tidak tahu lokasi Manticore, dan kalau mau cari nanti pun, Miko desa ini mungkin bisa mendeteksi lagi. Lagipula, peluang serangan dadakan juga berkurang.
Tapi, tidak mungkin mereka bakal mengantar dalam waktu kurang dari dua puluh menit.
Sobatku melihat sekeliling gua. Anak-anak yang sepertinya dijadikan tumbal itu terbagi dua, ada yang menatap curiga, ada yang lemas tidak peduli. ...Bukannya tidak disambut, tapi mereka tidak dalam kondisi untuk menyambut.
"Uhuk, uhuk."
Saat aku bingung harus bagaimana, anak perempuan yang paling depan mulai batuk-batuk. Anak yang tadi bicara dengan Sobatku, yang terlihat agak dewasa. Anak-anak di sekitarnya menatap cemas, tapi tidak ada yang menyapanya. Mungkin mereka juga tidak punya tenaga untuk itu.
Setidaknya ada makanan di dalam gua. Daging kering dan sayuran layu dibungkus kain kotor, ditumpuk di bagian dalam gua. Terlihat lalat mengerubunginya.
Air cuma ada lima tong berjejer, tidak ada gayung atau gelas. Semuanya pasti minum pakai tangan. Kebersihannya sama sekali tidak terjaga. Untuk mandi pun, cuma bisa menyiramkan air ke badan pakai tangan. Tidak mungkin bisa dilakukan dengan mudah. Ditambah lagi hidup bersama di ruang sempit begini. Tidak aneh kalau ada penyakit aneh menyebar. Tidak bisakah dibuat lebih layak sedikit? Aku ingin panggil Ball Rabbit buat spam Clean sampai MP-nya habis.
Maaf, tapi aku tidak punya waktu untuk meratapi buruknya lingkungan di sini. Pikirkan cara kabur. Kalau lepas wujud manusia di sini, pasti bakal panik dan kedengaran sampai penjaga di luar. Kalau mau kabur tanpa terlihat, mending keluar secepatnya selagi masih ada MP.
"...Malam ini, biar aku saja yang pergi. Tubuhku rasanya sudah tidak kuat."
Saat aku sedang berpikir, terdengar suara, dan leher Sobatku bergerak. Itu anak perempuan yang tadi batuk. Dia bicara seolah menenangkan anak-anak di sekitarnya, lalu tersenyum pahit.
Dari cara bicaranya, berarti malam nanti satu orang bakal dibawa ke tempat Manticore ya. ...Malam, ya. MP-ku jelas tidak cukup.
Apa kabur dulu dari sini, cari Manticore, terus pakai Art of Humanification buat memancing kelengahan dan menyerang?
Tapi, aku cemas karena kurang informasi. Aku tidak bisa mendekat dengan pura-pura jadi tumbal, dan mungkin gagal memojokkan Manticore sampai dia kabur lagi. Aku tidak hafal daerah sini jadi pasti kalah langkah, dan terlalu banyak hal yang tidak kutahu tentang desa ini. Tapi setidaknya, aku bisa mengusir Manticore dari desa ini.
...Sobat, aku mau cari informasi sedikit sebelum pergi cari Manticore, gimana?
'Tanya apa?'
Yang penting sekarang... perkiraan lokasi Manticore dan hubungan desa ini dengan desa sebelah. Asal tahu itu, kita tidak bakal salah langkah. Ada hal lain yang bikin penasaran sih, tapi itu bisa dicari tahu pelan-pelan nanti. Bisa tanya Hibi juga.
'Oke, serahin ke gue.'
Jawabannya meyakinkan padahal tadi gelagapan pas lawan Yarg. Kalau susah, minimal lokasi Manticore aja ya?
'Ta, tadi cuma agak kaget doang kok!'
O, oke. Kalau begitu sih bagus.
Sobatku berdiri dengan tangkas walau tubuhnya terikat, lalu mendekati kumpulan anak-anak itu.
Setelah melihat anak-anak itu, dia kembali menatap anak yang paling depan tadi. Memang anak ini yang paling mungkin mau bicara. Kelihatan cerdas dan paling tua.
"Oi, tadi gue udah tanya, tempat apa ini. Kalian dikurung buat jadi makanan monster?"
Sobatku bicara dengan lancar tak terduga. Kau, ternyata bisa bicara biasa sama anak-anak ya...
Anak perempuan itu mengangkat wajahnya yang menunduk.
"Di, di sini, ini... uhuk! Uhuk!"
"Ah? Ini?"
"Uhuk! Uhuk! Sa, sakit... a, air... tolong ambilkan... air..."
Anak itu memegangi lehernya, mengulurkan tangan ke tong air. Anak lain berdiri sempoyongan, menyaup air dengan kedua tangan dan membawanya ke arahnya.
