Bab 4: Perasaan Masing-Masing - Bagian 3
Volume 3 - Chapter 9
January 1, 2019
"Apa pun yang Anda katakan, tidak akan berhasil. Oh, benar juga. Tidak ada gunanya mengharapkan Kesatria Pengawal Kekaisaran. Semuanya sudah saya suruh mundur.""
"Kau ini... wanita macam apa kau ini... Apa kau berniat mengurung Kaisar...?"
"Yang Mulia sendirilah yang salah karena tidak mau mendengarkan. Lagipula, saya sudah memperingatkan Anda. Anda terlihat lelah, bagaimana jika diperiksa oleh dokter istana? Begitu, kan? Yang Mulia sendirilah yang bertanggung jawab karena tidak mendengarkannya. Terimalah nasib dan beristirahatlah."
"Aku adalah Kaisar... Aku tidak boleh beristirahat...."
"Kalau begitu, lain kali tolong jaga kondisi tubuh Anda agar tidak pingsan lagi."
"Mitsuba...."
"Tidak boleh."
Tidak ada celah untuk bernegosiasi. Jika itu selir lain, mungkin ia bisa membujuknya, tetapi Mitsuba, baik atau buruk, adalah selir yang tidak pernah sungkan pada Yohanes.
Selagi ia berpikir harus melakukan sesuatu, rasa kantuk semakin menyerangnya. Tubuhnya terasa berat, seolah terikat di tempat tidur.
Mitsuba dengan lembut meletakkan tangannya di dahi Yohanes. Merasakan sedikit kelegaan dari sentuhan tangan yang sejuk itu, Yohanes pun tertidur.
7
"Nah, Duke. Silakan beristirahat dengan tenang."
Aku berada di sebuah tempat peristirahatan terdekat bersama Jürgen dan pasukannya.
Awalnya tempat ini dibuat oleh Jürgen sebagai titik peristirahatan sementara, tetapi sekarang sudah seperti rumah sakit lapangan.
Para kesatria yang babak belur terus berdatangan, dan aku sibuk memberikan perawatan yang diperlukan untuk sementara waktu.
"Maafkan saya... Yang Mulia...."
"Untuk apa Anda meminta maaf?"
"Padahal Yang Mulia juga pasti ingin pergi menolong adik Anda... Gara-gara saya tidak becus."
"Tidak becus? Anda?"
Jürgen, yang berbaring di dalam gubuk dengan baju zirahnya yang telah dilepas, berkata dengan nada penyesalan.
Aku tersenyum kecut mendengar kata-katanya.
Tidak akan ada yang menyebut Jürgen saat ini tidak becus.
"Anda gagah berani hari ini. Jika ada yang menertawakan Anda karena tidak becus, Kakanda pasti akan menebasnya."
"Tetapi... Anda...."
"Aku tidak apa-apa. Selama Kakanda bisa terus maju karena aku yang tinggal di sini, aku merasa sudah cukup memenuhi peranku."
Setelah aku berkata begitu, Jürgen bergumam kecil, "Begitu, ya," lalu perlahan menutup matanya.
Mungkin rasa kantuk menyerangnya karena telah berkuda tanpa henti dan tanpa tidur.
"Anda sudah bekerja keras, Duke. Mungkin hari di mana aku akan memanggilmu kakak ipar tidak akan lama lagi."
Setelah mengatakan itu pada Jürgen yang tertidur, aku pun bangkit.
Untungnya, para kesatria Jürgen yang tadinya terpencar di berbagai tempat kini sudah berkumpul di sini.
Sisanya akan kuserahkan pada mereka.
Aku keluar dari gubuk tempat Jürgen tidur dan menuju gubuk yang dialokasikan untukku.
Lalu, aku memasang perintang penolak orang dan meninggalkan ilusi diriku yang sedang tidur di dalam.
Perintang penolak orang tidak terlalu efektif jika diaktifkan dari jarak jauh, tetapi seharusnya cukup ampuh untuk orang-orang yang kelelahan. Lagipula, tidak akan ada yang masuk ke kamar pangeran tanpa izin, meskipun Jürgen mungkin akan masuk saat ia bangun nanti. Fina juga pernah masuk, jadi aku harus berhati-hati dengan anggota keluarga Duke.
Sambil memikirkan hal itu, aku berteleportasi dari dalam gubuk ke ruang rahasiaku di Ibukota Kekaisaran.
Di sana, seolah sudah tahu, kepala pelayanku telah menunggu.
"Selamat datang kembali, Tuan Arnold."
"Persiapannya sudah siap, kan?"
"Tentu saja."
