Bab 3: Leveling Gadis Tengkorak
Volume 5 - Chapter 3
February 6, 2026
1

Aku berlari menelusuri jalan yang tadi kulewati. Begitu mendekati tempat aku berpisah dengan Wight, aku menggunakan Presence Sense. Dari kejauhan, aku merasakan hawa membunuh yang kuat dan keberadaan tiga monster. Kemungkinan besar, dua di antaranya adalah Wight dan Treant. Satu lagi sepertinya monster liar. Sedang bertarung, kah? Sial, gawat. Tidak, justru harusnya aku bersyukur karena masih sempat. Dilihat dari hawa keberadaannya, kedua belah pihak tidak banyak bergerak. Terasa seperti sedang saling mengawasi sambil bergerak perlahan. Artinya lawannya punya kekuatan yang hampir setara.
"Guuoo!"
Sambil mengaum, aku melompat ke area di mana ketiga monster itu berada, mendarat sambil menumbangkan pohon-pohon. Tanah bergetar hebat. Sesuai dugaan, Wight dan Treant ada di sana.
Lalu ada seekor kepiting raksasa berwarna kuning tanah yang sedang berhadapan dengan mereka berdua. Ukurannya sedikit lebih kecil dari manusia. Cangkang kepiting raksasa itu hampir seluruhnya tertutup oleh sesuatu yang mirip teritip, memberikan penampilan yang agak menyeramkan. Ciri khasnya adalah capit kanan dan kirinya yang ukurannya sangat berbeda.
Dilihat dari formasinya, sepertinya Treant berdiri di depan sementara Wight memberikan tembakan bantuan dari belakang. Memang ada bekas goresan di tubuh Treant, tapi Wight sepertinya tidak menerima kerusakan. Karena aku melompat masuk sambil mengguncang tanah dengan heboh, ketiganya terkejut dan menghentikan gerakan mereka.
Untuk sementara, aku cek dulu spesiesnya mumpung ada kesempatan. Kalau monsternya berbahaya, aku berniat langsung membunuhnya. Tapi melihat Treant penuh luka, itu berarti sebaliknya, monster itu hanya punya kekuatan serangan yang bisa ditahan walaupun kena berkali-kali. Lagipula pada jarak ini, aku bisa menghabisinya dalam sekejap. Wight dan Treant tidak akan sampai terbunuh.
[[Forest Great Crab]: Monster Peringkat D-]Melancarkan serangan beruntun tak beraturan dengan capit yang ukurannya berbeda kiri dan kanan.Punya kebiasaan membiarkan Drunk menempel di permukaan cangkangnya dan membagikan mana untuk membesarkannya, sebagai gantinya Drunk akan menambal kekuatan cangkangnya.Terkadang ada individu yang tamak membiakkan terlalu banyak Drunk hingga kehabisan mana dan mati dihisap sampai kering.
Drunk? Ah, teritip itu maksudnya.
Sepertinya tidak ada kebiasaan yang terlalu berbahaya, dan peringkatnya juga tidak terlalu tinggi. Forest Great Crab sepertinya menilai situasinya tidak menguntungkan setelah melihatku, dia berjalan menyamping menjauh dariku. Sepertinya berniat kabur begitu saja.
Enak saja. Sekarang Wight masih Lv 1. Dia bisa mati karena hal sepele. Maaf ya, tapi aku tidak bisa membiarkan lawan yang pas begini lolos.
Aku dengan cepat memutar ke sisi berlawanan. Wight melihat aku memblokir jalan kabur Forest Great Crab, lalu mengangguk dengan bunyi karan. Sepertinya maksudku tersampaikan.
Forest Great Crab berbelok lebar, mengubah arah tubuhnya sembilan puluh derajat.
"Gyashaaaa!"
Di saat itu Treant mengayunkan dahannya ke bawah. Forest Great Crab memotong dahan itu dengan capit besarnya, lalu berlari melewati samping Treant dan menyeruduk ke arah Wight. Sepertinya dia berniat kabur melewati samping Wight. Wight mengarahkan lengannya ke Forest Great Crab yang mendekat. Angin bertiup, menciptakan tornado kecil. Tornado itu menerbangkan dedaunan dan tanah di sekitarnya sambil menuju ke arah Forest Great Crab.
Dilihat dari metode eliminasi, itu mungkin skill bernama Gale. Sepertinya itu sihir pengendali angin.
Forest Great Crab mengayunkan capit besarnya ke arah tornado. Tornado itu buyar dengan kasar.
Wight sepertinya tidak menyangka serangannya akan dihancurkan semudah itu, dia mundur selangkah. Ekspresinya tidak terlihat, tapi dari gerak-geriknya dia terlihat panik. Wight Peringkat E melawan Forest Great Crab Peringkat D-, sepertinya beban yang terlalu berat ya.
Forest Great Crab membalikkan badannya untuk menepis dampak dari tornado dan mengurangi kecepatan. Dia terus mendekati Wight, memanfaatkan momentum untuk memutar tubuhnya, dan mengayunkan capit besarnya. Wight melompat, mendarat dengan indah di atas capit itu. Lebih cepat dari gerakan Forest Great Crab yang hendak mengibaskannya jatuh, dia melompat sekali lagi. Lincah sekali. Itu pasti aksi yang hanya bisa dilakukan karena tidak punya daging berlebih.
Forest Great Crab sekarang mengarahkan capit kecilnya ke Wight yang ada di udara. Dia berpura-pura mengayun tapi berhenti di tengah jalan. Melihat Wight yang terpancing feint itu mengangkat tangan untuk menangkis, dia memanjangkan capitnya menusuk ke arah perut bawah. Karena ukurannya kecil, capit itu bisa digerakkan lebih cepat daripada yang besar.
