Bab 2: Pemukiman Suku Lithoviar

Volume 5 - Chapter 2

February 6, 2026


1

image_00007

Membuka mata karena silau oleh sinar matahari yang masuk, aku merangkak keluar dari kuil kecil itu. Sudah pagi, ya? Seingatku saat tidur aku berada di bagian dalam yang hampir tidak terjangkau cahaya, tapi sepertinya aku tidur sambil berjalan sampai ke bagian dangkal kuil.

"Guuoooaaaaa......"

Aku mengarahkan mulut ke langit dan menguap lebar. Tertular olehku, Sobatku ikut membuka mata. Seperti biasa, kantung telur itu masih menempel di dahinya. Sobat, kurasa laba-laba tidak akan sejinak Ball Rabbit, lho.

"Guaaa......"

Padahal harusnya sudah tidur cukup lama, tapi tampaknya dia masih mengantuk. Dia menatapku dengan mata menyipit, seolah merasa terganggu. Namun, begitu melihat sisa persembahan yang tidak habis dimakan semalam, warna mata Sobatku langsung berubah.

"Gaa! Gaa! Gaa!"

Dengan semangat dia memanjangkan lehernya ke arah persembahan itu. Semalam sudah makan sebanyak itu, dia masih belum puas juga?

Padahal kalau dimakan pelan-pelan bisa untuk persediaan beberapa kali makan, tapi Sobatku menghabiskan setengah dari persembahan itu hanya dalam satu malam. Setengah sisanya sepertinya bakal ludes buat sarapan. Yah, karena dia sudah bekerja keras, aku tidak bisa protes, tapi rasanya aku ingin dia sedikit menahan diri.

Kalau orang-orang suku Lithoviar membawakan persembahan lagi sih aku bersyukur, tapi hari ini tidak terlihat ada orang ataupun tanda-tanda kehadiran mereka. Apa mereka takut gara-gara sikapku kemarin, atau ketahuan kalau aku bukan Dewa Naga yang asli? Mungkin juga mereka memang tidak datang setiap hari...

Selagi aku merenung, Sobatku sudah membenamkan moncongnya ke dalam keranjang dan melahap isinya. Daging burung maupun babi hutan, semuanya tinggal tulang sekarang. Sudah habis saja.

Kalau Sobatku makan, perutku juga ikut kenyang, dan karena aku ingin menjaga suasana hatinya, lebih baik membiarkan dia makan... tapi rasanya mulutku sepi.

"Hyuuhuu!"

...Di samping Sobatku yang mendengus puas, aku menggerogoti tulang babi hutan yang dimuntahkannya (krek, krek), lalu memuntahkannya setelah merasa cukup menikmati rasanya. Sobatku menatapku dengan pandangan iba.

'...Kalau. Kau. Bilang. Aku. Sisakan. Sedikit. Kok.'

Ah, ada sesuatu yang masuk ke kepalaku. Rasanya kemampuan komunikasi kami semakin mantap.

Aku mengalihkan pandangan ke guci besar yang ada di samping sisa-sisa makanan yang diberantakkan Sobatku. Sepertinya dia belum menyentuh yang ini.

Aku mencoba mengendusnya (sniff sniff), tapi tidak tercium bau makanan. Kalau isinya daging, tidak mungkin Sobatku membiarkannya. Aku menyentuhnya pelan dengan kaki depan, terdengar suara air beriak. Minuman?

Aku menggigit tutupnya dan membukanya. Isinya air bening tak berwarna. Tidak, tapi bau yang menusuk hidung ini... alkohol? Berarti ini arak. Saat aku mengintip ke dalam guci, Sobatku memanjangkan lehernya pelan-pelan, menggigit pinggiran guci, lalu menengadahkan wajahnya ke langit.

Isinya langsung mengalir deras ke dalam mulut Sobatku. Dia memutar lehernya dan membanting guci itu ke tanah. Prang! Guci itu pecah. Sobatku menjilati bibirnya, menikmati sisa arak di sekitar mulutnya.

"Gaaa-!"

Sobatku berteriak puas sambil memuncratkan air liur.

K-Kau ini! Katanya tadi mau bagi-bagi kalau aku bilang! Lagian jangan pecahkan gucinya dong, sayang banget!

"Gaaaaa"

Sobatku dengan senang hati menjilati bagian dalam pecahan guci itu. Sepertinya dia sangat menyukai arak itu.

Yah, karena persembahannya sudah habis, mulai hari ini kami harus mandiri. Harus berburu mangsa.

Biarkan Wight melakukan serangan bantuan untuk mengumpulkan EXP... hm, omong-omong, mana Wight? Seharusnya dia tidak ada di dalam kuil. Saat aku mencari di sekitar dengan Presence Sense, ada reaksi lemah dari arah belakang kuil. Rasa ini sepertinya hawa keberadaan Wight. Aku memutar ke belakang kuil mengikuti hawa keberadannya.

Sesuai dugaan, Wight ada di belakang. Dia berjongkok, mengulurkan tangan ke tanah, dan menggali. Dia menarik sesuatu dari lapisan tanah dangkal, gumpalan tanah... bukan, itu terlalu padat untuk disebut tanah. Itu kain yang berlumuran tanah. Saat Wight menepis kain itu dengan tangannya, warna hitam terlihat dari balik tanah. Ada sulaman tanaman merambat. Itu pakaian suku Lithoviar. Apakah itu pakaian yang dikenakan Wight semasa hidup? Wight membersihkan tanahnya sampai batas tertentu, lalu membunyikan tulang rahang bawahnya dengan puas. Kemudian, saat dia menekuk kakinya hendak mengenakan pakaian itu, tubuhnya tersentak dan berhenti bergerak, lalu menoleh ke arahku.

Rongga mata Wight bertemu dengan mataku. Wight membuang muka dengan malu-malu dan kembali berjongkok. Entah kenapa, aku merasa seperti melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat, jadi aku segera menundukkan wajah.

...Padahal selama ini kau telanjang bulat, kan. Kenapa baru sekarang malu dilihat pas ganti baju?

Setelah menunggu suara gesekan kain berhenti, aku mengangkat wajah dan melihat Wight sudah mengenakan pakaian itu dengan rapi. Meski kotor oleh tanah dan sobek-sobek, itu adalah gaun terusan hitam. Mirip dengan yang dipakai gadis suku Lithoviar yang kuselamatkan dari Manticore.

Karena pria yang mengantar persembahan memakai celana panjang, sepertinya Wight memang seorang gadis. Wight membunyikan tulangnya (klatak), berputar di tempat, lalu menatapku.

Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Melihat aku diam saja, dia memiringkan kepalanya (karan).

A-Apa dia minta pendapat soal bajunya? T-Tapi... jujur saja dia itu tulang... T-tapi... rasanya agak manis juga sih, ya.

