Bab 4: Pemukiman Lainnya - Bagian 1
Volume 5 - Chapter 4
February 6, 2026
1

Aro terlihat agak kesulitan bergerak setelah berevolusi. Karena itu, aku memutuskan untuk menunda keberangkatan sebentar dan mengamati kondisinya. Sepertinya dia belum bisa menggerakkan tubuh tiruan yang terbuat dari daging tanah itu dengan baik. Setiap kali dia menekuk persendian, serbuk-serbuk seperti tanah berjatuhan (poro-poro).
Peringkat Aro saat ini adalah D. Ball Rabbit juga baru bisa kuevolusikan sampai Peringkat D. Mulai dari sini, menaikkan level akan menjadi jauh lebih sulit. Alasan aku bisa sampai sejauh ini sebagian besar karena adanya skill pengganda poin pengalaman dan karena aku menaikkan level mati-matian demi sebuah tujuan.
Meski begitu, dia berhasil berevolusi dari E ke D, dari tulang belulang menjadi wujud berdaging (mirip tanah) dalam sekali lompatan. God Voice juga mengatakan kalau Levana adalah undead yang memiliki kerinduan pada tubuh fisik. Menurutku, dia sudah masuk ke rute undead yang mendekati manusia. Yah, itu harapan pribadiku sih.
"A... a, o."
Saat aku sedang berpikir, terdengar suara serak. Aku menghentikan lamunanku dan menoleh ke arah sumber suara, yaitu Aro.
Aro tampaknya mulai terbiasa bergerak sambil membunyikan persendiannya. Dia sudah bisa berjalan tanpa terlihat terlalu aneh. Setelah memastikan Aro bisa bergerak dengan cukup baik, kami melanjutkan perjalanan.
Kami memutar jauh menghindari desa suku Lithoviar dan menuju ke arah Manticore melarikan diri. Miko Dewa Naga, Hibi, mengatakan sesuatu seperti 'kalau arah sana, tidak apa-apa'. Itu artinya, dia punya dugaan ke mana Manticore itu pergi.
Artinya, kemungkinan besar Manticore tidak banyak berbelok saat kabur, melainkan lari lurus ke depan. Jika kami terus berjalan ke arah dia melarikan diri, seharusnya kami bisa menemukan keberadaannya.
Aku berjalan sambil menyebarkan Presence Sense. Jejak kaki tidak terlihat karena tertutup rumput, dan goresan di pohon ada di mana-mana. Pada akhirnya, aku hanya bisa mengandalkan Presence Sense.
Hanya tahu arah kasar memang menyulitkan. Rasanya kalau begini terus, kami bisa kehilangan jejaknya... Aku sudah berjalan cukup lama, tapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan apa pun. Aku mencoba menempelkan hidung ke tanah dan mengendus-endus, tapi aku tidak bisa membedakan bau Manticore secara spesifik. Paling-paling cuma bau tanah dan serbuk sari.
Gara-gara terus berjalan di jalan yang asing, lama-kelamaan orientasi arahku jadi kacau.
...Hmm, pencarian Manticore ini sebenarnya lebih condong sebagai bonus dari menaikkan level Aro, sih. Kalau tidak ketemu ya sudah, apa sebaiknya pulang saja? Hibi juga sudah menjamin kalau soal Manticore tidak apa-apa.
Kalaupun kami berhasil menemukan Manticore, jujur saja aku juga tidak punya ide bagaimana cara menangkapnya. Kecepatan larinya tidak bisa diremehkan. Salah-salah, aku malah bisa membuat Manticore yang sudah mengungsi ke sisi ini kembali pindah ke dekat pemukiman manusia lagi.
Aku berhenti dan menoleh ke belakang. Terlihat sosok Aro yang berjalan tertatih-tatih mengikutiku. Aku mengintip ekspresi Aro sekilas.
Mungkin karena wajahnya terbuat dari daging tanah, ekspresinya hampir tidak berubah. Hanya saja, dia terlihat agak gelisah. Dia menoleh ke sana ke mari, melihat ke ujung jalan dengan tidak tenang.
Dari reaksinya terhadap nama orang tuanya, sepertinya Aro masih memiliki ingatan semasa hidup. Mungkinkah dia tahu sesuatu tentang daerah ini dari masa hidupnya?
Tapi, tempat ini cukup jauh dari desa suku Lithoviar. Ada banyak monster juga, jadi seharusnya ini bukan tempat yang bisa didatangi anak-anak suku Lithoviar dengan mudah.
Putar balik, atau kembali. Saat aku bimbang dan menatap ke depan, aku melihat tiga gumpalan tanah liat kecil duduk di dahan pohon. Itu adalah Raran, si Roh Pohon. Mereka benar-benar ada di mana-mana di hutan ini ya.
Salah satu dari tiga Raran itu bertatapan denganku. Lebih tepatnya, bertatapan dengan pola yang mirip mata itu... Raran itu lalu melakukan gerakan menggaruk kepala (pori-pori). Jelas sekali dia menyadari keberadaanku.
Dia berdiri, menaruh tangannya di dahan tempatnya duduk, lalu bergelantungan di sana. A, apa yang dia lakukan? Perilaku yang aneh, tapi dua lainnya tampaknya tidak peduli.
Setelah berayun ke depan dan belakang dua atau tiga kali seperti ayunan, dia melompat lurus ke bawah. Debu kecil mengepul. Setelah debu hilang, Raran yang sepertinya gagal mendarat itu perlahan bangkit. Dia lalu berjalan ke arah yang berlawanan denganku. Setelah melangkah sekitar tiga langkah, sosok Raran itu menghilang begitu saja (suuut). Saat aku menatap ke arah Raran itu pergi, dua ekor lainnya yang seharusnya ada di dahan juga sudah menghilang tanpa sadar.
Rasanya aku menangkap maksud 'Ikutlah'. Tidak, mungkin agak beda. Sikapnya yang terkesan cuek itu lebih terasa seperti, 'Kalau mau ikut, ikut saja'.
...Y, ya sudah, coba ikuti saja deh. Rasanya agak cemas karena seperti ada yang disembunyikan oleh suku Lithoviar. Aku ingin menghilangkan rasa tidak percaya ini.
Aku mengikuti jejak Raran, tapi setelah itu Raran tidak muncul lagi sama sekali. Saat aku berjalan sambil berpikir jangan-jangan mereka cuma kabur dariku, tiba-tiba suara langkah kaki Aro terhenti. Saat menoleh, Aro berdiri diam sambil melihat sekeliling. Gerakannya seperti sedang mewaspadai sesuatu.
Aku memusatkan kesadaran pada Presence Sense dan memperluas jangkauannya. Di tempat yang agak jauh, tertangkap hawa keberadaan manusia. Aku tidak tahu apakah itu musafir luar yang kebetulan lewat, atau suku Lithoviar.
Tapi, ini jauh dari desa, dan lagi pula arah ini adalah arah Manticore kabur. Aku tidak yakin orang desa itu sengaja pergi berburu sampai ke pedalaman sini. Kalau begitu, musafir?