"Cih, bikin kaget aja. High Rest."
Saat Sobatku merapal mantra, cahaya menyelimuti anak itu.
"Uhuk... lho, kok nggak sakit lagi?"
Penyakitnya sendiri mungkin belum sembuh, tapi dengan pulihnya stamina, gejalanya jadi jauh lebih ringan. Anak-anak lain dengan panik mengelilinginya, menyentuh tubuhnya dengan heran (peta-peta). Mereka berkedip, lalu menatap Sobatku.
'Gini kan jadi lebih gampang ngomong.'
Sobatku mengirim pikiran dengan bangga.
...MP-nya jadi agak kritis nih. Yah, konsumsi MP High Rest dibanding Art of Humanification sih kecil banget, sekali pakai nggak masalah lah... tapi sisa MP-nya udah mepet banget.
"He, hebat." "Kakak penyihir putih ya?" "Bi, bisakah Kakak sembuhkan bengkak di mata anak ini juga!?"
Anak-anak mengerumuni Sobatku (wara-wara).
Lingkungan seburuk ini. Pijakan susah dilihat, banyak batu tajam. Kotor jadi luka gampang infeksi, tapi tidak bisa dicuci atau diobati. Sihir penyembuhan Sobatku pasti terlihat seperti penyelamatan.
...Tapi walau begitu, kalau menyembuhkan semua orang itu, MP-ku bisa habis. Mempertahankan wujud manusia selama ini saja sudah di ambang batas. Maaf buat anak-anak, tapi ini harus dito...
"Haa? Y, ya udah deh. Kalian, baris satu-satu."
Sobatku berkata begitu, lalu seorang anak perempuan menuntun anak lain berdiri di depan Sobatku. Anak yang dituntun itu memejamkan mata terus, langkahnya tidak stabil. Itu pasti anak yang matanya bengkak tadi.
S, Sobat, dengerin aku nggak!? Kau, jangan-jangan senang dipuji anak-anak ya, woy! Waktu! Waktunya gawat!
Kalau Art of Humanification lepas di dalam desa, entah apa yang bakal terjadi. Salah-salah gara-gara aku hubungan antar desa bisa makin parah...
"High Rest."
Saat Sobatku merapal, bengkak di mata anak itu mengempis. Bengkak lain dan luka garukan juga sembuh. Anak-anak di sekitarnya bersorak "Ooh". Anak itu perlahan menutupi matanya dengan tangan, lalu membukanya.
"He, hebat... mataku, aku bisa melihat. Padahal tadi dingin terus, sekarang badanku hangat..."
...Itu sih bagus, tapi anu, Sobat?
"Ayo, cepetan, yang berikutnya maju. Cuma sampe gue bosen lho ya?"
Anak-anak serentak menyerbu Sobatku. Sobatku menyembuhkan mereka satu per satu.
"Te, terima kasih Kak!"
"Segini doang mah kecil."
"Anu, anu, siapa nama Kakak!?"
"Gue nggak punya nama yang pantes disebut."
Dalam beberapa menit, terbentuklah harem Sobatku. Suasana suram di dalam gua sirna, berubah jadi ramai.
...Bagus sih, tapi jangan keasikan woy! Waktu! Waktunya gawat! Sok keren banget sih! Mukanya agak senyum kan tuh! Aku tahu lho!
'Tinggal kabur aja kan? Sekarang tanya-tanya juga masih sempet kok.'
...Aku mau keluar dari sini tanpa dilihat orang desa ini.
'Bisa diatur lah. Hancurin tutupnya, hajar penjaganya, lari kabur, beres kan? Gampang.'
D, dasar otak naga... Belum tentu nggak ada yang ngejar, kita juga nggak tahu medan. Kalau MP abis nanti sempoyongan, buat jaga-jaga kalau ada kejadian tak terduga juga...
'Dari sini tanya cepet terus kabur, nggak ada masalah kan? Udah dapet kepercayaan juga.'
...Mu, mungkin mending nyerah tanya-tanya terus kabur aja kali ya.
'Bentar doang kok, tenang aja.'
...Y, yah, kalau kondisinya begini mungkin tanya-tanya juga bakal lancar sih.
"A, anu, talinya aku lepasin ya!"
Seorang anak perempuan memutar ke belakang Sobatku dan memegang talinya. Mengikuti anak itu, yang lain juga mulai bergerak ke belakang Sobatku.
"...Ke, keras."
"Ini tali buat ngiket monster gede..." "Ja, jahat! Ini pasti jahat banget!"
"Gue bisa lepas sendiri, nggak perlu. Ttt... Hiyah!!"