"Bagus. Ayo pergi, waktunya bergerak dalam bayang-bayang."
Mengatakan itu, aku mengenakan pakaian dan topengku yang biasa, lalu berubah menjadi Silver.
"Bagaimana situasinya?"
"Sebuah bola misterius telah muncul di selatan, dan dari sana, sejumlah besar monster undead telah muncul."
"Bagaimana dengan Leo?"
"Menurut informasi dari Serikat Petualang, beliau baik-baik saja. Pangeran Leonard telah meminta Raid Quest kepada Serikat Petualang dan sedang menangani para monster."
"Raid Quest? Begitu. Ide Linfia, ya."
Sepertinya uang yang kuberikan telah digunakan dengan efektif.
Memang benar keputusanku untuk menitipkannya pada Linfia. Ide yang cerdik, khas seorang petualang.
"Bagaimana respons Ayahanda?"
"Mengenai itu... telah terjadi masalah. Yang Mulia Kaisar telah pingsan."
"Apa!? Ayahanda pingsan!? Apa beliau baik-baik saja!?"
"Benar. Nyawanya tidak dalam bahaya. Disebutkan bahwa itu adalah kondisi tubuh yang buruk akibat syok mental dan kelelahan."
"Begitu... Seberapa parah kekacauannya?"
"Untungnya, Putri Christa telah meramalkan hal ini sebelumnya. Jadi, Nyonya Mitsuba dengan cepat mempersiapkan sistem perawatan, dan kekacauan di istana dapat diminimalkan."
"Christa yang melihatnya... pasti berat baginya."
Meskipun berkata begitu, aku tanpa sadar menghela napas lega. Jika dalam situasi ini Ayahanda dalam kondisi kritis, Kekaisaran akan berada dalam situasi yang sangat gawat. Ujung-ujungnya pasti akan terjadi perang saudara, karena tidak ada penengah dalam perebutan takhta.
Namun, di sisi lain, ada juga rasa lega karena ayahku baik-baik saja. Meskipun begitu, aku tidak bisa terus merasa tenang.
"Tapi, dengan begini, situasinya jadi merepotkan."
"Benar. Saat ini, Perdana Menteri sedang memimpin rapat dan menangani masalah di selatan, tetapi tampaknya para menteri sulit untuk mencapai kata sepakat."
"Tentu saja. Kaisar telah pingsan. Meskipun kondisinya tidak parah, tidak ada yang berubah dari fakta bahwa kesehatannya kini diragukan. Perebutan takhta akan semakin cepat. Para menteri yang sudah menentukan faksi yang akan mereka dukung akan bergerak demi faksi mereka, sedangkan para menteri yang belum menentukan akan menggunakan kesempatan ini sebagai oleh-oleh. Masing-masing bergerak dengan agenda tersembunyi. Mustahil untuk menengahi mereka."
Orang pada umumnya akan berusaha melindungi diri sendiri. Mereka bisa bergerak demi Kekaisaran karena posisi mereka dijamin. Namun, orang yang menjamin posisi mereka telah jatuh sakit. Artinya, mereka sudah mulai memikirkan cara untuk melindungi diri demi generasi berikutnya.
Selama Ayahanda masih hidup, itu hanyalah kekacauan sementara. Namun, masalah di selatan sedang terjadi saat ini, dan membutuhkan penanganan yang cepat.
"Selama para petinggi tidak bisa bersatu, militer Kekaisaran tidak bisa diandalkan. Kesatria Pengawal Kekaisaran juga tidak akan bisa meninggalkan sisi Ayahanda. Mengumpulkan para penguasa wilayah dari berbagai tempat juga akan memakan waktu."
"Kalau begitu, apakah Tuan Arnold akan mengandalkan Serikat Petualang sebagai kekuatan tempur?"
"Akan?"
Kata-kata Sebas membuatku bertanya balik, dan Sebas mengangguk dalam diam.
Tingkah lakunya seolah-olah dia sudah tahu pikiranku.
Memang benar, sejak awal aku tidak terlalu mengandalkan kekuatan tempur Kekaisaran.
Karena Kekaisaran sangat besar, respons cepat terhadap keadaan darurat tidak bisa diharapkan. Sebagai anggota keluarga kekaisaran, aku tahu betul hal itu. Hanya karena ada insiden anomali di selatan, bukan berarti militer bisa langsung bergerak.
Jika ada invasi dari luar, pasukan pertahanan perbatasan akan segera bergerak, tetapi anomali di dalam negeri tidak diantisipasi.
Apakah pusat yang harus menangani, ataukah militer selatan? Keduanya pasti bingung dalam mengambil keputusan.
