Bab 1: Wilayah Baru

Volume 5 - Chapter 1

February 6, 2026


1

image_00007

Aku menyipitkan mata menantang angin yang menerpa wajah. Kalau sekadar angin yang membelai sisik dan sayap sih masih terasa nyaman, tapi sensasi permukaan mata yang dikeringkan angin ini rasanya sulit untuk kubiasakan.

Meski begitu, terbang bebas di angkasa begini bukan perasaan yang buruk. Entah bagaimana, rasanya isi kepalaku jadi benar-benar segar. Ini pasti sensasi yang takkan pernah bisa kurasakan di kehidupanku yang sebelumnya.

Skill Flight juga terasa jauh lebih mulus, mungkin berkat kenaikan level setelah berevolusi menjadi Ouroboros. Ditambah lagi dengan stamina bawaanku yang tinggi, rasanya aku bisa terbang ke mana saja.

Penghuni lain di tubuhku, kepala kedua dari naga berkepala dua Ouroboros—si Partner—sepertinya sependapat denganku. Dia memandang dunia bawah dengan suasana hati yang riang. Kalau dia senang begini, aku juga jadi merasa lega.

Setelah mengalahkan Sang Pahlawan di negeri Harenae dan mengantar Nina serta Ball Rabbit ke negeri Ardesia atas saran Adoff, aku terus terbang ke arah timur. Menurut perkataan Adoff, jika aku terus lurus ke timur, ada hutan luas yang cocok untuk ditinggali olehku.

Mengikuti arah pandangan Partner ke daratan di bawah, aku mulai melihat vegetasi yang tumbuh jarang-jarang dengan sebuah sungai besar sebagai pembatasnya. Bagian hilirnya mengarah ke laut. Saat aku melihat ke arah hulu, tampaklah sebuah hutan besar.

Itu pasti hutan yang dimaksud Adoff, tempat di mana banyak pahlawan gugur. Katanya ada suku barbar berbahaya bernama suku Lithoviar yang tinggal di sana. Mungkin tempatnya mengerikan, tapi aku tidak tahu tempat lain lagi...

...Yah, Ouroboros itu tangguh, jadi aku tidak akan mati semudah itu. Kalau keadaan mendesak, aku bisa terbang dan kabur. Karena Adoff yang merekomendasikannya, aku ingin percaya kalau hutan itu tidak sebrutal itu.

Tapi, sungai yang mengarah ke laut ini... jangan-jangan ini sungai di dasar tebing tempat aku hanyut saat bertarung melawan Slime dulu? Kalau benar begitu, alasan kenapa aku terdampar di pantai waktu itu jadi masuk akal.

Hanya saja, waktu itu tidak ada suku Lithoviar, dan monster yang hidup di sana juga seingatku tidak ada yang terlalu berbahaya. Kemungkinan besar tempat ini terhubung dengan hutan tempatku dulu tinggal... itu teori yang paling masuk akal. Kalau aku menyusuri hulu sungai, apakah suatu saat aku akan sampai di hutan tempat Black Lizard dan Shoujou berada?

Biarpun begitu, karena aku belum bisa mengendalikan Dragon Scale Powder, aku belum bisa menemui mereka... Desa itu juga pasti bakal gempar kalau tahu ada naga berkepala dua raksasa muncul di dekat sana.

...Yah, walaupun benar-benar terhubung, hutan ini pasti sangat luas. Asalkan aku tidak menyusuri sungai sembarangan, kemungkinan bertemu mereka kecil. Suatu hari nanti, kalau aku sudah berevolusi ke wujud yang lebih layak, saat itulah aku akan menyusuri sungai ini.

Masalahnya, apa aku bisa memperbaiki jalur evolusiku dari sini...?

Melihat pilihan evolusi sebelumnya, termasuk Ouroboros, semuanya sudah seperti monster bos terakhir. Kuharap skill aneh bernama Path of Humanity yang berpindah dari Pahlawan itu bisa memberi pengaruh pada pilihan evolusiku nanti. Mengingat itu skill milik orang itu, aku cuma punya firasat buruk, tapi setidaknya dia itu Pahlawan, jadi semoga... ada rute naga yang lebih "kepahlawanan" yang terbuka.

Sebentar, coba aku cek lagi.

image_00008

Hmm... Path of Humanity itu salah satu dari Enam Jalan (Rokudo), kan? Bukannya itu konsep reinkarnasi dalam agama Buddha?

Kenapa nama seperti itu ada di sini... ah, dipikirkan pun aku takkan paham. Aku tidak tahu apa artinya, tapi kalau benar ini merujuk pada Enam Jalan, apa berarti ada lima skill lain yang serupa? Jujur saja, kalau boleh memilih, aku tidak mau terlibat dengan hal-hal begituan lagi...

Tapi, statusku benar-benar naik gila-gilaan ya. Batas level maks yang tinggi berarti statusku akan terus naik sebanyak itu. Apa jangan-jangan sudah tidak ada lagi yang bisa mengalahkanku?

Untuk saat ini, setelah sampai di hutan dan tenang sedikit, aku harus mengecek Soul Append: Fake Life dan Path of Humanity. Setelah itu, baru mencari tempat tidur dan makanan. Kuharap ada monster yang enak dimakan.

2

Setelah mendarat dengan selamat di hutan, aku memutuskan untuk menyusuri sungai. Posisi sumber air harus diketahui dengan pasti, kalau tidak bakal repot. Sebaliknya, asalkan air aman, biarpun mangsa agak susah dicari, aku masih bisa bertahan.

Sambil berjalan, aku akan memeriksa skill baru yang kudapatkan. Aku sebenarnya tidak terlalu ingin mengandalkannya, tapi... Wahai God Voice, tolong dicek. Pertama, yang paling mencurigakan... Soul Append: Fake Life.

Skill Normal: Soul Append: Fake LifeMemberikan kehidupan palsu pada benda mati.

...Eeh, skill sihir pembangkit mayat? Tapi bagian "palsu" itu terdengar menyeramkan... Mungkin bukan menghidupkan kembali secara normal. Pasti jadinya kayak zombie gitu, kan.

...Hmm, nanti kucoba pada monster atau apa. Kalau bisa dikuasai, mungkin bakal berguna. Walaupun aku belum terbayang kegunaan spesifiknya.

Lalu... berikutnya, yang lebih mencurigakan lagi. Serius deh, nggak ada skill yang bener. Tapi aku agak ragu apakah yang ini bisa dicek infonya atau tidak...

Skill Suci: Path of HumanityMendapatkan otoritas untuk menguasai dunia manusia. Kekuatan aslinya telah hilang, namun memberikan pengaruh besar pada evolusi selanjutnya.

...K, keluar sih infonya, tapi deskripsinya abstrak banget. Ini skill tanpa level... jadi anggap saja kayak Skill Gelar kali ya. Bagus sih kalau bisa mempengaruhi evolusi, tapi aku tidak bisa merasa senang sepenuhnya. Namanya saja Path of Humanity alias Jalan Manusia, jadi rasanya takkan jadi sesuatu yang mengerikan, tapi justru karena terdengar terlalu suci malah jadi mencurigakan...

"Gaa! Gaa!"

Kepala kiriku, si Partner, memanjangkan lehernya ke arah sungai. Sepertinya dia haus. Aku mensejajarkan diri dengan Partner dan minum dari sungai. Sambil minum, aku melirik ke kiri. Partner minum dengan heboh sampai air berkecipak ke mana-mana. Ada kotoran gigi atau semacamnya yang ikut hanyut. ...Untung aku ada di sisi hulu.

Saat mengangkat kepala, aku melihat bangunan batu sederhana di seberang sungai. Pintu masuknya sepertinya ada di sisi sebaliknya. Tingginya sekitar empat meter lebih sedikit. Lebarnya juga hampir empat meter, dan kedalamannya hampir sepuluh meter. Lumayan besar. Tanpa perlu menunduk pun, tubuh raksasaku bisa masuk sepenuhnya. Dekat dengan sungai juga, sepertinya pas untuk tempat tinggal. Mungkin tidak buruk menjadikan tempat itu markas untuk sementara waktu.

