Bab 1: Perubahan Situasi - Bagian 3

Volume 4 - Chapter 3

January 1, 2019


Bagaimana cara memintanya? Kalau ditolak, bagaimana?

Terlalu banyak berpikir membuat kepalaku pusing.

Pada akhirnya, tanpa sempat menyusun pikiran, aku sudah tiba di kediaman Keluarga Bangsawan Pahlawan.

Seperti biasa, aku disambut dengan ucapan "Selamat datang kembali," dan masuk ke dalam kediaman.

"Ar, ada apa?"

"Erna...."

Yang menyambutku adalah Erna. Sejujurnya, aku lebih berharap yang menyambut adalah Nyonya Anna. Aku tidak sanggup menatap wajah Erna. Tapi, teman masa kecilku ini tidak mungkin melewatkan sikapku yang tidak wajar.

"Terjadi sesuatu?"

"Tidak..."

"Percuma saja mengelak. Pokoknya, ayo ke kamar."

Aku pun diantar oleh Erna menuju ruang tamu.

Teh dan kue-kue yang disiapkan oleh para pelayan. Erna menerimanya lalu menyuruh para pelayan pergi. Kemudian, ia duduk di kursi berhadapan denganku dan langsung masuk ke inti pembicaraan.

"Aku tanya sekali lagi, ada apa?"

"...Terjadi hal yang merepotkan."

"Begitu. Kau butuh aku?"

"...Iya."

Aku mengangguk tanpa menatap wajahnya. Cara meminta tolong macam apa ini. Tapi, aku tidak sanggup menatap wajah Erna. Dengan wajah seperti apa aku harus memintanya?

Tugasku kali ini, pada akhirnya, adalah demi perebutan takhta. Karena membutuhkan penilaian dari Ayahanda, aku tidak bisa begitu saja mengatakan 'tidak jadi'. Benar. Aku sedang menimbang antara keselamatan adikku dengan perebutan takhta. Dan karena aku tidak bisa memilih salah satu, dengan tidak tahu malunya aku berniat mengambil keduanya dan datang meminta tolong pada Erna.

Istana Belakang adalah dunia wanita. Pengawal wanita adalah yang paling cocok. Alasan itu memang ada, tapi itu bukan alasan mendasar. Aku tidak ingin memadamkan angin segar yang akhirnya mulai berhembus ke arah kami. Ayahanda memandang kami dengan baik. Aku tidak ingin memutus aliran ini. Tapi, aku juga tidak bisa meninggalkan Christa. Aku tidak bisa memilih. Karena itu aku memohon pada Erna. Aku merasa begitu menyedihkan sampai tidak sanggag menatap wajah Erna.

Namun.

"Aku mengerti. Kalau begitu, aku harus memberitahu Yang Mulia Kaisar bahwa aku akan mengundurkan diri."

"Hah!? Kau serius...?"

"Apanya?"

Aku tanpa sadar mengangkat wajah mendengar jawaban yang begitu enteng. Di sana, ada wajah Erna yang seperti biasa.

Bukan apa-apa. Begitulah yang tertulis di wajah Erna.

"Tapi... mengundurkan diri itu kan hal yang memalukan...?"

"Bukan cuma memalukan. Tapi kau butuh aku, kan? Mau bagaimana lagi."

"...Aku dan Leo akan meninggalkan Ibukota untuk melindungi kesatria yang kabur dari selatan. Demi memajukan perebutan takhta, demi melindungi orang asing yang tidak penting... aku mengandalkanmu, tahu?"

"Karena dia bukan orang asing yang tidak penting, makanya kau tidak bisa melepaskannya, kan? Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan, tapi jika diperlukan, aku akan membantumu."

"Kenapa...."

"Sudah kubilang, kan. Aku tidak akan meninggalkan Ar. Kau sadar? Wajahmu sejak tadi terlihat sangat murung, lho. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kau butuh aku, kan? Kalau begitu, aku akan mengundurkan diri dari tugas. Ar punya urusan, dan hanya aku yang bisa dipercaya. Kau datang karena berpikir begitu, kan?"

Erna mengatakannya dengan santai.

Ini bukan hal yang sesederhana itu. Jika iya, aku tidak akan merasa bersalah seperti ini.