Jika perintah Kaisar bisa disampaikan secara instan, ceritanya akan berbeda, tetapi Ibukota Kekaisaran dan perbatasan selatan terlalu jauh. Menyampaikan keputusan saja sudah merupakan pekerjaan yang sulit.
Dalam hal ini, para petualang lebih fleksibel. Di saat seperti ini, mereka lebih bisa diandalkan daripada militer atau para kesatria penguasa wilayah.
"Yah, memang benar sejak awal aku sudah mengandalkan para petualang, tapi bagaimana kau bisa tahu?"
"Fina-sama berkata pasti akan begitu dan sudah bergerak sebelumnya. Fina-sama sedang menyerukan kepada para petualang di Ibukota Kekaisaran dan sekitarnya untuk berpartisipasi dalam Raid Quest Pangeran Leonard."
"Fina? Yah, kalau Fina, tidak aneh, sih. Tapi, apa tidak apa-apa bergerak secara besar-besaran seperti itu?"
Fina adalah putri seorang Duke dan juga Putri Camar Biru, simbol Kekaisaran. Tidak baik bagi Fina untuk secara terbuka mengandalkan para petualang untuk masalah yang para petinggi negara sendiri masih ragu-ragu dalam menanganinya.
"Mengenai itu, jangan khawatir. Meskipun Fina-sama yang bergerak lebih dulu, yang mengusulkan seruan itu adalah Perdana Menteri."
"Begitu. Khas sekali Perdana Menteri. Kalau tidak bisa menyatukan rapat, manfaatkan saja para petualang, ya."
"Benar. Mengingat Silver pernah menolong Fina-sama di timur, beliau berspekulasi bahwa jika Fina-sama bergerak, Silver juga akan bergerak. Harap berhati-hati. Jika itu Perdana Menteri, dia bisa saja menelusuri jejak-jejak kecil dan sampai pada identitas asli Silver."
"Yah, akan kulakukan dengan baik. Tapi, kalau begitu, para petualang sudah berkumpul di cabang Ibukota Kekaisaran, kan?"
Sebas mengangguk mendengar kata-kataku. Kalau begitu, ceritanya jadi lebih mudah.
Tergantung situasi di selatan, tapi jika aku bisa membawa para petualang dari Ibukota Kekaisaran, itu akan menjadi kekuatan yang besar.
"Kalau begitu, aku akan pergi."
"Saya mengerti. Saya akan mengawal Fina-sama."
Setelah memintanya, aku berteleportasi ke dekat pintu masuk cabang.
Orang-orang di dekat cabang terkejut melihatku yang muncul tiba-tiba, tetapi aku tidak peduli dan mencoba masuk ke dalam cabang.
Namun, pada saat yang sama, sebuah suara disiarkan dari dalam serikat ke seluruh Ibukota Kekaisaran.
『Untuk semua penduduk Ibukota Kekaisaran. Maaf telah mengganggu. Saya Fina von Krainelt. Saat ini, Serikat Petualang sedang mencari para petualang yang bersedia berpartisipasi dalam Raid Quest yang dikeluarkan dari selatan. Saya mohon kepada semua petualang. Tolong pinjamkan kekuatan kalian. Ada orang-orang yang menderita di selatan. Untuk menyelamatkan mereka, kami membutuhkan kekuatan kalian.』
Pidato Fina disiarkan ke seluruh Ibukota Kekaisaran. Mendengar pidato itu, aku tersenyum.
Pidato yang khas Fina. Bukan perintah, melainkan permohonan yang tulus yang bisa menggerakkan hati orang lain.
『Ini adalah Serikat Petualang. Seperti yang baru saja dijelaskan oleh Fina-sama, serikat telah menerima permintaan Raid Quest. Nama quest-nya adalah "Penyelamatan Camar Biru". Semua petualang peringkat B ke atas bisa berpartisipasi! Ini adalah Raid Quest pertama setelah sekian lama! Saatnya mencari uang! Silakan berpartisipasi!』
Mungkin itu resepsionis serikat. Promosi yang juga khas, bisa dibilang.
Ngomong-ngomong, Penyelamatan Camar Biru, ya. Memang benar nama quest ditentukan oleh serikat, tapi nama yang dangkal.
Tapi, jika lawannya adalah para petualang yang suka bersenang-senang, mungkin ini sudah cukup.
Mereka pasti akan dengan senang hati pergi jika bisa bertarung demi Putri Camar Biru.
"Dasar naif."
Para petualang yang datang dengan tergesa-gesa terus berkumpul di serikat.