Aku merentangkan sayap dan melompati sungai. Tanah bergetar akibat dampak pendaratanku. Ups, harus bergerak lebih hati-hati. Suara barusan mungkin memancing monster di sekitar. Katanya ada makhluk berbahaya di sini. Apa ya namanya... ah iya, suku Lithoviar. Katanya mereka disebut suku iblis yang berbahaya.

Aku mendekati bangunan batu itu sambil meredam suara langkah kaki. Saat berjalan memutar, aku melihat patung naga berjejer di kedua sisi pintu masuk. Tidak, itu bukan naga biasa. Kepalanya ada dua. Naga berkepala dua sepertiku. Hooh, detailnya cukup bagus. Coba kulihat lebih dekat.

Saat jarak menipis, hawa keberadaan monster tercium dari dalam bangunan. Hawanya cukup besar. Wah, rupanya sudah ada penghuninya. Mendekat tanpa rencana mungkin berbahaya. Saat aku berpikir untuk membiarkannya saja dan hendak berbalik, Partner bersuara.

"Gaa?"

Dia seolah bertanya padaku, apa boleh kabur begitu saja? Melihat wajah dan suara Partner, entah kenapa aku bisa menangkap apa yang ingin dia katakan. Apa ini berkat skill Mutual Understanding?

"A... ti, tidak... Kyaaaaaa!"

Sedang aku berpikir apa ada yang mengganjal... tiba-tiba terdengar jeritan dari arah bangunan.

Jangan-jangan, ada manusia di dekat monster itu!? Setelah melacak dengan teliti menggunakan Presence Sense, aku tahu ada sekitar dua orang manusia. Aku buru-buru memutar ke arah pintu masuk bangunan.

"Guooooooo!"

Aku mengaum untuk menarik perhatian monster itu. Menunjukkan permusuhan secara terang-terangan memang menghilangkan kesempatan serangan dadakan, tapi mau bagaimana lagi. Menghindari pohon-pohon yang menghalangi pun terasa membuang waktu, jadi aku menabrak dan mematahkannya begitu saja.

Dari dalam bangunan, terdengar suara sesuatu bangkit berdiri. Detik berikutnya, sesosok monster kuning melompat keluar dari pintu masuk.

"Geba geba gebaa!"

Sambil mengeluarkan suara yang luar biasa keras, makhluk itu menoleh ke arahku. Panjang tubuhnya mungkin hampir tujuh meter. Ukuran tubuhnya hampir sama denganku.

Wujudnya seperti singa raksasa. Bulunya berwarna kuning, dengan surai cokelat kemerahan menutupi sekitar wajahnya. Ujung ekornya yang panjang berbentuk seperti bola berduri, dan wajahnya memiliki struktur mengerikan yang merupakan campuran antara wanita manusia dan macan tutul. Ujung kanan mulutnya basah oleh darah, dan tubuh bagian atas seorang anak manusia terlihat menyembul dari sana. Perut anak itu tertembus taringnya. Benar-benar kejam.

Aku membeku, saling berhadapan dengan monster itu. Kalau aku melakukan gerakan yang memprovokasi, monster itu bisa saja langsung menggigit mati anak yang ada di mulutnya. Tapi kalau aku bergerak, dia juga akan bergerak. Sambil menjaga kondisi saling menahan diri ini, aku mengecek statusnya.

image_00009

Manticore... ya. Mungkin ini pertama kalinya aku melihat monster yang benar-benar meneriakkan kata "Monster" dari penampilannya. Singa berwajah manusia, yang benar saja.

Status ini... tipe spesialis fisik murni ya... Peringkatnya di bawahku, dan secara keseluruhan statusku lebih unggul, tapi kekalahanku dalam hal kecepatan itu yang bikin repot. Soalnya kecepatan lebih tinggi atau rendah itu berpengaruh besar.

...Hm? D, dia punya Art of Humanification juga ternyata. Mana level skill-nya satu tingkat di atasku lagi. Cemburuku meledak nih. Kau pasti nggak butuh itu kan.

...Y, yah, itu tidak penting sekarang. Skill itu tidak ada hubungannya dalam pertarungan.

Partner. Tolong sembuhkan anak yang digigit itu. Kalau dibiarkan dia bisa mati.

Aku memanggil dalam hati, dan Partner mengangguk kecil.

"Gaa!"

Cahaya High Rest menyelimuti mulut Manticore.

Tangan anak itu bergerak sedikit. Dia masih hidup. Aku harus memisahkannya entah bagaimana caranya.

"Geba geba gebaa!"

Saat Manticore menggerakkan mulutnya, taringnya makin menancap di punggung anak itu. Satu gerakan saja dari makhluk itu bisa membunuh si anak.

Manticore sepertinya menganggap High Rest-ku sebagai provokasi, dan langsung melompat menerjang.

Selain kecepatan, statusku jauh lebih tinggi. Aku tidak akan memikirkan untuk menghindar dari awal, tapi menahan serangan dengan pasti, lalu mencari celah untuk menghantamkan serangan balasan sekuat tenaga. Dengan status itu, dua kali pukul saja harusnya cukup untuk mengalahkannya. Tumben untuk monster tingkat tinggi, dia sama sekali tidak punya skill penyembuhan.

"Gebahaa!"

Manticore melompat tepat di depanku, mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Serangan cakar. Aku memutar sayap ke depan tubuhku untuk mengganggu serangannya. Manticore mengaitkan cakarnya di sayapku, berputar di udara, lalu melwati atasku. Saat itu punggungku tergores, rasa sakit yang tajam menjalar.

Aku mencoba mengincar Manticore dengan ekorku berdasarkan perkiraan posisi, tapi seranganku meleset.

Waspada akan serangan susulan, aku melompat jauh ke depan sambil membalikkan badan, kembali berhadapan dengan Manticore.

Sial, daripada bertahan setengah-setengah, harusnya aku terima saja serangannya dari depan sekalian. Toh HP-ku ada banyak sampai busuk.

"Gebahahahaa!"

Mungkin karena merasa di atas angin setelah serangannya berhasil, Manticore kembali menyerbu. Oke, kali ini bakal kutebas sungguhan. Tapi kalau aku terlalu santai, dia bakal waspada.

Aku menembakkan tiga Kamaitachi ke arah Manticore yang berlari.

"Geba geba gebaa!"

Manticore bergerak ke kiri dan kanan untuk menghindar. Seolah mengejek serangan macam itu takkan mengenainya.

Manticore menendang tanah dan melompat. Posisinya persis sama dengan yang tadi. Terlihat jelas kesombongan dan arogansi yang berkata 'coba hindari kalau bisa'.

Kalau begini aku bisa menyambutnya... tidak, jangan melakukan hal yang tidak perlu. Main aman, main aman. Kalau aku bergerak sembarangan, kemungkinan besar dia akan melakukan gerakan tak terduga lagi seperti tadi.

Aku mundur setengah langkah, lalu menjatuhkan leherku ke depan. Cakar Manticore menancap di bahuku. Mengincar momen itu, aku menggigit perut Manticore. Skill Poison Fang. Akan kualirkan racun sebanyak-banyaknya.

"Geba!?"

Setelah itu, aku menendang Manticore yang meronta dengan kaki depanku. Tubuh Manticore terpental menggelinding sambil menghantam pohon. Manticore jatuh dengan mudah, perutnya menghadap ke atas. Dari perut yang kugigit tadi, darah mengucur deras.

Padahal tadi sombong sekali, ternyata kalahnya gampang ya. Yah, wajar sih. HP dan pertahanannya tidak terlalu tinggi. Ditambah lagi tidak punya skill penyembuhan. Kurang alot, kurang alot.

Aku melepaskan Kamaitachi ringan ke arah mulut Manticore yang setengah terbuka.

"Geba..."

Wajah manusia itu menoleh ke arah berlawanan seperti ditampar. Anak berlumuran darah yang digigitnya jatuh dari mulutnya. Bagus, target utama tercapai. Selanjutnya tinggal memanggang Manticore ini untuk makan malam sambil menjaga agar dia tidak fokus ke anak itu lagi.

Manticore bangkit berdiri dengan napas kasar.

"Geba geba... Geba..."

Satu serangan lagi, aku menang. Ayo sini maju. Mau lompat dengan lintasan yang sama lagi? Ooh? ...Ups, jangan lengah. Ada istilah hewan terluka lebih berbahaya, justru karena sudah terpojok aku harus menyelesaikannya dengan pasti.

".......Geba."

