Sisipan 1: Penyamaran
Volume 5 - Chapter 5
January 1, 2019
Selingan: Penyamaran
Selingan: Penyamaran
Rapat berjalan alot, tetapi untungnya tetap ada kemajuan, meskipun lambat.
Pengelolaan negara di bawah pimpinan Elfur Bersaudari, dengan arahan dari Raja Ira-Takt di belakang layar, entah bagaimana berusaha untuk kembali ke jalurnya.
Namun, sudah menjadi hukum alam bahwa tidak ada yang berjalan sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
Masalah-masalah kecil yang sepele terungkap pada tahap pelaksanaan, dan terpaksa menanganinya juga merupakan hal yang biasa dalam mengelola sebuah organisasi.
"Kami akan memberitahukan kepada pihak dalam dan luar negeri bahwa Yang Mulia Raja masih hidup."
"Hm? Apa tujuannya? Orang yang tahu bahwa Raja diserang sangat terbatas. Dan mereka semua juga tahu bahwa Raja baik-baik saja. Kalau dibilang tidak tahu... kurasa hanya para Santa penyerang itu saja."
"Para Santa itulah lawannya."
"Untuk membuat lawan bingung~"
"Begitu. Kudengar negara bernama Negara Cahaya Suci Lenea itu masih seperti bayi yang baru lahir. Katanya mereka juga memisahkan diri dari Qualia dengan cara paksa, jadi dengan sengaja membocorkan keberadaan Raja ke telinga mereka, kalian bermaksud memancing kegelisahan, begitu?"
"Benar. Pihak lawan mengira mereka telah mengalahkan Yang Mulia Raja. Jadi, jika mereka tahu Yang Mulia Raja masih hidup, setidaknya mereka pasti akan waspada."
"Mereka tidak akan tahu itu bohong atau benar, sih~"
Pengendalian di dalam negeri Mynoghra bisa dibilang kokoh, dan pemerintahan berjalan begitu rapi hingga tidak ada celah untuk disusupi.
Artinya, operasi kali ini ditujukan untuk pihak luar. Menyerang kubu para Santa dari segi informasi.
"Tidak perlu memberikan kerugian langsung pada lawan. Cukup dengan memancing perhatian dan kegelisahan mereka. Jika berhasil, Yang Mulia Raja akan memanfaatkan celah itu."
Tidak ada seorang pun di sini yang tahu strategi seperti apa yang sedang dipikirkan oleh Raja.
Namun, selama Elfur Bersaudari diberi wewenang besar, seharusnya mengambil cara seperti ini juga sudah diperhitungkan.
Apakah menggoyahkan para Santa bisa menjadi bantuan bagi Raja atau tidak, hanya Raja sendiri yang tahu, tetapi setidaknya ini tidak akan menjadi penghalang.
"Hm, jadi meskipun tidak berhasil memancing kegelisahan musuh, tidak ada ruginya, begitu. ...Hm? Tunggu sebentar."
Saat Gia hendak mengangguk setuju pada operasi yang tidak memiliki kerugian khusus itu, ia tiba-tiba tersadar.
Karena ada satu masalah yang harus diselesaikan.
"Misalnya, mengenai informasi palsu tentang insiden sebelumnya—serangan itu, kita bisa memberitahukan keberadaan Raja secara alami ke dalam dan luar negeri dengan mengumumkan detailnya atas nama Raja. Tapi, jika Raja sendiri tidak menampakkan diri, keraguan akan tetap ada. Bagaimana kalian akan mengatasi hal itu?"
Itu adalah argumen yang masuk akal.
Tidak peduli berapa banyak deklarasi yang dikeluarkan atas nama Raja, jika orangnya sendiri tidak muncul, keberadaannya akan diragukan.
Tentu saja, jika ditujukan untuk dalam negeri, itu tidak masalah. Lagipula, Ira-Takt memang jarang muncul di depan umum, jadi rakyat mungkin tidak akan peduli.
Tetapi, kekuatan suci itu berbeda. Pasti akan ada penyelidikan, dan jika ia tidak menampakkan diri, ketidakhadirannya akan mudah terungkap.
Perlu ada tindakan pencegahan, tetapi ini juga tidak menjadi masalah. Mengenai hal ini pun, kedua gadis kembar ini sudah menyiapkan solusinya.
"Kak Emul."
"Ah, ya. Ada apa?"