Bukan hanya peserta, mungkin ada juga yang datang hanya untuk memberi semangat.
Aku melangkah masuk ke dalam cabang yang penuh sesak dengan para petualang itu.
Begitu mereka melihatku, serikat yang tadinya dipenuhi hiruk pikuk langsung hening dalam sekejap.
Di tengah keheningan itu, hanya resepsionis yang sedang mencatat nama peserta yang angkat bicara.
"N-Nama dan peringkat Anda."
"Petualang peringkat SS, Silver. Aku datang untuk berpartisipasi dalam Raid Quest."
Resepsionis itu mencatat namaku dengan gugup.
Meskipun Serikat Petualang, mereka tidak punya cara untuk segera berpindah ke selatan. Alasan mereka mengumpulkan para petualang di cabang adalah karena keberadaan diriku.
Para petualang juga sepertinya sudah tahu akan hal itu.
Orang yang ditunggu telah datang. Para petualang serentak bersorak.
"Akhirnya kau datang juga! Silver!"
"Kalau ada kau, kekuatan kita seribu kali lipat!"
"Ayo cepat kita pergi menolong!"
Di balik para petualang yang bersorak-sorai, Fina muncul di tempat para staf serikat berada.
Lalu Fina tersenyum lembut dan membungkuk hormat padaku.
Tidak ada kata-kata. Namun, ada sesuatu yang tersampaikan di antara kami.
Aku mengangguk dalam diam lalu berkata dengan suara yang bisa didengar oleh seluruh serikat.
"Komando Raid Quest akan dipegang oleh orang dengan peringkat tertinggi. Dalam hal ini adalah aku, apa ada yang keberatan?"
Tidak ada yang keberatan.
Wajar saja. Peringkat tertinggi di cabang Ibukota Kekaisaran adalah SS, tetapi di bawahnya langsung turun ke AA.
Tapi, bukan berarti mereka tidak bisa diandalkan.
Mereka adalah para petualang veteran yang telah melindungi Kekaisaran dengan cara mereka sendiri.
"Tidak ada yang keberatan, ya. Kalau begitu, komando akan kuambil. Nyawa kalian semua, kupertaruhkan."
Tidak ada jawaban. Sebagai gantinya, sorak-sorai riuh menggema di seluruh cabang. Semangat mereka sangat tinggi. Dengan ini, kita bisa bertarung.
8
Beberapa hari telah berlalu sejak bola hitam muncul di atas Bassau.
Di bawah Leo, yang sedang menahan pasukan skeleton di dekat Bassau, telah berkumpul lebih dari dua ribu kesatria dan petualang.
"Ganti barisan depan! Yang sudah diganti, segera beristirahat!"
Leo memberikan instruksi dan menarik mundur kelompok yang sedang menahan skeleton di barisan depan, lalu memasukkan kelompok baru.
Demi mengulur waktu, mereka menahan para skeleton dengan sistem tiga giliran.
Namun, jumlah skeleton yang keluar dari Bassau terus bertambah, dan meskipun pada awalnya mereka berhasil mengepung setengah Bassau, sekarang justru mereka yang terkepung setengah.
"Yang Mulia Leonard. Anda juga sebaiknya beristirahat."
"Tidak bisa begitu. Ini adalah saat-saat genting."
Linfia mendesak Leo yang terus memimpin tanpa istirahat untuk beristirahat, tetapi Leo menolaknya.
Leo, yang paling memahami situasi pertempuran, juga yang paling mengerti bahwa saat ini adalah situasi yang berbahaya.
Pada awalnya, saat para kesatria dari penguasa wilayah terdekat dan sejumlah besar petualang tiba, mereka berhasil mengepung setengah Bassau dengan mengandalkan jumlah, tetapi setelah itu, jumlah skeleton yang muncul meningkat drastis, dan sekarang monster undead yang lebih kuat dari skeleton juga mulai terlihat sesekali.
Monster yang muncul dari Bassau tidak hanya muncul secara acak, tetapi merespons pergerakan pihak sini.
Leo yakin akan hal itu. Jika begitu, ada kemungkinan mereka akan ditembus jika menunjukkan celah.
Selama masih ada kemungkinan sekecil apa pun, Leo tidak boleh lengah.
Jika Leo dan pasukannya ditembus di sini, para skeleton yang muncul dalam jumlah besar akan menyebar ke selatan. Para penguasa wilayah terdekat telah mengirimkan pasukan utama mereka, yaitu para kesatria, sehingga mereka tidak akan bisa menahannya.
Jika itu terjadi, selatan akan jatuh ke dalam kekacauan besar yang jarang terjadi dalam sejarah, dan militer akan bergerak untuk menenangkannya. Dan pertahanan perbatasan akan menjadi lemah.