Nah, skill apa yang akan dia pakai... saat aku bersiaga, Manticore mengangkat kaki depannya, bertumpu pada kaki belakang, dan dengan cepat memutar balik badannya. Debu sedikit berterbangan. Begitu memunggungiku, dia menurunkan kaki depan dan lari tunggang langgang secepat kilat. Gerakan yang sangat mulus.

Woi, kabur ya... Y, yah, kalau dipikir secara logis siapa pun bakal begitu sih. Serangannya nggak mempan, kalau kena pukul sakit banget. Aku juga kalau di posisi dia pasti kabur sekuat tenaga.

Cuma dalam hal kecepatan aku kalah, jadi kalau dia kabur dengan tekad bulat begitu, aku tidak bisa apa-apa. Mungkin aku bisa mengejarnya dengan Roll, tapi sekarang anak yang terluka itu prioritas.

Manticore sudah kena status racun, dan pendarahannya juga parah. HP-nya juga tidak terlalu tinggi. Mungkin nanti mayatnya bisa ditemukan, jadi coba kucari saja nanti.

3

Aku berlari ke tempat Manticore tadi berada. Ada seorang anak yang masih berdarah dari bagian perutnya.

"Gaa!"

Saat Partner bersuara, lukanya mulai menutup. Wajahnya masih pucat, tapi sepertinya dia masih hidup. Syukurlah masih sempat.

Level Skill Gelar Hero naik dari 1 menjadi 2.

Oh, naik. Ini... boleh dinaikkan kan? Mengingat itu punya si Pahlawan menyebalkan, imejnya jadi jelek banget...

Yah, sekarang anak ini lebih penting. Umurnya mungkin sekitar sepuluh tahun. Kulitnya putih, dan ada garis-garis yang digambar di bawah matanya. Dia mengenakan gaun hitam berlengan panjang yang agak unik. Terlihat seperti pakaian adat. Coba kucek apa ada status abnormal aneh.

image_00010

Kalau cuma pingsan sih sepertinya aman. Cuma sebentar, dia pasti segera sadar.

Wah, syukurlah. Dengan perbedaan status segitu, kalau digigit Manticore dengan telak dia pasti mati seketika, hebat juga bisa selamat. Apa Manticore itu punya hobi menyiksa?

Wajahnya kelihatan licik, dan Skill Gelarnya juga tidak ada yang benar, jadi kemungkinan itu ada. Bukan hal yang menyenangkan, tapi kalau berkat itu aku jadi sempat menolongnya, ya untunglah.

...Hm? Eh, ras anak ini... rasanya pernah lihat di mana gitu...

'Hanya manusia biasa sepertinya tak mungkin ada... tapi kudengar ada Suku Lithoviar, suku berbahaya yang diklasifikasikan sebagai ras iblis yang tinggal di sana.'

...Ini kan yang dibilang Adoff. Katanya hutannya luas jadi kecil kemungkinan bertemu, tapi ini baru sampai sudah encounter aja. Eh, aman kan? Pas sadar nanti dia nggak bakal buka mulut lebar-lebar terus menggigitku kan?

Statusnya juga tidak tinggi-tinggi amat, tidak ada skill aneh juga. Benar-benar cuma manusia biasa. Kalau dilihat wajah tidurnya, cuma kelihatan seperti gadis manis biasa. Katanya ras iblis, tapi tidak ada peringkatnya, ini mah masuk klasifikasi manusia kan.

Tiba-tiba, aku merasakan hawa keberadaan dari belakang. Omong-omong, tadi hawa manusianya ada dua ya. Saat menoleh, aku melihat seorang gadis sedang menatapku dari dalam bangunan batu. Pakaiannya pada dasarnya sama, tapi dia memakai syal panjang di kepalanya yang menjuntai sampai ke lengan. Wajahnya memakai topeng. Topeng bulat dengan sesuatu yang mirip tanduk.

Syal... atau lebih tepatnya dia memakai kain yang dijahitkan pada topeng sebagai penutup kepala. Di tangannya, dia memegang satu lagi kain yang dijahitkan pada topeng. Mungkin itu milik gadis yang terbaring di sini.

Kupikir dia akan takut mendekat kalau ada aku, jadi aku mundur selangkah. Gadis itu berlari ke arah sini, lalu memakaikan kain itu ke kepala anak yang pingsan. Setelah itu, dia menatapku dengan takut-takut.

"T, teri, makasih, Dewa Naga."

Dia menundukkan kepala. Lalu dia memanggul gadis yang pingsan itu dan berlari pergi entah ke mana.

...Diberi ucapan terima kasih itu rasanya menyenangkan ya. Kupikir dia bakal melempar batu ke mukaku atau apa. Tapi Dewa Naga itu apa? Apa ada legenda tentang naga yang mirip denganku? Naga berkepala dua rasanya jarang ada sih...

Sambil memikirkan hal itu, aku menoleh ke bangunan batu. Patung naga berkepala dua di pintu masuk langsung menarik perhatianku. Jelas banget itu patungku.

Eh, apa, jangan-jangan itu kuil Dewa Naga atau semacamnya? Kalau dilihat dari kejadian barusan, yang membangun suku Lithoviar kan? Wah, apa ini masaku telah tiba? Masa populerku datang? Apa-apaan nih, hidup suku Lithoviar!

Ta, tapi aku punya Dragon Scale Powder... Y, yah, jangan menghitung ayam sebelum menetas, memikirkannya sekarang pun percuma. Tenang, tenang, diriku. Bisa saja nanti rombongan orang dewasa datang menyerbu dan menghancurkan kuil ini. Kalau senang duluan nanti sakitnya parah kalau dikhianati. Aku tidak akan geer semudah itu. Aku menggelengkan kepala, mengusir khayalan itu.

Sekarang, cek kuil dulu. Ini akan jadi rumahku mulai sekarang. Aku memasukkan kepala ke dalam kuil. Tulang belulang monster dan bekas darah berserakan di sekitar. Agak kotor, tapi mau bagaimana lagi...

Siapa tahu ada makanan... saat aku memiringkan kepala, aku melihat makhluk aneh. Penampilannya seperti dango (bola) berbulu, ukurannya sedikit lebih besar dari manusia. Satu tentakel panjang bergerak-gerak... gehh, itu laba-laba kan... Sepertinya dia dalam posisi terbalik, dan semua kakinya kecuali satu sudah dicabuti. Dasar Manticore, kejam sekali.

...Hmm, kupikir itu tiga bola dango, ternyata ada gumpalan kepompong yang menempel di perutnya. Apa ini telur? Kupikir laba-laba meninggalkan telurnya di sarang. Ternyata dia membungkusnya dengan benang dan menempelkannya di tubuh untuk melindunginya ya.

Rasanya laba-laba itu melirikku sekilas. Lalu gerakan kakinya berhenti. Kupikir dia mencoba agar tidak ketahuan, tapi kemudian laba-laba itu menggerakkan kakinya dengan lembut dan tenang. Tidak terlihat menderita seperti tadi.

Aku mengangguk kecil, lalu menancapkan cakar ke laba-laba itu untuk membunuhnya. Membiarkannya begitu saja rasanya justru tidak tega.

Mendapatkan 40 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 40 poin pengalaman.

Mungkin karena sudah sekarat, poin pengalamannya sedikit. Nah, tubuh laba-laba ini... aku tidak nafsu memakannya. Kubur saja di suatu tempat. Aku menancapkan cakar ke bagian perutnya, dan memisahkan kantung telur itu dari si laba-laba dengan hati-hati.

Nah, ini diapakan ya... eh, ke mana perginya?

"Gaa! Gaa!"

Partner menempelkan kantung telur itu di dahinya dan meliuk-liukkan lehernya dengan senang. ...Kau ngapain?

4

Pertama-tama, aku mencari sesuatu yang bisa dimakan di seluruh sudut kuil. Selain laba-laba tanpa kaki (sudah dieksekusi) dan kantung telur laba-laba (sedang dipakai di kepala Partner), ada daging busuk yang dikerubungi lalat... dan tulang manusia. Tulangnya masih kecil, sepertinya anak-anak. Kelihatannya sudah mati cukup lama. Mungkin anak suku Lithoviar yang dibawa oleh Manticore. Jangan-jangan Manticore itu memang cuma mengincar anak-anak.

