Bab 4: Perasaan Masing-Masing - Bagian 5

Volume 3 - Chapter 11

January 1, 2019


Furcas merasuki manusia yang baru saja mati, sedangkan Balam merasuki manusia yang masih hidup. Oleh karena itu, Balam tidak dalam kondisi di mana ia bisa mengerahkan kekuatan iblisnya sepenuhnya.

Bagi Balam, akan lebih menguntungkan jika Leo melarikan diri, tetapi Leo seolah bisa melihat hal itu dan menantangnya untuk bertarung.

"Pangeran yang licik."

"Akan kuanggap itu sebagai pujian."

Ketegangan di antara keduanya perlahan meningkat. Di tengah situasi itu, Silver turun dari langit.

"Biar kubantu."

Wajah Balam mengernyit melihat datangnya bala bantuan yang kuat. Melawan seseorang yang bisa menahan serangan Furcas, Balam tidak punya peluang menang. Namun, kehadiran pria bertopeng ini di sini berarti tidak ada lagi yang bisa melawan Furcas.

Balam tersenyum puas karena serangannya pada sang pangeran untuk menjatuhkan moral musuh ternyata membuahkan hasil lebih dari yang ia duga. Akan tetapi.

"Tidak perlu. Kejar Linfia."

"Kelihatannya tidak begitu."

"Dia membutuhkanmu. Pergilah."

Leo maju ke depan dan mengatakan itu pada Silver. Namun, Silver tidak mundur.

image_img-p280.jpg

"Aku tidak bisa langsung bilang 'baiklah' begitu saja. Aku juga akan kerepotan kalau kau mati."

Silver menyembuhkan luka di perut Leo dengan sihir penyembuh.

Namun, Leo bukan hanya tidak mengucapkan terima kasih, ia malah memelototi Silver.

"Jangan bicara yang tidak-tidak...! Khawatirkan nyawa anak-anak itu lebih dari nyawaku! Bukankah kau datang ke sini untuk itu!?"

"Aku akan menyusul setelah membereskan orang ini. Jangan khawatir."

"Jangan pedulikan aku.... Pergi sekarang juga."

"Tetapi..."

"Tidak ada tetapi! Jika kau mengakuiku, maka pergilah!"

Leo menatap Silver dengan tajam. Tatapan mata Leo itu memancarkan kekuatan yang berbeda dari tatapan Leo yang pernah Silver, atau lebih tepatnya Ar, lihat selama ini.

"Aku akan menjadi kaisar yang kuidamkan... langkah pertamaku adalah penyelamatan anak-anak ini. Aku mengerahkan banyak kesatria dan petualang, aku memaksakan kehendakku. Kalau setelah semua ini aku tidak bisa menyelamatkan anak-anak itu... aku tidak akan mengakuinya! Kita pasti akan menyelamatkan anak-anak itu dan menyelesaikan anomali ini!! Pergi! Silver! Jika kau memang seorang petualang peringkat SS, tunjukkan kekuatanmu padaku!!!!"

Itu sudah bisa disebut sebagai sebuah raungan.

Bagi Ar, ini adalah pertama kalinya ia melihat Leo yang seperti itu.

Maka, Ar dengan perlahan menendang tanah dan melayang ke udara.

image_img-p281.jpg

"Kalau begitu akan kutunjukkan. Jangan mati sebelum kau menyaksikannya, Pangeran Leonard."

"Tenang saja... aku adalah pria yang akan menjadi kaisar. Aku tidak akan mati di sini."

"Begitu, ya..."

Setelah berkata begitu, Ar berteleportasi ke arah kota.

Dan tatapan tajam Leo kini beralih pada Balam.

"Majulah... Balam. Atas nama Pangeran Kekaisaran, aku akan menghukummu yang telah membawa bencana bagi kekaisaran!"

"Lakukan saja kalau bisa!"

Maka, pertarungan antara Balam dan Leo pun dimulai.

Pedang dan pedang saling beradu. Jika ini adalah Leo yang biasanya, mungkin ia akan bertarung sambil dengan tenang menganalisis situasi lawannya. Akan tetapi, Leo saat ini berbeda dari biasanya.

"Haaaaah!!"

"Kkh!"

Menerima rentetan serangan dahsyat, Balam yang hanya memiliki satu tangan terpaksa bertahan sambil terus mundur.

Dan satu tebasan Leo berhasil mematahkan pedang Balam.

"Uoooooooh!!"

"Cih!!"

Leo memutar pergelangan tangannya dan mengincar lengan Balam yang tersisa.

Pada saat itu, Balam menjadi tak terlihat dan melarikan diri dari tempat itu.

"Menghilang, ya..."

Leo memusatkan perhatian pada suara dan hawa keberadaan di sekitarnya. Jika Balam akan mundur hanya karena ini, ia tidak akan menyerang sejak awal. Dia pasti akan mengincarku.

Leo memiliki keyakinan itu. Dan itu benar.

"Hah!"

"Gkh..."

Balam yang tiba-tiba muncul di belakangnya menebas punggung Leo dengan ringan.

Di tangannya tergenggam sebilah belati.

Leo berbalik dan mengayunkan pedangnya, tetapi saat itu sosok Balam sudah tidak ada lagi.