Tapi, sendirian? Aku ingin melihat kondisinya sebentar, tapi aku tidak boleh membiarkan sosok Aro terlihat. Bagaimana ya... saat sedang berpikir, satu orang lagi tertangkap Presence Sense. Saat aku bingung, satu, lalu satu lagi bertambah. Akhirnya ada total lima orang yang tertangkap radar Presence Sense-ku. Satu, satu, dan tiga orang terpisah. Mereka berpencar mencari sesuatu? Tapi mereka ini, tidak ada keraguan dalam gerakannya, sepertinya hafal daerah sini. Sepertinya tidak salah lagi mereka suku Lithoviar...
Setelah kelompok bertiga itu berhenti bergerak, salah satu dari mereka berdiri di depan dan langsung menuju ke arahku. Gawat, pasti ketahuan. Mereka punya skill pendeteksi juga rupanya.
K, kabur? Tidak, tapi sebaiknya aku pastikan identitas mereka dulu, kan? Kalau mereka hafal daerah ini, kemungkinan besar mereka suku Lithoviar, dan kalau benar begitu, seharusnya mereka tidak akan langsung menyerang saat bertemu.
Aku ingin tanya ada perlu apa mereka sampai ke sini. Tentu saja, kalau begitu aku harus menyembunyikan Aro entah bagaimana caranya...
Aku meningkatkan fokus pada skill Presence Sense dan memahami pergerakan tiga grup itu (satu, satu, tiga orang) dengan detail. Awalnya sepertinya hanya satu grup yang menuju ke sini, tapi segera dua orang yang sendirian itu juga mengubah arah menuju ke sini. Dua orang yang terpisah itu, meski berada di tempat jauh, bertingkah seolah menyadari keberadaanku di saat yang bersamaan. Gerakan yang aneh. Kemungkinan besar mereka punya alat komunikasi.
Di Presence Sense, apa mungkin skill tipe Telepathy yang bisa dipakai jarak jauh? Tiba-tiba wajah Hibi, Miko Dewa Naga, terlintas di benakku. Kalau tidak salah Hibi juga menyampaikan posisi Abyss yang menghilang kepada para petarung, dan juga memanggilku lewat Telepathy. Apa mungkin ini Hibi?
Saat aku memiringkan kepala ke arah hawa keberadaan itu dan diam menunggu, Aro juga mulai gelisah sambil melihatku. Melihat reaksiku, dia mungkin tahu secara tidak langsung bahwa ada sesuatu yang mendekat. Tapi, apakah sekadar ada sesuatu yang mendekat bisa membuatnya sepanik ini?
Aro yang sekarang memang gawat kalau ketahuan orang, jadi wajar saja dia waspada pada manusia, tapi rasanya bukan cuma itu. Sepertinya Aro memang tahu tentang tempat ini. Sejak sampai di sekitar sini, rasanya dia terus mewaspadai sesuatu.
Hibi juga bilang kalau Manticore lari ke arah sini, biarkan saja. Sudah pasti ada sesuatu yang diketahui suku Lithoviar di sekitar sini.
Untuk sementara sembunyikan Aro dan lihat situasi dulu. Kalaupun ternyata lawan berniat memusuhi, aku tidak berniat kalah dari lima manusia. Cukup gertak sedikit lalu kabur.
Aku membuka mulut dan melihat Aro. Aro berhenti bergerak, memiringkan kepala karena tidak mengerti maksudku. Lalu sepertinya dia membaca maksudku 'Boleh aku sembunyikan Aro di mulut?', dan gerakannya terhenti. Aro berpikir sejenak, lalu mengangguk kecil.
...Meski tidak tampak di wajahnya, sepertinya dia agak keberatan. Maaf ya, Aro.
"Aaa! Aaa!"
Sobatku membuka mulut lebar-lebar, bersuara seolah bilang 'Di sini juga boleh lho'. Aku dengan cepat memasukkan Aro ke dalam mulutku untuk melindunginya. Sobatku bisa saja tidak sengaja menelan Aro bulat-bulat soalnya.
Aku merasakan daging tanah Aro hancur basah oleh air liur dan menempel di dalam mulutku. Bau seperti tanah humus (daun busuk) mengalir dari mulut ke hidungku. ...Memang benar-benar undead ya. Mungkin alasan Aro keberatan tadi adalah ini. Dia sendiri mungkin merasa minder.
Aku mengembalikan kesadaran ke Presence Sense. Orang-orang tadi sudah semakin dekat. Tiga kelompok itu mengepungku dari tiga arah, mungkin untuk menyamakan waktu, mereka berhenti sebentar lalu berlari serentak.
...Ini sih, kemungkinan besar tidak bersahabat. Pokoknya aku harus bertarung tanpa membuka mulut supaya Aro tidak terlihat. Yang kutakutkan adalah kemungkinan dia terdeteksi Presence Sense, tapi karena Aro adalah undead, hawa keberadaannya unik, jadi mungkin tidak akan dianggap manusia.
Terdengar suara angin berdesing syuut. Aku mengibaskan ekor, menepis anak panah yang terbang dari belakang, lalu melirik tajam ke belakang. Di ujung pandanganku, terlihat anak panah yang patah. Ujung panahnya dilumuri cairan hitam. Racun.
[[Racun Molz (Modifikasi): Nilai C+]]Racun milik Molz yang ditambahkan rebusan beberapa jenis tanaman beracun.Sering digunakan oleh suku yang tinggal di hutan untuk berburu.
...Suku yang tinggal di hutan, ya. Ini artinya...
Selagi aku berpikir, anak panah ditembakkan dari arah lain. Maaf saja, walau diolesi racun hebat sekalipun, barang setingkat ini tidak akan menembus kulitku. Gerakannya juga terlalu lambat. Aku membalikkan badan dan menepisnya jatuh.
"GAAAAAAAAAA!"
Sobatku mengeluarkan Roar. Bukan untuk menggertak atau memprovokasi, tapi murni karena kesal diserang tiba-tiba.
Dari depan, muncul dua pria setengah telanjang memegang tombak. Bahan pakaian dan coraknya terlihat sama dengan suku Lithoviar. Sambil mengacungkan tombak, mereka mendekatiku perlahan. Di mata mereka tersirat emosi kebencian.
Ke, kenapa mereka mengarahkan senjata padaku...
"Ke, kembali! Memastikan sosoknya adalah tujuan utama!"
Suara terdengar dari belakang kedua orang itu, aku menoleh ke sana. Ada seorang gadis memegang tongkat besar. Bukan Hibi, tapi dia mengenakan pakaian yang mirip dengan Miko Dewa Naga.
Mungkin wanita itu yang punya Presence Sense dan Telepathy jarak jauh. Lho? Kalau dia bisa Telepathy, kenapa barusan dia bersuara...
Wanita itu mengarahkan tongkatnya padaku. Detik berikutnya, cahaya yang sangat menyilaukan menyebar ke seluruh area.
"Guoo!" "Gaaaaa!"
Sial, sampai berdengung di kepala. Aku yang menatap lurus ke arah gadis itu terkena serangan buta telak.