Cukup sampai di situ. Aku menciptakan angin dengan sayapku dan mengisinya dengan mana. Skill andalan Kamaitachi. Skill ini yang paling praktis. Pisau angin itu jauh lebih cepat dari Forest Great Crab. Pisau itu memotong putus capit kecil yang dijulurkan Forest Great Crab. Forest Great Crab menekan lengan buntungnya ke Wight, lalu kehilangan keseimbangan dan terguling. Dia menggeliat-geliatkan kakinya (batabata) dalam posisi terbalik.
Pemenangnya sudah ditentukan. Wight mendarat di tanah dengan punggungnya, lalu berguling ke belakang dan bangkit berdiri. Setelah melihat Forest Great Crab terguling, dia bersandar pada pohon terdekat dan berjongkok.
Sepertinya dia kelelahan. Dengan MP Wight, satu kali sihir mungkin langsung bikin kosong.
"Gaaatsu!"
Sobatku mengaum, cahaya menyelimuti Treant. Luka-luka Treant sembuh dengan cepat. Wight... sepertinya tidak terluka. Aku mendekat untuk melihat kondisinya. Wight menyadari aku mendekat, memiringkan kepalanya, dan menatapku dengan lubang matanya yang kosong.
Dia terlihat lega, seolah terbebas dari ketegangan. Bagus, bagus, kau sudah berjuang. Treant juga melindungi Wight dengan baik. Kalau cuma sendirian, Wight mungkin sudah dibunuh oleh Forest Great Crab.
Aku berniat memberi serangan terakhir pada Forest Great Crab, jadi aku melihat ke tempat dia berada tadi. Tapi sosok Forest Great Crab sudah tidak ada di sana. Lho, apa dia kabur? Tapi aku tidak dengar suara... saat aku berpikir begitu, terdengar suara krek, krek dari samping. Saat aku menoleh, Sobatku sedang memakan Forest Great Crab beserta cangkangnya. Sobatku mendongak, dan bagian capit besarnya jatuh menancap ke tanah.
Y, yah, nggak apa-apa sih. Cuma kalau boleh minta, mbok ya diskusi dulu sama aku sebelum bertindak... Kalau Treant atau Wight yang menghabisi, mungkin EXP-nya bisa lebih banyak.
Mendapatkan 14 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 14 poin pengalaman.
...Oh, ternyata masih dapat EXP ya.
Kupikir Peringkat D sudah nggak dapat jatah lagi. Benar-benar sedikit sih, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.
Yah, yang bikin penasaran sekarang status Wight dan Treant dibanding aku. Karena mereka ikut bertarung, harusnya dapat EXP yang lumayan.
2
Sobatku menjilati sekitar mulutnya dengan lidah, menjatuhkan pecahan cangkang Forest Great Crab. Lalu dengan puas dia mengeluarkan suara "Guaaa", campuran antara auman dan uapan. Aku mengalihkan pandangan dari Sobatku, kembali menghadap Wight yang berjongkok di akar pohon.
Nah, mari kita cek status. Forest Great Crab itu monster Peringkat D. Walaupun aku ikut campur, Wight yang merupakan monster Peringkat E harusnya dapat banyak EXP.

Hmm... lho, kok nggak seberapa? C, cuma tiga level? Padahal Wight sudah berjuang keras. Yah, yang menghabisi kan Sobatku sih... Kemampuan tempur Treant lebih tinggi, dan akhirnya aku yang menekan lawan, jadi wajar sih cuma dapat EXP segitu.
Tapi tulang, dari penyihir tulang, selanjutnya bakal jadi apa ya. Tubuh fisiknya bakal balik kan? Nggak bakal jadi penyihir agung tulang kan?
Saat aku menatapnya lekat-lekat, Wight menundukkan kepalanya dengan bunyi karan.
Kenapa? Apa aku terlalu lama melihat wajahnya?
Entah dia malu atau cuma capek, wajahnya terlalu poker face sampai aku tidak tahu. Kapan-kapan kalau sudah punya otot wajah dan bisa bicara normal pasti bagus. Kalau begitu aku juga bisa ngobrol macam-macam dan tidak bosan. Ah, tapi kalau sudah begitu berarti waktunya pulang ke desa ya...
Itu memang tujuannya, tapi rasanya agak sepi juga. Aku jadi memikirkan hal itu sambil memandangi bagian belakang kepala Wight yang bulat licin.
'Putri Aino, namanya Aro. Masih belum genap sepuluh tahun, gadis kecil yang sangat manis.'
Tiba-tiba aku teringat isi Telepathy yang disampaikan Miko Dewa Naga, Hibi. Belum genap sepuluh tahun, gadis kecil. Apa Wight benar-benar Aro? Mungkin menyadari perubahanku, Wight mengangkat wajahnya lagi.
Mata kami bertemu lagi, dan aku membulatkan tekad. Harus dipastikan. Lewat otoritas tuan aku bisa menyampaikan kehendak sederhana, tapi sepertinya tidak bisa menyampaikan nama orang. Kalau begitu satu-satunya cara adalah bertanya langsung pakai Art of Humanification.
"Guo."
Aku meminta persetujuan Sobatku dulu.
"Gaa?"
Sobatku bersuara bodoh, memutar lehernya (gururi). Sudahlah nggak perlu izin juga nggak apa-apa. Lihat mukanya jadi masa bodo amat. Aku mengulurkan cakar, melepas kantung telur laba-laba yang masih menempel di dahi Sobatku, lalu menempelkannya di pohon terdekat. Kalau dibiarkan terus nggak tahu bakal jadi apa soalnya.
"Gaa!? G, Gua..."