Tanpa sadar, Leo berdecak kesal, hal yang tidak biasa baginya, lalu ia melihat sekeliling. Akan tetapi, ia tidak bisa menemukan Balam, dan kali ini Balam yang muncul dari samping menusuk kaki kirinya.

"Ughk..."

"Menyedihkan sekali, Pangeran."

"Sialan!"

Leo mengayunkan pedangnya ke arah Balam, tetapi Balam dengan santai menjaga jarak dan kembali menjadi tak terlihat.

Menyadari bahwa amarahnya mulai memuncak, Leo menarik napas dalam-dalam. Dari mana dia akan datang selanjutnya? Bagaimana cara membalas serangannya? Saat ia memikirkan hal itu, wajah Ar terlintas di benak Leo.

Tipu muslihat adalah bidang Ar. Bagaimana caranya agar bisa mengejutkan lawan.

"Kalau Kakak..."

Leo berpikir sejenak, lalu memasukkan pedangnya ke dalam sarung. Kemudian ia menutup mata dan hanya fokus pada hawa keberadaan.

Senjata lawan adalah belati. Untuk memberikan luka fatal, ia harus mengincar titik vital. Dan serangan yang paling mungkin adalah tusukan. Balam yang masih santai tidak akan mengambil risiko. Kalau begitu, targetnya adalah jantung. Leo menduga targetnya adalah tusukan ke jantung, dan pada saat ia merasakan hawa keberadaan di belakangnya.

Ia menggeser tubuhnya ke kanan. Namun, rasa panas menjalar di bahu kirinya. Diikuti rasa sakit yang tajam.

Ia melihat, sebuah belati tertancap dalam di bahu kirinya.

"Kau pikir bisa menghindar jika menyerah untuk menyerang balik dan fokus menghindar?"

"Tidak... aku tidak menyerah pada apa pun..."

Sambil berkata begitu, Leo mengatupkan giginya, menggeser tubuhnya, dan mencengkeram leher Balam dengan tangan kanannya.

Kemudian, seolah berkata 'patahkan', ia mengerahkan kekuatannya sambil bergumam.

《Api itu turun dari surga・Untuk menyelamatkan orang-orang baik・Wahai api suci agung・Berkobarlah dengan agung・Demi memusnahkan para iblis──Holy Blaze》

Sihir Modern lima bait. Itu adalah sihir suci yang memiliki efek luar biasa pada monster tipe undead. Meskipun termasuk sihir tingkat tinggi dan jarang ada yang menggunakannya di antara Sihir Modern yang tersebar luas, Leo telah mempelajari banyak sihir secara merata, dan ia juga telah menguasai sihir ini dengan baik. Agar suatu saat nanti ia tidak akan kesulitan.

Api suci muncul di tangan kanan Leo dan hanya membakar Balam. Tangan Leo tidak terpengaruh sama sekali.

"Guoooooooh!?"

"Tidak akan kubiarkan kau lari..."

Balam yang menunjukkan gelagat akan melarikan diri mencengkeram lengan kanan Leo dengan sekuat tenaga, tetapi Leo sama sekali tidak melepaskannya dan terus memperkuat api sucinya.

Akhirnya Balam berhenti melawan, tetapi Leo terus membakarnya sampai tubuhnya benar-benar menjadi debu.

"Hah, hah..."

Melihat Balam telah menjadi debu dan debu itu menari bersama angin, Leo menarik pedangnya dari sarung dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Pangeran Kedelapan Kekaisaran, Leonard Lakes Adler, telah menumpas sang iblis!!!!"

Seketika, para kesatria yang ada di sana meneriakkan sorak kemenangan. Lalu Leo menatap ke arah kota.

"Aku mengandalkanmu, Linfia..."

Pada saat itu juga, bola hitam itu memancarkan cahaya yang kuat.

13

Setelah memasuki kota Bassau, Linfia dan yang lainnya melihat bola hitam yang melayang di langit dan lubang hitam raksasa yang terbentang di bawahnya.

"Tidak perlu penjelasan. Ini adalah lubang yang terhubung ke Dunia Iblis, ya."

"Kita harus segera menutupnya."

Karena Balam telah memanggil monster secara besar-besaran sekaligus, monster tidak akan lagi muncul dalam jumlah besar, tetapi saat ini pun para skeleton masih terus keluar sedikit demi sedikit dari lubang itu. Jika dibiarkan, jumlah mereka akan terus bertambah.

"Untuk itu, kita harus melakukan sesuatu pada bola hitam ini..."

"Jika adikku ada di dalam, mungkin dia akan merespons jika kupanggil."

"Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita ke sana."

Lise menengadah menatap bola yang melayang di langit itu. Jaraknya jelas tidak bisa dijangkau hanya dengan melompat.

Saat ia sedang berpikir, tiba-tiba Lise menerima serangan dari samping. Ia terlempar jauh, tetapi berhasil mendarat setelah berputar di udara. Namun, pedang yang digenggam Lise telah patah di bagian tengahnya.

"Hmm, hanya terkena serangan saja sudah begini, ya."

"Padahal itu serangan yang berniat membunuh."