Terdengar suara gon, gon, suara Sobatku membenturkan kepalanya ke tanah. Benar-benar teknik khusus pembunuh pemula, tapi kekuatannya lumayan dahsyat juga.
Mendapatkan Skill Resistensi Strong Light Resistance: Lv1.Level Skill Resistensi Confusion Resistance naik dari 1 menjadi 2.
...Dapat skill yang spesifik lagi. Kalau bisa sih aku tidak mau mengalaminya lagi.
Sambil menyipitkan mata, aku melihat sekeliling. Saat menggunakan Presence Sense, tampaknya kelima orang itu sudah kabur. Mengejar mereka sih mudah, tapi aku tidak berminat. Masalahnya adalah, kenapa suku Lithoviar yang memuja Dewa Naga tiba-tiba menyerangku saat bertemu di dekat sini?
Apa ada sesuatu yang tidak boleh kulihat? Tidak, kalau begitu tujuannya sepertinya hanya untuk memastikan penampilanku... hm? Apa itu berarti, mereka belum pernah melihatku?
Memang wajah-wajah tadi tidak ada dalam ingatanku. Dan saat kabur, mereka berlari ke arah yang berlawanan dengan desa suku Lithoviar.
Serangan terhadap Dewa Naga yang seharusnya menjadi objek pemujaan. Ucapan Hibi bahwa Manticore boleh pergi ke arah sana.
Ja, jangan-jangan pemukimannya terbagi dua? Ditambah lagi mereka saling melempar monster dan menembakkan panah beracun ke objek pemujaan lalu kabur, jelas-jelas mereka bermusuhan. Gi, gimana ini. Walau tidak tahu, aku malah menggiring monster ke pemukiman manusia. Pantas saja mereka memelototiku dengan marah.
2
Setelah mereka lari keluar jangkauan Presence Sense, aku menempelkan dagu ke tanah dan menjulurkan lidah. Aro merangkak keluar. Begitu jatuh dari lidah, dia berguling (goron) di atas tanah. Mungkin karena air liur, tubuh Aro meleleh di sana-sini. Sepertinya tubuh itu lemah terhadap air. Jujur saja, aku ingin cuci mulut...
"Guo."
Saat aku memanggilnya, Aro yang bangkit dengan sempoyongan menoleh padaku. Aku menatap tajam ke arah orang-orang tadi melarikan diri, lalu kembali menatap Aro.
Aku bermaksud menyampaikan, 'Aku akan pergi ke sana, selama itu Aro tolong bersembunyi'. Aro sepertinya mengerti maksudku, tapi dia menunduk dengan cemas.
Informasi tentang pemukiman suku Lithoviar yang satu lagi terlalu sedikit. Aku ingin menghindari tindakan gegabah, tapi meski tidak tahu, akulah yang menggiring Manticore ke sana.
Aku ingin bergerak lebih hati-hati, dan meninggalkan Aro di dekat pemukiman manusia juga bikin cemas. Tapi, kalau dibiarkan lebih lama lagi, korban Manticore akan bertambah.
Aku harus segera membereskan bajingan itu. Lagipula, salah satu tujuanku datang ke sini memang untuk memburu Manticore. Karena lokasinya sudah jelas, aku akan menyelesaikannya di sini.
Aku kembali melihat ke arah mereka pergi. Di ujung sana, harusnya ada pemukiman suku Lithoviar yang satu lagi dan si Manticore. Aku ingin masuk ke desa dan bertanya, tapi sepertinya di sini Dewa Naga adalah target serangan. Aku tidak bisa masuk dengan wujud naga sembarangan.
Kalau begitu cuma ada Art of Humanification. Dengan MP-ku sekarang, ditambah kekuatan skill Auto MP Recovery: Lv6, aku bisa mempertahankan Art of Humanification selama hampir satu jam. Cukup untuk sekadar bertanya.
Aku akan menyamar jadi musafir, bertanya informasi dengan Art of Humanification, lalu menuju ke tempat Manticore dengan wujud manusia. Pemukiman suku Lithoviar faksi Dewa Naga tertipu oleh Manticore yang menyamar jadi manusia dan membiarkannya dirawat di desa. Di pemukiman ini pun, mungkin mereka ramah terhadap manusia luar.
Ditambah lagi, wujud manusia seharusnya bisa memancing kelengahan Manticore. Kalau bertemu dalam wujud naga dia pasti langsung kabur, tapi kalau aku mendekat dalam wujud manusia, dia pasti senang mengira ada mangsa datang. Di celah itu, aku akan memberikan luka fatal di kakinya dan menghabisinya. Ini sudah ketiga kalinya. Kali ini pasti kubunuh.
Cuma, aku harus masuk desa telanjang bulat... yah mau bagaimana lagi. Anggap saja aku diserang monster saat sedang mandi, lalu kabur begitu saja.
Aro menatapku lekat-lekat, lalu dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah di mana pemukiman satunya berada. Dia kembali menatapku, dan mengangguk kecil (kokuri).
"...To, lo, ...ng, mohon..."
Aro menggerakkan mulutnya (paku paku). Sepertinya sulit baginya untuk bicara, setelah selesai bicara dia terbatuk-batuk (keho keho). Serbuk daging tanah beterbangan dari mulutnya. Mungkin tenggorokannya belum sempurna untuk bicara lancar. Kelihatannya menyakitkan.
Hampir tidak terdengar, tapi aku merasa dia berkata 'Tolong pemukiman itu'.
"Guo."
Aku bersuara satu kali, lalu menjauh dari Aro.
...Kupikir Aro berasal dari pemukiman faksi Dewa Naga dan bermusuhan dengan pemukiman ini... apa aku salah? Yah, tapi walau bermusuhan mereka masih kerabat. Bagi anak kecil, mungkin sulit untuk membedakannya.
Aku sesekali menoleh ke belakang karena cemas Aro ditemukan. Aro duduk di balik bayangan pohon, tapi saat menyadari aku melihatnya, dia berdiri dan mengangkat kedua tangan, melambai padaku.
Setelah itu aku mulai mencari pemukiman faksi anti-Dewa Naga sambil meningkatkan kewaspadaan sekitar dengan Presence Sense. Terdengar suara sungai zaaa, jadi aku memutuskan mendekat ke sana. Kemungkinan besar mereka hidup di dekat sumber air. Saat aku menyibak pepohonan dan mendekat, ada sungai yang cukup lebar sampai aku bisa berendam di dalamnya. Di seberang sungai, ada pakaian robek dan ember kayu yang dasarnya bolong terbuang. Tidak salah lagi, pasti ada pemukiman di dekat sini. Satu lagi dugaanku terbukti. Jarak yang bisa ditempuh untuk mencuci baju dengan santai berarti sudah sangat dekat. Aku harus waspada.
Nah, saat berpikir untuk menyeberangi sungai, aku sadar wajahku terpantul di permukaan air. Tiba-tiba muncul keraguan.
Tadi aku berencana memancing Manticore dengan berpura-pura jadi mangsa menggunakan Art of Humanification, tapi kalau dipikir-pikir lagi, rasanya Manticore cuma memakan perempuan, terutama anak-anak. Yang pertama kulihat dia tolong juga perempuan, Aro juga perempuan. Art of Humanification mengubahku jadi tubuh dewasa, dan parahnya lagi, laki-laki.