Negara-negara yang mengincar kelemahan Kekaisaran tidak akan melewatkan celah sekecil itu.
"Tetapi, jika Yang Mulia pingsan, garis pertempuran akan runtuh."
"Aku masih baik-baik saja. Aku akan bilang kalau sudah benar-benar tidak sanggup."
"Begitu... kalau begitu, bolehkah saya meminta sedikit waktu Anda? Seharusnya tidak apa-apa jika menyerahkan komando pada para kesatria pengawal untuk sementara."
"Tidak masalah, tapi apa ada sesuatu?"
"Di antara rakyat yang melarikan diri dari Bassau, ada beberapa kesatria yang terluka. Salah satunya sudah sadar dan ingin berbicara dengan Yang Mulia."
"Begitu... akan kudengarkan. Mungkin kita bisa mendapatkan informasi tentang anomali ini."
Leo berkata begitu lalu menyerahkan komando pada para kesatria pengawal terdekat dan menuju kamp yang didirikan di belakang garis pertempuran.
Di sana, ada para kesatria dan petualang yang sedang beristirahat, serta rakyat yang tidak bisa bergerak karena terluka.
Leo masuk ke dalam tenda yang didirikan di ujung kamp itu.
"Yang Mulia."
"Lanjutkan saja perawatannya."
Leo menghentikan pria paruh baya yang hendak memberi salam dengan tangannya.
Pria yang mengaku sebagai dokter di kota itu adalah orang langka yang tetap tinggal untuk merawat para korban luka meskipun bisa melarikan diri.
Berkat perawatan dokter itu, seorang kesatria yang kehilangan tangan kanannya dan menderita luka parah di perutnya akhirnya sadar.
"Aku Leonard, Pangeran Kedelapan. Apa kau kesatria yang ingin berbicara denganku?"
"Y-Yang Mulia... tolong selamatkan tuan hamba...."
"Maksudmu penguasa Bassau?"
"Benar... Tuan Denis telah diancam selama bertahun-tahun... karena itu, Bassau dimanfaatkan oleh organisasi penculik anak... dan di ruang bawah tanah kediamannya ada penjara untuk mengurung anak-anak yang ditangkap...."
Itu adalah pengakuan yang mengejutkan.
Namun, Leo hanya mengerutkan kening dan tidak mengatakan apa-apa.
Karena ia merasa bagian setelah ini adalah yang terpenting dan tidak boleh dipotong.
"Tuan Denis... memberontak untuk menolong anak-anak dan menuju ke ruang bawah tanah kediaman... saya sempat menemaninya di tengah jalan... tapi saya terluka dan dibawa keluar oleh teman-teman saya... setelah itu, dari kediaman, bola itu... uhuk uhuk."
Kesatria itu terbatuk dan memuntahkan darah.
Dokter menyeka darahnya, tetapi kesatria itu mengerang kesakitan dan terus memuntahkan darah.
Namun, tangan kiri kesatria itu terulur ke arah Leo.
Leo menggenggam tangan itu dengan erat.
"Tolong... Tuan Penguasa... jika... jika Tuan Penguasa sudah tidak bisa diselamatkan... Rebecca...."
"Rebecca?"
"Dia... membawa surat dari Tuan Penguasa... tolong pulihkan kehormatan Keluarga Count Schitterheim... kami tidak bekerja sama atas kemauan sendiri...."
"Jika cerita itu benar, aku akan memulihkan kehormatanmu atas namaku. Jadi sekarang, beristirahatlah."
"Terima kasih... terima kasih... terima... ka...."
Cahaya di mata kesatria itu memudar, dan kekuatan di tangan kirinya yang digenggam Leo juga menghilang. Dokter menggelengkan kepalanya. Itu adalah permohonan terakhir dengan sisa tenaganya.
Meskipun begitu, Leo terus menggenggam tangan itu untuk beberapa saat.
"Yang Mulia...."
"Penguasa menyerbu ke ruang bawah tanah kediaman, dan bola hitam itu lahir. Artinya, bola hitam itu berhubungan dengan ruang bawah tanah kediaman."
"Kemungkinan terbesarnya adalah anak-anak...."
"Benar. Pasti anak-anak dengan mana tinggi atau bakat khusus dikumpulkan di sana. Sesuatu mungkin telah menjadi pemicu dan menyebabkan anomali ini."
"Kalau begitu, jika kita tidak melakukan sesuatu pada bola hitam itu, anomali ini tidak akan berakhir."
"Ya."