Sambil berkata begitu, Furcas mengayunkan pedangnya dengan ringan. Furcas tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya karena ada dua manusia yang bisa menahan serangan dari dirinya yang merupakan tipe petarung murni.

Namun, bisa menahan dan bisa bertarung adalah dua hal yang berbeda.

Perlahan, Furcas berjalan menuju Lise, tetapi Linfia dan para prajurit menghalanginya.

"Kupikir sebaiknya kalian mundur."

"Apa Anda sendiri tidak apa-apa? Bukankah akan jadi masalah jika Anda menyerang saya?"

"Kekhawatiran itu sudah tidak ada lagi. Tuan pemanggilku sudah kutidurkan dengan lelap. Di dalam bola yang kubuat itu."

"Kau yang melakukan itu pada adikku...!"

"Salah alamat kalau kau marah padaku. Anak itu yang memanggil kami. Dia putus asa dan meminta tolong pada siapa saja. Dan karena dia mencari tempat yang aman, aku melindunginya di dalam bola itu."

"Melindunginya, katamu...!?"

Iblis tidak bisa menentang pemanggilnya secara langsung. Namun, perintah bisa ditafsirkan sesuka hati.

Jika berkata 'tolong aku', mereka akan menolong, tetapi dengan perintah yang ambigu seperti itu, caranya menjadi kebebasan si iblis.

Karena risiko inilah pemanggilan iblis menjadi usang. Pada umumnya, iblis lebih licik dan cerdik daripada manusia, sehingga sering kali manusia diperdaya dalam masalah penafsiran.

Linfia menunjukkan kemarahan pada argumen Furcas, tetapi ia tidak sampai nekat menyerang hanya karena amarah.

Furcas melangkah maju ke arah Linfia, tetapi pada saat itu, Silver berteleportasi ke hadapannya.

"Lawanmu adalah aku."

"Oh? Kau meninggalkan Balam begitu saja?"

"Kupikir pangeran itu tidak akan kalah oleh lawan sepertinya."

"Jangan meremehkan iblis."

"Kukembalikan kata-kata itu padamu. Jangan meremehkan manusia."

Mana keduanya meningkat drastis.

Sementara itu, Linfia dan yang lainnya menjaga jarak. Mereka sadar bahwa jika berada di dekat situ, mereka hanya akan mengganggu.

"Yang Mulia, Anda terluka?"

"Tidak. Daripada itu, ayo kita pikirkan cara untuk pergi ke sana."

Saat Lise mengatakan itu, sebuah perintang berbentuk tangga terbentuk di hadapan mereka.

Tangga itu terbentang dengan sempurna sampai ke bola hitam.

"Kau cukup perhatian juga, petualang bertopeng."

"Sebuah kehormatan dipuji oleh Anda. Linfia, pergilah. Itu juga sejenis perintang. Jika pemanggil di dalamnya sadar, semua bisa diatasi."

"Baik! Terima kasih banyak! Silver!"

Sambil berkata begitu, Linfia menaiki tangga perintang itu.

Para skeleton berkumpul seolah tidak akan membiarkannya, tetapi Lise dan pasukannya membentuk formasi melingkar.

"Pertahankan dengan nyawa kalian!"

Di bawah komando Lise, para skeleton berhasil dipukul mundur, tetapi jika terus melawan musuh yang tak ada habisnya, cepat atau lambat pertahanan mereka akan ditembus.

Linfia berlari sekuat tenaga karena harus bergegas. Di hadapannya, Furcas muncul.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu lewat?"

"Tentu saja aku akan lewat."

Linfia sama sekali tidak mengurangi kecepatannya dan terus berlari.

Beberapa sihir melesat ke arah Furcas seolah untuk melindungi Linfia.

Furcas menangkis semuanya dengan pedangnya, tetapi sebuah sihir yang dilepaskan dari arah memutar mengenainya dari belakang, membuatnya terpental dari jalur Linfia.

"Kkh!"

"Bukankah sudah kubilang lawanmu adalah aku?"

"Sepertinya aku harus membereskanmu terlebih dahulu!"

Maka, pertarungan keduanya pun dimulai.

Sementara itu, Linfia berhasil tiba di bola hitam.

"Shinfa! Shinfa!!"

Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, jadi ia terus memanggil nama adiknya. Bola hitam itu tidak merespons.

Linfia membulatkan tekad dan menusukkan tangan kanannya ke dalam bola hitam itu.

"Guuuu!!"

Sengatan listrik yang tajam menjalar di lengan kanannya.

Namun, Linfia tidak menyerah dan terus mendorong lengan kanannya lebih dalam ke bola hitam itu.

"Shinfa...! Ini aku...! Linfia!!"

Sensasi di lengan kanannya perlahan menghilang karena sengatan listrik.

Meskipun begitu, Linfia terus maju sedikit demi sedikit.

Berkat usahanya, lengan kanan Linfia mulai masuk ke bagian dalam bola hitam.

Namun, seolah ingin menyingkirkan benda asing, sengatan listriknya menjadi semakin kuat.

"Uuuuuh!! Aaaaah!!"

Sambil mengerang kesakitan, Linfia mengatupkan giginya.

