Epilog

Volume 3 - Chapter 12

January 1, 2019


"Jadi? Bagaimana kondisi Ayahanda setelah itu?"

Setelah pertempuran di selatan, aku kembali ke kediaman Duke Rheinfeld. Cepat atau lambat, Duke dan Kakanda pasti akan diundang ke Ibukota Kekaisaran karena insiden kali ini. Aku berencana untuk kembali ke Ibukota bersamaan dengan mereka. Akan tetapi, aku khawatir dengan kondisi Ayahanda, jadi aku diam-diam kembali seperti ini.

"Iya. Beliau pulih dengan lancar. Sepertinya beliau berkata pada Nyonya Mitsuba kalau sudah tidak apa-apa, tapi dijawab 'masih belum boleh'."

"Itu sangat khas Ayahanda, dan juga khas Ibunda. Ibunda mungkin tidak akan membiarkan Ayahanda bekerja sampai dokter istana memberi izin, tapi yah, kuharap beliau menganggap ini sebagai liburan yang bagus dan beristirahat."

"Bagi Yang Mulia Kaisar... saya dengar asap suar ungu itu seperti simbol kemalangan. Katanya saat Yang Mulia Pangeran Mahkota meninggal, asap suar itu juga dinaikkan. Karena itu, mungkin beliau mengira kali ini Tuan Leo yang akan meninggal. Saya rasa, kita patut bersyukur karena beliau hanya sampai jatuh sakit."

"Yah, itu 'kan asap suar untuk memberitakan keadaan darurat. Biasanya memang terjadi hal yang tidak menyenangkan. Hanya saja, bagi Ayahanda, kakak laki-laki tertuaku yang merupakan Pangeran Mahkota itu adalah sosok yang istimewa. Sosok ideal yang diimpikan semua orang. Jika masih hidup, dia pasti akan menjadi kaisar yang naik takhta tanpa melalui Perebutan Takhta, sebuah hal yang sangat langka dalam sejarah kekaisaran. Tentu saja, Ayahanda juga mengharapkan hal itu. Putra sulung yang tumbuh menjadi lebih hebat dari yang ia bayangkan. Putra kebanggaan yang sangat ia cintai. Berkat beliau, Perebutan Takhta tidak pernah terjadi. Ayahanda adalah orang yang sangat menyayangi anak-anaknya, jadi tidak terjadinya Perebutan Takhta adalah hal yang patut disambut baik. Namun, kematian kakakku menghancurkan segalanya."

Ia kehilangan putra ideal yang pantas mewarisi takhtanya, dan karena itu, Perebutan Takhta di antara anak-anaknya pun dimulai. Masa depan bahagia yang ia yakini tanpa keraguan sedikit pun, semuanya hancur sejak hari ia melihat asap suar itu.

Kemalangan tidak berhenti di situ. Pangeran Mahkota hanya tinggal menunggu waktu untuk naik takhta. Pelimpahan kekuasaan pun sudah dimulai. Para ajudan Pangeran Mahkota telah dipercayakan banyak tugas sebagai calon pewaris kekaisaran generasi berikutnya. Namun, karena putus asa atas kematian Pangeran Mahkota, banyak orang-orang berbakat meninggalkan Ibukota Kekaisaran.

Tentu saja Ayahanda mencoba menahan mereka. Akan tetapi, orang yang telah kehilangan semangat tidak bisa diandalkan, seberapa pun berbakatnya mereka. Begitu besarlah pengaruh Pangeran Mahkota. Kepergian mereka memaksa Ayahanda untuk membangun kembali kekaisaran. Pasti butuh usaha yang luar biasa untuk merebut kembali pengaruhnya yang perlahan mulai ia lepaskan. Padahal Ayahanda sendiri pasti sangat terpukul, tetapi ia berhasil melakukannya.

Dengan begitu, Ayahanda membenamkan diri dalam urusan pemerintahan. Demi melupakan kematian Pangeran Mahkota. Siapa pun yang menasihatinya, ia tidak pernah mau beristirahat. Karena itu, ini juga merupakan kesempatan yang baik. Akan gawat jika beliau sampai jatuh sakit.

"Mungkin Yang Mulia Pangeran Mahkota adalah 'harapan' bagi Yang Mulia Kaisar..."

"Benar. Harapan, matahari, mimpi, ideal. Aku bisa memikirkan banyak perumpamaan. Sesuatu yang membawa berkah bagi orang-orang dan memberi mereka semangat untuk maju. Semakin besar hal itu, semakin besar pula ketergantungan padanya. Jika hilang, keputusasaan yang timbul sebagai dampaknya takkan terkira."

"Entah kenapa, rasanya seperti sedang mendengar cerita tentang Tuan Leo."

"Leo memang mirip dengan kakakku. Suatu saat nanti dia pasti akan menjadi seperti beliau. Meskipun belum mencapai levelnya, tapi jika Leo mati, mungkin hal serupa akan terjadi. Tentu saja, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."