Leo menggenggam tangan kesatria itu dengan kuat untuk terakhir kalinya, lalu meletakkannya di dada kesatria itu.
Setelah itu, ia menyerahkan sisanya pada dokter dan keluar dari tenda.
Di ujung pandangannya, ada bola hitam yang masih dengan angkuhnya bertakhta di atas Bassau.
"Jika bola itu keluar dari kediaman, tidak aneh jika ada seseorang di dalamnya, kan?"
"Itu benar, tapi... jangan-jangan Anda berniat untuk memeriksanya?"
"Tentu saja. Aku datang ke sini untuk menolong orang-orang yang diculik. Mereka adalah korban. Aku ingin menolong mereka."
"...Saya senang dengan perasaan Anda. Jika memikirkan mungkin adik saya ada di sana, saya juga tidak bisa tinggal diam. Tapi, saat ini kita perlu penilaian yang tenang. Anda adalah orang penting yang menginginkan takhta."
"Justru karena aku menginginkan takhta, aku harus menolong mereka. Aku ingin menjadi kaisar yang bisa menolong orang yang ingin kutolong. Tapi, jika dalam prosesnya aku meninggalkan seseorang, aku pasti tidak akan bisa menjadi kaisar seperti itu. Manusia adalah makhluk yang terbiasa, jadi sekali aku meninggalkan seseorang, aku pasti akan terbiasa meninggalkan orang. Karena itu aku tidak akan mundur."
Mengatakan itu, Leo tersenyum pada Linfia.
Saat itu, di mata Linfia, Leo terlihat tumpang tindih dengan Ar.
Hari keberangkatan. Sosok Ar yang menyerahkan kantong berisi uang dalam jumlah besar dan sosok Leo yang telah membulatkan tekadnya saat ini.
Tidak ada satu pun kesamaan yang terlihat.
Penampilan mereka memang mirip. Tapi, hanya itu. Namun, ada sesuatu yang tumpang tindih.
Di sanalah akhirnya Linfia menyadari. Karena dasar dari prinsip tindakan keduanya sama.
"Ternyata memang kembar, ya...."
"Hm? Mirip? Dengan kakakku?"
"Ya, sangat. Baik Yang Mulia Arnold maupun Yang Mulia Leonard, keduanya bergerak demi 'orang lain', ya."
"Aku tidak sehebat itu. Aku, sih. Kalau kakakku, aku tidak tahu, tapi aku hanya tahu kelemahanku sendiri. Karena aku pasti akan terbiasa. Aku hanya berusaha keras agar tidak terbiasa."
Sambil berkata begitu, Leo tersenyum kecut.
Betapa enaknya jika ia bisa memilah-milah dan mengubah pola pikirnya setiap saat.
Mungkin ia memang tidak fleksibel. Karena itulah ia terus belajar. Jika ia bermain seperti Ar, ia merasa tidak akan bisa kembali lagi, jadi ia terus belajar.
Namun, Ar akan belajar saat ia merasa perlu belajar.
Itu bisa dibilang sebagai sebuah bakat.
Karena itu Leo iri pada Ar.
Namun, ia harus berhenti merasa iri. Waktu untuk mengharapkan sesuatu yang tidak dimiliki sudah berakhir.
"Aku bukan kakakku. Tidak mungkin bagiku untuk merespons sesuatu dengan fleksibel. Aku sangat merasakannya saat menjadi Duta Besar Berkuasa Penuh. Karena itu, aku akan maju lurus tanpa goyah. Aku sudah memutuskannya saat memutuskan untuk datang ke sini. Aku akan memaksakan kehendakku."
"...Saya mengerti. Kalau begitu, saya akan menemani Anda. Tapi, kesempatan itu mungkin masih nanti."
"Benar."
Kulihat barisan depan mulai terdesak.
Bukan hanya skeleton, monster baru juga mulai bertambah.
Bukan hanya jumlah, kualitasnya juga mulai meningkat.
Menyerang sekarang dan mati sia-sia adalah tindakan gegabah. Leo tidak sebodoh itu.
Dia sudah memutuskan untuk menolong. Dia tidak berniat melewatkan kesempatan itu. Tapi, dia juga tidak berniat bergerak tanpa adanya kesempatan.
Saat ini adalah saatnya bertahan.
Suatu saat nanti, kesempatan pasti akan datang.
Percaya pada saat itu, Leo menaiki kudanya dan memberikan instruksi, terkadang ia sendiri maju ke barisan depan dan mengayunkan pedangnya.
Namun, Leo yang memiliki tekad kuat berbeda dengan yang lain.
Yang lain berbeda.
"Guh!"