Tidak sakit, tidak sakit, ia terus meyakinkan dirinya sendiri.

"Maafkan aku... tidak bisa melindungimu... Shinfa... sekarang sudah tidak apa-apa... kakak sudah datang..."

Linfia mendorong lengan kanannya semakin dalam. Dan saat bahu kanannya ikut masuk.

Sebuah suara bergema di dalam kepalanya.

『Li, n... Kakak...?』

"Shinfa!? Shinfa!! Kau di sana!?"

『Aku takut... Kak Lin...』

"Tidak apa-apa... ada aku di sini..."

Namun, tidak ada respons di ujung lengan kanan Linfia.

Sambil berharap adiknya akan mengulurkan tangan, Linfia terus memanggilnya.

"Sudah tidak apa-apa... ayo kita pulang bersama..."

『Tapi...』

"Tidak menakutkan, kok... aku akan melindungimu..."

『Orang yang mencoba menolongku seperti itu mati... Kak Lin juga nanti mati...』

"Apa yang kau katakan... aku tidak akan mati... aku punya banyak teman."

『Teman...? Orang-orang dewasa yang banyak itu teman kakak...?』

"Benar... mereka berkumpul untuk menolong Shinfa..."

『...Orang dewasa itu menakutkan...』

Mendengar kata-kata yang penuh kecurigaan itu, Linfia menggertakkan giginya dengan kuat.

Sebelum meninggalkan desa, adiknya adalah anak yang baik dan ramah. Bagaimana bisa ia jadi berkata seperti ini? Apa yang telah ia alami? Apa yang telah ia biarkan adiknya alami?

"...Maafkan aku... maafkan aku... Shinfa..."

『Kak Lin, apa kau menangis...?』

"Tidak... aku tidak apa-apa... selama Shinfa selamat, itu sudah cukup... tidak ada lagi yang menakutkan... aku akan melindungimu dari segalanya... bahkan jika ada orang dewasa yang menakutkan, tidak apa-apa..."

『Benarkah...? Benar-benar tidak menakutkan...? Bukan hanya aku... apa mereka juga akan melindungi yang lain?』

"Yang lain...? Ada anak-anak lain juga? Apa mereka baik-baik saja?"

『Iya...』

"Kau melindungi mereka semua, ya... kau hebat... tidak apa-apa... berapa pun jumlahnya akan kulindungi."

Sengatan listrik itu tidak berhenti sama sekali. Namun, Linfia sama sekali tidak menunjukkan rasa sakitnya.

Ia tidak boleh membuat adiknya khawatir.

Jika Shinfa menjadi takut di sini, semuanya akan sia-sia.

Banyak orang telah membantunya. Ia tidak sampai di sini sendirian.

Kalau ia kalah hanya karena sengatan listrik, ia tidak akan bisa menatap wajah orang-orang yang telah membantunya.

"Ulurkan tanganmu! Shinfa!"

『Iya... tapi Kak Lin di mana?』

"Pokoknya ulurkan saja tanganmu! Aku juga akan mengulurkannya!"

Sambil berkata begitu, Linfia mengulurkan tangannya sekuat tenaga.

Dan sesuatu menyentuh ujung tangannya.

Yakin bahwa itu adalah tangan adiknya, Linfia membulatkan tekad dan menenggelamkan seluruh bagian atas tubuhnya ke dalam bola hitam.

Sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia bahkan tidak bisa bernapas. Meskipun begitu, Linfia tidak peduli dan terus mengulurkan tangannya. Ada sesuatu yang berharga di hadapannya.

Leo berkata ia akan memaksakan kehendaknya. Sama seperti dirinya.

Dengan tekad untuk tidak akan pernah mundur, dengan tekad yang tak tergoyahkan, Linfia mengulurkan tangan kanannya.

Lalu, sesuatu kembali menyentuh ujung tangannya. Linfia tidak melepaskannya dan langsung mencengkeramnya dengan kuat, lalu menariknya ke atas.

Yang ia tarik keluar dari dalam bola hitam adalah seorang gadis berambut cokelat. Warna matanya merah dan biru.

"Ah... Shinfa..."

"Kak Lin..."

Yang ada di sana tidak salah lagi adalah adiknya, Shinfa.

Adiknya yang ia sumpahi akan ia lindungi. Adiknya yang tidak bisa ia lindungi. Linfia memeluknya dengan erat seolah tidak akan pernah melepaskannya lagi. Namun, momen itu tidak berlangsung lama.

Karena Shinfa yang menjadi pusatnya telah keluar, bola hitam itu mulai retak.

Lalu, bola hitam itu memancarkan cahaya dan lenyap. Dan jika bola hitam itu lenyap, anak-anak yang ada di dalamnya akan jatuh.

"!!"

Linfia refleks melompat turun dan berteriak dengan suara keras.

"SILVER!!!!"

Sambil berteriak, Linfia berusaha menarik anak-anak sebanyak mungkin. Tetapi, tangannya tidak cukup.

Lise dan yang lainnya di bawah yang menyadarinya mulai bergerak, tetapi tidak akan sempat. Kalau begini terus, mereka akan jatuh ke dalam lubang yang terhubung dengan Dunia Iblis yang masih terbuka di bawah.