Sobatku memanjangkan leher mencoba merebut kembali kantung telurnya. Aku menangkap leher itu, menahannya, dan menggunakan Art of Humanification. Rasa panas menjalar, tubuhku mengecil. Tidak terlalu sakit. Rasanya Art of Humanification sudah benar-benar menyatu dengan tubuhku.
"Gu, gu, gua..."
Aku menekan Sobatku masuk ke dalam tubuh seiring penyusutan tubuhku.
Sobatku mengecil dengan cepat. Dari sela-sela daging terlihat matanya yang menatapku penuh dendam, tapi itu juga segera menghilang. Saat muat dalam bentuk manusia, dia sudah sepenuhnya jadi satu kepala.
Aku merentangkan jari, mengecek tanganku. Agak bersisik dan pucat, tapi sudah hampir seperti manusia. Awalnya skill sampah yang bikin meledak kesakitan pas dipakai, hebat juga bisa berkembang sampai sejauh ini.
Aku meregangkan badan sedikit, lalu menyisir rambut dengan jari. Hmm, tubuh manusia memang enak. Sedihnya, karena sudah terbiasa jadi naga, gerakannya jadi terasa agak kaku.
Dibandingkan tadi, ketinggian pandanganku dengan Wight jadi lebih dekat. Wight menatap wajahku lekat-lekat dengan penuh minat. Ini pertama kalinya dia lihat bentuk manusiaku ya.
Wight berdiri (suuut) mendekatiku, lalu meraba-raba tubuhku (peta peta). Setelah meraba tubuhku sampai batas tertentu, dia sepertinya puas dan duduk kembali dengan sempoyongan di tempat semula.
...Apa dia iri? Ma, maaf. Aku nggak bermaksud pamer kok... K, kau juga mungkin, dua kali evolusi lagi bisa jadi bentuk manusia! Pasti, mungkin...
Ups, bukan itu yang mau kubilang.
"A, a, a... a, aa, a."
Ooh, bisa bicara normal. Mendengar tes suaraku, Wight memiringkan kepala.
"Aro, apa kau tahu nama Aro?"
Wight memiringkan kepala ke arah sebaliknya dengan bunyi koton. Gerakannya seperti metronom. ...Dia tidak tahu ya? Padahal dia punya Grisha Language: Lv 1, harusnya sedikit nyambung. Tapi, karena ingatan dia juga meragukan, jadi belum pasti juga. Nanti kalau sudah evolusi lagi coba kutanya lagi.
Omong-omong nama ibunya juga sempat kudengar. Ehm... kalau tidak salah...
"Aino, bagaimana? Pernah dengar?"
Saat aku bertanya, gerakan Wight berhenti total. Setelah aku diam sebentar, tubuh Wight mulai gemetar (katakata). Tulang rahangnya bergerak tiga kali. Aku tahu dia mencoba mengulangi kata yang kudengar dariku.
Wight menutupi matanya dan meringkuk di tempat. Aku duduk di samping Wight dan mengelus kepalanya.
"...Begitu ya, jadi kau Aro."
Tidak ada jawaban. Hanya saja, aku merasa tulang rahang Wight bergerak.
Tenang saja, Wight... bukan, Aro. Aku pasti akan mengembalikanmu ke wujud manusia.
3
"GAAAAAAAAAAAAAA!"
Pagi hari, aku terbangun mendengar auman yang cukup serius. Aku mengucek mata, meregangkan leher (guuu). Cahaya yang masuk dari pintu masuk masih redup. Masih pagi buta. Aku ingin tidur dua jam lagi sih.
Nah. Setelah mengecek pintu masuk, selanjutnya aku melihat ke arah Aro yang ada di dalam. Aro, meski ekspresinya tidak terlihat, menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan panik (katakata). Dia mengarahkan rongga matanya padaku, lalu melirik ke arah Sobatku seolah menyuruhku mengecek.
"Gaa! Gaaaaa! Gaaaaaaa!"
Sobatku meraung gila-gilaan, memutar-mutar lehernya. Di dahi Sobatku, menempel kantung telur yang sudah sobek. Dan di seluruh wajahnya, merayap sekitar delapan laba-laba seukuran kepalan tangan orang dewasa.
"Gaaaaaaa!"
Oh, akhirnya menetas ya. Anak-anak laba-laba itu tertutup bulu hijau. Warnanya sama dengan induk laba-laba yang menggerakkan satu kakinya waktu itu. Laba-laba, anakmu sudah menetas nih.
Aku melihat ke arah bangkai laba-laba di sudut kuil. ...Yang itu juga sebaiknya segera dikubur di luar. Sekalian bersihin kuil deh.
"Gaaaaaa! Gaaaaaa!"
Oh ya, cek dulu spesiesnya. Aku memusatkan kesadaran pada laba-laba yang menempel di wajah Sobatku yang sedang berteriak.
[[Baby Aranea]: Monster Peringkat E]Anak laba-laba berbulu.Menyimpan berbagai potensi, tapi karena banyak musuh alami, sedikit yang bisa bertahan sampai dewasa.Pahit, tapi tak disangka enak.
Induknya Aranea juga kan. Musuh alami banyak, ya. Tenang saja, orang yang sedang kalian kerubungi sekarang pasti bakal membesarkan kalian jadi laba-laba hebat.
"Gaaaaaa, Aaaaaaaa!"
...Sudah waktunya ditolong. Aku menepuk wajah Sobatku pelan beberapa kali dengan kaki depan. Anak-anak laba-laba yang merayap di wajah Sobatku berjatuhan (botoboto). Ada yang terbalik, ada yang langsung bangun dengan cepat dan mulai merayap di dalam kuil. Sobatku menempelkan dagunya ke tanah, lemas tak berdaya.
"Gua..."