"Uwaaaah!!"
Mereka yang semangatnya mulai patah dan staminanya habis mulai berjatuhan.
Setiap kali itu terjadi, Leo menyelamatkan mereka, tetapi lama-kelamaan keretakan itu menyebar ke seluruh barisan depan.
Dan laporan fatal bagi Leo masuk tidak lama setelah itu.
"Laporan! Sayap kiri telah ditembus!!"
"Cih!? Kerahkan pasukan cadangan!"
"Tidak akan sempat! Silakan melarikan diri!"
"Percuma saja lari. Toh akan diserang dari belakang."
Mengatakan itu, Leo merebut terompet dari tangan kesatria pengawal dan meniupnya berkali-kali.
Lalu.
"Apa ada yang punya semangat untuk menjadi pahlawan bersama Leonard Lakes Adler!? Apa ada yang masih bisa mengayunkan pedang!? Apa ada yang masih bisa berlari!? Apa ada yang masih bisa menghadap ke depan!? Baik itu kesatria, petualang, maupun warga sipil, aku tidak peduli! Siapa pun yang belum kehilangan semangat bertarung di saat ini, di tempat ini, berkumpullah di bawahku!"
Leo mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Lalu ia meniup terompetnya lagi.
Suara terompet itu bergema hingga ke kejauhan.
Mendengar suara yang terdengar samar itu, Lise tertawa.
"Semuanya, percepat laju! Medan perang sudah dekat!"
Lise yang berada di barisan terdepan membalikkan jubah birunya dan memacu kudanya memimpin seribu resimen kavaleri.
Orang-orang yang bertekad mulai berkumpul di selatan Kekaisaran.
9
"Abel-san! Apa kau baik-baik saja!?"
"Entah bagaimana, ya!!"
Abel menjawab Linfia sambil menendang seekor skeleton.
Garis pertempuran yang tadinya menahan kepungan musuh dalam bentuk busur kini telah runtuh.
Terhadap hal itu, Leo tidak memilih untuk mundur, melainkan membentuk formasi lingkaran dengan dirinya sebagai pusat.
Dengan begitu, meskipun hampir terkepung sepenuhnya oleh musuh, mereka berhasil mempertahankan kekuatan tempur sambil tetap berada di tempat.
Namun, karena terkepung, tidak ada waktu untuk istirahat, dan sejak tadi, para petualang peringkat atas seperti Linfia dan Abel serta para kesatria pengawal telah berjuang keras untuk bertahan.
"Linfia, sampai kapan ini akan berlanjut?"
"Saya rasa sebentar lagi akan ada pergerakan...."
"Kau juga tidak tahu, ya."
Abel berkata begitu sambil melihat sekeliling.
Perlahan-lahan, sekutu mulai berjatuhan. Meskipun berhasil ditarik ke dalam lingkaran sehingga tidak ada korban jiwa, jika terus begini, tidak akan ada lagi yang bisa bertarung.
"Akan sangat membantu jika orang-orang yang mundur itu berbaik hati untuk kembali."
"Percuma saja mengharapkan para pengecut itu."
Yang berkumpul di bawah Leo kira-kira seribu orang.
Seribu orang sisanya mundur saat garis pertempuran runtuh.
Sebagian besar dari mereka adalah kesatria, dan banyak petualang yang tetap tinggal di bawah Leo. Perbedaan kesadaran antara para petualang yang berpartisipasi dalam Raid Quest atas kemauan sendiri dan para kesatria yang dikirim atas perintah penguasa wilayah telah terlihat.
Tentu saja, banyak juga kesatria yang tetap tinggal, tetapi ia tidak bisa tidak berpikir bahwa jika para kesatria yang mundur itu ada di sini, situasinya akan berbeda.
Yang paling tidak disukai Abel adalah hilangnya beberapa kesatria pengawal yang seharusnya berada di sisi Leo.
"Cih! Seharusnya aku tidak menerima permintaan seperti ini! Sejak datang ke sini, aku hanya merasakan hal-hal yang menyebalkan!"
"Lalu kenapa Anda tidak lari?"
"Jangan bicara bodoh. Kami adalah petualang. Apa kami bisa meninggalkan permintaan yang sudah kami terima!?"
"Bukankah ini di luar permintaan?"
"Permintaan yang kami terima adalah melindungi desa. Untuk mengatasi monster ini pun, yang terbaik adalah melindungi pangeran itu, kan?"
Anggota partai di sampingnya juga setuju dengan kata-kata Abel.
Berbeda dengan Abel yang tergolong ahli di antara para petualang, anggota partai lainnya penuh dengan luka. Meskipun begitu, mereka tersenyum.