Mungkin bisa lebih memancing kelengahan daripada wujud naga... tapi tunggu dulu. Secara fisik mungkin tidak bisa, tapi jenis kelamin mungkin masih bisa diakali. Daripada laki-laki asing yang muncul tiba-tiba, wanita pasti lebih tidak dicurigai. Menghadapi orang desa juga mungkin lebih baik begini.
Aku memeriksa wajah Sobatku.
"Gaa?"
Sobatku memiringkan kepala dengan heran, membunyikan persendiannya. Penjelasan spesies Ouroboros kalau tidak salah begini:
[[Ouroboros: Peringkat A]]Naga yang mengetahui keabadian, bertentangan dengan hukum dunia ini. Tidak menjadi tua.Naga berkepala dua yang hermaprodit. Keberadaannya sendiri dianggap sebagai simbol keabadian dan tabu.Menguasai sihir yang menentang dewa dan menistakan kehidupan.Baik HP maupun MP tak terukur dalamnya. Ahli sihir penyembuhan.
Benar, naga berkepala dua yang 'Hermaprodit'. Kalau dipikir secara normal, artinya memiliki kemampuan reproduksi jantan dan betina sekaligus. Tapi, ini naga berkepala dua yang secara khusus punya sifat itu. Kalau dipikir begitu, muncul kemungkinan kalau Sobatku itu tipe betina.
Saat komunikasi lewat Telepathy, dia pakai kata ganti 'Ore' (Gue/Aku maskulin), tapi kalau itu cuma karena ketularan kebiasaan bicaraku, maka masuk akal. Selama ini tidak pernah butuh jadi tidak pernah terpikirkan, tapi layak dicoba.
Kalau ini berhasil, baik pemburuan Manticore maupun pengumpulan informasi di desa faksi anti-Dewa Naga, tingkat keberhasilannya akan melonjak drastis.
Aku menjelaskan rencana ke depan pada Sobatku.
"Guo, Guo."
Dengar, mulai sekarang aku akan membuatmu menggunakan wujud manusia. Lalu kalau kelihatannya lancar, kita langsung menuju pemukiman faksi anti-Dewa Naga untuk mengumpulkan informasi. Tapi, jangan lakukan hal yang tidak perlu, ya. Aku akan memberi instruksi sebisa mungkin, jadi tolong ikuti saja.
"Gaa!" 'SIAP! GUE, SERAHIN AJA! GUE, LAKUIN!'
Tumben semangat banget. Kok malah jadi cemas ya... apa mending aku saja yang pergi?
Tidak, tapi setidaknya mencoba eksperimen wujud manusia tidak ada buruknya. MP bakal terkuras banyak, tapi kalau segera dihentikan, berkat Skill Karakteristik Auto MP Recovery akan segera pulih.
Kalau begitu kita mulai, siap ya. Saat aku berkonsentrasi, Sobatku mengangguk cepat dua kali (kokukoku). Seolah bilang 'cepetan'. Punya rasa ingin tahu yang besar sih bagus, tapi ya...
Saat menggunakan Art of Humanification, rasa panas menjalar ke seluruh tubuh. Tubuh menyusut seolah dilelehkan oleh panas. Di sini. Aku menekan kepalaku sendiri sekuat tenaga.
"GUOOOOOOOOOOOOOO!!"
Rasa sakit yang luar biasa menjalar di kepalaku. Sakit, sakit banget! Ini, apa tidak apa-apa? Waktu itu Sobatku juga teriak-teriak sih. Kepalaku rasanya tenggelam ke bagian bahu, tapi bisa balik lagi nggak nih?
Di dalam pandangan yang agak menyempit, aku berusaha melihat wajah Sobatku. Wajahnya seperti kadal yang mirip manusia, atau Lizardman. Kalau efek Art of Humanification sudah mulai muncul di Sobatku, apakah begini saja cukup? Kemudian, seolah larut dalam panas, rasa di kepalaku menghilang.
Di tengah sensasi yang samar, pandangan mulai muncul boyat. Awalnya samar seperti memakai lensa mozaik, tapi lama-kelamaan menjadi jelas. Hanya saja, aku tidak bisa menggerakkan bola mata. Mata juga tidak bisa ditutup.
Lho, Art of Humanification jadi gimana? Aku ingin mencoba mengangkat tangan, tapi tubuh tidak bisa digerakkan sesuka hati. Malahan tangan bergerak sendiri, menekan mulut.
"Ngaaa!"
Menguap lebar dengan sisa-sisa kebiasaan naga. Suaranya sopran tinggi.
...Ah, ini sih diambil alih Sobatku. Untunglah panca indera masih berbagi.
Sesuai dugaanku, Sobatku ternyata betina. Atau lebih tepatnya, karena tubuhnya sama jadi secara teknis bukan betina murni? Tipe betina? Rumit.
"Aaa-, a, a, aaaa-! Ooh, suara, suaranya keluar! Terus lengan juga gerak! Gila, keren!"
Ternyata kau juga paham bahasa ya. Skill Karakteristik berbagi ya. Mungkin ada pengecualian, jadi tidak bisa dipastikan sih.
"Keren, keren! Tapi ini rasanya kayak bukan badan sendiri!"
Sobatku kegirangan (kyakkya) sambil menepuk-nepuk bahu dan pahanya sendiri (peta-peta). Bagiku sih, daripada itu tolong cek wajah di sungai.
"Gaa!"
Sobatku menjawab singkat, lalu mengintip ke sungai. Tingginya sepertinya lebih pendek daripada saat aku jadi manusia. Sekitar 160 cm lebih sedikit mungkin. Kulitnya pucat, dan sebagian ada sisik yang menonjol. Di kepalanya tumbuh dua tanduk kecil.

Hmm... tanduk dan sisik, ya... Suku Lithoviar bakal memaklumi segini nggak ya. Bisa lah ya, Manticore yang jadi manusia saja dibiarkan masuk dan diobati. Kalau gagal ya gagal, paling buruk tinggal lari dash. Art of Humanification membuat status jadi setengah, tapi kalau lawan manusia sih masih bisa diatasi.
Wajahnya rapi. Matanya besar, hidung dan bibirnya juga seimbang. Dibandingkan aku, tubuhnya jauh lebih ramping. Karena mata dan posturnya, dia terlihat muda, tapi levelnya sudah cukup untuk dibilang cantik.
...Kalau saja tidak ada tanduk dan sisik ini, pasti sempurna buat cari informasi. Tubuhnya juga berlekuk feminin, jadi agak risih kalau dilihat lama-lama. ...Pergi ke desa dengan wujud ini, kok jadi malu ya.
"Gaaa-! Gaa-! Gahaaa-!"
Sobatku mendekatkan wajah ke sungai, bermain-main dengan membuka mata lebar-lebar atau mencubit pipinya sendiri. Ngomong-ngomong Sobat, di sekitar situ ada baju robek kan? Setidaknya lebih baik daripada tidak ada, tolong dipakai.
"Nn..."