Mengerang rendah, menatapku dengan mata memelas. Matanya berkaca-kaca. ...Yah, kalau nempelin kantung telur di muka, sudah kuduga bakal begini jadinya. Memang harusnya dihentikan ya.
Sya-sya, sya-sya. Sya-sya, sya-sya. Kupikir itu suara anak laba-laba, ternyata itu suara gesekan bulu kaki mereka. Suara sya-sya dalam jumlah besar bergema di dalam kuil, agak menyeramkan. Ini sih bagi manusia yang nyawanya terancam sama monster Peringkat E, pasti bakal jadi teror sungguhan. Padahal seingatku Aranea itu spesies yang tenang.
Tiba-tiba, terdengar suara tulang karakoro. Sambil berhati-hati dengan langit-langit, aku menoleh ke belakang, Aro dikepung oleh anak-anak laba-laba. Menghadapi anak-anak laba-laba yang mendekat perlahan, dia memutar lehernya (karakara) melihat sekeliling.
Sesaat gerakan laba-laba berhenti, lalu seolah dikomando, mereka serentak menyerbu Aro. Suara langkah kaki yang luar biasa terdengar.
Saat aku mendekat dan memanjangkan leher, Aro memanjatku dengan panik seolah nyawanya dipertaruhkan. Sebelum anak-anak laba-laba mengejar, aku mengangkat kepala lagi. Anak-anak laba-laba itu sepertinya langsung kehilangan minat pada Aro, dan menyebar sesuka hati di dalam kuil.
Mereka ini benar-benar bebas ya...
Aro gemetaran. Pasti ketakutan setengah mati. ...Diturunkan nanti saja kalau sudah agak tenang.
"Gaa..."
Sobatku sepertinya masih belum lepas dari trauma wajahnya dikerubungi, dia lebih diam dari biasanya.
Woi, yang bilang mau melihara kau kan? Urus dan didik yang benar dong?
Menerima tatapanku, Sobatku membuang muka pelan-pelan. I, ini anak...!
Tapi... aku ragu apa ini benar-benar bisa kutangani. Sekarang sih Peringkat E, tapi kalau tumbuh bakal makin besar kan? Monster kan pertumbuhannya cepat banget, kalau semuanya jadi Peringkat B, salah-salah aku bisa mati. Kalau mereka memberontak aku bisa kalah. Daripada sembarangan dibesarkan, bukannya lebih baik dikembalikan ke alam biar nggak ada penyesalan?
Saat aku melihat ke arah anak-anak laba-laba sambil berpikir, mereka sedang berkumpul di bangkai induk laba-laba. Awalnya satu ekor, lalu dua, tiga, makin bertambah. Dan tanpa sadar kedelapannya sudah berkumpul semua.
...Hm? Sedang apa? Bukan sedang berkabung kan.
Lagi-lagi kedelapannya bubar dengan cepat. Bangkai induk laba-laba sudah hilang. Kalau diperhatikan, hanya tersisa sedikit bulu hijau kusam yang berserakan. ...D, dimakan.
Yah, mungkin di kalangan laba-laba itu hal biasa sih! Baru lahir butuh nutrisi, aku paham sih!
Mungkin karena perut kenyang dan puas, anak-anak laba-laba itu berkumpul di pojok dalam kuil dan mulai tidur.
Mereka ini benar-benar bebas ya, woy. Gimana nih. Serius mau dipelihara?
Aku melihat ke arah Sobatku. Sobatku memanjangkan lehernya dengan takut-takut ke arah anak-anak laba-laba yang sedang tidur, mendekatkan wajahnya.
"Gaa..."
Lalu seolah puas, dia menghela napas lega. Dia berbalik menghadapku.
'Pelihara! Gue, pelihara!'
S, serius lu. Tadi bukannya lu agak ketakutan?
'Gapapa! Aman!'
...Hmm, y-yah, lihat situasi dulu sambil mikir deh. Aro juga ketakutan.
Untuk sementara aku meninggalkan anak-anak laba-laba dan keluar dari kuil.
Pohon yang tumbuh di depan kuil menyadari kehadiranku, membuka mata, mencabut akarnya, dan mulai bergerak.
Lesser Treant. Treant biasanya menancapkan akarnya kembali ke tanah untuk beristirahat.
...Tapi, Naga Jahat, Tengkorak, Laba-laba, Treant. Makin ramai saja, atau lebih tepatnya ini beneran sudah masuk rute Raja Iblis kan.
Untuk hari ini tujuan utamanya adalah menaikkan level Aro dan mencari makanan. Yah soal makanan, rasanya sebentar lagi bakal ada yang bawa persembahan lagi sih. Ada satu lagi yang bikin penasaran. Soal Manticore yang kabur itu. Jelas dia bakal datang lagi menyerang desa dalam waktu dekat, jadi aku ingin segera membereskannya.
Lagipula kata-kata Miko Dewa Naga 'kalau kabur ke arah sana tidak perlu khawatir' itu juga mengganjal. Memangnya ada apa di sana? Sekalian saja kupastikan sambil leveling dan cari makan.
4
Sesuai rencana, aku memutuskan jalan-jalan di hutan membawa Aro. Menghindari pemukiman suku Lithoviar dengan memutar jauh, tujuannya mengejar Manticore yang kabur. Di perjalanan aku juga ingin menyelesaikan urusan makanan dan leveling Aro.
Para anak laba-laba kalau dibawa keluar sepertinya bakal susah dikontrol, jadi kuminta Lesser Treant untuk menjaganya. Saat aku minta tolong pakai isyarat, dia mengangguk-angguk (kokukoku) menerima walau tanpa ekspresi. Tadi tiba-tiba dahannya dipasangi jaring laba-laba sih, tapi Lesser Treant pasti bisa menanganinya dengan baik. Aku percaya itu.