Meskipun aku yang harus mati. Aku tidak mengucapkannya, tetapi aku sudah siap dengan tekad seperti itu. Aku tidak akan membiarkan hal seperti yang terjadi saat Pangeran Mahkota meninggal terulang kembali.

Namun, seolah bisa membaca isi hatiku, Fina berkata.

"Saya... jika Tuan Ar meninggal, saya akan jatuh dalam keputusasaan."

"...Bagaimana kau bisa tahu?"

"Karena saya adalah seorang 'pengguna bersama'. Tuan Ar terkadang bertindak dengan mengesampingkan dirinya sendiri. Saya ingin Anda lebih menjaga diri sendiri."

"Akan kuusahakan. Tapi, kalaupun aku mati, itu tidak akan memberi banyak pengaruh pada orang lain. Leo dan aku. Siapa yang harus diprioritaskan sudah jelas."

"Tidak. Mungkin memang benar jika Tuan Ar meninggal, tidak akan ada banyak pengaruh pada orang lain. Tetapi, itu akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada orang-orang di sekitar Tuan Ar. Baik saya maupun Tuan Leo, kami pasti tidak akan bisa bangkit kembali."

"Kau cenderung menilaiku terlalu tinggi karena kau tahu aku adalah Silver."

"Itu tidak ada hubungannya. Sekalipun bukan Silver, Tuan Ar tetap akan memberikan pengaruh yang besar pada orang-orang di sekitarnya. Jika Tuan Leo adalah matahari, maka Tuan Ar adalah sosok seperti bulan. Dibandingkan dengan matahari, mungkin bulan tidak begitu menonjol. Mungkin ada juga yang bilang tidak ada bedanya jika bulan tidak ada. Akan tetapi, bagi orang yang berjalan di malam hari, bulan adalah tumpuan harapan. Bulan meredakan rasa cemas dalam kegelapan malam. Lagi pula, matahari bisa beristirahat karena adanya bulan. Dan bersinar terang bersamaan dengan datangnya pagi. Tuan Leo tidak akan bisa bersinar tanpa Tuan Ar."

Nada bicara Fina tenang. Namun, mendengarnya membuatku merasa tidak nyaman. Rasanya seperti sedang dinasihati oleh orang tua. Mudah saja untuk membantah. Aku bisa memberikan banyak alasan kenapa aku tidak dibutuhkan. Akan tetapi, mata Fina yang lurus dan jernih tidak mengizinkanku melakukannya.

Aku mengangkat bahu dan tersenyum kecut. Sepertinya aku tidak punya pilihan selain mengakui kekalahan.

"Haaah... baiklah, aku mengerti. Kalau kau sudah berkata sejauh itu, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulai sekarang aku juga akan memikirkan diriku sendiri. Aku tidak akan berpikir soal 'kalau pun harus mati' sampai benar-benar terdesak. Apa itu sudah cukup?"

"Iya. Karena Tuan Ar hampir tidak pernah terdesak. Jadi, itu sudah cukup."

Sambil berkata begitu, Fina menunjukkan senyum yang merekah.

Sebenarnya aku cukup sering terdesak, kata-kata itu sudah sampai di ujung lidah, tetapi melihat senyumnya yang merekah membuatku tidak bisa mengucapkannya. Aku harus berusaha agar tidak terdesak, supaya Fina tidak khawatir.

image_img-p311.jpg

Sambil memikirkan hal itu, aku menghabiskan teh yang diseduh Fina dan berdiri dari kursi.

"Kalau begitu, aku akan segera kembali."

"Baik. Saya akan menantikan kepulangan Anda."

Aku mengangguk mendengar kata-katanya, lalu membuka Gerbang Teleportasi dan meninggalkan tempat itu.


Sebuah ruangan di Istana Belakang. Sandra berada di kamar Selir Kelima, Suzan.

"Gawat! Gawat! Ini gawat sekali! Ibunda!"

"Tenanglah. Masalah terjadi di selatan, dan Leonard menyelesaikannya. Hanya itu."

"Bagaimana Ibunda bisa setenang itu!? Jika paman dimintai pertanggungjawaban dan Ayahanda mulai melakukan penyelidikan secara serius, keterlibatan kita dengan organisasi itu juga akan terungkap! Kalau begitu, aku akan tersingkir dari Perebutan Takhta! Hanya karena aku memiliki darah Krüger!!"

Menanggapi nada bicara Sandra yang menyalahkan, Suzan tersenyum dengan tenang. Ia tidak akan memarahi putrinya yang masih muda dan belum bisa mengendalikan emosinya. Kenyataannya, memang benar bahwa Keluarga Duke Krüger telah menghambat langkah Sandra. Keluarga yang seharusnya mendukungnya malah menjadi penghambat, itu benar-benar tidak bisa dimaafkan. Suzan sendiri merasa jengkel dengan kecerobohan keluarganya.

Akan tetapi, ia berpikir bahwa apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah. Itulah perbedaan antara Sandra dan Suzan.

"Sandra. Apa tujuanmu?"

"Tentu saja sudah jelas! Takhta kaisar!"