Sobatku memungut baju itu, mengibaskannya pelan untuk membuang air. Meski kesulitan, dia berhasil memakai baju robek suku Lithoviar itu. Tadi sempat terdengar suara brebet sobek, tapi aku tidak peduli lagi. Sobatku kembali mengintip permukaan sungai, memutar tubuh mengecek baju yang dipakainya.
Daripada itu, cepat pergi ke pemukiman faksi anti-Dewa Naga. Wujud manusia ini paling lama cuma tahan sejam. Harus pergi cepat pulang cepat. Karena ada ember, dari sini harusnya paling lama lima belas menit pemukimannya kelihatan. Kalau lari bisa lebih cepat lagi. Orang tidak akan menentukan tempat khusus buat cuci baju di sungai, jadi pasti pemukiman ada di jarak terdekat dari sini.
Jalan lima belas menit, tanya-tanya tiga puluh lima menit, sepuluh menit buat kabur sekuat tenaga. Paham kan, Sobat?
"Gaa?"
Koten, Sobatku memiringkan kepala.
...Ah, iya deh. Pokoknya buruan ke arah pemukiman. Mungkin ada jejak kaki atau bekas orang lewat, jadi tolong perluas pandangan.
Sobatku sepertinya belum terbiasa dengan kaki manusia, dia berlari sambil goyah ke kiri dan kanan (yota-yota).
...Ingin rasanya menyuruh lebih cepat, tapi dipaksa juga percuma.
Setelah maju beberapa menit, Presence Sense-ku menangkap tiga orang manusia. Mungkin sebagian dari grup yang kabur dariku tadi. Sobatku sepertinya tidak sadar, jadi kuberitahu arah dan jumlahnya.
Level Skill Karakteristik Mutual Understanding naik dari 2 menjadi 3.
Oh, naik ya. Sekarang pun tidak terasa repot, tapi kalau jadi lebih lancar ya lebih bagus.
Pokoknya, kali ini kita harus bisa dipungut ke pemukiman, atau kalau tidak bisa, setidaknya korek informasi. Kuandalkan kau, Sobat. Apa yang harus diomongkan nanti aku yang mikir, kau fokus berakting senatural mungkin.
"Gaa!"
Kalau ada masalah, jangan menyerang duluan ya. Sebisa mungkin kita kabur saja. Salah-salah bisa memperparah keretakan antara faksi Dewa Naga dan anti-Dewa Naga.
Saat mengejar ketiga orang itu, aku sadar ada banyak hawa keberadaan di depannya. Pemukimannya sudah dekat sekali. Sepertinya teori pemukiman faksi anti-Dewa Naga memang benar. Oke, dari sini saatnya berjuang.
Sobatku mengikuti instruksiku, menuju ke arah yang ditunjukkan Presence Sense. Sebentar lagi kontak. Kuandalkan kau, Sobat. Jangan sampai mencuri makanan di desa cuma gara-gara lapar ya. Nanti aku kasih makan sepuasnya kok.
"Iya, iya, tau."
Sobatku menjawab asal, lalu berjalan di hutan sambil bersenandung. Uuh... kok rasanya kurang tegang ya.
Bahasa kasarnya yang bertolak belakang dengan penampilan anggunnya ini apa tidak bisa diubah ya. Yah, karena dia bagian dari diriku mungkin mau bagaimana lagi.
Hawa keberadaan di sana tidak menunjukkan pergerakan khusus terhadap kami. Kupikir mereka orang-orang yang tadi, tapi kalau tidak ada reaksi merasakan kami, berarti Miko-nya tidak ada ya. Apa karena wujud manusia jadi dikira teman dan tidak bereaksi, atau karena dekat pemukiman jadi tidak terlalu waspada.
Dengar Sobat, walau mereka agresif, tolong bersikap merendah sebisa mungkin. Jangan sampai menggigit atau memukul. Salah atur kekuatan sedikit bisa jadi gunung mayat. Itu yang paling menakutkan. Kalau terpaksa banget dan tidak tahan, bilang padaku. Saat itu kita ganti haluan lari dash, atau paling buruk, harus siap melepaskan wujud manusia.
"Nggak usah secemas itu napa..."
Kita sama sekali nggak tahu kondisi dan jenis kelompok pemukiman di sana, jadi harus asumsikan yang terburuk.
"Bagi gue sih, justru elo yang aneh, udah takut gitu masih aja maksa mau ikut campur."
Sobatku berkata begitu tanpa maksud tersembunyi. Seolah bilang dia tidak paham, tapi sekarang sedang senang jadi ya sudahlah.
"Kan enak tuh, diem di sana, makan makanan yang dibawa manusia, terus kadang-kadang pergi berburu, sisanya miara laba-laba buat bunuh waktu."
...Itu juga kedengarannya enak sih, tapi aku tetap penasaran. Sobatku mungkin pola pikirnya lebih mirip naga daripada aku. Makan yang perlu dimakan, sisanya memuaskan rasa ingin tahu dan keluyuran, rasanya agak liar, atau lebih condong ke monster. ...Sekarang sih dia kooperatif jadi aman, tapi aku takut suatu saat pendapat kami bakal pecah.
"Cuma ngomong doang kok, nggak usah dipikirin dalem-dalem. Badannya kan punya elo."
Kalau dia mau menurut sampai batas tertentu aku juga bisa tenang. Tapi, rasanya jadi nggak enak juga. Sekarang Sobatku semangat banget, mungkin karena bisa menggerakkan tubuhnya sendiri dengan kehendaknya sendiri itu hal baru baginya. Sebisa mungkin aku akan buat kesempatan agar Sobatku bisa jadi wujud manusia.
Hawa keberadaan tiga orang itu sudah dekat sekali. Mungkin menyadari senandung atau langkah kaki Sobatku, ketiga orang itu berhenti bergerak. Berkat Sobatku yang memicingkan mata, terlihat tiga bayangan orang di kejauhan. Mereka sepertinya sedang mengamati kami. Bagus, kuandalkan kau. Kalau ada yang aneh segera mundur ya.
Mungkin karena takut suaranya terdengar, Sobatku mengangguk-angguk dalam diam (koku-koku). Setidaknya dia ada niat buat hati-hati ya.
Pertama, apa yang harus diucapkan Sobatku. Paling minimal, harus menyampaikan kalau dia adalah musafir. Untuk menyusup ke pemukiman, cara paling cepat dan alami adalah pura-pura terluka seperti Manticore untuk memancing simpati, tapi kalau Sobatku tidak terluka bakal langsung ketahuan. Lagipula luka kecil bakal sembuh sendiri pakai regenerasi otomatis.
Pakai alasan 'diserang monster saat mandi, barang-barang hilang, bersyukur kalau bisa minta makanan' saja kali ya. Wajahnya cantik dan badannya kurus, jadi tidak akan dicurigai. Jelas-jelas tidak bawa senjata.
Art of Humanification tahan sekitar lima puluh menit lagi. Kalau kelamaan harus cari celah buat kabur. Sobat, pokoknya mulai dengan menunjukkan tidak ada niat jahat dan bahwa kau adalah musafir.
"Gaa?"