2

Aku memutuskan untuk menjelajahi hutan dengan membawa Wight. Tujuan utamanya saat ini adalah mencari makanan, evolusi Wight, menaikkan levelku... dan kalau ada kesempatan, melakukan kontak dengan suku Lithoviar.

Semoga menemukan sesuatu yang enak. Di persembahan ada beras dan babi hutan, jadi kalau dicari pasti ada.

Untuk evolusi Wight... targetnya adalah mendapatkan tubuh fisik. Kalau sampai akhir tetap jadi tulang, rasanya terlalu kasihan.

Tiba-tiba aku berhenti dan berpikir. Pemukiman suku Lithoviar harusnya ada di dekat sini. Kalau aku yang mendatangi mereka, apa mereka bakal ketakutan? Tapi, hari ini mereka tidak datang... kalau aku tidak berinisiatif, jangan-jangan aku bakal dilupakan? Tidak, tidak, tapi kalau aku datang dan malah dianggap mengajak perang, itu bakal jadi bencana. Tidak, tidak, tidak, tapi... saat aku berdebat sendiri, Sobatku menatapku dengan tatapan dingin.

"Guaaa..."

Dia menggelengkan kepalanya seolah berkata 'yare-yare', lalu menghadap ke depan. Dia menggerakkan dagunya ke depan, mendesakku 'Cepat jalan woy'. A-Aku merasa kalah telak... Apa wajahku sebodoh itu barusan?

Lagipula hari ini ada Wight, jadi mendatangi suku Lithoviar sepertinya ide buruk. Bagi Wight, bertemu teman-temannya dengan wujud sekarang pasti menyakitkan. Hari ini fokus berburu saja. Itu yang terbaik, ya.

"Gaa! Gaa!"

Baru saja mulai berjalan lagi, Sobatku menarik leherku lagi. Air liur muncrat deras dari mulutnya.

Ada apa sih, kau menemukan sesuatu? Kirim lewat telepati dong kalau mau bilang. Aku mau menaikkan level skill-nya nih.

'ENAK! ENAK!'

...Mau lewat pikiran atau suara, ternyata nggak ada bedanya. Ball Rabbit malah lebih lancar ngomongnya.

Saat aku melihat ke arah pandangan Sobatku, ada sesuatu yang bersinar samar. Bentuknya manusia, tapi hanya seukuran hewan kecil. Tidak memakai baju, dan mukanya rata. Makhluk yang seperti manusia tanah liat.

Dia bersembunyi di balik akar pohon sambil melihat ke sini. Itu... rasanya tidak bisa dimakan deh. Lagian aku tidak mau memakannya. Monster apa itu?

[[Raran]: Monster Peringkat E]Karena penampilannya yang unik, ia disebut Penjaga Hutan, Manusia Hutan Kecil, Roh Pohon, dan lain-lain. Ada berbagai anekdot terkait namanya di berbagai daerah.Memiliki sifat yang lembut dan hidup dengan menyerap energi sihir pohon.Jika marah, hal yang mengerikan akan terjadi.

Jelas-jelas tipe yang tidak boleh disentuh, kan.

'ENAK! ENAK!'

Hentikan, makhluk itu menyeramkan tahu. Lagipula kalau makan yang begituan, perutmu tidak bakal kenyang.

Aku menyeret Sobatku yang memberontak dan berjalan ke arah berlawanan. Di tengah jalan, aku menoleh sekilas ke belakang, dan jumlah Raran bertambah jadi tiga. Tiga sosok manusia berwarna putih kehijauan yang bersinar samar berjejer dengan rukun. Saat mata kami bertemu, ketiga makhluk itu mengangkat bahu secara bersamaan. Lalu cahaya meletup (pop), dan mereka menghilang.

"Gaa..."

Melihat Raran menghilang, Sobatku menundukkan kepalanya dengan lesu. Kau seingin itu memakannya? Maaf ya, tapi aku tidak mau berurusan dengan makhluk menyeramkan seperti itu.

Saat aku mencari monster lain, Presence Sense menangkap sesuatu yang mirip manusia. Rasanya seperti manusia. Suku Lithoviar kah?

A-Aku jadi sedikit penasaran. Pengen lihat kondisinya saja... ah, tapi nanti ketahuan. Tapi mumpung sudah dekat begini kalau menghindar rasanya... yah, tunjukkan muka sedikit saja deh. Sekilas, sekilas saja. Sekalian berterima kasih buat persembahannya, ya kan.

...Tapi, kalau begitu masalahnya ada di Wight. Aku tidak bisa membiarkan Wight bertemu dengan suku Lithoviar. Aku melirik ke belakang, Wight menatapku dengan sedih.

U, uuuh... K-Kalau cuma melihat dari jauh harusnya tidak apa-apa. Cuma menyapa, lalu kalau mereka mendekat dan Wight terancam ketahuan, kita mundur pelan-pelan.

Aku berjalan ke arah di mana hawa keberadaan manusia itu tertangkap. Endap-endap, aku berjalan pelan sambil memperhatikan suara langkah. Dengan tubuh segede ini mungkin percuma, tapi ini masalah perasaan.

Jadi, aku tidak akan mempedulikan Sobatku yang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heboh. Pokoknya tidak peduli.

"Gaa! Gaa!"

...Bisa nggak sih anak ini dipisahin?

Semakin dekat, selain dua manusia, aku merasakan hawa keberadaan lain yang tipis. Dari kedua manusia itu juga terasa ketegangan. Jangan-jangan sedang bertarung dengan monster? Kalau begitu sebaiknya aku bergegas. Aku tidak mau membiarkan manusia mati sia-sia, apalagi aku berhutang budi pada suku Lithoviar atas persembahannya.

Aku menoleh ke belakang. Wight yang berjalan tertatih-tatih menghentikan langkahnya.

"Guo..."

Dengan maksud 'Tunggu di sini', aku menunjuk tanah dengan ujung kaki. Wight melihat ke arah tujuan kami, lalu mengangguk kecil (kotak). Berkat Skill Gelar Servant of the Evil Dragon, aku bersyukur komunikasi lewat isyarat sederhana jadi mudah dimengerti.

Tapi meninggalkan Wight sendirian juga bikin cemas...

Aku menggesekkan kaki depanku pada pohon besar di dekat situ. Sebenarnya aku tidak ingin menggunakan Soul Append: Fake Life sembarangan, tapi... aku perlu memberi pengawal untuk Wight. Little Treant juga punya Skill Gelar Servant of the Evil Dragon. Kalau diperintah, harusnya dia menurut.

Sobat, pohon ini bisa diubah jadi monster?

"Gaa!"

Sobatku mengangguk dan bersuara. Cahaya hitam menyelimuti pohon itu. Kulit kayu berdistorsi, dan wajah manusia muncul. Akar pohon yang tebal menggali tanah, membuat tanah retak. Skalanya memang beda dengan pohon muda.

"GYASHAAAAAA!"