"Guo..."

Aku masih menyesal tidak bisa menghabisi monster itu. Dia terlalu cepat. Harusnya aku habisi sekaligus saat dia lengah. Manticore itu mungkin sedang memangsa anak-anak atau induk monster yang membawa telur di tempat yang tidak kuketahui. Memikirkan itu membuatku kesal.

"Gaa gaa!"

...Tanpa mempedulikan perasaanku, Partner yang menempelkan kantung telur di dahinya tampak kegirangan. Yah, aku tidak berniat memaksanya ikut sedih sih. Namanya juga monster. Melihat tulang manusia pun pasti tidak merasakan apa-apa.

...Tapi, apa dia benar-benar senang? Jangan-jangan dia cuma mau makan, terus pas mendekatkan wajah malah menempel di dahi?

"Gaa! Gua!"

Sekalinya terpikir begitu, aku jadi yakin itu yang terjadi. Padahal punya skill Mutual Understanding, tapi susah juga dipahami. Kadang-kadang sih terasa koneksinya.

Saat aku mengangkat kaki depan untuk mengambilnya, Partner menarik lehernya dengan cepat dan memelototiku.

"Gua!"

Suara yang lebih tajam dari tadi. Terdengar seperti mengancam.

Ada apa? Kau beneran mau memeliharanya?

"Gaa."

Partner mengangguk. Oh, nyambung.

Bukan itu woy! Buat apa melihara laba-laba! Memelihara makhluk hidup itu bukan mainan tahu! Lagian itu jelas-jelas monster!

Partner menarik lehernya jauh ke belakang, menolak menyerahkannya. D, dasar keras kepala...

Hmh... coba kucek dulu jenis spesies mayat laba-laba tadi.

[[Aranea]: Monster Peringkat C]Laba-laba besar berbulu.Sifatnya tenang, tapi menjadi ganas saat membawa kantung telur di tubuhnya.Ahli menggunakan benang bahkan di antara jenis laba-laba lainnya.

...Tenang ya. Yah, kalau cuma Peringkat C sih masih bisa diatasi. Ya sudahlah, biarkan dia pelihara sampai puas. Setelah lahir mungkin bakal susah diurus, tapi sampai menetas biarlah kulindungi. Induk laba-laba tadi juga rasanya seperti menitipkannya padaku di saat terakhir.

Sekarang, kubur daging busuk dan tulang ini di luar... Tidak, tulang ini apa sebaiknya kubawa pulang ke mereka? Rasanya kok malah bakal menimbulkan salah paham ya... Aku juga bakal ngamuk kalau ada naga datang bawa tulang temanku. Tulang ini kubur di luar kuil saja deh.

...Eh, sebentar, jangan-jangan bisa pakai Soul Append: Fake Life? Seingatku efeknya memberi kehidupan palsu... dan semacamnya. Belum dicoba jadi belum tahu, tapi harusnya termasuk jenis pembangkitan. Layak dicoba.

Soul Append: Fake Life! ...Lho, kok nggak keluar apa-apa. Jangan-jangan ini diambil Partner? Kasih aku satu kek... Baru saja dapat skill baru, ternyata hampir semuanya punya Partner. Maksudku, jangan-jangan semua skill yang didapat sebagai Ouroboros mengalir ke dia semua.

Partner, tolong pakai Soul Append: Fake Life. Aku nggak bakal nyoba ngelepasin kantung telur itu lagi kok.

Partner mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya ke tulang manusia itu.

"Gaa."

Saat Partner bersuara, cahaya hitam membungkus tulang manusia itu. Tulang-tulang itu memancarkan cahaya hitam remang-remang, lalu melayang perlahan di udara, dan bagian-bagiannya mulai menyatu satu per satu. Saat semua tulang tersusun di posisi yang benar, cahaya hitam yang menyelimutinya memudar dan menghilang. Lalu, kerangka itu bergetar klatak-klatak, memiringkan tengkoraknya seolah menatapku, mengarahkan rongga matanya yang kosong padaku. Kerangka itu mencoba mendekatiku dengan gerakan sempoyongan, tapi karena goyah ke kiri dan kanan, bahunya menabrak dinding kuil, dan tulang lengan kirinya copot dari bahu lalu jatuh ke tanah. Saat dia mencoba memungutnya, kakinya yang ditekuk malah lepas, dan dia pun roboh di tempat.

Level Skill Normal Soul Append: Fake Life naik dari 1 menjadi 2.

Tu, tubuhnya nggak balik ternyata... Aku juga ragu apakah dia punya ingatan atau akal sehat semasa hidup. Gimana ini, sepertinya aku melakukan hal yang terlarang. Apa sebaiknya dihancurkan saja? Ta, tapi...

Level Skill Gelar King of Despicableness naik dari 7 menjadi 8.

Uwah, Skill Gelar yang menyebalkan malah naik. Apa ini, rasanya jijik dan menyesal, atau lebih tepatnya merasa menistakan. Memang seharusnya aku tidak mempermainkan hidup dan mati walau aku bisa melakukannya...

Kerangka itu duduk bersandar di dinding kuil, memeluk bagian kakinya yang terlepas. Rahangnya berbunyi klatak-klatak dengan sedih. Jangan-jangan, dia punya kesadaran manusia...

Kalau begitu aku tidak bisa sembarangan menghancurkannya... ah, memang harusnya aku tidak melakukan hal aneh-aneh.

"Gaa!"

Saat Partner bersuara, cahaya hitam kembali membungkus kerangka itu. Kaki dan lengan yang terlepas kembali menempel ke bagian asalnya. O, oh begitu, jadi kalau tidak pakai Soul Append: Fake Life tidak bisa nempel ya.

Cek status... bisa nggak ya ini.

image_00013

W, Wight... Tuh kan, ini nggak bener... Dari luar sih sudah agak ketebak, tapi ini sudah benar-benar bukan manusia lagi. Status Ailment Nullification ya... kayaknya kalau berevolusi bakal jadi kuat, sih... Terus apa itu Servant of the Evil Dragon, aku nggak minta begituan woy.

Hancurkan? Apa sebaiknya dihancurkan saja? Membiarkannya begini jelas-jelas mempermainkan orang mati. Dia sendiri mungkin menderita. Meski Status Ailment Nullification, tapi ada kutukannya. Soul Append: Fake Life ini pasti semacam kutukan.

Tapi dibangkitkan terus langsung dibunuh lagi rasanya gimana gitu... Coba kulihat dulu apa itu Wight.

image_00014

[[Wight]: Monster Peringkat F]Monster mayat yang dirasuki roh jahat.Tidak terlalu kuat, tapi berbahaya karena sering berpura-pura menjadi tulang biasa lalu menyerang manusia.

Roh jahat, atau lebih tepatnya mana milikku ya. Namanya saja Soul Append: Fake Life.

Dengan ini aku bisa menghancurkannya tanpa beban. Kalau sampai jiwa manusianya kembali setengah-setengah, itu baru repot. Syukurlah. Pokoknya intinya, aku jadi paham kalau skill ini tidak boleh dipakai ke mayat. Maaf ya Wight, aku hancurkan kau.

Saat aku mengarahkan lengan, Wight berlutut perlahan dan menundukkan kepala.

Ada gelar Servant of the Evil Dragon, mungkin dia patuh mutlak padaku. Bagaimanapun dia monster ciptaanku.

Aku perlahan menancapkan cakar ke bagian tengkuk Wight. Meski begitu, Wight tidak melawan. Sebagai gantinya, Wight membunyikan rahangnya klatak-klatak.

Tertawa? Tidak, gemetar? Sepertinya dia memang punya kehendak.

...............

Aku perlahan menurunkan kaki depan yang sudah kuangkat, lalu mengamati Wight. Wight membunyikan tulangnya sambil menatapku dengan heran, memiringkan kepalanya. Gerakan itu entah kenapa terlihat kekanak-kanakan dan memilukan.

Seperti seorang anak yang ketahuan nakal dan menatap orang tuanya dengan takut-takut. Melalui sosok Wight, aku merasa melihat bayangan anak kecil pemilik tulang-tulang itu.

...T, tidak bisa kuhancurkan. Tuh kan, ini pasti sisa keinginan semasa hidupnya masih ada. Gi, gimana ini... Yang pasti tidak boleh diperlihatkan ke suku Lithoviar.