Emul, yang tidak banyak berpartisipasi dalam percakapan, mengangkat wajahnya dengan panik.
Ia yang hanya fokus mendengarkan karena merasa tidak ada celah baginya untuk masuk, tiba-tiba dikejutkan.
Terhadap Emul yang panik hingga terlihat lucu dari samping, Caria tidak menunjukkan ekspresi apa pun dan berkata dengan wajah datar.
"Mulai besok, Kakak akan menjadi Yang Mulia Raja."
"Eh, eeeeh!?"
Jeritan aneh terdengar, dan rapat pun menjadi semakin kacau.
.........
......
...
Beberapa jam telah berlalu? Wajah-wajah yang sama masih berkumpul di ruang rapat, tetapi berbeda dari sebelumnya, ada seseorang yang tidak biasa di sana.
Tidak... orang yang biasa, mengenakan pakaian yang biasa, dan hasilnya menjadi penampilan yang tidak biasa.
"Ugh, uuu... Aku menjadi pengganti Raja, ini terlalu berlebihan!"
Dengan suara menyedihkan sebagai kalimat pertamanya, Emul, yang menyamar sebagai Raja, mengeluh.
Emul, yang mengenakan jubah yang sama dengan yang dikenakan Raja, menyuarakan ketidakpuasannya dengan suara yang hampir menangis.
Pakaiannya pun dibuat khusus, dan karena penampilannya tidak bisa dipalsukan, ia mengenakan topeng khusus yang hanya menutupi matanya.
Karena perawakannya mirip, jika dikatakan bahwa ia adalah Raja yang mengenakan pakaian baru, akan sulit untuk menyangkalnya. Mengenai topeng, bisa dengan mudah dicarikan alasan bahwa itu adalah bentuk perhatian dari Raja yang penuh belas kasihan, karena bagi mereka yang bermental lemah, menatap mata Raja secara langsung dianggap sebagai hal yang tabu.
Secara keseluruhan, penampilannya sebagai pemeran pengganti Raja jauh lebih baik dari yang dibayangkan semua orang, dan yang tersisa hanyalah menampakkan diri secara sambil lalu pada waktu yang tepat.
"Tinggi badan kita kebetulan mirip, jadi mau bagaimana lagi. Dengan penampilan itu, tidak akan aneh meskipun kamu menyentuh dokumen penting, jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui."
"Uuh, meskipun dibilang begitu..."
Emul menunduk dengan lesu.
Melihat penampilannya yang sangat mirip dengan Takuto saat dimarahi oleh Isla dulu, Caria merasa puas dan sedikit gembira, berpikir bahwa ini mungkin akan memberikan hasil yang lebih baik dari yang diperkirakan.
"Hei! Tegakkan badanmu! Apa kau pikir bisa menjadi pengganti Raja dengan sikap seperti itu!?"
Namun, berlawanan dengan isi hati Caria, seorang lelaki tua yang merepotkan mulai memberikan perintah yang merepotkan.
Melihat ini, baik Caria maupun Emul mengerutkan kening dan menunjukkan ketidakpuasan mereka.
Ditambah lagi, Emul sampai berpikir dalam hati, (Kalau kau berpikir begitu, coba saja kau sendiri yang menyamar dan rasakan ketidaknyamanan ini).
Meminjam wujud Raja yang agung, sosok yang telah menyelamatkan nyawa mereka dan memberikan harapan untuk masa depan mereka, yang mereka hormati dan takuti, betapa berat tekanannya.
Meski begitu, mengeluh pun tidak akan mengubah apa pun, dan lagipula ia bukan orang yang begitu kuat, jadi ia hanya menunjukkan ketidakpuasannya melalui sikap.
Sikap seperti itulah yang mungkin menjadi masalah.
Pria merepotkan nomor dua, yaitu Kepala Prajurit Gia, ikut campur.
"Masalah terbesarnya memang adalah kurangnya wibawa. Tidak peduli bagaimana penampilannya, isinya berbeda dengan Raja kita. Raja yang kukenal jauh lebih agung dan membuat jiwa bergetar. Tentu saja, Emul tidak bisa meniru bahkan seperseratusnya pun."
Sambil melipat tangan, sang Kepala Prajurit mengkritik seperti seorang kritikus.
Sikapnya seolah-olah dialah yang paling tahu tentang Raja, tetapi karena sikap itulah ia tidak menyadari bahwa ia akan menginjak ranjau yang ada tepat di depannya.