Pohon itu menghantamkan kedua dahannya ke tanah dan berteriak keras. Daun-daun yang robek berhamburan di sekitar. Ternyata untuk mengubah benda sebesar ini jadi monster butuh mana yang sepadan. Dengan jumlah MP-ku sih tidak masalah... kurasa.

image_00019

Lebih kuat dari Wight sih... tapi apa ini aman? Saat aku merasa cemas, Wight menusuk-nusuk kakiku (toel toel). Ada apa?

Aku menurunkan leher dan mendekatkan wajah. Wight menunjuk ke arah di mana manusia berada. Suku Lithoviar adalah teman-temannya semasa hidup. Mungkin ada sesuatu yang dia rasakan secara naluriah.

"Guo."

Aku mengalihkan pandangan dari Wight ke Treant yang baru saja diciptakan. Kutitipkan Wight padamu.

"GYASHAAAAAA!"

Nyambung... kan? Dia mengibaskan dahan, tapi tidak menyerang.

Sambil sesekali menoleh ke belakang, aku bergerak menuju hawa keberadaan manusia itu. Semakin dekat, terdengar suara pertarungan antara suku Lithoviar dan monster. Aku merasakan sensasi dingin merambat di punggungku. Perasaan ini, entah kenapa terasa tidak asing (deja vu). Aku mempercepat langkah.

"Rei, Kuvei, Jes!"

"Hah! Hiaaa! Seyaa!"

Manusia itu tak salah lagi adalah suku Lithoviar. Seorang pria besar memegang tombak besar berhias, dan seorang wanita yang sepertinya Miko, yang juga ada di antara orang-orang yang membawakan persembahan untukku. Wanita itu memejamkan mata, merapalkan mantra yang tidak kupahami.

Firasat burukku tepat. Yang dilawan pria besar itu adalah serangga raksasa itu, Abyss.

"Veeeeeee!"

Abyss meliuk-liukkan delapan kakinya yang panjangnya tidak rata, berlarian di sekitar pria besar itu. Penampilannya masih sama menjijikkannya, begitu juga gerakannya yang menyeramkan. Padahal Abyss itu monster Peringkat-C, tapi dia bisa melawannya dengan baik. Kemampuannya di atas Hagen, tapi mungkin satu tingkat di bawah Adoff.

"Kuvei! Kuvei! Leitz!"

Saat wanita yang tampak seperti Miko itu mengeraskan suaranya, sosok Abyss tiba-tiba menghilang. Saat aku berpikir apakah dia kabur, dia tiba-tiba muncul di belakang pria besar itu. Pria besar itu mengayunkan tombaknya lebar-lebar. Mata tombak yang membawa gaya sentrifugal menghantam taring Abyss.

Padahal berada di titik buta sempurna, hebat juga dia bisa bereaksi.

"Jes! Jes!"

Mengikuti suara wanita itu, pria besar itu terus melancarkan serangan tombak ke arah Abyss yang terhuyung ke belakang.

Abyss mundur menjauhi pria itu dengan gerakan zig-zag sambil tetap menghadap ke belakang, lalu menghilang ke dalam semak-semak hutan.

Gerakannya masih bikin mual seperti biasa. Pria besar itu mungkin lengah melihatnya pergi, lalu menancapkan tombaknya ke tanah. Di belakangnya, Abyss muncul tanpa suara (suuut).

"Kuvei!"

Saat wanita itu berteriak, pria besar itu buru-buru menyiapkan tombaknya dan berbalik. Waktunya kritis. Aku melompat keluar dari hutan dan menginjak Abyss dengan kaki depanku sampai gepeng.

"Vebu... vu."

Cairan berwarna krem muncrat dengan suara becek dari mulut Abyss. Dia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan cepat (jigijigijigi). Sensasi gelinya bikin merinding. Aku menumpukan berat badanku pada kaki depan. Kakinya berhenti bergerak, tapi cairan juga menyembur dari punggungnya.

Mendapatkan 126 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 126 poin pengalaman.

...A-Aku membunuhnya dengan tangan kosong. Aku menggosok-gosokkan tanganku ke tanah, membersihkan cairan tubuh Abyss. Sial, sial, nggak mau hilang. Baunya seperti kepik yang direbus sampai kental.

"De, Dewa Naga...?"

Pria besar itu mendongak menatapku dengan mulut ternganga. Klang, tombak besarnya jatuh ke tanah. Mendengar suara tombaknya, pria besar itu tersentak kaget, matanya membelalak, lalu dia buru-buru berlutut di tanah seolah mengejar tombaknya.

J-Jangan terlalu formal begitu, aku jadi bingung... Malah aku yang jadi gugup.

"Ooh! Dewa Naga! Anda datang untuk menyelamatkan kami!"

Pria besar itu menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil tetap berlutut.

"Karena sudah lama sosok Anda tidak terlihat, saya pikir Anda sudah pergi jauh... Tapi ternyata Anda kembali sebelum musim kawin Abyss dimulai lagi, Baron ini tidak punya apa-apa selain rasa terima kasih! Sebuah kehormatan bisa bertemu Anda lagi!"

T-Tunggu, itu pasti salah naga! Maaf ya, tapi aku tidak tahu soal pendahuluku. Naga yang itu bukannya sudah benar-benar pergi entah ke mana?

Lagipula apa itu musim kawin Abyss, mimpi buruk macam apa itu. Aku tidak mau berurusan dengan serangga monster itu.

Wanita yang sepertinya Miko itu berjalan mendekat dan berdiri di samping pria besar itu. Kemudian, dia mengangkat tongkat besarnya ke arahku dan memejamkan mata perlahan.

'Miko Dewa Naga, Hibi, menghadap. Wujud Anda sepertinya telah berubah, namun saya merasa lega mengetahui Anda akan kembali menjadi kekuatan bagi kami.'

Kata-kata masuk langsung ke kepalaku. Rupanya dia bisa menggunakan Telepathy. Waktu bawa persembahan sebelumnya dia bicara biasa, apa ini ada makna ritualnya?

Meskipun begitu, aku mengerti bahasa manusia biasa kok... yah, tapi bersyukur juga kalau maksudku bisa tersampaikan.

Sebenarnya kalau pakai Art of Humanification aku bisa bicara, tapi kalau begini mungkin lebih baik jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Menurut cerita Adoff tentang suku Lithoviar, nuansanya mereka itu suku berbahaya. Mungkin mereka memusuhi orang luar, dan kalau ketahuan aku bukan Dewa Naga, bisa-bisa mereka langsung memusuhiku.

Tidak, tapi aku kan sudah menyelamatkan mereka dari monster... Mengungkapkan identitas sebelum ketahuan belakangan dan jadi runyam sepertinya ide bagus. Kalau akhirnya jadi musuh ya sudah nasib, tapi terus-terusan mengaku sebagai Dewa Naga sepertinya agak mustahil. Lebih baik jujur saja.