"Guoo..."

Saat aku mengarahkan leher ke bagian dalam kuil, Wight berdiri dan berjalan tertatih-tatih ke arah yang kutunjukkan.

Gimana nih, gimana nih. Ini beda kasus sama membesarkan anak laba-laba. Tengkorak jelas nggak bakal tumbuh besar. Masa pertumbuhannya sudah lewat. Me, memang benar ini penistaan terhadap orang mati. Tapi, bayang-bayang masa hidupnya itu...

5

Aku terbangun oleh sinar matahari pagi yang masuk ke kuil, lalu meregangkan leherku. Kemarin Partner memakan gumpalan daging busuk itu, aku yang kehilangan nafsu makan akhirnya memutuskan untuk langsung tidur.

Memang punya rumah itu rasanya mantap. Di gurun aku tidur di alam terbuka terus. Karena ingatan masa laluku masih ada, rasanya jadi tidak tenang. Akhirnya bisa tidur nyenyak juga.

"Gaa.... Gaa...."

...Yah, kalah sih sama si Partner yang masih tidur nyenyak walau separuh badannya sudah bangun.

Klatak klatak, terdengar suara dari dalam kuil. Tengkorak... si Wight, sepertinya sadar aku sudah bangun. Dari kegelapan, tengkorak berkaki satu muncul perlahan.

Kan, kalau dilihat pagi-pagi buta begini kaget juga... ah, kakinya lepas lagi ya.

"Guu... Guo!"

Oi Partner, pasangin lagi dong.

"Gaa..."

Jawaban malas dan asal-asalan. Matanya sedikit terbuka, tapi sepertinya setengah mengigau. Aku membuka mulut, pura-pura mengincar kantung telur yang menempel di dahinya. Partner langsung membuka mata lebar-lebar dan menarik tubuhnya.

"Gaa! Gaa!"

Partner berteriak seolah menyalahkanku. ...Nggak lah, masa aku makan telur laba-laba. Akhirnya Partner menggunakan Soul Append: Fake Life dan kaki Wight terpasang kembali.

Gampang copot begini bisa diakali nggak ya... MP-ku banyak sih, jadi nggak masalah.

Apa kalau level Wight dinaikkan kondisinya bakal membaik? Karena batas levelnya rendah, kurasa dia bisa cepat berevolusi, tapi kalau salah langkah sedikit dan Wight terbunuh...

Hm? Kalau Wight mati jadinya bagaimana?

Aku melihat Wight. Wight memiringkan tulang lehernya dengan bunyi kotak. Y, yah, jangan dipikirkan deh... bukan sesuatu yang bisa dicek dengan santai juga.

Aku melongokkan kepala keluar kuil. Saat melacak sekitar dengan Presence Sense, aku merasakan ada sesuatu yang mendekat. Spontan aku menarik wajah, lalu menggerakkan mata mencari sumber hawa keberadaan itu.

Yang datang adalah manusia-manusia bertopeng. Suku Lithoviar. Lima pria bertubuh kekar, dan satu wanita yang agak pendek. Si wanita memakai hiasan bulu di kepala, melilitkan kain warna-warni di tubuhnya, dan memegang tongkat. Apa dia penyihir suku Lithoviar? Bukan... tidak terasa seperti itu. Miko (pendeta wanita) mungkin?

Para pria masing-masing memanggul hewan di punggung mereka. Babi hutan gemuk, burung berleher panjang, keranjang anyaman kayu berisi ikan, guci besar... guci besar itu dibawa oleh dua orang. Mereka menjejerkan barang-barang itu dalam satu baris horizontal.

Aku diam di dalam kuil mengamati kejadian itu.

Eh, itu, buat aku? Boleh kan? Maksudnya begitu kan?

Saat aku bersembunyi, wanita itu maju ke depan barisan makanan.

"Wahai Dewa suku Lithoviar kami, Dewa Naga! Saya sebagai perwakilan suku, orang yang memanjatkan doa dan rasa syukur kepada Dewa Naga yang telah turun kembali! Kami memohon, lindungilah kami selamanya, dan berilah berkat kemakmuran!"

...Ma, maaf, salah naga. Saya belum pernah datang sebelumnya. Bukannya berkat, saya cuma bisa menyebarkan kutukan. Rencana menetap selamanya juga agak... sejauh ini belum ada rencana sih...

Wanita itu terus memanjatkan doa panjang lebar setelahnya.

Eh, i, ini, apa sebaiknya aku keluar? Tapi apa ada momen yang pas? Apa lebih baik tunggu sebentar lagi sampai ada jeda?

"Gaa...?"

Partner mendorongku, mencoba mengeluarkan lehernya ke luar kuil. Aku menahan tubuhku kuat-kuat, kembali masuk ke dalam kuil.

Tenang, diriku... ini kesempatan bagus untuk berbaur dengan pemukiman manusia sambil menjaga jarak yang pas. Tidak boleh disia-siakan.

Oke, mulai hari ini aku adalah Dewa Naga suku Lithoviar. Berhenti jadi Ouroboros. Aku menepuk kepalaku sendiri dengan kaki depan, menyemangati diri.

Aku tidak tahu kapan waktu yang tepat, tapi mereka pasti bisa menyesuaikan diri. Biarlah terjadi apa adanya.

Dewa Naga yang asli juga pasti tidak keluar di momen yang pas karena bisa baca situasi. Tiba-tiba didoakan begitu mana paham. Kalau keluar sambil takut-takut malah kalah. Kalau keluar dengan gagah pasti bakal terlihat meyakinkan.

Aku mengibaskan leher, memutus keraguanku.

"Demi kejayaan suku kami, kekuatan, segalanya demi Dewa Naga..."

"Guooooooo!"

Aku menampakkan diri sekaligus di depan sang Miko. Kata-kata Miko itu terputus, dia menatapku dengan bengong. Tidak, para pria di belakangnya juga sama. Aku perlahan mundur, lalu masuk kembali ke dalam kuil.

Lalu membenamkan wajahku ke lantai kuil.

...Salah timing banget. Apa ini, malu banget. Ternyata memang harusnya keluar setelah semuanya selesai ya. Yah, kalau dipikir pakai logika sih begitu. Tapi karena doanya panjang banget sampai aku mikir jangan-jangan nggak bakal selesai kalau aku nggak keluar... Mengaum buat pamer eksistensi juga mungkin kesalahan.

Wight menatapku yang gemetaran sambil membenamkan kepala di lantai dengan tatapan khawatir.

Sekitar sepuluh menit kemudian, aku mencoba mengeluarkan kepala pelan-pelan dari kuil. Cuma persembahannya yang tertinggal berjejer, sosok suku Lithoviar sudah tidak ada. Sempat terpikir jangan-jangan ketahuan kalau aku bukan Dewa Naga gara-gara tadi, tapi karena persembahannya ditinggal, berarti setidaknya aku masih dianggap sebagai dewa.

...Entah apa yang dipikirkan suku Lithoviar tentang dewa yang memotong doa, muncul sambil mengaum, lalu langsung masuk lagi seolah-olah kabur.

S, setidaknya satu orang tinggal kek... aku kan sudah mengumpulkan segenap tekad buat keluar, masa begitu...

6

Untuk saat ini, mari jalan-jalan di hutan ini lagi. Karena tidak ada poin pengalaman yang masuk, kemungkinan besar Manticore itu masih hidup. Selain itu, aku perlu tahu monster apa yang mudah diburu. Karena ada persembahan, masalah makanan rasanya aman, tapi... aku agak ragu apa itu boleh dimakan atau tidak.

Aku juga ingin mengintip pemukiman suku Lithoviar sedikit, tapi kalau aku yang ke sana mungkin bakal gawat, jadi selama situasi belum jelas lebih baik jangan bertindak gegabah.

Kali ini kalau ada kesempatan aku akan berburu monster yang bisa dimakan, sekadar itu saja. Aku ingin memastikan area perburuan.

Setelah memantapkan rencana, aku keluar dari kuil. Terdengar suara klatak klatak dari belakang, saat menoleh ternyata Wight mengikutiku. Duh, kalau ikut bahaya... tapi, ditinggal juga bahaya ya.

Aku ingin menaikkan levelnya supaya tidak gampang berantakan... ya sudah, bawa saja deh.