Aku berjalan di hutan sambil mencari hawa keberadaan manusia dengan Presence Sense. Aro yang sekarang tidak boleh sampai terlihat manusia. Kalau Dewa Naga jalan-jalan bawa tengkorak, kepanikan pasti tak terhindarkan.
Lagipula karena jaraknya cukup jauh dari pemukiman, harusnya tidak akan sering ketemu... tapi baru saja dipikirkan, aku merasakan hawa seperti manusia dari kejauhan. ...Tidak boleh lengah.
Sekarang tidak terasa hawa membunuh atau kegembiraan, jadi sepertinya tidak sedang bertarung. Kali ini menghindar saja deh.
Lagipula aku sedang mengacak-acak tempat yang kata Miko tidak perlu dipedulikan, entah kenapa rasanya lebih baik kalau suku Lithoviar tidak sadar. Mungkin tidak perlu sampai sembunyi-sembunyi banget, tapi rasanya agak canggung. Aku juga tidak mau dianggap tidak percaya pada mereka.
Kira-kira sudah sampai di posisi berlawanan dengan pemukiman belum ya, di situlah aku berhenti sejenak.
Ingin rasanya terbang sebentar buat cek posisi... tapi, kalau begitu pasti bakal kelihatan... hmmm, gimana ya.
Lagipula aku tidak buru-buru juga, coba keliling-keliling asal dulu deh... Saat berpikir begitu, terdengar suara kunyahan tidak sopan guccha guccha, kuccha kuccha dari ujung hutan. Ada sesuatu yang sedang memakan daging di arah tujuanku.
Jangan-jangan Manticore!? Aku meletakkan Aro pelan-pelan, lalu lari kencang untuk memastikan sumber suara itu.
"Fugo, fugo?"
...Yang ada di balik pohon adalah monster mirip babi. Matanya tertutup daging yang menggelambir, dan tidak punya leher. Benar-benar persis babi hitam besar.
Babi hitam itu melirikku sekilas lalu mengangkat lehernya. Darah menetes dari mulutnya. Di bawah kepala babi hitam itu, tergeletak monster seperti rusa biru dengan isi perut terburai. Entah karena kewaspadaannya rendah atau sangat percaya diri dengan kekuatannya, babi hitam itu tidak lari walau melihatku.

...Cuma babi ternyata. Tidak, tidak boleh lengah. Orang ini punya skill Roll lho. Pasti babi yang punya nama besar. Yah bercandanya udahan dulu... level rendah tapi Peringkat D ya. Tapi kecepatan dan serangannya agak rendah. Aro pun harusnya bisa tahan satu serangan. Pas banget buat leveling Aro.
"Fugoooo!"
Sepertinya si babi hitam marah karena mengira mangsanya mau direbut. Padahal di depan matanya ada yang jauh lebih enak dari rusa biru lho. Introspeksi diri dikit napa.
Aku menoleh ke Aro yang mengikuti di belakang. Aro mengangguk, lalu melewatilewatiku dan berdiri di depan babi hitam.
Setelah memastikan Aro maju ke depan, aku menyusutkan badan agar tidak memprovokasi babi hitam. Kalau aku ikut campur sembarangan, EXP yang didapat Aro bakal berkurang. Aro sepertinya tidak bisa memberikan serangan efektif pada Forest Great Crab (D-), jadi melawan Oin-oin (D) mungkin agak berat.
Tapi, kali ini ada aku sejak awal. Karena aku bisa menghentikan pertarungan kapan saja kalau berbahaya, Aro juga harusnya lebih mudah menyerang. Babi hitam ini bukan tipe kecepatan, jadi serangannya harusnya kena.
Kalau bisa memberikan kerusakan besar, EXP yang masuk juga harusnya bertambah. Kalau beruntung bisa bawa dia sampai hampir evolusi. Tidak, kalau bisa bermain dengan sempurna, ada kemungkinan langsung evolusi.
Saat Aro maju, babi hitam itu makin bersemangat.
"Fugooo!"
Babi hitam berteriak marah, menendang tanah dengan kaki belakang dan melompat ke depan. Aro mengarahkan tangannya ke kaki babi hitam yang mendekat. Cahaya yang keluar dari tangannya menyentuh tanah di jalur babi hitam. Tanah berubah bentuk, sedikit menonjol. Skill Clay yang dipelajari Aro saat evolusi.
"Fugo!?"
Babi hitam tersandung tonjolan itu dan jatuh, bahu kanannya menghantam tanah. Bagus. Memanfaatkan gerakan lurus babi hitam, dia memasang jebakan dan mematahkan aksinya. Babi hitam memang punya serangan dan kecepatan yang rendah untuk ukuran Peringkat D, tapi tetap saja jauh di atas Aro. Kalau bertabrakan langsung dari depan pasti kalah cepat, dan kalau kena satu pukulan saja sudah cukup untuk membuatnya sulit melanjutkan pertarungan. Jadi yang bisa dilakukan Aro adalah membuat celah lawan seperti ini, memberikan kerusakan sedikit demi sedikit untuk meningkatkan persentase EXP yang didapat nanti.
Aro menjulurkan tangan kirinya ke depan. Goki, terdengar suara patah, dan lengan kirinya jatuh dari bahu lewat lengan baju. Aro merendahkan posisi, lalu mengambil tulang lengan atas dari tulang-tulang yang jatuh itu. Tulang lengan kiri lainnya selain lengan atas jatuh berjatuhan (karakoro) mengikuti gravitasi. Aro mengayunkan tulang lengan atas kiri yang digenggamnya itu dari bawah ke atas, menghantam pangkal kaki depan kanan babi hitam.