Aku membayangkan melemparkan kehendakku ke lawan bicara, seperti saat berbicara dengan Ball Rabbit.

Sebenarnya aku, beda dengan Dewa Naga terdahulu...

"Saya pikir Dewa Naga sudah muak dengan kami dan pergi meninggalkan kami... Saya, saya...!"

Pria besar bernama Baron itu menangis tersedu-sedu sambil menutupi matanya dengan tangan. Dia menundukkan kepala dengan semangat seolah hendak membenturkannya ke tanah, air matanya menetes dari sela-sela jari karena saking bahagianya.

Bukan, anu, saya naga yang berbeda, anu...

'Dewa Naga, ada apa?'

Telepathy kembali dilemparkan padaku. Karena panik, leherku setengah mengangguk sendiri.

Baron langsung mengangkat wajahnya (gabah!). Riasan wajahnya luntur oleh air mata jadi berantakan, tapi ekspresinya bersinar cerah.

image_00020

...D, dasar aku si bodoh yang gampang terbawa suasana. Aku perlahan mengalihkan pandangan dari tatapan panas Baron.

"Baron, hentikan kelakuan memalukan di depan Dewa Naga! Dewa Naga jadi bingung, kan!"

"Tapi, tapi!"

Miko Dewa Naga, Hibi, membuka matanya dan menegur Baron. Hibi bertubuh pendek jadi umurnya sudah ditebak, tapi mungkin sekitar awal dua puluhan. Dibandingkan dia, Baron mungkin sekitar pertengahan dua puluhan? Setidaknya, dia terlihat lebih tua dari Hibi. Tapi melihat interaksi mereka, sepertinya posisi Hibi lebih tinggi.

Ternyata posisi Miko Dewa Naga itu jabatan penting ya. Meski muda, dia terlihat lebih tenang daripada Baron, dan sepertinya sudah mengalami berbagai kesulitan.

Y-Yah, sudah terlanjur mengangguk, mau bagaimana lagi. Kalau begini pakai Rencana B. Aku tidak tahu di mana dan sedang apa yang generasi pertama, tapi aku harus jadi Dewa Naga Generasi Kedua. Tenang saja. Kalaupun ketahuan, asalkan hubungan kepercayaan sudah terbangun kuat, tidak akan ada masalah... kan?

Melihat tingkah laku mereka berdua, mereka tidak terlihat seperti kelompok yang haus darah seperti di rumor. Mungkin ada kesalahpahaman. ...Lagipula, dipuja-puja itu rasanya tidak buruk.

Setelah menatap mata Baron dan Hibi, aku segera membuang muka ke langit. Gawat, gawat, mulutku jadi mau senyum sendiri. Aku ini Dewa Naga, harus lebih berwibawa. Tapi, akhirnya datang juga ya, ruteku sebagai dewa pelindung. Masa populer terbesar dalam hidup nagaku nih, woy.

...Hanya saja, aku harus segera kembali ke kuil. Wight pasti sedang menunggu. Walaupun sudah kuberi Treant sebagai pengawal, kalau bertemu monster peringkat tinggi pasti tidak akan bertahan.

Aku membalikkan badan.

"Apakah Anda sudah akan pergi, Dewa Naga! Semua orang juga cemas, jadi kalau bisa Anda mampir sekali ke pemukiman kami...!"

"Tugas sayalah untuk menyampaikan kejadian ini dan menenangkan semua orang! Baron diamlah! Jangan merepotkan Dewa Naga..."

T, tidak, berkunjung sekali juga nggak apa-apa sih, malah aku pengen lihat... cuma, aku tidak bisa melepaskan pandangan dari Wight yang Peringkat-E terlalu lama. Nanti, kalau Wight sudah agak besar...

"Lagipula, apa kau lupa kita datang untuk mengambil tanaman obat bagi si musafir? Orang itu sedang menderita sekarang."

"T, tapi... tidak, ya... Benar sekali, Nona Hibi."

Baron menunduk lesu.

Melindungi musafir ya. Ternyata mereka tidak seberbahaya rumor... hm? Musafir, menderita...? Ada yang mengganjal rasanya... Aku bingung sambil melihat ke seberang hutan di mana Wight mungkin menunggu. Bayangan sosok Wight yang menunjuk ke arah di mana suku Lithoviar berada seolah mengkhawatirkan nasib mantan rekannya terlintas di benakku. ...Lebih baik aku pastikan dulu keraguanku. Jangan sampai kejadian, tapi...

Aku memutar tubuhku lagi, menghadap Hibi dan Baron.

"Dewa Naga...?"

Bisa ceritakan sedikit soal musafir itu?

Aku mengirimkan pikiran, dan Hibi mengangguk kecil lalu memejamkan mata.

'Musafir itu adalah seorang wanita yang mengunjungi pemukiman kami. Katanya dia diserang monster dan terluka... Dia butuh penawar racun, jadi kami sedang mengumpulkan tanaman obat sebagai bahannya.'

Hibi menyampaikannya lewat Telepathy. Semakin aku mendengarnya, semakin besar rasa ganjal di hatiku.

Masa sih. Tapi aku tidak punya bahan untuk menyangkalnya. Poin yang kuragukan juga jadi masuk akal. Apa ada sesuatu yang lebih pasti, yang bisa langsung memastikannya? Saat berpikir begitu, aku teringat.

Di mana letak luka si musafir itu? Aku bertanya dalam hati sambil menatap wajah Hibi.

'Di mana... ya. Di perut, bagian bawah. Untungnya untuk ukuran serangan monster buas lukanya dangkal, tapi tetap saja...'

Kecurigaan berubah jadi keyakinan. Hampir pasti itu Manticore. Setelah kena Poison Fang dariku dan kabur, sepertinya dia menyusup ke pemukiman suku Lithoviar menggunakan Art of Humanification.

Setelah puas memakan anak-anak di desa, begitu terluka dia berpura-pura jadi musafir untuk dapat pengobatan, benar-benar nyali baja. Kalau dibiarkan bisa gawat. Begitu lukanya sembuh total, dia pasti berniat memakan anak-anak lagi.

Aku melihat ke arah di mana Wight berada. Maaf, Wight. Sepertinya bakal agak lama pulangnya. Kampung halamanmu bakal kuberaskan kok, jadi tunggu sebentar lagi.

Melihat pergerakan mataku, Baron memiringkan kepala keheranan. Mungkin dia pikir aku mendeteksi hawa keberadaan monster. Saat aku mengembalikan leher, Hibi sedikit mengerutkan alis sambil tetap memejamkan mata.

Ups, bahaya. Aku menggelengkan kepala kecil, mengalihkan perhatian. Ketahuan soal Wight yang sekarang ke suku Lithoviar itu gawat.