Kalau lihat monster berbahaya tinggal langsung balik kanan. Kalau kepepet, aku bisa memasukkan Wight ke dalam mulut lalu kabur pakai Roll. Rasanya sih tidak ada yang lebih kuat dariku di sini.

Aku berjalan di hutan sambil memfokuskan Presence Sense. Menemukan musuh lebih dulu adalah kunci dalam berburu. Mau menyerang atau kabur, yang menemukan duluan jauh lebih diuntungkan.

Wight, ikut yang bener ya... saat aku berpikir begitu, tiba-tiba Wight menubruk tubuhku. Tentu saja dia bukan tandinganku, tubuh bagian atasnya lepas dari bahu dan jatuh ke tanah. O, oi, ngapain kau. Wight tidak mempedulikan tubuhnya yang runtuh dan terus menubrukku. Tubuhnya makin lama makin berantakan.

Kenapa? Bingung?

"Gaaaaa! Gaaaaa!"

Partner juga tiba-tiba berubah ekspresi dan mulai meraung. Dia kelihatan sangat panik dan tidak menanggapi pikiranku sama sekali. A, ada apa? Status abnormal?

Tidak ada hawa monster, mungkin ulah tanaman atau apa. Aku masih aman sekarang, tapi tidak tahu kapan bakal kena efek bingung. Pokoknya harus menjauh dari sini, saat aku membalikkan badan, aku melihat serangga seukuran semut merah menggigit ekorku.

Pola belang hitam yang memancing rasa jijik. Delapan kaki yang bengkok menekankan persendiannya yang anehnya panjang. Di sekitar mulutnya ada gigi bergerigi. Tapi, kelihatannya bukan gigi. Jumlahnya terlalu banyak untuk disebut gigi. Penampilannya mirip kalajengking cambuk (Udemushi). Karena sepertinya dia sedang menghisap darahku dari ekor, sifatnya pasti beda jauh. Pokoknya, kalau diringkas dalam satu kata, ya itu. Menjijikkan.

"Guooooooo!!" "Gaaaaaaa!!"

Aku dan Partner meraung bersamaan, mengibaskan ekor dan menghantamkannya ke pohon. Bwerc, cairan biru muncrat dari bagian mulut makhluk mirip Udemushi itu. Mungkin itu darahku. Merinding rasanya membayangkan digigit makhluk begituan. Rasanya mau muntah. Serius jijik banget. Nanti aku mau cuci ekor. Rasanya mau nangis. Aku mau keluar dari hutan ini sekarang juga. Kenapa aku nggak bisa mendeteksi monster sekuat itu.

"Guoooo!"

Aku mengayunkan lengan, menembakkan Kamaitachi membabi buta. Pisau angin menyayat pohon dan menumbangkannya. Si Udemushi palsu meliukkan kakinya yang panjang, menghindari seranganku dengan indah dan kabur. Gerakan itu, asli bikin mual. Kalau mau kabur mending jangan datang dari awal, seriusan.

"Gaa! Gaa! Gaaaa!"

Saat Partner meraung, cahaya hitam menyelimuti jejak si Udemushi palsu. Dia mencoba membidiknya dengan Death, tapi sepertinya tidak kena. Sebenarnya tidak terlalu cepat, tapi Partner dan aku sama-sama panik. Ditambah lagi, rasanya tidak ingin melihatnya langsung.

Diusir saja sebenarnya cukup, tapi ada perasaan tidak tenang kalau tidak dibunuh. Jadi saat sosoknya menghilang aku merasa lega, tapi sekaligus diserang perasaan tidak nyaman yang mengerikan.

Hah, hah, hah... sudah pergi ya. Sial, ekorku terasa baal. Apa dia mematikan rasa sakitku? Menghilangkan hawa keberadaan, mendekat diam-diam, mematikan rasa sakit lalu menghisap darah... Sembunyi, hisap darah, lalu kabur, persis kayak nyamuk.

Yah, setidaknya sekarang aman. Makasih ya, Wight. Kau menubrukku sampai hancur begitu karena tahu makhluk itu datang ya. Kau sangat membantu.

Aku menunduk melihat Wight yang berserakan. Tengkoraknya bergoyang ke kiri dan kanan.

Hm? Ada apa? Bukan, itu karena angin kan?

Tulang lengan Wight menekuk persendiannya, lalu jarinya menunjuk ke belakangku. Terpancing oleh itu, aku menoleh. Si Udemushi palsu sedang merayap ke arahku dengan kecepatan luar biasa.

Tidak, tepatnya tidak secepat itu. Tidak cepat, tapi karena kakinya panjang dan bergerak cepat, tercipta ilusi seolah tubuh utamanya berlari dengan kecepatan tinggi. Fakta bahwa tidak ada suara langkah juga memperparah sensasi itu.

"Guo! Guo! Guoo!!" "Gaa! Gaa! Gaaa!!"

Aku dan Partner menembakkan Kamaitachi dan Death. Tapi, karena terlalu menjijikkan sampai tidak sanggup melihatnya, sulit untuk mengikuti gerakannya dengan mata, jadi serangan kami selalu meleset tipis.

Tapi, kalau tidak bisa melihat langsung, incar saja yang lain dari awal. Pohon yang kutebang dengan Kamaitachi menghantam tubuh Udemushi palsu itu. Krak, punggungnya retak dan cairan tubuh berwarna krem merembes keluar. Delapan kakinya yang panjang menggeliat gila. Sekarang dia tidak bakal lolos. Aku mengarahkan Kamaitachi ukuran besar ke kepalanya. Kepalanya terbelah vertikal, dan gerakan Udemushi palsu itu pun berhenti.

Mendapatkan 186 poin pengalaman.Berkat Skill Gelar Walking Egg: Lv--, mendapatkan tambahan 186 poin pengalaman.Level Ouroboros naik dari 60 menjadi 61.

Hah... syukurlah. Penghapusan hawa keberadaan, hisap darah, dan skill kelumpuhan.

Monster yang menyebalkan. Aku tidak nafsu memakan yang itu. Cek detailnya saja deh.

[[Abyss]: Monster Peringkat C]Menempel pada monster besar dari titik buta, menghisap darah dan menyuntikkan cairan tubuh dalam jumlah yang sama.Cairan tubuh Abyss mengandung racun, dan saat mangsanya mati, ia akan bertelur di sana dan menjadikannya sarang untuk membesarkan anak.Saat berburu biasa, ia sering mencari hewan yang lebih kecil dari dirinya. Sering melakukan kanibalisme.

...G, gila. Untung aku menang. Kalau mati aku bakal dijadikan sarang anak Abyss. ...Serius aku mulai mual. Ekor baal ini gara-gara cairan tubuhnya ya...

7

"Gaa! Gaa!"

Setelah membangkitkan Wight yang berantakan dengan Soul Append: Fake Life, Partner mulai tertarik pada Abyss. Aku mencoba menghentikannya, tapi Partner bersikeras ingin mencoba apakah Abyss bisa dimakan atau tidak. Pasti dia lapar sekali.

Kalau dia melawan aku jadi susah jalan, akhirnya aku mengalah dan mendekati Abyss. Partner mendekatkan kepalanya ke bangkai Abyss dengan takut-takut, lalu mengendus-endus. Dia memanjangkan lidah sambil menyipitkan mata, perlahan mendekatkan mulut ke Abyss.

Lalu sebelum lidahnya menyentuh, dia membuka mata. Mata Partner bertemu dengan mata bangkai Abyss.

"Gaa..."

Partner menghentikan lidahnya, lalu menarik kepala sambil merengek sedih.

...Tuh kan, bagaimanapun juga ini nggak bakal bisa dimakan. Jelas lah. Aku justru ngeri kalau Partner beneran menggigit Abyss itu.

Partner menggelengkan kepala kuat-kuat, lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku tahu kau lapar tapi... makan yang lebih layak lah. Di kuil ada persembahan juga kan.

Aku meninggalkan bangkai Abyss dan melanjutkan penjelajahan hutan. Di persembahan itu ada daging juga, jadi tidak mungkin isinya makhluk menjijikkan semua. Kalau ada monster peringkat E atau F, aku ingin menaikkan level Wight juga. Kalau berevolusi, harusnya kebiasaan Wight yang gampang hancur itu bisa hilang.