Aku merasakan otot wajah menegang. Tarari, keringat mengalir di pipi.
...Perasaan ini, pola di mana dia tidak tahu harus ngomong apa secara spesifik ya. Apa mending aku yang ngomong? T, tolong, pokoknya bikin kesan tidak ada niat jahat. Dialognya nanti kusampaikan.
Kelompok bertiga itu mendekat sampai jarak wajah terlihat jelas. Semuanya setengah telanjang, pria-pria bertubuh kekar. Dua orang memegang busur, satu orang di depan memegang tombak. Pria bertombak itu melihat sosok Sobatku dan menurunkan senjatanya. Ekspresi tegang pria itu melunak, mungkin lega melihat sosok Sobatku.
"Perempuan. Tidak bersenjata, turunkan."
Diberitahu oleh pria bertombak, dua orang sisanya menurunkan busur.
"...Momen yang pas, ya."
"Ya."
Dua pria pemegang busur berbisik-bisik membicarakan sesuatu.
Momen yang pas? Ngomongin apa?
"Woi, diamlah. Aku yang bicara."
Pria bertombak memelototi keduanya. Keduanya tersentak kaget dan menutup mulut.
"Nona, ada perlu apa datang ke hutan ini?"
"Eto, lagi, jalan-jalan."
Mungkin karena gugup, bahasanya agak kaku. Dua orang di belakang menyipitkan mata, menatap curiga ke arah Sobatku. Kupikir gawat, tapi pria bertombak itu memelototi mereka lagi, membuat bahu mereka tersentak dan kembali tanpa ekspresi.
"Datang berapa orang? Di mana temanmu?"
Teman, ya. Ya iyalah. Mana mungkin datang sendirian ke tempat berbahaya begini. Kalau tidak salah, dulu yang datang ke tempat tinggalku dua orang. Tapi di sini seratus kali lebih berbahaya, jadi delapan orang kali ya. Ada Abyss berkeliaran soalnya. Kalau menyusup ke sini cuma berdua, seberapa kuat tuh orang.
"...Eto, a, a, sama Sobatku, datang berdua."
Gawat ni anak, panik dia. Dia setengah menangkap pikiranku, dan malah keceplosan ngomong begitu.
"Cuma berdua?"
Pria bertombak mengerutkan alis, lalu mengamati seluruh tubuh Sobatku dengan tatapan menyelidik. Gawat, pemimpinnya juga mulai curiga.
B, benar! Bilang kalau kau penyihir putih yang lumayan terkenal!
Kalau tidak salah, di Skill Gelar Milia ada penyihir putih. Mungkin itu artinya penyihir spesialis penyembuhan. Kalau begini, kalau disuruh membuktikan pun bisa langsung dipraktekkan pakai skill High Rest, malah kalau dipakai dengan baik bisa bikin mereka berhutang budi. Kalau bisa membuat mereka berpikir kemampuan tempurnya rendah, kewaspadaan mereka juga bisa ditekan.
"B, biarpun gini aku ini penyihir putih terkenal lho."
Ah, terus, bilang Sobatmu sudah mati. Kalau dikira berkeliaran di dekat sini nanti mereka waspada.
"Sobatku... eto, dimakan serangga gede, mati."
Yang keluar spontan Abyss ya. Ternyata trauma beneran.
"Abyss ya, begitu rupanya. Kasihan sekali. Kau pasti lelah, datanglah ke pemukiman kami."
Pria itu dengan mudah melepaskan kewaspadaannya, bahkan langsung mengundang ke pemukiman.
Eh? T, tidak, kami sih bersyukur, tapi. Kok lancar banget ya.
Inikah efek orang cantik. Orang ini, tampangnya super kaku tapi ternyata gampangan ya.
"Nona, ikutlah. Kalau tubuhmu sudah pulih, akan kami antar sampai ke tempat yang aman di hutan."
Pria bertombak membalikkan badan, mulai berjalan kembali ke arah pemukiman berada. Apaan sih si ganteng ini. Orang baik sih boleh saja, tapi gara-gara begitu makanya disusupi Manticore tahu...
Dua pria pemegang busur berdiri kaku. Tapi saat pria bertombak lewat, mereka melirik Sobatku sebentar sambil menutup mulut dengan tangan, lalu memanggilnya.
"Ya, Yarg. Hei..."
"Nanti saja. Sudah kubilang aku yang bicara. Kalian, jangan buka mulut sampai kembali ke pemukiman."
Yarg, rupanya itu nama pria bertombak itu. Pria yang memanggilnya tampak tidak terima, mengerutkan alis. Tapi karena Yarg terus berjalan tanpa kata, dia segera menyusulnya.
"Nona, cepatlah. Kalau bengong saja, kau bakal dimakan Abyss."
Ternyata di pemukiman ini pun Abyss adalah musuh alami. Apa mereka ada di seluruh hutan? Aku tidak mau ketemu lagi, tapi sepertinya tidak mungkin ya...
"O, oke."
Sobatku mengangguk kaku, mulai berjalan mengikuti Yarg.
...Agak mencurigakan sih, tapi tidak ada alasan buat nggak ikut. Lagipula, memang itu niat awal kita pakai cara ini.
3
Mulai berjalan mengikuti Yarg, hanya dalam beberapa menit kami sampai di pintu masuk pemukiman. Setelah sampai di pemukiman, Yarg memberi isyarat tangan, dan dua pemegang busur itu lari entah ke mana seolah melarikan diri. Mungkin pergi melapor ke Miko atau siapa soal aku.
Dibandingkan faksi Dewa Naga, pemukiman ini ukurannya lebih kecil satu putaran. Jumlah rumah sangat jarang, dan meski berjalan, tidak banyak orang terlihat. Selain itu, rumah yang tersisa pun banyak yang di depannya ditumbuhi rumput panjang, atau dindingnya rusak dibiarkan begitu saja, sekali lihat langsung tahu kalau itu rumah kosong.
Entah karena kurang tenaga kerja, ada ladang yang dibiarkan ditumbuhi rumput liar. Di ladang ada tongkat kayu yang ditancapkan sebagai penanda, tapi tongkat itu pun sudah lapuk, bisa ditebak kalau terakhir kali dirawat mungkin beberapa tahun yang lalu.
Sesekali ada yang melihat ke arah sini dan berbisik-bisik, tapi tidak ada yang mencoba ikut campur. Ada yang berwajah susah, ada juga yang terlihat senang. Aku sulit menangkap bagaimana perlakuan terhadapku di pemukiman ini.
Tapi, dari tadi laki-laki semua. Apa ada kebiasaan perempuan tidak keluar rumah? Tidak, tadi aku lihat Miko sih...
Setelah sampai di pemukiman ini, ada satu hal yang di luar dugaan.
"Tidak ada luka ya. Kau mengobatinya dengan sihir andalanmu itu ya."
"Ga, ga..."
Dilarang bilang 'Gaa' lho, Sobat.
"..."
W, woi, ngomong sesuatu kek. Selain 'Gaa' aku nggak ngelarang kok.
"Sepertinya masih bingung. Istirahatlah dengan tenang, tenangkan dirimu."