"Fugoo!"
Dengan suara tumpul gosu, babi hitam menjerit.
I, itu lengan... nanti bisa ditempel lagi kan?
Aro mengayunkan tulangnya lagi dari sisi sebaliknya. Kali ini sepertinya mengincar wajah babi hitam. Babi hitam menahan tulang itu dengan mulutnya, lalu memutar leher mencoba menyeret Aro. Aro dengan cepat melepaskan tangannya dari tulang itu, lalu mundur ke belakang dengan cepat. Babi hitam memuntahkan tulang itu (pu!) lalu menggelindingkannya di tanah, dan memelototi Aro.
Babi hitam menggaruk tanah pelan seolah memeriksa kaki depan yang dipukul tadi. Lalu menyipitkan mata dengan kesal.
Kalau kaki depannya bermasalah, itu keberuntungan besar. MP Aro tidak terlalu tinggi. Kalau mananya habis, dia cuma bisa bertarung pukul-pukulan. Kalau kekuatan kaki babi hitam bisa dikurangi cukup banyak sebelum MP habis, dalam adu pukul murni pun dia harusnya bisa bertarung sedikit.
Menerima hantaman sekeras itu, HP babi hitam harusnya berkurang sedikit lah... pikirku sambil cek status, tapi HP Oin-oin cuma berkurang 5.
Kerusakan saat jatuh karena Clay, kerusakan saat kaki depannya dipukul tulang sekuat tenaga, kerusakan saat menerima serangan dengan mulut, semua ditotal cuma 5 damage. Mungkin rinciannya 1, 3, 1. ...Yah, memburu peringkat di atas memang berat ya. Aku juga seingatku memburu peringkat di atas itu waktu lawan Giant Tortoise dan Giant Centipede. Dua-duanya aku beri luka fatal di luar serangan langsungku.
"Fugoo!"
Babi hitam menyerang lagi. Hawa membunuhnya lebih pekat dari tadi. Kecepatannya nyaris tidak berkurang, tapi larinya goyah ke kiri kanan. Ternyata kerusakan di kaki depan membuatnya susah lari.
Aro mengarahkan tangan ke babi hitam yang mendekat. Babi hitam menyeringai, menendang tanah sekuat tenaga dan melompat ke udara. Mungkin dia berpikir melompat bisa menghindari gangguan Clay.
Tapi, naif. Kali ini Aro mengarahkan tangannya bukan ke tanah, tapi ke tubuh babi hitam. Tornado kecil keluar dari ujung tangan Aro, menyerang babi hitam yang ada di udara. Sihir Gale. Tornado kecil itu buyar begitu menabrak babi hitam. Tapi karena itu, babi hitam di udara kehilangan keseimbangan dan jadi tak berdaya.
Aro berlari di bawahnya, sambil memukul kaki depan babi hitam dengan tangan kosong. Sepertinya strateginya mengincar kaki secara menyeluruh. Benar, begitu bagus.
"Obu!?"
Babi hitam jatuh dengan wajah menghantam tanah. Setelah bangkit dia mengibaskan kepala, menjatuhkan kotoran tanah di wajah. Sementara itu Aro memungut kembali tulang lengan atas kanannya yang tadi dimuntahkan babi hitam, dan menggenggamnya dengan tangan kiri.
...Tapi, walau bisa dibilang lancar, batas Aro mulai terlihat. Sejauh ini Aro terus memberikan kerusakan sepihak ke babi hitam, tapi itu karena dia punya MP.
Kerusakan pada babi hitam memang menumpuk pelan-pelan, tapi dasar HP-nya masih belum terlihat. Sementara itu, MP Aro sudah kurang dari setengah. Mulai dari sini tinggal seberapa banyak Aro bisa memberi damage ke babi hitam. Aku juga harus mulai cari timing buat bantu.
Kaki depan kanan babi hitam sepertinya sudah parah. Jalannya sempoyongan, agak miring ke kiri. Wajar saja. Diserang sebertubi-tubi begitu.
Aro memungut ulang tulang lengan atasnya, memasang kuda-kuda, dan mengarahkannya ke babi hitam. Aro juga tahu sisa MP-nya sedikit. Dia pasti berniat meminimalkan penggunaan skill, memanfaatkan keunggulan jangkauan tulang lengan atasnya dan kerugian cedera kaki lawan untuk bertarung.
"Fugoo! Fugo!"
Babi hitam menendang tanah dan melompat, membulatkan badannya di udara. Dia mendarat sambil berputar, dan menggelinding menerjang Aro. Aro sepertinya sadar kalau usahanya menyerang kaki tadi sia-sia, dia ternganga kaget. Dia mematung dalam posisi memegang tulang.
Memang kalau ada Roll, menyerang kaki tidak bisa mengurangi mobilitasnya. Tapi, bukan berarti tidak ada gunanya. Dia berhasil mendesak babi hitam sampai terpaksa menggunakan Roll. Roll memang kuat. Kecepatan dan kekuatan serangannya meningkat. Aku juga dulu selalu mengandalkan skill itu. Makanya aku tahu kelemahan Roll. Kelemahan terbesar Roll adalah, tentu saja, gerakan lurusnya yang tidak bisa belok tajam. Walaupun kalah cepat, kalau tahu arah gerakannya, harusnya bisa diatasi.
Babi hitam menggelinding mendekati Aro. Aro mundur menyamping, berdiri di samping pohon. Babi hitam bergerak mengejar Aro.
Aro mengarahkan tangan ke babi hitam, menciptakan tornado kecil. Dia berniat membelokkan lintasan babi hitam dengan Gale dan menabrakkannya ke pohon. Tadi dia mundur menyamping juga mungkin untuk memancingnya ke dekat pohon. Si Aro, dia bisa melihat kelemahan Roll dengan tepat. Hebat juga.