Sobatku memutar tubuh, menggigit tali dengan gigi tajamnya. Menggerakkan lengan sekuat tenaga untuk melonggarkan simpul, lalu menggesek tali dengan kuku. Setelah tali cukup terkikis, dia merentangkan lengan ke kiri kanan dengan gagah. Tali putus dan jatuh ke tanah.
"Ternyata, badan ini tenaganya nggak seberapa ya."
Sambil menginjak sisa tali, dia membunyikan lehernya (koki-koki).
"...He, hebat."
"Padahal tali yang bisa bikin Graphant nggak gerak, Kakak ini, sebenarnya..."
Anak-anak perempuan itu ribut kegirangan (kyakkya waiwai). ...Entah kenapa kalau giliranmu selalu lancar ya. Aku tiap interaksi sama manusia selalu jadi runyam.
Yah, sama suku Lithoviar di sana sih rasanya lancar-lancar saja.
"I, itu doang nggak usah diributin napa. Berisik amat."
...Oi, suaramu agak seneng tuh.
"Daripada itu, gue mau tanya. Boleh?"
Saat Sobatku mulai bicara, anak-anak di sekitarnya mengangguk cepat (koku-koku). Semua memasang wajah serius, menatap mata Sobatku. Baru beberapa menit di sini sudah dipuja segininya.
"Di sini ada dua desa kan. Sana sama sini, apa hubungannya, kasih tau gue."
"...Desa kami, memisahkan diri dari desa sana dan membuat desa baru."
"Memisahkan diri?"
Sobatku bertanya balik, anak-anak itu mengangguk. Kali ini anak lain yang bicara.
"Awalnya... desa kami sudah lama memuja dewa naga berkepala dua. Katanya dia datang puluhan tahun sekali, tinggal beberapa tahun di sini... melindungi kami, dan mengurangi jumlah musuh alami."
Kupikir Dewa Naga menghilang ke mana, ternyata memang siklusnya pergi beberapa tahun sekali ya. Mengurangi jumlah Abyss terus pergi, nanti kalau Abyss banyak lagi dia balik.
...Bukannya Dewa, itu mah cuma pemburu Abyss doang. Yah, bagi manusia di sini itu pasti sangat berharga sih.
Tapi kalau begini, aku jadi makin bingung apa yang dipikirkan Dewa Naga. Kalau ada ya tinggal terus di sini aja napa. Kalau Dewa Naga balik lagi tiba-tiba, aku harus pasang muka gimana coba.
"Monster pemakan manusia, Manticore muncul... sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat kami mulai mengerti keadaan, dia sudah ada di desa."
Sepuluh tahun, selama itu monster itu ada di sana...
"Tiga tahun kemudian, Dewa Naga datang. Semua orang percaya ini akan menyelamatkan kami, tapi... Dewa Naga, kabur begitu melihat Manticore. Malah, lewat Miko Dewa Naga, dia mengusulkan untuk menyerahkan tumbal pada Manticore demi menekan korban... katanya."
...Waduh, lebih berat dari dugaanku. Dewa Naga, di saat genting malah nggak guna sama sekali.
"Guaa..."
Sobatku yang mendengar itu pun menggeram rendah dengan tidak senang. ...Woi, naganya keluar tuh.
"Saat itu, muncul kelompok yang tidak percaya pada Dewa Naga, mereka tidak bisa tinggal di desa sana lagi... jadi pindah sekeluarga ke sini."
"...Begitu ya."
Jadi begitu ceritanya. Pantas saja orang desa sana dingin banget sama orang sini, dan orang sini benci Dewa Naga. ...Tapi, kalau Manticore datang ke sini, akhirnya mereka terpaksa ngikutin usulan Dewa Naga yang mereka benci buat nyerahin tumbal ya.
"Katanya orang yang punya darah Miko Dewa Naga yang kental juga ditarik waktu itu, gara-gara itu hubungan makin buruk. Soalnya supaya kami bisa bertahan lawan monster, butuh orang yang punya kekuatan Miko..."
Kupikir di desa ini juga ada Miko, ternyata bukan memuja sesuatu ya. Cuma dihargai karena bisa mendeteksi monster. Karena bajunya sama aku jadi salah sangka.
Nah, tinggal lokasi Manticore... tapi sisa MP, ini beneran udah limit. Sobat, sampai sini dulu. Kita mundur sekarang.
...Apa mending prioritasin lokasi ya. Tapi, kalau ada salah paham soal ini bisa kejebak masalah pelik. Bisa memperjelas ini sih bagus... Terakhir, tanya arahnya aja terus buruan kabur.
'Oke.'
Sobatku mengirim pesan padaku, lalu melihat anak di depannya.
"Oi, Manticore ada di sebelah mana?"
"Eh? Eto... ini pintu masuknya, jadi di sana. Tapi, eto, di tengah jalan ada sungai dan gunung batu jadi agak rumit... eto, kalau digambar di tanah..."