Di tengah situasi itu, tiba-tiba seekor elang perak raksasa muncul di hadapan Linfia dan yang lainnya.

Elang itu menaikkan Linfia dan anak-anak yang jatuh ke punggungnya, lalu mengepakkan sayapnya dengan kuat.

"Wah... burungnya cantik..."

"Ini..."

"Ini elang yang kuciptakan dengan sihir. Sebenarnya aku ingin setidaknya memanggilnya, sih."

Sambil berkata begitu, Silver muncul sejajar dengan elang perak itu.

Lalu Silver melihat Linfia, Shinfa yang memeluknya, dan banyak anak-anak lain yang pingsan, dan tersenyum kecil.

"Kerja bagus. Selebihnya serahkan padaku."

"Baik... saya serahkan pada Anda."

"Hei, hei, nama burung ini apa?"

"Nama? Benar juga. Belum ada. Beri dia nama, gih."

"Benarkah!? Hmm, apa ya enaknya."

Setelah tersenyum melihat tingkah Shinfa yang menggemaskan, Silver menahan serangan yang datang dengan perintang. Di belakangnya ada Furcas yang dipenuhi amarah.

"Tidak akan kumaafkan... beraninya kau mengganggu rencanaku...!"

"Tidak memaafkan? Itu kalimatku. Jangan harap kau bisa mati dengan tenang."

"Jangan membual. Aku sudah tahu kekuatanmu. Kau bukan tandinganku."

"Begitu... kalau begitu, cobalah."

Sesaat setelah berkata begitu, mana Silver membengkak menjadi lebih kuat dan besar dari sebelumnya.

Melihat itu, Linfia sadar.

Ia menahan diri karena mempertimbangkan dampaknya pada orang-orang di sekitar.

Mulai sekarang adalah kekuatan Silver yang sesungguhnya.

14

"Jangan membual. Aku sudah tahu kekuatanmu. Kau bukan tandinganku."

Furcas menatapku dengan pandangan merendahkan.

Dia mungkin merasa tidak ada celah untuk kalah berdasarkan pertarungan kami sejauh ini. Memang benar, dalam pertarungan sejauh ini aku belum bisa memberikan kerusakan berarti pada Furcas. Furcas juga belum memberikan kerusakan padaku, tetapi jelas sekali dia belum serius.

Mungkin dia menyimpan kekuatannya untuk berjaga-jaga, sebagai persiapan untuk melawan pemanggilnya.

Namun, yang belum serius bukan hanya dia, tetapi juga aku.

"Begitu... kalau begitu, cobalah."

Aku melepaskan mana yang selama ini kutahan. Aku tidak serius sampai sekarang agar tidak menakuti adik Linfia, tetapi sekarang adik Linfia sudah diselamatkan. Tidak perlu menahan diri lagi.

"Jangan membuatku mengatakannya berulang kali. Kekuatanmu itu... bagiku..."

"Ada apa? Kalau kau bilang aku bukan tandinganmu, majulah."

Sepertinya Furcas juga telah melepaskan kekuatannya yang ia tahan, tetapi paling-paling hanya sekitar dua kali lipat dari sebelumnya.

Sebaliknya, kekuatanku lebih dari sepuluh kali lipat dari sebelumnya.

Mana yang begitu pekat meningkat hingga bisa terlihat. Jarang sekali aku mengeluarkan kekuatan seserius ini. Itu karena sulit untuk bertarung tanpa melibatkan orang di sekitar.

"Kali ini, orang yang harus kukhawatirkan lebih sedikit dari biasanya... jadi aku akan sedikit lebih serius, ya?"

"Sedikit katamu!? Ada ribuan manusia di bawah sana, tahu!?"

"Itu termasuk sedikit dibandingkan dengan yang akhir-akhir ini."

Dibandingkan dengan penduduk Kiel atau Ibukota Kadipaten Albatro, ribuan orang bukanlah jumlah yang besar. Aku memang menggunakan Healing Barrier seperti yang kugunakan di Kiel, tetapi karena mereka berkumpul di satu tempat, aku bisa mempersempit jangkauannya.

Aku juga tidak perlu terlalu khawatir dengan bangunan, jadi kondisi medan perangnya cukup bagus.

Furcas menggertakkan giginya dan menyiapkan pedangnya.

"Sebesar apa pun kekuatanmu! Tidak akan ada artinya jika kau tidak bisa menggunakannya!"

Sambil berkata begitu, Furcas mendekatiku dengan kecepatan tinggi.

Penyihir lemah dalam pertarungan jarak dekat. Taktik ini mungkin karena dia tahu akan hal itu. Memang benar, aku tidak bisa menggunakan senjata. Kemampuan bela diriku juga di bawah rata-rata. Itu tidak berubah bahkan saat aku menjadi Silver.

Sebanyak apa pun aku meningkatkan kemampuan fisikku, bakat bela diriku tidak akan meningkat.

Tapi, kalau begitu, aku hanya perlu bertarung dengan cara yang tidak memerlukan bakat bela diri.

"Kena kau!!"

Furcas masuk ke dalam jangkauanku dari sebelah kiri.