Kalau begini harusnya bisa... pikirku, tapi Roll babi hitam tidak terpengaruh oleh Gale. Dia menghancurkan tornado itu, dan terus berusaha melindas Aro. Aro spontan berlindung di balik pohon.
Keputusan bagus. Di sana susah diserang Roll... pikirku, tapi babi hitam sambil mengurangi kecepatan, memutar mengelilingi pohon satu putaran. Tentu saja, Aro yang bersembunyi di balik pohon jadi korban Roll.
Aro terpental sekitar dua meter dan jatuh dengan punggung menghantam tanah. Aro mencoba bangkit, tapi seolah kehabisan tenaga dia kembali ambruk ke tanah.
Serangan barusan sepertinya memberi kerusakan cukup parah. HP sih bisa dipulihkan, tapi MP-nya sudah batasnya. Sepertinya, sudah tidak mungkin lagi... sampai di sini saja.
Babi hitam melepaskan Roll setelah menabrak Aro, menyeret kakinya di tanah untuk mengerem dan mematikan momentum. Dia mendekati Aro sambil menyeret kaki depan kanannya.
"Gaa!"
Sobatku bersuara, cahaya hitam membungkus Aro. Memulihkan HP dengan Soul Append: Fake Life. Nice Sobat. Oke, Aro, cepat menjauh dari babi hitam dan kembali sini.
Begitu pikirku, tapi begitu bangkit Aro langsung menggenggam tulang dan memukul babi hitam.
"Go!"
Babi hitam yang berniat memberi serangan terakhir, menerima serangan itu telak dari depan. Mengincar celah babi hitam yang goyah, dia mengayunkan satu pukulan lagi.
"Gabu!"
Kena telak di kepala. Babi hitam sempoyongan tapi dengan cepat mundur menjauh, menghindari ayunan ketiga Aro.
A, Aro? Tidak, bagus sih, tapi jangan terlalu memaksakan diri. MP-mu sudah hampir kosong. Tubuhmu bisa hancur beneran lho.
Babi hitam mengambil jarak lagi lalu membulat, menerjang Aro dengan Roll. Aro merendahkan pinggul, menjulurkan tulang yang digenggamnya ke arah babi hitam. Dan dari depan, dia menusukkan tulang itu ke tubuh babi hitam seolah memaksanya masuk.
"Gumoo!"
Babi hitam menjerit. Tapi momentum Roll tidak sepenuhnya mati, dan Aro terpental lagi. Tulang lengan atas yang dipegangnya terlempar dan menancap di tanah.
Babi hitam Roll-nya lepas setelah menabrak Aro, terbalik dengan punggung di tanah. Tapi dia dengan cepat berguling dan bangkit, menatap Aro yang terbaring dengan wajah marah.
Aro dari posisi telungkup, mencoba bangkit dengan satu tangan. Tapi entah karena kurang tenaga atau stamina habis, dia tidak bisa bangun.
M, masih mau tarung? Memang sih, babi hitam juga sepertinya sudah dekat batasnya. Kalau semangatnya masih ada, mungkin bisa menang dengan Soul Append: Fake Life terus-terusan...
"Gaa!"
Sobatku bersuara, cahaya hitam kembali membungkus Aro. Aro bangkit, mencabut tulang lengan atas yang menancap di tanah. Dari situ tinggal adu pukul murni. Babi hitam menerjang, Aro membalas counter dengan tulang dan mencicil damage dengan pasti. Kalau Aro kena damage, Sobatku langsung menyembuhkan. Setelah mengulang itu beberapa kali, akhirnya tulang lengan atas Aro patah.
"Fugo, fugoo..."
Bersamaan dengan itu, babi hitam yang kehabisan tenaga ambruk di tempat. Benar-benar berhasil menghabisi monster peringkat di atasnya. EXP-nya pasti lumayan banyak nih. Kalau aku dan Sobatku fokus support dengan efisien, bukannya bisa farming EXP dengan mudah dan cepat?
Aro sempoyongan, lalu terduduk lemas di tempat. Kepalanya miring seolah putus benang, dan gerakannya berhenti.
M, mudah sih nggak ya. Dia gerakin badan paksa pakai sihir penyembuhan. Kalau manusia hidup yang niru, bisa gawat jadinya.
Aku mengelus kepala Aro pelan dengan kaki depan. Bagus, bagus, kau sudah berjuang keras. Katari, lehernya menoleh ke arahku.

Ooh! Lv-nya sudah maksimal. Dengan ini bisa evolusi. Kalau beruntung, Aro harusnya makin mirip manusia. Aro pasti berjuang mati-matian demi itu.
Aku menelan ludah (gokuri). ...Kalau makin mirip manusia sih bagus. Kalau jadi monster tulang raksasa kan repot.
Evolusi sebelumnya dari Wight ke Skull Low Mage. Jujur saja, kesannya cuma dari tulang jadi tulang yang jago sihir. Kalau bisa sedikit saja mendekati manusia...
Saat aku memandangi Aro, Sobatku menggerak-gerakkan lehernya dengan antusias.
"Gaa! Gaa!"
Sepertinya dia mau makan babi hitam. Tidak, sebelum itu, tolong pakai Soul Append: Fake Life buat evolusi Aro dulu dong...
Sobatku mengalihkan pandangan dariku, menatap Aro dalam diam. Aro sepertinya mengerti apa yang ingin dikatakan Sobatku, dia duduk perlahan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Gaa! Gaa!"
Sobatku melihat Aro duduk, lalu mulai mendesakku lagi. Langsung saja kuseruduk lehernya.