Aku menoleh ke Wight di belakang. Wight menatapku dengan dua rongga matanya yang kosong.

Selama penjelajahan aku menemukan tikus tanah biru ungu dan monster mirip burung hantu, tapi dua-duanya larinya cepat. Si tikus tanah langsung menggali tanah begitu aku mendeteksinya, dan burung hantu itu menghilang menyatu dengan pemandangan entah pakai skill apa. Kalau begini terus, sepertinya susah cari monster yang aman buat dilawan Wight. Kalau cuma buat diburu jadi makanan sih sepertinya bisa, tapi kalau harus ditangkap hidup-hidup, dilemahkan, lalu diadu sama Wight... hmmm.

Aku berhenti melangkah dan menoleh ke Wight. Wight juga ikut berhenti.

Hutan ini levelnya agak terlalu tinggi buat Wight. Adakah cara cepat buat menaikkan level Wight? Saat aku menatap Wight lekat-lekat, tiba-tiba aku dapat ide.

Ah, ada kok. Bikin saja monster selevel Wight pakai Soul Append: Fake Life. Tapi, memakai Soul Append: Fake Life untuk memanipulasi hidup dan mati itu agak... tapi gumpalan daging saja bisa gerak, jadi benda yang jelas-jelas benda mati juga harusnya bisa kan.

Kalau mengubah sesuatu yang dari awal tidak kelihatan kayak makhluk hidup jadi monster, rasanya tidak terlalu menistakan hidup mati, jadi aman lah ya. Dengan begini aku bisa bikin monster selevel Wight dengan mudah, dan kalau dia terdesak aku bisa bantu dari samping.

Berarti, harus cari yang gampang. Yang kalau diubah jadi monster pun kelihatannya tidak terlalu kuat...

Saat aku menoleh, aku melihat pohon kecil yang sepertinya baru tumbuh beberapa tahun dari kejauhan. Kulit kayunya belum tebal, warnanya masih muda dan segar. Kelihatannya pas. Aku berlari ke pohon muda itu, lalu menunduk ke arah Wight dan menunjuk pohon itu dengan dagu.

Maksudku bertanya pada Wight 'bisa lawan ini nggak'. Wight sepertinya menangkap maksudku dan mengangguk berulang kali. Lalu aku menoleh ke Partner dan bersuara "Guo".

"Gaa..."

Partner mengatupkan giginya seolah mulutnya terasa sepi. N, nanti kalau ini selesai kita mulai berburu beneran kok... Jatah makan berikutnya boleh kau yang makan duluan, tolonglah. Kasihan kan kalau Wight hancur melulu, kau juga repot kan?

"Gaa."

Pikiranku sepertinya tersampaikan, Partner berbalik ke arah pohon muda dan menggunakan Soul Append: Fake Life. Cahaya hitam menyelimuti pohon muda itu.

Level Skill Normal Soul Append: Fake Life naik dari 2 menjadi 3.

Saat cahaya hitam Soul Append: Fake Life menghilang, terbentuklah lubang-lubang kecil yang menyerupai dua mata dan mulut di pohon muda itu. Seluruh batangnya bergetar, lalu tiba-tiba akarnya terangkat, mencabut dirinya dari tanah. Tanah berhamburan di sekitar. Ujung akar pohon muda itu menyusut dan menggulung, berubah bentuk menjadi dua kaki yang rapi.

"Gi, higiii!"

Lubang di bagian mulut pohon muda itu terbuka lebar seperti robek, mengeluarkan jeritan melengking.

Lalu seolah memastikan pergerakan tubuhnya sendiri, dia mengetuk-ngetuk tanah dengan ujung akarnya yang kecil, lalu menggerakkan kakinya tap tap tap untuk berputar arah. Tiba-tiba dia menghentikan gerakannya, dan dengan wajah tanpa ekspresi yang hanya berupa lubang di kayu, dia menatap aku dan Wight bergantian.

image_00015

B, berhasil. Apa ini, aku bisa bikin pasukan sepuasnya dong.

Serangan dan kecepatannya rendah, tapi HP dan kekuatan sihirnya tinggi. Sepertinya cocok untuk tipe pendukung. Tapi kalau dilihat begini, rasanya jadi sayang. Aku jadi penasaran dia bakal tumbuh seperti apa.

Lagipula karena Skill Gelar itu ada lagi kali ini, dia pasti tidak akan memusuhiku. Mungkin aku harus ubah rencana sebentar.

"Gao..."

Saat aku hendak memanggil Wight, dia sudah mulai bergerak. Wight mendekati Treant, menghindari ranting yang diayunkan, memutar ke belakang, dan langsung memeluk punggung Treant.

Kabut hitam bocor dari tubuh Wight. Treant memutar tubuh mencoba menjatuhkan Wight, tapi Wight berpegangan erat agar tidak jatuh. Bagian-bagian tulangnya terlepas dan jatuh ke tanah satu per satu.

"Gii! Gii! Higii!"

Lama-kelamaan gerakan Treant melambat, dan warna tubuhnya menjadi kusam. Akhirnya dia berhenti bergerak. Saat Treant berhenti bergerak, kabut hitam dari Wight pun berhenti. Sepertinya itu skill penyerap HP. Treant itu layu seolah sudah lama tidak mendapat air.

Daun-daun di Treant berubah warna sepenuhnya, dan saat angin bertiup, mereka jatuh ke tanah bersama ranting-rantingnya. Karena aku yang memerintah, aku tidak tahu apakah harus menghentikannya atau tidak, jadi aku hanya bisa menonton semuanya dengan bengong. Saat akhirnya aku sadar, Wight sedang menyeret tubuhnya yang tidak lengkap mendekatiku dengan senang. Y, ya... t, tidak, harusnya aku memujinya karena sudah berjuang. Tapi entah kenapa, perasaanku campur aduk...

Aku melirik Little Treant yang sudah membusuk, lalu mengecek status Wight yang mendekat.

image_00016

T, ternyata levelnya nggak naik banyak... Waktu sama Ball Rabbit kan power leveling (GB), dan aku juga punya skill pengganda EXP. Yah, wajar sih segini. Maaf ya Little Treant, pengorbananmu sepertinya tidak terlalu berguna.

Apa sebaiknya power leveling saja... tapi di hutan ini nggak banyak musuh yang kelihatannya kuat sih.

Untuk sekarang minta Partner pakai Soul Append: Fake Life dulu buat balikin badannya yang berantakan. Apa HP-nya bakal pulih dengan itu? Jangan-jangan kalau dikasih sihir penyembuhan malah kena damage?

Setelah tubuhnya kembali utuh berkat Soul Append: Fake Life Partner, aku cek status Wight dan ternyata sudah pulih. Aku menghela napas lega. Sebaiknya jangan pakai sihir penyembuhan. Nggak tahu efeknya bakal gimana ke Undead.

Tapi, gimana cara naikin levelnya ya. Saat aku sedang bingung, Wight menusuk-nusuk kaki depanku dengan tangan tulangnya, lalu menunjuk sebuah pohon kecil.

Y, yah, itu agak... bagaimana ya, secara pribadi agak mengganjal di hati.

Wight menundukkan kepalanya dengan kecewa. Kenapa sih, anak ini ngebet banget mau naik level.

Memang sih kalau begini terus dia gampang hancur, dan kalau lengah bisa dimakan Abyss, jadi memang harus dinaikkan levelnya... hmmm...

"Gaa, Gaa."

Hm? Kenapa Partner?

Di dalam kepala, rasanya ada panggilan 'Air, mau minum'. Jangan-jangan, yang barusan itu...

Level Skill Karakteristik Mutual Understanding naik dari 1 menjadi 2.

Ah, ternyata suara Partner. Partner menjulurkan lidahnya, sengaja membesar-besarkan napasnya sambil melirikku. Nggak usah segitunya juga aku paham kok...

"Guo."

Aku memanggil lalu berjalan, dan Wight mengikuti di belakang. Sesampainya di sungai, Partner menempelkan mulut dan minum air dengan heboh globa globa. Karena mulutku juga agak kering, aku memasukkan seluruh kepala ke sungai untuk minum. Setelah puas minum aku mengangkat wajah. Tetesan air dari surai yang menempel di kepala memantul di permukaan air. Aku membuka mulut sedikit, melihat taringku yang mengerikan. Aku sudah benar-benar terbiasa jadi naga ya. Yah, awalnya kan aku tidak seganas ini wujudnya.