Aku memiringkan tubuhku dan berteleportasi dalam sekejap. Lokasinya adalah di atas kota, jauh dari Furcas.

Di sana, aku mengarahkan tangan kananku ke arah Furcas dan bergumam.

《Melesatlah, petir darah—Bloody Lightning》

Sebuah petir raksasa berwarna hitam pekat seperti darah melesat lurus ke arah Furcas.

Furcas refleks menahannya dengan pedang, tetapi tidak kuat menahannya dan terlempar cukup jauh.

"Uoooooooh!!"

Furcas entah bagaimana berhasil menangkis petir darah itu ke atas dan melarikan diri, tetapi tubuhnya menderita luka bakar yang parah. Namun, luka bakar yang seharusnya membuat manusia tidak bisa bergerak itu sembuh dalam sekejap. Sepertinya elemen iblisnya lebih kuat daripada Balam.

"Bagaimana? Sudah mulai mengerti kekuatanku?"

"Jangan... sombong!!"

Sambil berkata begitu, Furcas menciptakan lima pedang raksasa setinggi beberapa meter dan melemparkannya ke arahku. Pedang-pedang besar yang melesat dengan kecepatan tinggi itu bagaikan burung buas.

Mereka bekerja sama untuk menyudutkanku.

Aku terbang untuk menghindar, tetapi begitu aku menghindar, pedang besar lain muncul dari titik butaku.

Saat aku sedang kejar-kejaran dengan pedang-pedang besar itu, Furcas mendekat dari bawahku.

"Dengan begini kau tidak akan bisa berteleportasi!!"

"Jangan remehkan aku."

Aku mengurung pedang-pedang besar itu dengan perintang untuk menghentikan gerakan mereka, lalu melancarkan pukulan lurus kanan sebagai serangan balasan pada Furcas yang menyerang dengan monoton. Pukulan lurus kanan itu mengambil bentuk kepalan tangan raksasa tembus pandang dan meniup Furcas yang masih berjarak cukup jauh.

"Guoo!?"

Ini adalah bentuk pengembangan dari sihir yang menciptakan tangan atau kaki virtual yang disebut Magic Hand.

Furcas yang terkena kepalan sihir itu terbanting ke tanah. Terhadap Furcas yang terpental tinggi, aku melakukan gerakan menendang. Tendangan rendah yang jika Erna melihatnya mungkin akan dibilang tidak punya bakat, tetapi untuk sekadar meniup lawan, ini sudah cukup.

Sebuah kaki raksasa terbentuk dan meniup Furcas ke samping.

"Gkh! Kkh! Uoooooooooooooo!!"

Sambil berulang kali terbanting ke tanah, Furcas mencoba berhenti dengan menusukkan pedangnya ke tanah. Namun, akibatnya, Furcas malah menerima serangan lebih lanjut.

《Wahai Raja Bumi, hukumilah yang lancang—Earthquake》

Tanah tempat Furcas mendarat perlahan naik, dan akhirnya menjadi tombak tanah raksasa yang menyerang Furcas. Furcas mencoba melarikan diri ke langit, tetapi tombak-tombak itu terus bertambah dan memanjang tanpa henti sampai berhasil menangkapnya.

"Cih! Sihir-sihir merepotkan!!"

Sadar bahwa tidak ada habisnya, Furcas menyelimuti pedangnya dengan kegelapan dan melepaskannya dengan sekuat tenaga.

Jurus itu menghancurkan tombak-tombak tanah menjadi berkeping-keping dan kembali ke bumi.

"Hah, hah..."

"Sepertinya kau cukup lelah, ya? Mau istirahat?"

"Kkh... kenapa? Kenapa kau tidak bertarung dengan serius sejak awal?"

"Karena kalau aku bertarung dengan serius, aku akan menakutinya. Pemanggilmu itu."

"Hanya itu...? Hanya karena itu kau tidak serius!?"

Furcas membuka matanya lebar-lebar seolah tidak percaya. Yah, wajar saja.

Aku bergerak untuk mencari hasil terbaik. Ada juga yang mengkritikku karena itu. Terkadang aku sengaja bertarung di tempat yang tidak menguntungkan hanya demi satu desa. Terkadang pertarungan menjadi lebih lama hanya demi satu orang.

Banyak yang berkata korbankan saja. Pengorbanan yang tidak bisa dihindari. Bagaimana jika banyak korban yang jatuh karena itu? Mungkin itu argumen yang benar. Tapi, aku tidak punya kewajiban atau keharusan untuk mengikutinya.

"Hanya itu. Ada orang-orang yang berkata bahwa mereka yang punya kekuatan punya tanggung jawab. Kupikir itu alasan yang seenaknya, tapi ada juga benarnya. Jika mereka ada dalam jangkauan, maka sudah seharusnya ditolong. Namun, sayangnya aku juga manusia. Aku tidak bisa menolong mereka yang di luar jangkauanku. Karena itulah, aku telah memutuskan untuk melindungi mereka yang bisa kujangkau dengan sekuat tenaga. Meskipun itu membuatku berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, meskipun aku disebut bodoh, itulah keyakinanku sebagai seorang petualang."

"Aku tidak bisa mengerti... yang kuatlah yang benar! Itulah hukum Dunia Iblis!"