"...Arahnya aja cukup."
Jalannya rumit ya... agak malesin sih... Ada Presence Sense jadi akhirnya bakal ketemu, tapi kalau kelamaan dan Manticore sadar duluan bisa gawat.
"Harusnya ada kuil yang dibuat ayah dan yang lain buat nyenengin Manticore, kalau lihat itu pasti tahu. Tapi, kenapa tanya gitu?"
...Sampai bikin begituan segala. Sobatku mengubah arah tubuh ke lubang masuk, memunggungi anak-anak itu.
"Oi, kalian. Sobat gue bakal ngelakuin hal gila buat beresin ini, jadi jangan sedih gitu napa. Gue pamit keluar dulu di sini."
Sobatku berkata begitu, lalu lari kencang.
"Ke, keluar?"
"Mu, mustahil! Lubangnya setinggi itu... lagipula tutup lubangnya, kalau digeser dari luar sih mungkin, tapi didorong dari bawah..."
"Kalaupun bisa keluar, ada penjaga... biarpun Kakak hebat, itu mustahil!"
Sobatku menendang dinding dan melompat, menendang batu yang menutup langit-langit. Tapi, batu itu cuma terangkat sedikit, tidak cukup untuk terbuka sepenuhnya, dan karena momentum tendangan itu Sobatku jatuh terhempas ke tanah.
"A, aduh! Sial, sssh."
Ke, kenapa!? Walau status setengah, harusnya cukup buat nendang batu segitu... Ja, jangan-jangan, karena kurang MP tubuh manusianya jadi lemah? Tuh kan, kelamaan sih.
"Kakak!" "Nggak apa-apa?" "Bertahanlah!"
Anak-anak berlarian panik.
Ha, harus pikirkan cara keluar. Dilihat dari gerakannya tadi, kemampuan fisiknya masih di atas manusia biasa.
B, benar! Di langit-langit banyak celah kan? Ada yang bisa diruntuhin buat keluar nggak?
'.......'
So, Sobat? Eto, Sobat?
Sobatku mengangkat lengan. Gemetaran (puru-puru).
'...Sori, limit nih.'
Uwoooooooon! Berarti, berarti nggak bisa dong!
'Mending dilepas aja kali ya... rasanya badan berat banget.'
Makanya kan kubilang mundur secepatnyaaaa! Yah, aku juga salah sih ngebolehin tadi! Gi, gimana nih! Gimana kalau begini!
TE, tenang. Buang rencana terbaik, pakai rencana cadangan. Dengar dari cerita tadi, asal aku hajar Manticore, kebencian desa ini ke Dewa Naga bakal berkurang.
...Kalau balik jadi naga, aku bakal hancurin langit-langit buat keluar sambil hati-hati biar nggak runtuh. Nggak enak sih, tapi dari situ aku bakal ancam paman penjaga buat nganterin ke tempat Manticore. Setelah agak dekat, aku pakai Art of Humanification buat bikin Manticore lengah. Pakai cara itu.
Tapi penjaga dan tentara desa ini pasti nggak bakal kooperatif, dan kalau ada kejadian tak terduga pasti nggak bisa diatasi. Menghabisi Manticore di sini adalah judi dengan peluang menang kecil. Bukan rencana bagus, tapi mau bagaimana lagi. Kali ini kalau bisa bikin Manticore mundur dari desa ini dan memperbaiki kesan Dewa Naga sedikit saja sudah bagus. ...Sobat, lepas ya.
'Sori...'
Ja, jangan minta maaf gitu lah. Aku juga ceroboh dan salah hitung di banyak tempat. Lagipula, belum tentu Manticore bakal lolos kok.
Sobatku memegangi kepala, berteriak pada anak-anak.
"Kalian, mundur!"
Kaget dengan teriakan itu, anak-anak mundur menjauh dari Sobatku.
Art of Humanification terlepas, tubuh mengembang seolah didorong dari dalam. Kulit mengeras, kepala satu lagi tumbuh dari bahu. Pandangan sempat terputus, aku membuka mata dalam kegelapan.
Di samping, terlihat kepala Sobatku. ...Sip, tumbuh dengan selamat.
"Kya, kyaaa!" "Tidak mungkin! Ka, kakak itu, Na, Naga..."
Anak-anak mulai ribut. ...Walau sudah tahu bakal begini, tapi perubahan drastis dari suasana damai tadi bikin perasaan nggak enak. Salah satu anak perempuan yang terpaku bengong, menyipitkan mata tajam, memungut batu yang terguling di kakinya.
"Ka, ka, kau, menipu kami ya!"
Batu yang dilempar mengenai pangkal kaki depanku. Tidak sakit. Kulit Ouroboros memantulkan batu itu dengan mudah.