Dibilang begitu oleh Yarg, dia mengangguk dalam diam.
Sejak masuk pemukiman, Sobatku jadi pendiam seperti kucing pinjaman. Kalau begini sepertinya tidak ada kesempatan buat bikin masalah. Sepertinya kebingungan berada di desa manusia yang tidak biasa baginya cukup besar.
Maaf, tapi aku jadi sedikit lega. Tapi, tetap waspada ya, Sobat. Kalau ini benar pemukiman faksi anti-Dewa Naga, begitu identitas asli ketahuan bakal heboh besar, dan pemukiman ini sendiri agak, tidak, sangat mencurigakan. Lebih baik segera kabur sebelum berkembang jadi masalah pelik.
Akhirnya kami sampai di depan rumah besar di ujung pemukiman, yang lebih besar dibanding yang lain.
"Pertama, harus menghadap Kepala Desa. Mengerti?"
Sobatku mengangguk tanpa kata.
Kepala desa itu ada di ruangan bagian dalam. Duduk di atas alas, diapit oleh wanita muda suku Lithoviar di kiri dan kanan. Karena wajahnya penuh kerutan dalam, mungkin umurnya sekitar lima puluh tahun. Tapi, tubuhnya kekar. Pria yang menyeramkan dengan bola mata yang bergerak liar (gyoro-gyoro).
"Tuan Nagrom, ada tamu."
Nagrom, sepertinya itu nama Kepala Desa.
"Oho, oho! Begitukah! Itu bagus! Bagus sekali!"
Nagrom menepis wanita-wanita itu dengan gerakan ringan yang tidak sesuai umurnya, lalu berdiri dan mendekat. Saat dia menyeringai (nika), arah kerutan di seluruh wajahnya berubah, menyeramkan. Lagian, napas kakek ini bau. Wajah Sobatku juga terlihat mau menangis.
I, inikah pemimpin pemukiman...? Tidak, jangan menilai orang dari penampilannya kata orang bijak, tapi...
Mengingat batas waktu, aku ingin segera mulai mengumpulkan informasi di sini. Soal Manticore, soal pemukiman ini, dan soal pemukiman satunya dilihat dari sisi pemukiman ini. Minimal hal-hal ini ingin kupastikan.
Supaya bisa pulang dengan tenang, sebisa mungkin aku ingin mengorek informasi dari kakek ini. Bisa saja ada kejadian tak terduga yang bikin membuang waktu.
Ujung alis Sobatku turun. Kelihatan jelas dia meringis. Woi, aku paham perasaanmu, tapi kelihatan di muka tuh. Samarkan dikit napa.
Setelah Nagrom mundur dan duduk kembali, Yarg membuka mulut.
"Dia mencoba melewati hutan ini dalam perjalanannya, temannya dibunuh oleh Abyss, dan saat sedang kebingungan..."
"Oho, oho! Itu pasti berat sekali!"
Memotong penjelasan Yarg, Nagrom mengangguk antusias. Woi, kakek ini, nggak ada niat dengerin orang ngomong. Dia terang-terangan menimpa ucapan Yarg.
Yarg yang dipotong ucapannya tidak mengerutkan alis sedikit pun. Sudah terlatih dengan baik rupanya.
...Menggali informasi dari orang ini sepertinya bakal susah. Lebih cepat kalau tanya Yarg setelah keluar dari sini. Lagipula aku tidak butuh informasi rahasia yang cuma diketahui kepala desa.
"E, eto, a..."
Sobatku mencoba bicara, tapi tersendat dan menutup mulutnya lagi. Kau ini... tunjukkan sedikit saja sifat aslimu dong, oi.
"Tenggorokannya sepertinya kurang baik. Ah, kau haus ya! Maaf aku kurang peka. Coren, bawakan air untuknya!"
Wanita yang dipeluk di lengan kanan Nagrom melepaskan diri dengan mulus dan berdiri. Orang ini juga hebat. Diteriaki tepat di telinga begitu tapi tetap tanpa ekspresi.
'...Hei, udah, nggak kuat.'
Pikiran dari Sobatku terkirim. Lemah banget mentalnya...
Nggak apa-apa! Habis minum air, ayo segera keluar dari rumah ini! Terus tanya Yarg dan selesai! Dari situ boleh kabur!
'...Oke.'
Setelah itu, Yarg menjawab pertanyaan Nagrom, Sobatku diam saja dan makin menyusut di sampingnya... eh, apa gunanya ada Sobatku di sini? Sandiwara macam itu terus berlanjut.
Nagrom menatap lekat-lekat, tanpa sungkan menjilati celah baju compang-camping yang dipakai Sobatku dengan matanya. K, kakek ini...
"Tuan Nagrom, anu..."
"Umu, umu! Tidak, apa, aku cuma penasaran kenapa bajunya begitu. Itu baju bekas suku Lithoviar kita, kan."
Yarg mencoba menegur, tapi Nagrom menangkisnya dengan cepat. Kakek ini kuat.
"..."
"Karena di dekat sungai. Mungkin, dia diserang Abyss saat sedang mandi, lalu lari meninggalkan barang-barangnya. Karena terpisah dari temannya, dia tidak bisa menghadapi Abyss."
Saat Yarg menambahkan, Sobatku mengangguk kaku. Menyampaikan hipotesis di depan orangnya langsung itu gimana ya. Tidak, mungkin hasilnya beruntung karena jadi tidak gampang ketahuan bohongnya. Paling buruk kalau ceritanya nggak nyambung, bisa dialihkan kalau itu cuma omongan sepihak Yarg.
"Umu, umu! Kalau Coren kembali, suruh dia bawakan baju lain!"
Nagrom berkata begitu, lalu tertawa terbahak-bahak (kakaka).
Itu sih jujur aku bersyukur. Sebelum melepas Art of Humanification, aku mau ambil bajunya buat dipakai lagi nanti. Art of Humanification kelemahannya selalu telanjang bulat tiap kali dipakai. Sobat, ucapkan terima kasih di sini.
"...A, a."
"Ooh Coren, sudah kembali! Tapi lambat sekali, dia sudah lelah menunggu, kan?"
Tekad Sobatku dipotong dengan mudah dan hancur. ...Kakek ini, nggak bisa diapa-apain dikit apa. Seseorang hentikan kebiasaan buruknya itu dong.
"Gaa..."
Sobatku mengeluarkan suara seolah sudah lelah sekali. Woi, 'Gaa' dilarang.
Sobatku menerima gelas keramik yang diserahkan Coren, melihat sekeliling dengan bingung. Lalu dia mengintip ke dalam gelas, menatap wajahnya sendiri yang terpantul.
Ti, tidak, minum saja sudah. Jangan bilang kau nggak tahu cara minumnya. Cukup bawa ke mulut terus miringkan, cuma gitu aja kok. Nggak ada yang sesulit itu sampai perlu bingung.
"...Tidak diminum?"
Ditanya begitu oleh Yarg yang tidak tahan melihatnya, wajah Sobatku yang terpantul di permukaan air menegang seolah membulatkan tekad. Nggak perlu sampai segitunya juga kali...