"Itu di Dunia Iblis. Tapi, ini dunia permukaan. Dunia ini punya aturannya sendiri."

"Aturan itu ditentukan oleh yang kuat, bukan!?"

"Ya, benar. Dan yang terkuat di tempat ini adalah aku. Artinya di sini—akulah aturannya."

"Jangan bercandaaaaa!!!!"

Mendengar kata-kataku, Furcas menjadi murka dan menyelimuti pedangnya dengan kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya.

Lalu ia mengayunkannya ke arahku. Sepertinya sebagai iblis, ia tidak bisa lagi membiarkan kelancanganku. Dipermalukan oleh manusia biasa, harga dirinya sebagai iblis tidak akan mengizinkannya.

Namun, itu adalah fakta yang murni. Tebasan kegelapan yang dilepaskan Furcas ditahan oleh perintang yang telah kusiapkan. Perintang yang menyerap serangan lawan.

"Seharusnya kau pindah begitu kau dipanggil. Pikiran untuk membangun markas di sini dan membawa iblis lain adalah sebuah kesombongan."

"Yang paling sombong adalah kau!!"

"Aku tidak menyangkalnya."

Furcas mengerahkan lebih banyak kekuatan untuk menembus perintang dan meningkatkan kekuatan tebasannya, tetapi perintang ini tidak akan bisa ditembus dengan mudah. Seharusnya dia menyerah untuk menerobos dari depan saat aku sudah menyiapkannya. Furcas memelototiku, tetapi aku tidak peduli.

Yang melihatku bukan hanya Furcas. Banyak orang yang melihatku.

Melihat Silver, petualang peringkat SS.

"Petualang peringkat SS... berbeda dari petualang lain. Semua orang berpikir, 'kalau Silver, pasti bisa'. Aku harus menjadi sosok yang membuat mereka berpikir seperti itu. Dan hari ini, calon kaisar masa depan berkata padaku untuk menunjukkan kekuatanku yang sesungguhnya. Untuk meminjamkan kekuatanku demi memaksakan kehendaknya. Aku harus membalas tekad itu, bukan?"

Sambil berkata begitu, aku mengubah semua kekuatan yang telah kuserap menjadi mana dan mulai mempersiapkan sihir besar. Seolah menyadarinya, Furcas mencoba menggangguku, tetapi rantai-rantai yang muncul mengikatnya.

"Ini...!?"

"Diamlah di sana. Sihir ini butuh sedikit waktu."

Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku menggunakannya? Sejak Perebutan Takhta dimulai, aku hanya sibuk bergerak di balik layar untuk mendorong Leo. Semakin banyak yang harus kulindungi, semakin banyak yang harus kulakukan, dan aku tidak pernah bisa fokus hanya pada pertarungan.

Dulu lebih mudah. Bertarung sendirian, mengalahkan lawan yang kuat, dan selesai. Sederhana dan jelas. Saat bertarung sebagai Silver, semuanya terasa mudah.

Meskipun begitu, aku sudah tahu semua itu dan memutuskan untuk mendukung Leo. Dan Leo telah membuktikan bahwa keputusanku tidak salah. Dia telah tumbuh dan semakin mendekati kaisar ideal yang pernah kulihat. Suatu saat nanti, Leo pasti bisa menjadi kaisar yang dipuji semua orang. Dia telah menunjukkan kemungkinan itu.

Kalau begitu, aku juga tidak bisa bersantai-santai saja. Di sini, aku perlu mengingatkan semua orang. Bahwa Silver adalah sosok yang harus ditakuti.

《Akulah yang mengetahui hukum perak・Akulah yang terpilih oleh perak sejati》

Aku memakai topeng perak, jadi namaku Silver.

Bukan karena alasan sesederhana itu aku menamai diriku Silver.

《Bintang perak datang dari lautan bintang・Menerangi bumi dan menggetarkan langit》

Ancient Magic juga punya beberapa klasifikasi. Di antara mereka, ada sihir yang sangat kuat.

Ada klasifikasi sihir yang paling kukusai. Namanya adalah Silver Annihilation Magic. Sihir yang kugunakan untuk menaklukkan naga purba, sihir yang pertama kali kugunakan sebagai petualang, dan simbol dari Silver.

《Cahaya peraknya adalah kebenaran ilahi・Kilau peraknya adalah restu surgawi》

Saat memutuskan untuk menjadi petualang, sebagai permulaan aku menaklukkan naga purba yang memasuki masa aktif di dekat kekaisaran, dan membawanya sebagai oleh-oleh saat mengunjungi markas guild.

Meskipun aku belum mendaftar sebagai petualang, para petualang dari tim penaklukan melaporkan prestasiku, dan sebagai pengecualian, aku diangkat menjadi petualang peringkat SS.

《Kilat perak sesaat・Cahaya perak abadi》

Nama Silver diberikan saat itu. Dalam arti tertentu, nama ini lebih mirip julukan.

Artinya, nama Silver bukan sekadar hiasan.