'Oi.'
Pikiran dari Sobatku terlempar padaku.
'Jangan nunduk bengong gitu woy. Buruan keluar.'
...Sempat kupikir dia mau ngamuk. Sobatku kuat ya. Padahal tadi seneng banget, kupikir bakal sedih dikit.
'...Gue nggak selembek lu kali.'
Sebagian besar anak-anak bingung atau ketakutan melihat wujudku. Sisanya, seperti anak yang melempar batu tadi, menatapku dengan permusuhan.
...Wajar sih. Di desa ini orang dewasa di sekitar mereka pasti selalu mengeluh dendam pada Dewa Naga. Diusir dari tanah asal, harus hidup ketakutan pada Manticore, semua salah Dewa Naga. Padahal tadi memuja sekarang begini, kejam amat sih, tapi ya mau gimana lagi. Naga kan bagi manusia cuma monster gede.
"Pembohong! Pembohong!"
Anak tadi menangis terisak, mengayunkan lengan mau melempar lagi.
"Hentikan!"
Seorang anak perempuan berteriak. Anak yang paling tua, yang tadi mengajukan diri jadi tumbal berikutnya saat Sobatku pertama masuk. Tubuh anak yang dibentak itu tersentak (pikuri) dan kaku.
"Ta, tapi... tapi, Dewa Naga itu..."
"Kalian pikir siapa yang menyembuhkan kita? Siapa yang menyembuhkan tanganmu yang memegang batu itu?"
"...Tapi, tapi."
Meski membantah, dia menurunkan lengan lemas. Batu jatuh (karan) ke tanah. Anak perempuan yang memegang batu itu ambruk di tempat, menangis tersedu-sedu (wanwan).
I, ini, jangan-jangan, situasinya bisa dikendalikan?
5
...Beberapa saat kemudian, suasana gua menjadi tenang. Aku membatalkan niat keluar gua, memutuskan tetap di sini. Dengan kondisi sekarang, aku bisa memulihkan MP dengan baik di dalam gua.
Saat penjaga datang malam nanti, aku sudah bisa mengamankan MP yang cukup untuk Art of Humanification. Minta diantar sebagai tumbal lebih pasti, dan lebih mudah mencari celah Manticore.
Kali ini berhasil karena anak-anak, kalau lawan orang dewasa yang pikirannya sudah kaku pasti tidak bakal begini.
Suasana di dalam gua lebih buruk daripada saat Sobatku jadi manusia. Anak-anak menjaga jarak, mengawasi kami dengan waspada. Hanya anak tertua tadi yang duduk di posisi sedekat mungkin. Bukan berarti dia sama sekali tidak takut, tapi sepertinya dia merasa bertanggung jawab karena dia yang memulai.
MP pulih dengan lancar seiring istirahat. Dengan kecepatan ini, dalam beberapa jam akan pulih total. Harusnya keburu buat lawan Manticore.
"Dewa... Naga, anu, Anda, sebenarnya, untuk apa ada di gua ini? Padahal bisa kabur kapan saja... dan, sekarang pun..."
Anak tertua itu bertanya dengan takut-takut. ...Bisa saja aku pakai Art of Humanification lagi buat jelaskan, tapi sekarang aku mau memulihkan MP dengan benar. Apa tujuanku datang, nanti juga bakal tahu dari hasilnya. Kalau tiap ditanya pakai Art of Humanification, nanti pas penjaga datang malah nggak bisa pakai kan gawat.
Aku mengulurkan kaki depan, menancapkan kuku ke tanah.
Membayangkan sosok Manticore di benak. Eto... badannya kayak singa... mukanya, campuran manusia dan macan tutul... Sambil mengingat-ingat, aku menggambar Manticore dengan ujung kuku. Tapi garisnya jadi kaku (kaku-kaku), jadi gambar seperti anak kecil.
Ini, emang kaki depan bukan tangan sih, mau gimana lagi.
Anak perempuan itu juga sepertinya tidak tahu gambar apa itu, mengerutkan alis dan memiringkan kepala. Aku menambahkan ekor pada gambar, lalu menggambar jarum di ujung ekornya. Baru dia paham, bergumam "Manticore...?". Ekor itu memang khas ya. Aku mengangguk sambil hati-hati dengan langit-langit, lalu menancapkan kuku kaki depan ke bagian tubuh Manticore, mencungkil tanah.
Anak itu perlahan mengangkat wajah, menatap mataku.
"...Mau mengalahkan, Manticore?"
Nada bicaranya menyelidik. Setengah percaya setengah ragu.
"...Guo."
Saat aku mengangguk sambil menggeram, anak itu menelan ludah (gokuri) tanpa mengubah ekspresinya.