Telepathy membaca pikiranku, jadi tergantung situasi, apa yang kupikirkan bisa terlacak. Aku ingin percaya dia cuma bisa menangkap apa yang diniatkan dengan kuat, tapi karena aku tidak bisa menggunakannya, aku tidak tahu sejauh mana kemampuannya. Lebih baik waspada.

Aku menekuk punggung dan merapikan diri di tanah. Dengan tatapan mata, aku menyuruh mereka berdua naik ke punggungku, lalu menurunkan leher ke tanah.

Hibi, tolong pandu jalan ke pemukiman.

Hibi berjalan mendekat perlahan, tapi Baron tetap diam di tempat. Dia menancapkan tombak ke tanah, memejamkan mata, dan menundukkan kepalanya ke depan. Jangan-jangan ada aturan cuma Miko yang boleh naik?

"Baron, tolong urus tanaman obatnya, ya."

"Siap! Aku akan usahakan walau sendirian!"

Oh, pembagian tugas ya. Tapi Baron sendirian, apa bisa memburu Abyss...?

Abyss bisa tiba-tiba menghilangkan hawa keberadaannya, atau membuat sosoknya tak bisa diikuti mata. Karena aku tidak mau melihat Abyss lama-lama jadi belum kucari tahu, tapi kemungkinan besar dia punya skill semacam itu.

Aku menyeka lendir krem yang menempel di tanganku ke tanah sambil berpikir. Waktu Abyss dan Baron bertarung tadi, Hibi terus meneriakkan sesuatu. Kupikir itu mantra, tapi kemungkinan itu instruksi gerakan untuk Baron. Setelah Abyss menghilang, suara Hibi makin keras berteriak.

Mungkin dia punya Presence Sense atau skill sejenis. Jangan-jangan tanpa bantuan itu, Baron bakal dimangsa serangan dadakan Abyss. Melihat kondisinya, sepertinya berkat bantuan Hibi-lah dia baru bisa unggul.

Kalau bisa sih pencarian tanaman obat ditunda dulu. Menurut prediksiku, tanaman obat itu tidak akan diperlukan lagi.

"Gaa"

"Ubuhaa! Dewa Naga!? Apa yang... apa yang..."

Sobatku yang dari tadi diam, tiba-tiba menggigit Baron dan mengangkatnya (hyoi). Kaki yang lepas dari tanah itu bergerak naik turun tanpa daya (pata pata).

Eh? Tu, tunggu, anak ini ngapain?

Sobatku menaruh Baron di punggungnya, lalu menatapku. Wajahnya seolah berkata 'Lama banget, gini aja kan beres'.

T, tolong lebih sopan dikit... bikin jantungan tahu. Lagian Baron, ada bekas gigi tuh. Nggak berdarah sih, tapi itu agak gawat kan. Kita ini monster. Walau kita anggap sepele, bagi manusia setiap gerakan kita itu teror. Baron ketakutan setengah mati tuh. Kalau salah sedikit bisa trauma lho. Sobat, lain kali hal kayak gini jangan...

"Be, bekas gigi Dewa Naga... Nona Hibi! Nona Hibi lihat ini! Ini, ini... lihat, lihat ini!"

Baron memutar lehernya, menemukan cekungan di pinggangnya, wajahnya memerah dan dia kegirangan.

...Orang itu, agak mesum ya. Aku jadi takut pergi ke pemukiman suku Lithoviar. Jangan-jangan isinya orang kayak Baron semua. Kalau aku dimintai tolong kasih bekas gigi juga aku bakal repot. Aku bakal pura-pura nggak ngerti bahasa manusia sekuat tenaga.

"Gaa..."

Sobatku juga tampaknya ilfeel beneran. Dia mengerutkan wajahnya sampai kelihatan jelas ekspresinya. Dia memanjangkan leher ke depan, terang-terangan menjauh dari Baron.

3

Dengan Hibi dan Baron di punggung, aku berlari membelah hutan. Arahnya kudapat dari Telepathy Hibi.

'Seberangi sungai... lalu lurus terus, harusnya akan terlihat.'

Aku melompati sungai dengan mudah. Dampak pendaratannya membuat tanah bergetar hebat, monster-monster yang muncul dari dalam tanah atau semak-semak langsung lari menjauh dariku.

Di tengah jalan, aku merasakan hawa keberadaan menyeramkan dari belakang. Karena tidak ingin mengurangi kecepatan, aku minta Sobatku mengecek ke depan, sementara aku sendiri menoleh ke belakang. Di dahan pohon jauh di belakang, lima kurcaci bercahaya putih remang-remang sedang duduk. Itu monster bernama Raran yang sebelumnya mau dimakan Sobatku. Bagian mata mereka yang sedikit cekung menatapku lekat-lekat.

T, tidak ada niat jahat kan? Cuma lihat ke sini doang kan? Serem banget sumpah.

'Awas nabrak pohon.'

Menerima peringatan Sobatku, aku segera mengembalikan leher ke depan dan menghindari rintangan.

'Para Roh Pohon itu juga pasti senang dengan kembalinya Dewa Naga. Karena Roh Pohon takut hutan dirusak sembarangan.'

Mungkin menyadari aku mempedulikan Raran dari pandanganku, Hibi menjelaskan lewat Telepathy.

B, begitu ya, mereka benci hutan dirusak ya. Waktu dengar dari God Voice, penjelasannya hidup dengan menyerap mana pohon... jadi begitu. Dewa Naga yang posisinya penjaga hutan mungkin sosok yang disyukuri juga oleh Raran. Aku yang menempati kuil Dewa Naga pasti jadi objek perhatian Raran juga.

Kecuali Baron yang mengelus-elus punggung dengan gerakan tangan aneh yang bikin Sobatku makin bete, perjalanan kami lancar-lancar saja.

'Si ini, gak kuat gue. Jatuhin aja lah.'

Biarin aja napa. Daripada ditebas pedang tanpa tanya-tanya kan mendingan. Aku pernah lari mendekati manusia dengan gembira malah dihajar sampai setengah mati tahu.

Setelah berlari cukup jauh, Presence Sense menangkap banyak hawa keberadaan. Rasa ini, manusia. Bukti kalau pemukiman sudah dekat. Aku mengurangi kecepatan, dan berhenti sekali di dekat gerbang yang terbuat dari kayu.

Ukuran gerbangnya tingginya pas-pasan kalau aku menunduk. Pemukiman suku Lithoviar dikelilingi pagar yang dibuat dari susunan tiang pancang. Tingginya bisa kulewati dengan mudah, tapi demi menekan kekacauan, biarkan aku masuk lewat gerbang. Daripada aku muncul tiba-tiba melompati pagar, masuk lewat gerbang dengan patuh pasti tidak akan terlalu menakuti penduduk.

Di samping gerbang, ada seorang pria memegang tombak. Penjaga gerbang.

"De, Dewa Naga!? No, Nona Hibi! Apa yang sebenarnya..."