"Benar. Tapi, yang kau butuhkan untuk itu bukanlah kekuasaan. Melainkan kutukan pamungkas yang telah hilang."

"Tapi, kita hampir tidak menemukan petunjuk apa pun! Aku sudah memeriksa literatur yang mencatatnya, tapi yang tertulis di sana hanya kalau Sihir Bawaan ada hubungannya!"

"Itu adalah sihir rahasia kuno. Tidak akan semudah itu. Tapi, bagaimana jika kita menyelidiki keberadaan yang sama-sama hanya ada di dalam literatur?"

"Keberadaan di dalam literatur? Apa maksudnya?"

"Xiaomei."

Saat Suzan memanggil nama itu, seorang wanita berambut cokelat maju dari antara para pelayan. Gerakannya tanpa suara, dan hawa keberadaannya pun tipis. Itu adalah ciri khas yang dimiliki oleh para assassin kelas atas.

Namanya Xiaomei. Pelayan pribadi Suzan, sekaligus seorang assassin. Bahkan Sandra yang memiliki banyak assassin pun belum pernah melihat assassin yang lebih hebat dari Xiaomei.

Biasanya, ia menjadi mata dan telinga bagi Suzan yang tidak bisa bergerak bebas, dan menyelidiki situasi di Istana Belakang dan Ibukota Kekaisaran. Ia adalah kartu as bagi Suzan.

"Apa maksudnya? Kau yang akan menjelaskannya? Xiaomei."

"Baik, Nona Sandra. Sebenarnya, ada seorang pelayan yang mendengar. Katanya beberapa hari sebelum Yang Mulia Kaisar jatuh sakit, Putri Christa sempat membuat keributan dengan mengatakan bahwa Yang Mulia akan jatuh sakit."

"Apa katamu...?"

"Karena penasaran, saya menyelidikinya, dan ternyata mantan pelayan yang sudah meninggalkan istana juga mengatakan hal serupa. Tiga tahun lalu, saat Yang Mulia Pangeran Mahkota meninggal, Putri Christa juga sempat membuat keributan sebelumnya."

"Maksudmu... Christa memiliki Sihir Bawaan berupa ramalan masa depan?"

"Semua pelayan yang berada di sisi Putri Christa tiga tahun lalu telah meninggalkan istana karena berbagai alasan. Semuanya mengalami suatu masalah di keluarga masing-masing dan pergi atas kemauan sendiri. Namun, menjadi pelayan istana bukanlah hal yang mudah. Aneh jika masalah yang memaksa mereka berhenti terjadi secara beruntun. Terlebih lagi hanya pada para pelayan di sekitar Putri Christa. Ini berbau seperti ada yang direkayasa."

"Maksudmu Mitsuba menjauhkan para pelayan saat itu untuk melindungi rahasia putrinya?"

"Kemungkinannya tinggi. Jika sampai berbuat sejauh itu, berarti itu asli."

Mendengar kata-kata Xiaomei, Suzan mengangguk dalam-dalam. Lalu ia menatap Sandra. Ekspresinya adalah ekspresi seorang ibu yang menyayangi anaknya. Namun, dengan ekspresi itu, Suzan berkata pada Sandra.

"Sihir Bawaan memang sangat berharga, tapi jika itu adalah ramalan masa depan, levelnya sudah setara dengan ilusi yang hanya muncul di literatur. Tapi, itu tidak aneh. Klan Adler terus-menerus mengambil darah unggul. Mereka memiliki darah paling unggul di benua ini. Christa adalah puncaknya. Bagaimana menurutmu, Sandra?"

"Benar juga... kalau begitu, mungkin saja bisa. Jika dia adalah pengguna Sihir Bawaan yang begitu kuat, darahnya saja sudah sangat berharga!"

Dengan bersemangat, Sandra mulai berjalan mondar-mandir sambil bergumam sendiri. Tidak ada rasa kasih sayang pada adiknya di sana.

"Xiaomei. Aku ingin Christa sebagai subjek eksperimen! Culik dia!"

"Tidak bisa langsung begitu saja. Putri Christa hampir tidak pernah keluar dari istana."

"Kita tidak punya waktu! Aku harus segera menyelesaikan kutukan pamungkas itu!"

"Jangan terburu-buru, Sandra. Tergesa-gesa hanya akan merusak segalanya. Xiaomei, caranya kuserahkan padamu. Gunakan cara apa pun untuk menculik Christa."

"Baik. Pertama-tama saya akan menyelidiki sekitar Putri Christa. Jika ada informasi baru, saya akan kembali melapor. Mohon tunggu kabar baiknya."

Setelah berkata begitu, Xiaomei meninggalkan tempat itu tanpa suara. Melihat gerakan pelayan yang paling ia percayai, Suzan tersenyum puas.

"Tunggulah, Sandra. Aku akan segera memberikannya padamu."

"Ya, Ibunda!"

Kegilaan ibu dan anak itu seolah tak mengenal batas, dan terus membengkak tanpa henti.

Kegelapan yang menyelimuti kekaisaran pun bertambah satu lagi.

© 2026 Yozuku Novel Admin. All rights reserved.