Anak ini juga walau membela, sepertinya belum sepenuhnya percaya. Hal yang sudah didoktrin lama tidak mudah diubah begitu saja. Dia sudah membuat suasana yang membolehkanku tetap di sini saja sudah patut disyukuri.
Dalam suasana canggung itu, waktu berlalu. Aku merangkak di tanah sebisa mungkin mengistirahatkan tubuh, fokus memulihkan mana.
Sobatku memejamkan mata pura-pura tidur, sambil mengintip reaksi anak-anak lain dengan mata menyipit. ...Walau sok tegar, pasti dia kepikiran juga ya. Omong-omong anak-anak lain, dari jauh menatap cemas ke arahku dan si anak tertua.
Akhirnya langit berwarna merah senja, cahaya merah masuk dari celah langit-langit. Mana sudah pulih total sejak tadi. Tinggal tunggu penjaga datang, lalu hajar Manticore itu habis-habisan. Kali ini tidak akan kubiarkan lolos.
Terdengar suara langkah kaki seseorang di sekitar atas gua. Akhirnya penjaga datang. Sebaiknya segera Art of Humanification. Sobat, tolong lagi ya.
"...Lebih cepat, dari biasanya."
Anak tertua bergumam pelan.
Gatsun, gatsun, terdengar suara memukul langit-langit gua dari atas. Kalau dilihat ke atas, sepertinya ada sesuatu yang diayunkan ke celah langit-langit gua.
A, apa, lagi ngapain tuh. Jangan-jangan ini bantuan datang? Tadi anak itu bilang lebih cepat dari biasanya, mungkin bukan penjaga.
Ngomong-ngomong, batu yang menutup lubang masuk digeser oleh Yarg dan Tatalk berdua. Artinya, ada seseorang sendirian yang mau menerobos masuk ke sini.
T, tidak, bagus sih, tapi jangan hari ini dong! Menerobos gua buat nyelametin cewek yang mau dijadiin tumbal itu bagus lho? Tapi, kenapa pas banget waktu aku ada di gua! Aku bakal beresin kok! Aku bakal kalahin Manticore kok!
Lagian penjaga ngapain aja! Itu gunanya penjaga kan! Apaan nih, ada yang narik benang di balik layar buat ganggu aku ya!?
Aku buru-buru menggunakan Art of Humanification. Panas menjalar di tubuh, tubuh mengecil. Saat mengarahkan kesadaran ke kepala, tanpa perlu didorong pun tenggelam alami ke dalam tubuh.
Pandangan menjadi gelap, lalu berbagi pandangan dengan Sobatku. Sip sip, Art of Humanification juga sudah bisa dikontrol. Segera kontrol tubuh hilang, dan aku tahu Sobatku yang menggerakkan.
Level Skill Normal Art of Humanification naik dari 7 menjadi 8.
Oh, naik naik. Hari ini dipakai terus sih.
Sobatku memegang kepala, menggelengkan leher mengecek tubuhnya. Dia memakai ulang baju yang makin compang-camping saat kembali jadi naga tadi dengan asal.
...Harusnya dilepas lebih hati-hati tadi. Yah, karena mendadak mau gimana lagi.
Bagian langit-langit yang dipukul tadi hancur, pecahan batu jatuh ke dalam gua. Retakan membesar, cahaya merah senja masuk ke dalam gua. Menyorot bagian tengah seperti lampu sorot.
"O, oi, dengarkan aku!"
Suara terdengar dari atas lubang. Yang menjulurkan kepala dari lubang adalah Tatalk si penjaga. Kau lagi!
Pantesan penjaga nggak kerja. Ngomong-ngomong Tatalk, katanya orang luar lah, sifatnya nggak cocok lah, sering dibilang gitu. Ternyata memang salah pilih orang ya...?
"Orang-orang penting desa termasuk yang berdarah Miko sekarang sedang rapat di bagian dalam desa! Kalaupun ada gerakan mencurigakan, mereka baru akan sadar nanti! Sekarang saatnya, keluarlah dari sini!"
Mendengar suara itu, gua langsung heboh.
"Ta, tapi..." "Lari, ke mana..."
Anak-anak mengeluarkan suara bingung.
"Pergilah ke desa faksi Dewa Naga! Aku, aku tadi dengar! Kalau Dewa Naga sudah kembali ke desa sana!"
Mendengar suara Tatalk, anak-anak serentak melihat ke arah Sobatku. T, tidak, aku ngerti perasaannya, tapi jangan gitu dong nanti dicurigai.
"Pasti, Dewa Naga mengusir Manticore! Makanya Manticore sengaja datang ke sini yang penduduknya sedikit! Kalau ke sana, kalian bakal selamat! Karena aku pernah di sana, aku tahu! Manticore pindah ke sini cuma itu alasannya!"