Penjaga gerbang menjatuhkan tombak dari tangannya sambil menatapku, lalu mendekat dengan sempoyongan.

"Dewa Naga menaruh perhatian pada sang musafir. Karena itu aku membawanya."

Perhatian atau lebih tepatnya, permusuhan sih... Kalau cuma kekhawatiran berlebihan sih bagus, tapi musafir yang terluka di perut di saat begini cuma Manticore yang terpikirkan. Art of Humanification seharusnya memakan MP dalam jumlah besar jadi kupikir mungkin bukan... tapi waktunya terlalu pas. Mungkin ada celah skill yang tidak kuketahui. Aku tidak bisa tenang kalau tidak memastikannya sendiri.

Aku menekuk leher, melihat wajah Hibi di punggungku. Hibi sepertinya menangkap kalau ada yang ingin kukatakan, dia memejamkan mata.

Hibi, di mana musafir itu? Sebisa mungkin aku ingin orang-orang di dekat dia dijauhkan supaya si musafir tidak waspada. Bisa saja dia itu monster yang menyamar jadi manusia.

'...Begitu, jadi karena itu Anda buru-buru. Akan segera saya atur. Hanya saja musafir itu ada di balai pengobatan, jadi mungkin agak sulit mengevakuasi orang tanpa menimbulkan kecurigaan.'

Saat aku bertanya, jawaban datang lewat Telepathy. Setelah berkata begitu, Hibi melompat turun dari punggungku. Dia menekuk kakinya untuk meredam dampak dan mendarat dengan indah. Dia mengetukkan ujung kakinya ke tanah seolah mengecek kondisi kakinya, lalu berpindah ke depan penjaga gerbang.

"Gozu, pergilah ke balai pengobatan dan minta orang-orang yang terluka dipindahkan ke balai pertemuan. Jangan sebut soal Dewa Naga, pikirkan alasanmu sendiri supaya mereka mengerti. Boleh pakai namaku. Tapi, sampaikan pada musafir itu untuk tetap tidur di sana. Kalau musafir itu terlihat curiga, segera kembali ke sini dan lapor."

"B, baik!"

Nama penjaga gerbang itu Gozu rupanya. Gozu bahkan tidak memungut tombaknya yang jatuh, dia langsung berlari secepat kilat ke bagian dalam desa.

"Gaa!"

Sobatku memanjangkan leher, menggigit kepala Baron, dan menyeretnya turun ke tanah. Melihat interaksi Hibi dan Gozu barusan, dia memutuskan kalau tidak perlu menggendong Baron lagi.

"Uwoaaaa!"

Baron menghantam tanah, debu berterbangan di sekitar. I, itu agak berlebihan nggak sih?

"Gaua"

Saat Sobatku bersuara rendah, cahaya menyelimuti Baron. ...Setidaknya dia pakai High Rest ya.

Saat mengangkat wajah, terlihat bangunan-bangunan berjejer di kejauhan. Terbuat dari bata, satu per satu tidak terlalu besar, bentuknya silinder. Dari bayangan bangunan itu, anak-anak suku Lithoviar melihat ke sini dengan takut-takut. Tiga orang berjejer rukun. Untuk saat ini supaya tidak memberi tekanan, aku merangkak dan menundukkan badan. Ekspresi ketiga anak itu langsung bersinar cerah, dan mereka berlari ke arahku.

"Dewa Naga! Dewa Naga!" "Benaran balik lagi!"

...Rute dewa pelindung, seriusan mungkin nggak buruk. Gimana nih, apa aku menetap di sini selamanya aja ya.

4

Hibi yang berjalan di depan berhenti, lalu menoleh ke belakang. Dia memejamkan mata, dan mengangkat tongkatnya sama seperti sebelumnya.

'Di sana balai pengobatannya. Musafir itu ada di sana.'

Hibi mengirimkan Telepathy. Aku menyusutkan badan, bersembunyi di bayangan bangunan. Lalu memanjangkan leher (guuu), melihat ke arah balai pengobatan. Kemungkinan besar, Manticore ada di sana.

Kalau semua orang sudah keluar, aku akan mendekat sekaligus dan memastikan siapa yang ada di dalam. Kalau ketahuan itu monster, aku bakal hancurkan balai pengobatan itu seisinya sebelum dia melawan. Cuma itu cara menekan korban.

Untuk suku Lithoviar lainnya, biar mereka mengerti setelah melihat mayat Manticore. Kalau mikir yang nggak perlu dan buang-buang waktu, itu cuma memberi waktu buat Manticore berpikir.

Dari balai pengobatan, terlihat orang dewasa keluar menggendong anak suku Lithoviar yang kakinya buntung satu. Aku spontan membuang muka. Bertetangga dengan hutan berisi monster berbahaya. Hal seperti itu pasti terjadi.

Sepertinya semua sudah dievakuasi. Gozu harusnya datang melapor sesuai rencana, tapi...

"Itu Dewa Naga! Dewa Naga ada di desa! Nona Hibi, kenapa tidak memberitahu kami! Ki, kita tidak boleh begini saja, panggil yang lain sekarang..."

Dari belakang, terdengar suara parau. Saat menoleh, ada nenek tua yang pinggangnya sudah bengkok.

"...Sekarang bukan waktunya untuk itu. Menjauhlah dari balai pengobatan, pergilah ke balai pertemuan. Tolong sampaikan pada orang lain juga."

Hibi mengantisipasi jika Manticore mengamuk, jadi setiap melihat orang dia menyuruh mereka menjauh dari balai pengobatan.

"Mana ada hal yang lebih penting dari Dewa Naga! Nona Hibi yang seorang Miko, kenapa bicara omong kosong begitu!"

B, bukan, justru aku datang demi masalah itu.

"A, anu, Dewa Naga itu..."

Saat Hibi hendak membalas ucapan si nenek, aku merasakan firasat buruk yang tidak enak.

Aku melihat ke arah balai pengobatan yang sempat luput dari pantauan. Tiga orang, pria dan wanita, sedang keluar dari balai pengobatan. Satu adalah penjaga gerbang Gozu, satu lagi anak suku Lithoviar, dan yang ketiga adalah wanita jangkung yang mengenakan kain seperti jubah.

Wanita itu memakai tudung jubahnya sangat dalam, jadi wajahnya tidak bisa kulihat jelas. Tapi melihat perawakannya, hampir pasti itu perempuan. Dari celah jubah, rambut panjang ikal yang berantakan menjuntai keluar.

Mungkin mencoba menahan wanita berjubah itu, Gozu terlihat berusaha keras melontarkan kata-kata padanya. Tapi wanita berjubah itu tampaknya sama sekali tidak menggubris Gozu.

Tak salah lagi, wanita itu musafir yang dimaksud. Gawat, dia keluar karena tidak bisa dikelabui.

Gi, gimana nih. Kalau tidak cepat dipikirkan, bakal gawat banget.