Pewaris Keluarga Bangsawan Pahlawan dan seorang Kesatria Pengawal Kekaisaran seperti Erna mengundurkan diri dari tugas adalah masalah besar. Tentu saja Ayahanda tidak akan memaksanya. Anggota Keluarga Bangsawan Pahlawan yang bisa menggunakan Pedang Suci sangat berharga, dan sebagai kaisar, dia ingin menghindari memperburuk hubungan dengan mereka.

Tapi, ini jelas merupakan tindakan yang akan merusak kehormatan.

"Bagimu... kehormatan itu tidak penting?"

"Penting. Tapi, sumpahku jauh lebih penting daripada kehormatanku. Jika kau membutuhkanku, aku akan pergi ke mana pun. Nah, jelaskan. Apa yang harus kulakukan?"

Erna tersenyum lembut, senyum yang jarang ia tunjukkan. Senyum itu menusuk hatiku.

Tapi, aku tidak bisa terus terlarut dalam rasa bersalah.

"...Christa memiliki kemampuan sihir bawaan. Prediksi masa depan."

"...Aku terkejut. Bagaimana kalian bisa menyembunyikannya sampai hari ini?"

"Kemampuannya muncul tiga tahun lalu. Christa melihat kematian Pangeran Mahkota. Sejak saat itu, prediksinya kadang benar, kadang salah. Tapi, hal-hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri cukup akurat."

"Kali ini polanya seperti itu, ya."

"Benar. Kau ingat gadis bernama Rita yang bermain dengan Leo?"

"Tentu saja. Apa dia ada hubungannya?"

"...Menurut Christa, anak itu akan mati. Di depan mata Christa."

Mendengar kata-kataku, ekspresi Erna menjadi tegang. Christa pada dasarnya tidak pernah meninggalkan istana atau Istana Belakang. Fakta bahwa Christa terlibat berarti ada seseorang dari istana atau Istana Belakang yang terlibat. Dalam hal ini, memiliki Erna, seorang bangsawan tertinggi dari Keluarga Bangsawan Pahlawan, sebagai pengawal akan sangat menguntungkan. Karena orang yang bisa menghalangi Erna sangat terbatas.

"Aku hanya perlu melindungi Putri Christa di sisinya, kan? Itu akan mengarah pada perlindungan Rita."

"Benar... prediksi masa depan Christa hanya diketahui oleh segelintir orang. Ayahanda juga tidak tahu. Jadi, kau tidak bisa menggunakan ini sebagai alasan untuk mengundurkan diri dari tugas."

image_p065.jpg

"Tidak apa-apa. Tugas berikutnya di dekat danau besar."

"...Jangan-jangan, kau?"

"Aku akan memberitahu Yang Mulia Kaisar bahwa aku takut air. Kalau begitu, tidak akan terlalu menjadi masalah, kan?"

"Mungkin begitu, tapi... kelemahanmu akan bocor ke orang lain, lho? Kau tidak apa-apa? Dulu kau sangat tidak suka, kan?"

"Sekarang pun aku tidak suka. Kalau aku mengundurkan diri, rasanya seperti kalah, dan pewaris Keluarga Bangsawan Pahlawan takut air, pasti akan ditertawakan."

"Kalau begitu..."

"Tapi, sumpahku lebih penting dari itu. Kau sedang kesulitan, kan? Apa kau baik-baik saja tanpaku? Apa bisa diatasi? Kau datang karena tidak bisa diatasi, kan? Kau benar-benar sedang kesulitan, kan? Kalau begitu, aku akan membantumu. Sumpah yang hanya di bibir tidak ada artinya. Aku bukan wanita yang hanya bisa bicara."

Erna berdiri dan mendekatiku. Lalu, dengan lembut ia menempelkan dahinya ke dahiku.

Aku terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba, tapi Erna berkata dengan tenang.

"Tenang saja. Sudah tidak apa-apa. Semua yang ingin Ar lindungi, akan kulindungi. Agar tidak ada satu pun yang terlepas dari tangan Ar. Aku akan ikut mengulurkan tanganku. Jadi, jangan pasang wajah sesedih itu."