Sambil memikirkan hal itu aku menoleh ke samping, Wight sedang jongkok di pinggir sungai, mengintip ke permukaan air. Dia tidak panik, hanya melakukannya dengan tenang, tapi terlihat seolah sedang sedih melihat wujudnya sendiri.

Kalau takut dia gemetar, kalau ingin menarik perhatian dia menusuk-nusuk tubuhku. Tidak jelas apakah dia punya ingatan semasa hidup, tapi gerak-geriknya jelas milik anak manusia. Sama sekali tidak terlihat seperti monster ciptaan Soul Append: Fake Life bagiku.

"Guuo..."

Saat aku memanggil, Wight menoleh ke arahku sambil berdiri.

Mungkin Wight secara naluri mengerti kalau dia menaikkan level, dia bisa mendapatkan kembali tubuhnya. Kalau begitu, alasan kenapa Wight ingin sekali naik level jadi masuk akal. Karena aku terus-terusan menderita gara-gara Art of Humanification, aku sangat paham perasaan itu. Kalau sadar-sadar sudah jadi monster, wajar saja ingin kembali ke wujud manusia.

Aku membulatkan tekad, dan menunjuk pohon muda di dekat situ dengan leherku. Partner, tolong Soul Append: Fake Life ke situ. Pokoknya hari ini kita evolusikan Wight.

"Gaa?"

Partner bertanya padaku 'Serius?'. Ya iyalah, tentu saja.

Saat Partner menggunakan Soul Append: Fake Life, kulit pohon muda itu berubah seperti tadi, dan wajah pun muncul. Berubah menjadi Little Treant.

"Higiii!"

Little Treant mencabut akarnya dan mulai bergerak. Wight menatapku dengan senang.

"Gaa."

Bersamaan dengan aumanku, Wight berlari, memutar ke belakang Little Treant, dan memeluknya. Little Treant meronta, tulang Wight patah. Sebelum tulang yang patah itu jatuh ke tanah, Wight menangkapnya dan menancapkan bagian yang tajam ke punggung Little Treant.

"Higi, higii!"

Menggigit, mengunci dengan sendi, mencincang dengan tulang patah, pertarungan yang lebih kotor dari sebelumnya. Mungkin karena kurang MP, dia tidak bisa pakai skill. Tapi, yang menang adalah Wight.

Wight dan Little Treant selisih levelnya 1. Kalau dilihat dari status murni, rata-ratanya Wight lebih unggul.

Little Treant yang penuh luka sayatan roboh, dan Wight yang menempel padanya juga ikut jatuh menggelinding ke tanah. Wight menyeret tubuhnya yang patah dan retak, merayap mendekatiku.

Aku menepuk kepala Wight pelan dengan kaki depan. Lalu aku memejamkan mata dan menunduk sedikit ke arah Little Treant yang penuh luka sayatan.

Masih, masih kurang. Untuk mengevolusikan Wight, mungkin butuh lima Little Treant lagi.

8

Di luar dugaan, kenaikan level Wight lambat sekali. Karena aku punya Skill Gelar Walking Egg, rasanya memang beda. Tidak kusangka menaikkan tiga level saja susahnya minta ampun.

Wight harus mengalahkan enam Little Treant baru akhirnya jadi Lv 4. Statusnya memang naik, jadi dia bisa mengalahkan Little Treant dengan mudah, tapi...

Ditambah tiga ekor lagi, tapi levelnya belum maksimal juga. Mungkin sebentar lagi harusnya naik...

Aku mencari pohon muda bersama Wight, dan meminta Partner mengubahnya jadi Little Treant.

Level Skill Normal Soul Append: Fake Life naik dari 3 menjadi 4.

...Karena dipakai terus, level yang ini naiknya cepat banget.

Omong-omong, Little Treant yang sudah habis HP-nya tidak bangkit lagi walau dikasih Soul Append: Fake Life. Padahal Wight itu murni tulang, harusnya mayat tidak masalah kan. Mungkin artinya tidak ada efek untuk menghidupkan kembali target yang sudah pernah dikasih Fake Life.

"Higi, higiiiii!"

Little Treant yang mencabut akarnya melompat ke arah Wight. Wight menghindari gerakan Little Treant dengan mudah, memeluk punggungnya, mematahkan dahan, dan menggigit tubuh utamanya.

"Higii..."

Little Treant berhenti bergerak, lalu terkulai lemas di tempat.

...Dengan ini, level Wight harusnya sudah naik. Semoga dia bisa berevolusi ke wujud yang lebih mirip manusia.

image_00017

Oke, sudah naik. Harusnya sekarang bisa evolusi.

"Guuo..."

Saat aku memanggil, Wight menatapku, lalu mengangguk dengan bunyi karan.

Kupikir dia bakal berevolusi... tapi wujudnya tidak berubah-ubah. Dia cuma menatapku dengan rongga matanya, seolah mengharapkan sesuatu. Eh...? A, apa? Kenapa? Jangan-jangan aku harus melakukan sesuatu?

Satu-satunya yang bisa kulakukan pada Undead cuma Soul Append: Fake Life. Cuma itu yang terpikir.

Jangan-jangan, setiap evolusi butuh Soul Append: Fake Life? Beda denganku yang bisa cek dari status, monster lain mungkin butuh pemicu tertentu untuk evolusi dalam beberapa kasus. Bagi Wight, cara tercepat untuk itu mungkin Soul Append: Fake Life... begitu?

Partner, tolong satu kali lagi ke Wight. Usahakan sihirnya agak kuat.

"Gua!"

Saat Partner bersuara, cahaya hitam menyelimuti Wight. Saat cahaya menghilang, dari dalamnya... muncullah Wight. Warna tulangnya jadi agak biru, dan ada tanda salib muncul di dahinya.

Lalu ada pola di sekitar mata dan tulang tubuhnya... selain itu, tidak ada yang berubah. Bukannya mendekati manusia, rasanya malah makin jadi monster.

...Ternyata memang mustahil mengembalikan tubuh fisiknya ya. Pokoknya, aku ingin tahu dia berevolusi jadi apa. Coba cek statusnya.

image_00018

Skull Low Mage... intinya penyihir tulang tingkat rendah gitu?

Berarti selanjutnya Skull Mage? I, ini bakal dapat tubuh fisik nggak ya...

T, tapi setidaknya karena MP-nya naik, berarti jumlah serangan jarak jauh yang aman jadi bertambah.

Dengan bantuan Skull Low Mage... ah, namanya sudah ganti ya. Dengan bantuan Skull Low Mage, kalau aku bertarung di depan, mungkin bisa power leveling dengan mudah. Meski risikonya kecil mungkin EXP-nya juga kecil, tapi harusnya jauh lebih efisien daripada berburu monster selevel satu per satu. Ball Rabbit juga berevolusi ke Peringkat D sekaligus dengan cara itu.

Lagi pula menggunakan Soul Append: Fake Life untuk menaikkan level... aku tidak terlalu ingin melakukannya. Membuat makhluk hidup cuma untuk dibunuh itu rasanya tidak enak.

Sambil berpikir bagaimana kalau dia jadi tulang selamanya, aku melihat wajah Skull Low Mage. Skull Low Mage juga sepertinya memikirkan wujudnya sendiri, dia berdiri diam sambil menatap tangannya.

Kelihatan tidak senang ya... wajar sih. Aku ingin tanya seberapa banyak ingatannya, tapi dia tidak punya lidah jadi tidak mungkin bisa bicara. Tulang doang.

Omong-omong nama semasa hidupnya tidak ditampilkan ya. Rasanya aneh kalau ganti panggilan setiap kali ganti spesies, coba kupikirkan nama buat dia. Tapi aku juga tidak tahu dia laki-laki atau perempuan.

Untuk sementara sampai namanya diputuskan, aku akan tetap memanggilnya Wight. Toh aku tidak memanggilnya dengan suara mulut.

Hari ini biarkan Wight istirahat dan memulihkan MP... mulai besok kita coba berburu lagi. Makanannya ambil dari persembahan saja. Aku juga penasaran apakah suku Lithoviar bakal datang lagi atau tidak.

© 2026 Yozuku Novel Admin. All rights reserved.