Dia mengangkat gelas sampai dekat di atas kepala, lalu menuangkan air di dalamnya sekaligus ke dalam mulut. Meski air yang tidak tertampung sedikit tumpah ke pipi dan badannya, itu adalah aksi minum one-shot yang luar biasa dan tidak sesuai dengan penampilannya. Sayang sekali, itu agak beda dengan yang kubayangkan. Boleh minum lebih pelan lho.
Yarg yang mempertahankan wajah tanpa ekspresi pun, kali ini membelalakkan matanya. Woi Sobat, jangan bikin kesalahan di tempat aneh begini dong... tsu! A, ada apa!?
Tiba-tiba, rasa sakit seperti terbakar menjalar di tenggorokan. Kesadaran berkedip-kedip.
"Ga, gaa!"
Sobatku berlutut di tempat dengan menderita.
Level Skill Resistensi Poison Resistance naik dari 5 menjadi 6.Level Skill Resistensi Paralysis Resistance naik dari 4 menjadi 5.
Sekarang bukan waktunya peduli itu woy! S, sial! Mereka meracuni kita! Aku bermaksud waspada, tapi melihat tingkah Nagrom aku jadi lengah.
"Cih! Muntahkan! Oi, bawa air yang asli ke sini!"
Seketika senyum Nagrom yang tak bisa ditebak itu runtuh, urat nadi menonjol di pelipisnya. ...Begitu ya, ini sifat aslinya.
"T, tidak mungkin, diminum semua."
Yarg berkata dengan bingung.
"Coren, berapa banyak racun Molz yang kau masukkan!?"
"De, delapan Delk kira-kira..."
Coren menjawab dengan ragu-ragu. Mendengar itu, wajah Nagrom memerah padam.
"Kau mau berburu Abyss hah!? Itu tumbal berharga untuk meredakan amarah Manticore! Kalau mati bagaimana!"
"Ta, tapi, tapi, biasanya dijilat sedikit saja langsung dimuntahkan..."
...Benar kan, ada hubungannya dengan Manticore. Nagrom dengan wajah merah padam mengalihkan pandangan dari Coren ke wanita satu lagi.
"Tana, buat penawar racun yang pekat! Jangan pedulikan efek samping! Mau jadi gila pun tak masalah! Pokoknya jangan sampai mati!"
"Ba, baik!"
Wanita bernama Tana menerima perintah Nagrom dan berlari ke ruangan lain. Yarg mencengkeram bahu Sobatku, memasukkan jari ke dalam mulutnya.
"Sial! Pokoknya harus dimuntahkan..."
"GAAAAAAAAAA!"
Sobatku, tiba-tiba, menggigit hancur benda asing yang dimasukkan ke mulutnya tanpa ampun.
"GYAAAAAAAA! JARIKU, JARIKUUU!"
Yarg berguling-guling di lantai, memegangi tangan kanannya dan berteriak.
"Jangan main-main! Cepat muntahkan!"
"Nggak bisa, jari, jariku putus!"
Yarg menelungkup sambil menatap tangan kanannya. Dua jari menggelinding di lantai. Wajahnya seperti mau menangis.
"Mu, mustahil! Kalau manusia menelan jumlah segitu, harusnya alis pun tak bisa digerakkan..."
Sobatku bangkit berdiri, memelototi Nagrom. Mata Nagrom berubah jadi titik.
"I, i, ini! Sialan! Dasar Demi-human!"
Nagrom mengambil tombak yang dipajang di dinding dan berdiri, mengarahkan ujungnya ke Sobatku.
"Beraninya main-main! Kubunuh kalian semua!"
Sobatku melentingkan tubuhnya dan mengayunkan lengan dengan kuat. Di lantai dekat kakinya, tertinggal dua bekas cakar besar. Nagrom tersentak melihat itu, tapi segera mengencangkan wajah dan merendahkan kuda-kuda.
Yarg sepertinya sudah agak mendapatkan kembali ketenangannya, dia memegang tombak hanya dengan tangan kiri dan memutar ke belakang Sobatku.
"Yarg, jangan bergerak sembarangan! Orang ini lumayan jago!"
Nagrom berteriak. Yarg sepertinya baru saja mau bergerak, dia sedikit condong ke depan dan keseimbangannya goyah. Sobatku tidak melewatkan celah itu, menendang lantai dan melompat ke udara.
Sambil tetap di udara dia mengayunkan kaki dengan kuat untuk menggertak Nagrom, lalu memutar badan dan melepaskan tendangan ke arah Yarg. Yarg mencoba menangkis dengan tombak satu tangannya, tapi tentu saja tidak bisa menahan kekuatan itu, dan dengan mudah kalah tenaga hingga tombaknya terlepas. Dia menerima tendangan itu dengan bahu kanan untuk melindungi tubuhnya, lalu terpental dan menghantam dinding.
"Op, ternyata cuma segini ya. Masih belum biasa nih, pakai badan ini."
Sobatku mendarat, lalu menekuk-nekuk lengan (koki-koki) untuk memastikan gerakannya. Lalu dia membidik Yarg yang bersandar di dinding dengan tatapan kosong, dan menarik lengannya.
Ke, kenapa jadi begini. Tu, tunggu bentar stop! Sobat stop! Maaf tapi berhenti dulu!
'Haah!? Sobat, lu terlalu lembek tahu!'
Bukan, kalau ngamuk terus di sini beneran bisa jadi perang antar desa tahu!
'Udah nggak bisa diberesin lagi kali yang kayak gini!'
Kalau kabur sekarang masih bisa diatur kok!
Lalu kita kumpulkan informasi ulang di desa faksi Dewa Naga, terus ke sini lagi... tidak, kalau begitu selama waktu itu, desa ini bakal hidup dalam ketakutan pada Manticore. Entah berapa orang yang bakal mati sampai persiapan selesai.
...Tadi Nagrom bilang, tumbal Manticore. Kalau begitu, kalau sengaja tertangkap, kemungkinan besar bakal dibawa langsung ke tempat Manticore.
Sobat... anu, susah mintanya sih, tapi bisa nggak pura-pura pingsan? Akting kalau racunnya baru berefek sekarang gitu.
'...Lu serius ngomong gitu?'
Walau tidak tahu soal desa ini, yang bawa Manticore ke sini kan aku... Kalau waktu itu aku berhasil membunuhnya, desa ini tidak akan sampai sejauh ini mengumpulkan tumbal. Tolonglah, aku pasti balas budi kok.
"...Cih."
Sobatku berdecak lidah, lalu berjongkok meringkuk di tempat.
"A, akhirnya racunnya bekerja..."
Nagrom berkata dengan sangat lega, menurunkan senjatanya.
"Hasilnya sih bagus, meracuninya adalah keputusan tepat. Kalau mencoba menekan dengan kekuatan saja, mungkin kita semua sudah dibunuh."
...Tidak, racunnya nggak terlalu ngefek sih sebenarnya.
Yarg sepertinya sudah siap mati, matanya terbelalak dan napasnya kasar. Tapi melihat Sobatku tidak bisa bergerak, dia ambruk lemas di tempat, menekan jari kanannya yang meneteskan darah dengan tangan kiri.