"Erna...."

"Tidak apa-apa. Ar tidak meninggalkan Putri Christa. Perebutan takhta juga penting, dan Putri Christa juga penting. Jika tidak bisa melakukan keduanya, aku akan melakukan salah satunya. Ar, pergilah menolong orang yang membutuhkan bantuan demi perebutan takhta. Aku yang akan melindungi Putri Christa."

"...Aku tidak ingin anak itu merasakan kesedihan lagi.... Saat ibunya meninggal, dia seperti cangkang kosong. Tapi, akhirnya dia bisa tertawa lagi... adikku... kumohon jaga Christa. Aku hanya bisa memintanya padamu...."

"Serahkan padaku. Kita kan teman masa kecil dan rekan kerja? Ceritakan saja semuanya. Kapan pun itu, aku akan menjadi kekuatanmu."

Sambil berkata begitu, Erna mundur selangkah. Lalu, ia menunjukkan senyum yang ceria.

Dulu, aku pernah melihat senyum itu. Saat pertama kali bertemu, dia juga tersenyum seperti itu dan berkata akan melindungiku. Begitu, ya. Dia tidak pernah berubah.

Dulu dan sekarang, Erna selalu menjadi sekutuku.


"Kak Ar! Jangan pergi...!"

"Christa. Jangan menyusahkan Ar."

Pada akhirnya, Erna mengundurkan diri dari tugas dengan alasan danau besar. Dia jujur mengaku pada Ayahanda bahwa dia memang takut air sejak dulu. Karena ada aku dan Leo, dia memaksakan diri untuk ikut dalam tugas pengawalan duta besar, tapi dia memberikan alasan yang masuk akal bahwa hal itu akan mengganggu tugasnya.

Dikatakan begitu, Ayahanda pun tidak punya pilihan selain mengangguk, dan kesatria pengawal lain ditugaskan untuk tugas itu.

Lalu, Ibunda pun meminta Erna menjadi pengawalnya pada Ayahanda. Dengan alasan yang masuk akal juga, yaitu ingin mendengar cerita tentang putra-putranya. Dan Ayahanda mengizinkannya. Mungkin dia berpikir itu akan menjadi liburan yang pas untuk Erna.

Jadi, aku memberitahu Ibunda dan Christa bahwa aku akan meninggalkan Ibukota.

"Erna akan menjadi pengawalmu."

"Tidak mau...! Aku mau di dekat Kak Ar...!"

"...Christa. Apa kau percaya padaku?"

"Iya...."

"Begitu."

Sambil mengelus kepala Christa yang memelukku, aku bingung harus berkata apa. Jika aku pergi dengan paksa sekarang, Christa tidak akan mempercayai Erna. Yah, sebenarnya tidak masalah, tapi jika memungkinkan, aku ingin dia mempercayai Erna. Jadi, aku mengatakan apa yang kupikirkan.

"Aku akan meninggalkan pedang terbaik yang paling kupercaya."

"Pedang...?"

"Benar. Pedang terbaik di benua ini. Dia akan melindungimu dari lawan mana pun. Jadi, jika ada masalah, mintalah bantuannya. Jika kau kesepian, panggillah namanya sebagai penggantiku. Dia pasti akan datang."

"...Baik...."

"Anak baik. Sudah tidak apa-apa. Erna akan melindungi kau dan Rita."

Sambil berkata begitu, aku memeluk Christa erat-erat lalu berbalik. Di sana, Erna berdiri.

"Kutitipkan adikku."

"Serahkan pada saya."

Setelah percakapan singkat, aku mulai berjalan lurus. Aku tidak akan menoleh ke belakang lagi.

Karena tidak ada sedikit pun keraguan.

10

Saat Gordon mengetahui keberadaan Rebecca dan menggerakkan Pasukan Siluman.

"Putri Sandra. Mohon kerja samanya."

Para pengejar yang dikirim dari organisasi penculik anak mengandalkan Sandra di Ibukota.

Jumlah mereka lima orang. Mereka adalah pembunuh bayaran terampil yang dimiliki organisasi. Selain mereka, cukup banyak pengejar lain yang tersebar di sekitar Ibukota. Organisasi itu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengejar Rebecca. Namun, sebesar apa pun organisasi kriminal itu, melawan Pasukan Siluman Kekaisaran akan membuat mereka berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Karena itu, mereka meminta kerja sama dari Sandra.