"Aga!"
Makanannya tunggu sebentar napa! Aro sampai perhatian banget gitu!
Aku mengalihkan pandangan dari Sobatku yang ngambek, kembali ke Aro. Aro masih jongkok dan tidak bergerak. Dia mengangkat bahu sedikit lalu menjatuhkan tangan dan kakinya ke tanah, seolah berkata 'Ah, capek deh'.
...Ah, ini sepertinya dia nggak bakal gerak sampai Sobatku selesai makan. Makanya buat apa Aro perhatian banget begitu. Aku melihat Sobatku lagi. Sobatku menunjuk babi hitam dengan dagunya (kui kui). B, bajingan ini... sama sekali nggak introspeksi. Tapi karena butuh Soul Append: Fake Life, aku tidak bisa bikin dia terlalu ngambek. Aku menyerah, dan mendekati babi hitam.
Aku menyemburkan Scorching Breath ke babi hitam sambil menahan jangkauan dan kekuatannya. Babi hitam terpanggang bersama rumput di sekitarnya. Rumput berubah hitam jadi abu. Asap mengepul dari babi hitam. Bau daging bakar menusuk hidung, aku pun tanpa sadar mengendus-endus (sun sun).
Hei, Sobat. Aku juga, mau coba makan dikit boleh nggak...
Sobatku menggigit perut babi hitam dalam sekali gigitan, lalu mengangkat lehernya dan menjatuhkannya ke dalam mulutnya sendiri. Mengunyah dengan suara berisik baribari, lalu meludahkan (peh) sesuatu seperti bagian tengkorak. Sambil membersihkan daging yang terselip di gigi dengan lidah, dia melihatku dan memiringkan kepala seolah berkata 'ngomong apa lu?'.
B, bajingan ini... Yah, setidaknya suasana hatinya sudah bagus.
Aro melihat Sobatku selesai makan, lalu berdiri perlahan. Sobatku juga tahu tugasnya, dia memanjangkan leher ke arah Aro.
"Gaa"
Sobatku bersuara, cahaya hitam menyelimuti Aro. Rupanya dia langsung pakai Soul Append: Fake Life. Dengan ini harusnya bisa evolusi. Juuu, terdengar suara seperti sesuatu dipanggang. I, ini aman kan? Apa perlu ditolong?
".......A"
Dari dalam cahaya hitam, rasanya terdengar suara serak rendah.
Aro kan tulang, harusnya nggak bisa bersuara. Aku dan Sobatku mengamati cahaya hitam itu dengan hati-hati.
Saat cahaya hitam memudar, sesuatu yang mirip manusia muncul dari dalamnya. Tingginya sama, dan memakai baju suku Lithoviar yang compang-camping, jadi aku langsung tahu itu Aro.
Rambut yang menjuntai menutupi matanya. Rambutnya kering dan kasar, sama sekali tidak terasa lembap. Wajah yang sedikit terlihat warnanya hampir sama dengan tanah, begitu juga tangan dan kakinya. Kulit yang sepertinya akan terkelupas jika disentuh. Bukan hanya tulang, ada dagingnya. Daripada daging busuk, rasanya lebih mirip tanah. Aro menyentuh rambutnya, lalu membawa tangannya ke depan wajah.
Aro mematung, menatap tangannya sendiri lekat-lekat. Bagi dirinya sendiri, mungkin wujud ini agak mengejutkan. Meski begitu, tak diragukan lagi dia makin mendekati manusia.
Aro menggerakkan mulutnya (paku paku). Sepertinya dia tidak bisa mengeluarkan suara dengan baik.

Level skill-nya naik drastis. Yang bertambah... satu Skill Karakteristik, dua Skill Normal ya. Self-Regeneration sih paham, tapi Earth Doll dan Flesh Deformation itu... kok banyak yang mencurigakan. Cek spesiesnya dulu deh.
[[Levana Mage]: Monster Peringkat D]Memiliki kekuatan untuk memanipulasi sihir dengan bebas di antara jenis Levana.Dikatakan jika menemukannya harus segera dibunuh tanpa membiarkannya lolos, karena bisa menambah jumlah kawannya.
S, segera dibunuh ya. Padahal sudah mati sih. Pokoknya, jangan sampai terlihat orang.
Aku penasaran apa arti Levana. Bisa dicek nggak ya.
[[Levana]: Monster Peringkat D-]Monster undead yang mendekatkan tanah menjadi daging dengan sihir, dan menempelkannya ke tubuh.Individu yang memiliki kerinduan kuat akan tubuh orang hidup cenderung berevolusi menjadi ini.
Oh begitu. Tadi kupikir mirip tanah, ternyata daging ini aslinya tanah ya.
...Tapi, kerinduan kuat akan tubuh orang hidup, ya. Aku jadi berpikir, aku sudah melakukan hal yang kejam.
Tidak, sudah terlambat. Hal seperti itu sudah kutahu sejak lama. Aku yang salah karena membiarkan Sobatku menggunakan Soul Append: Fake Life dengan perasaan ringan tanpa tahu apa yang akan terjadi. Karena itulah, sebagai bentuk penebusan dosa, aku sangat ingin mengembalikan Aro menjadi manusia. Aku tahu betul betapa sepinya saat sadar-sadar sudah jadi monster. Mungkin egois bagiku yang bilang begitu, dan mungkin ini cuma kepuasan pribadiku saja.
Tapi meski sudah mendekati manusia, dalam artian tertentu ini evolusi yang merepotkan. Salah-salah bisa jadi musuh suku Lithoviar. Melihat reaksiku, Aro memiringkan kepala dengan cemas. Sedikit tanah rontok dari lehernya. Tenang saja, Aro. Aku pasti akan melindungimu.