Mata wanita itu yang sesekali terlihat dari balik jubah berbentuk menyipit ke atas, entah kenapa mirip dengan Manticore. Rambut cokelat ikal yang terasa kasar itu juga, tidak bisa dibilang tidak mirip dengan surai Manticore. Tapi, aku tidak punya bukti pasti. Untuk memastikannya dalam sekali lihat... ya cuma itu caranya.

image_00021

Jelas-jelas pelakunya woy. Tepat sasaran. Aku buru-buru menarik leherku.

Lagian, MP-nya hampir penuh gitu. Gimana ceritanya. Padahal aku pilih jalan menaikkan MP maksimal, kok ada ketidakadilan begini.

...S, sekarang bukan waktunya memikirkan itu. Harus tenang.

Suara langkah kaki makin menjauh. Mungkin dalam pembicaraan itu mereka jadi menuju ke balai pertemuan.

Saat aku memikirkan apa yang harus dilakukan, suara langkah kaki salah satu dari mereka berhenti. Diikuti oleh berhentinya langkah dua orang lainnya. Manticore juga harusnya punya Presence Sense. Apa dia, menyadari keberadaanku? Kalau begitu, sudah tidak ada waktu untuk ragu.

"Dewa Naga?"

Hibi memanggilku. Aku mengabaikannya dan melompat keluar dari bayangan bangunan.

"GUUOOOOOOOOO!"

Lari. Pokoknya, lari secepat mungkin. Sebelum Manticore memikirkan cara licik, aku akan menghajarnya.

Si musafir mengubah ekspresi wajahnya begitu melihatku. Dia pasti ingat waktu dihajar habis-habisan dan lari terbirit-birit sebelumnya. Musafir itu mengayunkan lengannya. Merobek kain yang menutupinya, lengan binatang yang kuat muncul. Manticore rupanya melepaskan Art of Humanification hanya pada satu lengannya.

"Guhaa!?"

Gozu terpental menggelinding di tanah akibat hantaman itu, tubuhnya menghantam sana-sini. Saat akhirnya berhenti, dia sudah berlumuran darah. Bahunya tampaknya robek oleh cakar saat dipukul.

"...Mu, musafir?"

Anak yang tertinggal mundur, menjauh dari Manticore.

"Guuooo!"

Aku mengayunkan lengan, memicu Wind Scythe.

Manticore mengangkat anak itu dengan tangan manusianya, menghindari pisau angin. Bahunya yang tergores menyemburkan darah, tapi dangkal. Pisau angin itu menebas pohon yang ada di belakang Manticore. Manticore melirik pohon yang tumbang itu, ekspresinya menjadi garang. Dia pasti kaget dengan kekuatan Wind Scythe.

Manticore mencengkeram leher anak yang digendongnya, lalu menyodorkannya ke arahku seperti tameng. Ancaman kalau aku menembak lagi dia bakal pakai anak itu buat menangkis ya. Sialan. Akhirnya dia ambil sandera juga.

"Agaa! Ti, tidak... tolong..."

Anak itu kesulitan bicara karena lehernya ditekan, berkata dengan suara serak.

Manticore memelototiku. Wajahnya sedikit berubah. Rambutnya makin ikal dan liar, matanya berubah menjadi ganas khas hewan liar. Bagian putih matanya berubah kuning, dan kulit di sekitar matanya mulai menghitam. Dari dalam mulutnya, taring tajam yang bukan milik manusia terlihat.

image_00022

"GEBAHAAAAA!"

Manticore membuka mulut lebarnya seolah mengancamku, dan meraung. Manticore langsung membawa anak itu dan lari masuk ke dalam bangunan di dekatnya. Si Manticore itu, kenapa dia malah sengaja masuk ke tempat sempit begitu... Ada sandera jadi aku tidak bisa menyerang, tapi tetap saja tidak ada gunanya sengaja masuk jalan buntu.

Aku mendekat ke bangunan itu dulu. Baru saja aku berpikir apa yang harus dilakukan, dinding di arah berlawanan runtuh dan Manticore melompat keluar. Dia sudah sepenuhnya melepaskan wujud manusianya. Kaki belakang yang diluruskan menendang puing-puing, tubuh raksasa binatang itu melayang di udara. Mendarat dengan kedua kaki depan, lalu terus berlari kencang.

Benar-benar cepat. Dia sepertinya sadar kalah tenaga dariku, jadi lari dengan kecepatan penuh.

Sempat terpikir untuk mengejar, tapi bayangan anak itu terlintas di kepala. Kenapa dia sengaja masuk ke dalam bangunan, alasannya baru kutahu kemudian. Bajingan itu, dia meninggalkan anak itu di bawah reruntuhan untuk mengulur waktu.

"GUUOOOOOOOOOO!!"

Sambil meraung, aku mengepakkan sayap lebar-lebar, menembakkan dua Wind Scythe ke punggung Manticore yang kabur, lalu satu lagi dengan sedikit jeda. Manticore melompat ke kiri dan kanan menghindar. Serangan yang kutembakkan ke arah prediksi gerakannya berhasil menyayat punggung Manticore.

"Gebaaa!"

Manticore menjerit tapi tetap lari tanpa mengurangi kecepatan. Bum, dia menghantamkan ujung ekornya yang seperti bola duri ke tanah, dan dengan pantulan itu dia melompat tinggi. Menginjak pagar yang mengelilingi desa sampai hancur, lalu kabur.

Benar-benar bajingan yang cuma bisa lari cepat. Sakit sekali rasanya gagal menghabisinya saat pertemuan pertama di mana dia meremehkanku. Untuk menghabisinya, sepertinya aku perlu menyusun strategi sebelumnya.

5

Aku melepaskan Manticore yang lari dari pandanganku. Memang menjengkelkan, tapi sekarang tidak ada pilihan lain selain mengikuti permainannya. Aku berbalik, melihat ke arah tumpukan puing yang dia runtuhkan.

Anak itu pasti terperangkap di dalamnya. Dengan kaki depan, aku mengais bata dengan hati-hati.

"Guooo"

"U, uu..."

Saat aku memanggil, suara erangan membalas. Syukurlah, masih hidup. Ada di sini ya.

Aku menyingkirkan bata yang runtuh dengan telaten. Warna kulit terlihat di sela-sela puing. Aku melirik Sobatku.

"Gaa"

Sobatku menggonggong, cahaya membungkus anak yang tertindih puing. Lukanya sembuh. Ekspresi kesakitan anak itu agak mereda.

Aku mengangkat anak itu dengan kaki depan, memindahkannya, dan membaringkannya di tanah. Anak itu membuka mata tipis-tipis. Matanya berkaca-kaca, pipinya sedikit merona. Entah bagaimana, ekspresinya terlihat sangat terpesona.

"Te, te, terima kasih... Dewa Naga..."

Kelenjar air mataku jadi ikutan longgar. Aku mengusap mata dengan kaki depan, tanganku sedikit basah.