Itulah betapa fatalnya surat yang dipegang Rebecca bagi organisasi. Dan itu juga fatal bagi para bangsawan selatan, serta Sandra yang memiliki basis dukungan dari mereka.

"Benar juga. Jika hubungan antara bangsawan selatan dan organisasi terungkap, aku juga akan kesulitan. Gunter, apa kau sudah siap?"

"Hamba, tidak ada masalah."

Gunter, pembunuh bayaran yang pernah mengincar Ar, sedikit menundukkan kepala di samping Sandra. Di belakangnya, berbaris para pembunuh bayaran yang dikumpulkan Sandra dari berbagai daerah. Jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang.

"Aku tidak bisa menggunakan pembunuh bayaran yang dekat denganku. Jadi, aku mengumpulkan pembunuh bayaran yang tidak punya hubungan denganku. Aku akan meminjamkan mereka pada organisasi, jadi gunakan sesukamu. Kemampuannya kujamin."

"Terima kasih. Dan sepertinya yang bergerak bukan hanya Gordon?"

"Maksudmu Leonard dan yang lainnya? Kalau begitu tidak masalah. Leonard dan yang lainnya hampir tidak punya pembunuh bayaran. Dalam hal mengejar target, tidak ada yang bisa menandingi pembunuh bayaran. Yang perlu diwaspadai hanyalah kepala pelayan Arnold, Sebastian."

"Dimengerti. Kalau begitu, yang perlu diwaspadai hanyalah Pasukan Siluman, ya."

Sandra mengangguk mendengar kata-kata pembunuh bayaran dari organisasi itu. Kali ini, gerakan Gordon lebih cepat dari biasanya. Jika menganggapnya sama seperti biasa, mereka akan menyesal.

Sandra duduk di kursi dan menyilangkan kakinya. Sambil menopang dagu, ia menatap ke luar jendela yang mulai gelap. Ibukota akan segera diselimuti kegelapan malam, dan di bawah kegelapan itu, banyak faksi akan mulai bergerak.

Jika kalah dalam pertarungan ini, Sandra akan menerima pukulan paling fatal. Ia akan kehilangan selatan, basis dukungannya. Para penyihir di berbagai daerah mungkin masih akan mendukung Sandra, tapi pada akhirnya mereka hanyalah individu. Perebutan takhta adalah pertarungan antar individu kandidat takhta, sekaligus pertarungan antar faksi. Faksi yang lemah tidak akan pernah bisa merebut takhta.

Seperti halnya Leonard dan yang lainnya yang berhasil mendapatkan kerja sama dari Duke Krainelt, ada atau tidaknya seorang duke yang kuat di belakang sangat mengubah kekuatan sebuah faksi.

"Gordon berniat menjatuhkanku di sini, ya."

"Pangeran Eric mungkin akan tetap menjadi penonton kali ini."

"Eric memang pria seperti itu. Sampai saat terakhir, dia tidak akan pernah mengotori tangannya sendiri. Dia menunggu kita bertarung dan kelelahan. Tapi, itu juga celah untuk dimanfaatkan. Jika bisa bertahan di sini, aku tidak perlu khawatir tentang basis dukunganku lagi."

Selain itu, aku juga tidak perlu khawatir tentang subjek eksperimen. Sandra bergumam dalam hati. Secara pribadi, hal itu lebih penting. Bagi Sandra, yang paling penting untuk memenangkan perebutan takhta adalah sihir terlarang, bukan faksi.

Jika sihir terlarang yang sedang ditelitinya menjadi sempurna, faksi tidak lagi diperlukan. Siapa pun tidak akan bisa melawannya. Semua orang akan berlutut dengan sendirinya. Itulah dunia ideal bagi Sandra.

"Selama aku membantu, tunjukkan hasilnya. Pastikan kesatria itu terbunuh."

"Tentu saja. Tapi, bagaimana dengan suratnya?"