Orang luar itu, maksudnya begitu. Dia keluar dari desa faksi Dewa Naga dan datang ke sini.
"Kalau orang dewasa mungkin lain cerita, tapi dia tidak akan membiarkan anak-anak mati! Mungkin ada penolakan... tapi tolong, percayalah padaku!"
Awalnya, perpecahan desa disebabkan ketidakpercayaan pada kekuatan Dewa Naga. Seperti kata Tatalk, kembali ke desa asal yang dilindungi Dewa Naga mungkin jalan terbaik bagi orang desa sini untuk lari dari Manticore. ...Tentu saja, itu selama orang desa sana mengizinkan.
Mengingat ucapan Miko desa faksi Dewa Naga, permusuhan terhadap sini terasa cukup kuat. Makanya Tatalk bilang kalau orang dewasa mungkin lain cerita tapi anak-anak, begitu.
Mendengar suara Tatalk, anak-anak mulai ribut.
"Mengusir, Manticore?" "Manticore itu...?"
Sambil berkata begitu, mereka menatap Sobatku dengan kuat.
Mengingat Dewa Naga pernah menyerah melawan Manticore, mungkin Dewa Naga lebih lemah dari Manticore. Saat pertama ketemu Manticore langsung menyerangku, mungkin dia berniat memberi pelajaran pada Dewa Naga yang tidak tahu diri berkeliaran di dekat sarangnya.
Anak tertua juga menatap Sobatku dengan wajah kaget, tapi sepertinya tersadar dan menunduk melihat gambar Manticore yang kugambar tadi.
"Sekarang kuturunkan tali! Cepatlah naik sebisa mungkin!"
Sambil mendengar suara Tatalk, aku berpikir.
...Ini, beneran gimana nih. Kalau ikut kabur, jadi nggak ada gunanya aku sengaja ketangkep dan tetep di sini. Nggak tahu reaksi Manticore terhadap kaburnya tumbal, dan nggak tahu juga gimana desa bakal ngerespon. Salah-salah desa jadi kacau balau, Manticore sadar ada yang aneh terus kabur, semuanya jadi sia-sia.
"K, kalau kami kabur, terus mau bagaimana? Nanti, anak lain yang bakal dibawa lagi..."
Anak tertua mendongak menatap Tatalk. Terhadap pertanyaan itu, Tatalk menggeleng.
"Sudah, sudah, desa ini sudah tamat. Manticore meminta jumlah tumbal yang tidak masuk akal untuk ukuran desa ini. Dengan kecepatan ini, dalam dua tahun tidak akan ada anak perempuan lagi di desa ini."
"Ce, cerita itu, kami nggak pernah dikasih tahu!"
"Anak-anak, memang disuruh dirahasiakan. Tuan Nagrom, bahkan sudah menyusun rencana untuk memulai perang dengan desa faksi Dewa Naga untuk menculik anak-anak."
Paman itu, sampai mikir gitu! Walau nggak ada cara lain, itu keterlaluan.
"...Tapi, alasan Manticore pindah ke desa ini mungkin karena kembalinya Dewa Naga. Kalau di sana ada Dewa Naga, kita tidak mungkin bisa menyerang. Desa ini, sudah skakmat!"
"......"
Anak-anak terdiam. Jelas syok lah. Kalau begini terus, desa tempat mereka tumbuh bakal musnah.
Manticore sekarang cuma mengincar anak-anak, tapi setelah menghabiskan mangsa favoritnya, tidak tahu dia bakal berbuat apa. Entah musnah karena kehabisan anak, atau semua orang dimakan Manticore tanpa sisa. Yang manapun, suasananya sama sekali nggak enak.
"...Ta, Tuan Tatalk juga, mau pulang ke desa faksi Dewa Naga?"
Salah satu anak membuka mulut. Tatalk menggigit bibir dan diam beberapa detik, lalu akhirnya menggeleng.
"Aku baru saja, demi meninggalkan desa sana dan diterima di sini, membocorkan semua tentang posisi desa, kekuatan tempur, sampai kondisi ladang..."
Tatalk berkata dengan nada berat, menunduk.
"Dewa Naga, demi desa, bisa membuat keputusan kejam. Walau aku ke sana, pasti aku bakal dibakar hidup-hidup dengan napas naga sebagai peringatan."
...Dibakar hidup-hidup pakai napas naga, serem amat tuh dewa.
Saat berpikir begitu, anak-anak serentak menatap Sobatku. Wajah mau menangis, wajah ketakutan. Dari sana terlihat sedikit warna celaan dan kekecewaan.
Tu, tunggu dulu! Aku nggak bakal ngelakuin itu! Lagian, salah naga woy!
"Ga, gaa..."