"Tapi untunglah dadamu rata. Kalau terlalu besar, akan langsung ketahuan kalau kau perempuan! Hahaha!"
"—Hah?"
Bahkan Emul, yang biasanya pendiam dan tidak suka bertengkar, langsung mendidih mendengarnya.
Pria yang sangat tidak sopan di depannya ini baru saja mengucapkan kata-kata yang tidak boleh diucapkan kepada wanita Dark Elf.
Dengan tatapan tajam yang diiringi kata-kata dingin, matanya menusuk lurus ke arah Gia, dengan aura yang seolah-olah siap melompat dan menghantamkan tinjunya ke wajah pria itu kapan saja, aura yang keluar dari tubuhnya pun berlipat ganda.
"...I-itu dia semangatnya. Ternyata, kau bisa sedikit meniru aura menakutkan Raja, kan?"
"Orang ini, boleh saya hukum mati? Meskipun hanya bayangan, saya kan Raja sekarang? Berarti bisa kan, hukum mati?"
"Kalau begitu, tolong berikan surat perintah eksekusinya."
"Aku setujui—!"
Para wanita Dark Elf pada umumnya memiliki dada yang rata.
Ini adalah ciri khas ras mereka, dan ada hal-hal yang sulit diubah dengan usaha mereka sendiri.
Oleh karena itu, jika disentuh mengenai hal ini, mereka akan marah meledak-ledak seperti pemanas air instan.
Itu adalah gudang mesiu yang tidak akan pernah disentuh oleh pria yang cerdas.
"Tunggu, tunggu, Emul. Orang ini masih bisa digunakan, jadi tunggulah sebentar sebelum menghukum matinya. Setelah Raja kembali, kau boleh langsung menggantungnya."
"Buat dia menyesal sambil disiksa."
"Potong lehernya dan gantung di tiang—!"
Sebagai tambahan, Hero kebanggaan Mynoghra, Atu Sang Lumpur, juga memiliki dada yang sederhana dan memahami perasaan para wanita Dark Elf.
Raja Ira-Takt dalam kasus seperti ini akan tetap diam, dan lagipula ia sadar betul bahwa mengomentari dada wanita adalah tindakan yang tidak sopan.
Tentu saja, Tetua Moltar sama sekali tidak berniat membantu dalam hal ini.
Inilah yang disebut terkepung dari segala arah.
"Ti-tidak... hahaha. Ayolah, i-ini kan cuma bercanda. Menurutku penyamaran Emul sudah sempurna, kok, ya!"
"Bisa diam tidak? Mengenai masalah ini, saya akan bicara langsung dengan Raja setelah beliau kembali."
Dengan ketajaman kata-katanya saja, Emul membungkam dalihnya yang dibuat-buat itu, lalu dengan cepat mengubah suasana hatinya dan memutuskan untuk menjalankan tugasnya sebagai Raja palsu.
Sudah begini mau bagaimana lagi. Ia hanya perlu menjalankan perannya sampai akhir.
"Ngomong-ngomong, kembali ke topik, bagaimana kalau ada yang mengajak saya bicara? Suara saya dan Raja kan sangat berbeda, saya rasa akan langsung ketahuan kalau saya bicara..."
"Soal itu tidak masalah."
"Eh, kenapa?"
Mendengar Caria menjawab pertanyaannya seolah itu hal yang wajar, ia tanpa sadar memiringkan kepalanya.
Soal penampilan, dengan berat hati ia mengakuinya. Soal wajah juga tidak masalah jika ada topeng.
Tetapi soal suara seharusnya menjadi masalah besar.
Tentu saja ia tidak bisa meniru suara Raja, dan lagipula kualitas suaranya berbeda.
Begitu pikirnya, tetapi....
"Karena Raja tidak berbicara dengan orang yang tidak ia kenal."
"Ansos!"
"............Be-begitu."
Masalahnya terselesaikan dari arah yang tidak terduga.
Suasana yang sulit dijelaskan menyebar di tempat itu. Dan begitulah, rapat berakhir dengan cara yang agak antiklimaks.
Berbicara lebih jauh hanya akan menggali kuburan sendiri.
Bahkan para Dark Elf yang masih dalam kebingungan pun masih memiliki cukup kesadaran untuk memikirkan hal itu.