"Ayahanda sangat percaya pada kemampuannya menilai orang. Terkadang, dia lebih tergerak oleh kata-kata orang daripada bukti fisik. Jika seorang kesatria mengadukan kecurangan dan korupsi bangsawan selatan, Ayahanda bisa saja bergerak bahkan tanpa surat. Sebaliknya, jika hanya surat, dia akan curiga itu palsu dan tidak akan langsung bergerak. Jangan lengah sampai kalian melihatnya menghembuskan napas terakhir."

"Dimengerti."

Setelah memberi hormat, para pembunuh bayaran dari organisasi itu menghilang. Para pembunuh bayaran yang dikumpulkan Sandra pun mengikuti mereka.

Yang tersisa hanyalah ajudannya, Gunter. Gunter pun membuka mulut.

"Apakah saya cukup siaga saja?"

"Tidak apa-apa. Aku punya tugas untukmu."

Di tangan Sandra masih ada beberapa pembunuh bayaran elit. Jika mereka dikerahkan, mungkin bisa menang dengan kekuatan, tapi Sandra tidak ingin jumlah pembunuh bayarannya berkurang lagi.

Itulah alasan perintahnya, tapi sekarang adalah saat penentuan. Jika ia menahan diri sekarang, bisa-bisa akan terjadi hal yang tidak bisa diperbaiki. Berpikir begitu, Gunter hendak mengajukan diri untuk ikut bertarung.

Namun, sebelum itu, terdengar suara dari belakang punggung Gunter.

"Nona Sandra. Ada laporan."

Seorang pembunuh bayaran berhasil mendekat dari belakang. Terlebih lagi, ia baru sadar setelah lawannya berbicara. Itu adalah hal yang memalukan, tapi Gunter bahkan tidak merasa marah.

Karena yang mendekat dari belakangnya adalah pembunuh bayaran terkuat yang dimiliki Suzan, dan merupakan sosok yang paling menonjol di antara para pembunuh bayaran yang pernah ia temui.

"Katakan padaku. Xiaomei."

Yang mendekat dari belakang Gunter adalah pelayan sekaligus pembunuh bayaran Suzan, Xiaomei. Fakta bahwa ia sengaja meninggalkan Suzan menunjukkan bahwa ini adalah urusan penting.

"Pangeran Leonard dan Pangeran Arnold telah diperintahkan oleh Yang Mulia Kaisar untuk melakukan inspeksi ke selatan. Dengan dalih pengawalan, mereka sepertinya akan memusatkan kekuatan di Jena."

"Merepotkan sekali sampai melibatkan Ayahanda. Tapi, ini juga kesempatan."

"Benar. Penjagaan di sekitar Putri Christa akan menipis. Apakah kita akan bergerak?"

"Tentu saja. Bergeraklah dengan niat itu. Tapi, pertama-tama, lakukan pengintaian. Ini adalah hal yang sama sekali tidak boleh gagal. Jika berhasil, aku akan mendapatkan pengguna Sihir Bawaan yang hanya ada dalam literatur. Ah... dia akan menjadi subjek eksperimen yang luar biasa...."

Sandra bergumam dengan ekspresi terbuai. Fakta bahwa itu adalah adiknya sendiri sudah tidak ada lagi di kepalanya.

Terhadap Sandra yang seperti itu, Xiaomei tidak berkata apa-apa. Karena itu sudah biasa.

"Kalau begitu, saya akan menyelidiki sekitarnya. Kasus di Jena sepertinya tidak akan selesai dengan cepat. Di sela-sela itu, saya akan mencari waktu yang tepat untuk bergerak."

"Aku mengerti. Gunter, kau juga bantu."

"Siap laksanakan."

Mendengar jawabannya, Sandra melambaikan tangan menyuruh keduanya pergi menyelidik. Lalu, di ruangan yang sudah kosong, ia tersenyum sinis.

"Jika kasus di Jena berakhir dengan kegagalan... aku terpaksa harus meninggalkan Paman, tapi mau bagaimana lagi, kan? Ini demi aku menjadi kaisar. Tenang saja. Selama aku mendapatkan Christa, aku akan semakin dekat dengan takhta."

Sambil berkata begitu, Sandra tersenyum jahat.

© 2026 Yozuku Novel Admin. All rights reserved.