Sobatku mundur selangkah dengan gentar. Woi, naganya keluar lagi tuh.
"Aku akan tetap di sini, dan mencoba mengajukan usulan perdamaian dengan desa faksi Dewa Naga pada Tuan Nagrom. Mungkin di rapat hari ini, hal itu sudah sedikit disinggung. Kalau ditambah para calon tumbal kabur serentak, pilihan Tuan Nagrom juga akan menyempit."
Perdamaian... ya. Kalau begitu sih paling bagus buatku, tapi permusuhannya kelihatan dalam banget, apa benar ada peluang menang.
"...Tentu saja, walau berhasil meyakinkan Tuan Nagrom, aku yang sengaja mempersempit pilihan pasti akan dibunuh. Lagipula kalau desa faksi Dewa Naga tidak menerima usulan perdamaian, mungkin bakal dibantai semua sih..."
Kalau gagal dihukum mati semua, ya nggak boleh dong! Lagian yang manapun si paman mati dong!
Anak-anak juga, padahal bantuan datang, wajahnya jadi serba salah. Mengorbankan diri demi memperpanjang umur kampung halaman, atau kabur dan memperpendek umur kampung halaman secara drastis.
Pilihan yang kejam. Ditambah lagi Tatalk yang mengajak kabur malah bilang injak aku dan selamatkan diri kalian, beneran nggak enak rasanya.
...Hm? Ti, tidak, ini, kalau dilihat dari sudut pandang lain, bukannya kesempatan?
Di desa faksi Dewa Naga, Dewa Naga bisa ikut campur dalam keputusan penting atau hukuman orang. Kalau tidak salah sistem tumbal itu usulan Dewa Naga, dan Tatalk juga bilang 'Sekarang pun Dewa Naga tidak akan memaafkan'.
Kalau itu benar, berarti punya hak suara yang cukup besar. Artinya dengan satu auman naga dariku, aku bisa memaksakan usulan perdamaian, bahkan bisa bikin semua orang bebas hukuman. Sekarang, aku mungkin bisa bikin Nagrom memutuskan berdamai dengan Manticore sebagai pemicunya.
...Cuma, risikonya tinggi. Kalau bergerak demi perdamaian, begitu Nagrom tidak memutuskan berdamai, jelas bakal jadi bencana. Paling buruk, Manticore lolos dan perang pecah.
Di sini, lebih baik jangan buru-buru. Kalau pilih jalan damai sekarang, satu kesalahan bisa bikin desa ini musnah. Selama aku jadi Dewa Naga, kesempatan pasti ada lagi. Bukan hal yang dilakukan saat nyawa jadi taruhan. Lagipula... rasanya ada yang kelewatan soal Dewa Naga. Mengganjal, atau terasa aneh...
"...Oi, Paman. Balik sana, tutup lubangnya dan jaga."
Sobatku memanggil Tatalk.
"Lho, lho, kenapa kamu, talinya..."
"Tumbal malam ini, gue yang maju. Lu pura-pura nggak ngapa-ngapain, balik ke pintu depan sana. Gue bakal hajar tuh monster."
Sobatku menunjuk dirinya sendiri dengan jempol, berkata dengan tegas. Terdengar suara menelan napas dari sekitar. Anak-anak yang dijadikan tumbal juga sepertinya paham untuk apa aku datang ke sini.
"Ti, tidak mungkin bisa... Kau bisa bilang begitu karena belum pernah lihat Manticore! Itu bukan monster yang bisa ditangani manusia! Sudah cepat, naiklah! Naiklah! Darah Miko itu punya insting yang luar biasa tajam! Kapan ketahuan, tidak ada yang tahu!"
Menanggapi panggilan Tatalk, tidak ada yang bergerak. Tatalk yang sendirian tidak paham situasi, melihat sekeliling gua dengan terburu-buru.
"Siapa saja... cepat... kalau tidak lari sekarang, selama masa tenggang mengambil hati Manticore, Tuan Nagrom akan memajukan persiapan perang! Tapi, selama ada Dewa Naga yang kejam itu, mustahil bisa menang. Cuma bakal nambah korban sia-sia. Karena itu, bukan cuma demi kalian, tapi juga demi desa..."
Anak tertua berdiri, melihat anak-anak lain. Anak-anak lain terlihat bingung, tapi akhirnya mengangguk kecil. Setelah memastikan satu per satu dengan mata, terakhir dia menatap Sobatku. Sobatku mendengus tawa dan mengangguk kecil.
"Kami, tidak akan lari! Kami akan tetap di sini!"
"Ke, kenapa... kalau begini, perang bakal..."
"Na... karena kami percaya pada orang ini! Karena itu, kami tetap di sini!"
Anak tertua berkata dengan tegas. Wajah Tatalk berubah, dia mundur dengan lemas.