《Wahai cahaya perak, bersemayamlah di tanganku・Demi memusnahkan yang lancang──》

Sebuah bola perak yang memancarkan cahaya kuat muncul di antara kedua tanganku. Furcas yang merasakan kekuatan maha dahsyat yang terpancar darinya, mengerahkan sisa kekuatannya untuk melepaskan diri dari rantai kutukan dan mengambil posisi bertahan.

Hebat juga dia. Melihatnya bisa lepas dari rantai kutukan, tidak salah lagi dia jauh lebih kuat daripada duo vampir yang berdua saja sudah dianggap monster peringkat S. Tetapi sudah terlambat.

Cahaya perak sudah ada di tanganku.

《Silvery Ray》

Saat aku meremukkan bola perak itu, sebuah bola cahaya raksasa muncul di sekelilingku.

Bola itu mengunci target pada Furcas dan menembakkan cahaya perak.

"Uoooooooooh!!!!"

Furcas membalas cahaya perak itu dengan serangan terkuatnya, mencoba untuk saling meniadakan.

Setelah pertarungan yang seimbang untuk waktu yang lama, Furcas entah bagaimana berhasil meniadakannya.

"Lihat! Sihir terkuatmu..."

Furcas yang tadinya bersemangat langsung terdiam.

Itu karena di belakangku ada tujuh bola cahaya, dan masing-masing menembakkan cahaya perak yang sama ke arah monster-monster di bawah. Pemandangan itu mungkin terlihat seperti dewa yang sedang menurunkan hukuman dari langit.

Silvery Ray adalah sihir pemusnah area super luas. Sihir yang secara otomatis akan memusnahkan siapa pun yang kuanggap sebagai musuh. Sayangnya, yang berhasil Furcas tiadakan hanyalah satu tembakan yang telah menyebar.

"Tidak mungkin..."

Monster-monster yang tadinya begitu banyak semuanya lenyap. Yang tersisa hanyalah Furcas.

Aku menggunakan rantai kutukan untuk mengikat Furcas lagi dan membawanya ke atas lubang yang terbuka di pusat kota. Bersamaan dengan itu, ketujuh bola cahaya semuanya mengunci target pada Furcas.

"Kau ini... siapa...?"

"Silver, petualang peringkat SS. Jika kau berhasil kembali hidup-hidup ke Dunia Iblis, pastikan kau menyebarkannya. Bahwa ada orang gila di dunia permukaan."

"Sialan...!"

"Ini hadiah dariku. Kalian sudah repot-repot datang bergerombol. Kasihan kalau kalian tidak sempat melihat cahaya."

Sambil berkata begitu, aku mengangkat tangan kananku. Jika aku menurunkannya, ketujuh bola cahaya akan serentak menembakkan cahaya perak.

Furcas yang menyadarinya mengeluarkan suara untuk menghentikanku.

"Tu-tunggu!?"

"Tidak akan."

Sambil berkata begitu, aku menurunkan lenganku.

Bola-bola cahaya itu memancarkan kilau yang lebih kuat, dan cahaya perak yang terfokus pun ditembakkan. Itu seindah cahaya bintang-bintang, dan bersinar begitu menyilaukan. Dalam sekejap, cahaya perak menelan Furcas, lalu masuk ke dalam lubang dan memusnahkan monster atau iblis apa pun yang mungkin sedang menuju ke sini.

Sesuai dengan lubang yang menyusut, cahaya perak juga semakin menipis. Dan pada akhirnya, perlahan-lahan ia membentuk kepalan tangan, dan saat kepalan itu terbentuk, pancaran cahaya perak berakhir dan lubang itu pun tertutup sepenuhnya.

Silvery Ray telah menyapu bersih para monster. Para iblis juga telah lenyap.

Anak-anak yang terperangkap dalam bola hitam juga telah diselamatkan. Para kesatria dan petualang di medan perang juga telah kutolong sebisa mungkin. Bisa dibilang ini hasil yang sangat baik.

Maka, aku mendeklarasikan pada semua petualang.

"Penumpasan monster yang menjadi target telah dikonfirmasi! Anomali di selatan akan berakhir dengan ini! Oleh karena itu! Dengan ini aku menyatakan penyelesaian Raid Quest 'Penyelamatan Camar Biru'! Kemenangan ada di pihak kita!!"

Seolah sudah menunggu, para petualang bersorak sorai. Terbawa suasana, para kesatria juga mengangkat pedang mereka tinggi-tinggi dan meneriakkan pekik kemenangan. Akhirnya, semua orang mengangkat tangan mereka dan merayakan kemenangan.

Dengan ini, anomali di selatan yang bisa mengguncang kekaisaran telah diselesaikan.

Masih banyak yang harus dilakukan. Membereskan sisanya juga pasti akan sibuk. Meskipun begitu, saat ini mari kita nikmati kemenangan ini.

Ada sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar kemenangan.

Yang didapat sangatlah besar. Dengan ini, Leo adalah seorang pahlawan, dan wilayah selatan akan diselidiki langsung oleh Kaisar.

"Mungkin sudah waktunya untuk serangan balasan."

Sambil bergumam begitu, aku mulai membuat Gerbang Teleportasi untuk memulangkan para petualang dari Ibukota Kekaisaran.

© 2026 Yozuku Novel Admin. All rights reserved.