"Dewa Naga mengusir Manticore yang menyamar jadi manusia!"

"Lihat nggak Manticore tadi lari terbirit-birit! Memang hebat Dewa Naga!"

Penduduk desa yang menonton mulai berkumpul. Penduduk yang tadi mengungsi sepertinya juga mendengar kabar itu, terlihat berlari terburu-buru ke arah sini dari kejauhan.

A, aduh. Jarang-jarang dilihat dengan tatapan begini, rasanya jadi geli-geli senang. Sebesar apa sih popularitas Dewa Naga. Udahlah aku jadi Dewa Naga aja. Boleh kan. Uwah, gimana nih kalau Dewa Naga asli balik, beneran gimana nih.

Hibi mendekatiku. Dia mengangkat tongkatnya lagi dan memejamkan mata, mengambil ancang-ancang Telepathy.

'Tidak disangka musafir itu ternyata monster. Ini kelalaian saya. Kalau Dewa Naga tidak kembali, entah apa yang akan terjadi...'

Daripada itu, aku cemas karena gagal membunuhnya. Manticore itu, jangan-jangan balik lagi menyerang manusia...

'Kalau soal itu, jangan khawatir. Manticore itu sangat ketakutan. Dia waspada pada Dewa Naga, jadi seharusnya tidak akan menampakkan diri di sini untuk sementara waktu. Lagipula, arah itu juga... yah, boleh dibilang justru bagus.'

Justru bagus? Kenapa...

'...Bukan hal yang perlu disampaikan pada Dewa Naga. Pokoknya, untuk sementara kita tidak perlu waspada.'

...Dibilang begitu malah makin penasaran. Y, yah sudahlah. Suku Lithoviar mungkin punya urusan dapur mereka sendiri. Hibi juga wajahnya kelihatan tidak mau bicara banyak.

Nah... bukan waktunya berbesar kepala karena dipuja-puja. Aku meninggalkan Wight dan Treant di dalam hutan. Sejak saat itu, sudah lumayan banyak waktu berlalu.

"Siapkan perjamuan untuk Dewa Naga!" "Ba, baik! Makanannya, jenis apa..." "Semuanya keluarkan! Kumpulkan dulu izinnya belakangan!"

Terlihat penduduk desa ribut (gyaa gyaa).

Tunggu bentar! Aku mau pulang! Maaf ya aku ada urusan! Perasaannya aku terima dengan senang hati kok! Nona Hibi tolong! Maaf tapi tolong sampaikan aku mau pulang!

"Ooh! Dewa Naga melihatku!"

Semua orang heboh menanggapi setiap gerak-gerikku. Rasanya nggak tenang. Keringat dingin mulai keluar nih. Lihat sana lihat sini, tatapan penuh semangat diarahkan padaku.

"Guaaa..."

Sobatku juga ciut nyalinya dan menyusutkan leher. Baru kali ini lihat dia yang biasanya santai dan penuh rasa ingin tahu jadi setakut ini.

...Hanya satu orang, seorang wanita yang menatapku tajam dengan mata menyipit. Umurnya tiga puluhan... m, masuk atau belum ya. Ekspresinya suram, pipinya tirus. Wajahnya kuyu. Sebenarnya mungkin dia lebih muda dari dugaanku. Karena semua orang menatapku dengan hangat, dia jadi langsung mencolok.

Tanpa sadar aku menghentikan wajahku. Begitu mata kami bertemu, dia membuang muka dengan canggung, lalu lari masuk ke bangunan terdekat seolah melarikan diri. Di tengah keributan orang banyak, orang-orang menatap heran pada wanita yang pergi sendirian itu. A, ada apa?

'...Tolong jangan tersinggung. Nanti akan saya bicarakan dengannya. Jadi mohon, maafkanlah.'

Hibi membaca permukaan hatiku mungkin, dia mengirim Telepathy begitu. Mungkin dia pikir aku marah, Telepathy-nya tidak bertenaga, terasa perasaan cemas.

Bukan, itu sih nggak apa-apa... tapi, apa aku melakukan kesalahan?

'Bukan, bukan begitu. Dia itu... bagaimana bilangnya ya... ya, dia sedang lelah. Jangan berpikir buruk tentangnya.'

Apa ada hubungannya denganku? Itu saja yang ingin kudengar.

Hibi tampaknya agak ragu apakah harus bicara atau tidak, tapi setelah jeda sejenak dia mengirim Telepathy.

'...Namanya Aino. Aino punya seorang anak tapi... anak itu dibunuh oleh Manticore.'

...Kalau dilihat dari sudut pandang tertentu, aku terlihat pergi seenaknya dan balik seenaknya. Selama Dewa Naga nggak ada, kuil diambil alih monster, anak dimakan... terus tiba-tiba aku balik begitu saja. Jelas lah nggak bisa punya kesan bagus. Penduduk desa lain yang menyambutku dengan tangan terbuka pun, mungkin ada kecemasan bercampur kalau aku bakal pergi lagi.

Aku menatap langit. Dewa Naga asli, ke mana kau pergi sih. Sudah dibuatkan kuil dan hidup bersama bertahun-tahun, setidaknya bilang sesuatu kek sebelum pergi. Apa cuma karena dapat persembahan jadi mau nolongin? Karena aku punya ingatan masa lalu, bagiku manusia itu spesial, tapi bagi naga lain mungkin manusia cuma satu dari sekian banyak spesies hewan.

...Duh, bukan waktunya melankolis. Sebaiknya aku segera keluar dari pemukiman ini.

Kalau tidak cepat Wight bisa... hm? Jangan-jangan, Wight itu putrinya Aino?

T, tidak, tidak ada dasarnya sih, dan manusia yang dimakan Manticore pasti banyak... tapi tetap saja, rasanya mengganjal.

Aku berbalik menghadap Hibi. Hibi menyadari aku ingin menyampaikan sesuatu, dia memejamkan mata.

Putri Aino itu, siapa namanya?

'Putri Aino, namanya Aro. Masih belum genap sepuluh tahun, gadis kecil yang sangat manis.'

Aro... ya. Umurnya juga, kalau dilihat dari kerangka itu, sepertinya dekat.

'Dewa Naga?'

T, tidak, makasih sudah memberitahu. Kalau begitu aku ada hal yang harus dikerjakan, jadi aku izin pamit dari sini. Tolong jelaskan dengan baik pada yang lain.

'Benar-benar sudah mau pergi? Mumpung Anda di sini...'

Aku menggelengkan kepala, memunggungi Hibi. Jalan di depanku juga tertutup orang, tapi saat aku menggerakkan leher (kui kui), mereka minggir. Kelihatannya agak kecewa.

N, nanti aku datang lagi. Nanti, kalau Wight sudah agak lebih kuat...

© 2026 Yozuku Novel Admin. All rights reserved.