Mereka tahu tidak ada gunanya memasang wajah muram dalam situasi genting.
"Pemimpin! Setelah ini selesai, bilang pada pangeran untuk memberi kita lebih banyak upah, ya!"
"Benar, benar! Tidak sepadan!"
"Betul sekali. Ayo kita lakukan itu."
Saat Abel dan yang lainnya bercanda seperti itu, Leo yang berada di tengah lingkaran juga bergumam.
"Sudah datang."
Bersamaan dengan kata-kata itu, pasukan berkuda mendekat dari arah utara.
Itu adalah sebagian dari para kesatria yang mundur.
"Batalkan formasi lingkaran! Serang Bassau! Semuanya, ikuti!!"
Leo memimpin para kesatria yang ia simpan dan menyerang ke arah Bassau.
Seolah bergabung dengan Leo, pasukan berkuda dari utara juga menyerang pasukan skeleton dan masuk ke dalamnya.
"Hei, hei!? Apa-apaan ini!? Apa mereka berubah pikiran!? Mereka!?"
"Itu adalah persiapan Pangeran Leonard."
"Persiapan?"
"Beliau sengaja membiarkan sebagian kesatria pengawal mundur dan menyuruh mereka memimpin para kesatria yang mundur. Di antara para kesatria yang mundur, pasti ada orang yang mundur karena ikut-ikutan atau tidak mengerti situasi, kan."
"Dia melakukan hal seperti itu di tengah kekacauan tadi...."
"Dalam situasi itu, yang pertama kali terlintas di benak pasti adalah mundur. Tapi, Pangeran Leonard sejak awal sudah menyingkirkan pilihan untuk mundur. Karena itu, dia bisa dengan tenang mengambil langkah selanjutnya."
"Padahal akan lebih mudah bagi kita jika dia lari."
"Benar. Memang pantas menjadi orang yang mengincar takhta."
Linfia menilai Leo seperti itu lalu mengikuti Leo yang sudah maju lebih dulu.
Leo yang memimpin membuka jalan, para kesatria yang mengikutinya melebarkan jalan itu, dan sekarang para petualang yang maju.
Tujuan mereka adalah Bassau, tempat bola hitam itu melayang.
"Yang Mulia! Mundurlah! Sudah cukup!"
"Tidak ada yang cukup!"
Seorang kesatria pengawal menyarankan Leo yang memimpin di barisan terdepan untuk mundur, tetapi Leo dengan keras kepala tidak mau menyerahkan posisi terdepan.
Dengan perjuangan yang gagah berani, ia menebas para skeleton dan membuka jalan.
Semangat sudah cukup meningkat. Sisanya tinggal diserahkan pada para kesatria pengawal.
Pasukan terpisah juga sudah dekat, dan jika bisa bergabung, daya dorong akan semakin besar.
Sepertinya tidak ada alasan bagi Leo untuk terus berusaha keras.
"Kalau begitu, setidaknya di baris kedua atau ketiga!"
"Jangan bicara bodoh! Kesatria dan petualang yang terkumpul secara acak, akulah yang telah mendorong mereka ke dalam bahaya! Meskipun begitu, mereka tetap mengikutiku! Itu karena aku berlari di barisan terdepan! Siapa yang akan mengikuti orang yang hanya berteriak-teriak di zona aman!?"
Kesatria pengawal yang dibentak oleh Leo terdiam.
Karena Leo menunjukkan sosok yang sama sekali berbeda dari kesan yang ia miliki selama ini.
Meskipun mahir dalam seni bela diri, Leo jauh dari kesan garang. Pangeran yang baik hati dari keluarga terpandang. Itulah kesan yang dimiliki semua orang.
Tapi, sosoknya yang berlari di barisan terdepan saat ini benar-benar seperti seorang jenderal.
"Yang Mulia...."
"Diam dan ikuti aku! Kita pasti akan menembus ini!"
Mengatakan itu, Leo semakin mempercepat laju kudanya.
Lalu, pasukan terpisah bergabung, dan momentum Leo dan pasukannya semakin besar.
Bassau yang tadinya hanya terlihat dari kejauhan kini sudah terlihat dengan jelas.
"Bassau sudah dekat! Semuanya, kerahkan sisa tenaga kalian!"
Saat Leo memberi komando seperti itu, seseorang mengayunkan pedangnya ke arah Leo.
Entah bagaimana, Leo berhasil menahan pedang itu, tetapi laju kudanya terhenti.
Dan berhentinya Leo berarti berhentinya seluruh pasukan.
Ini adalah tengah lautan monster.
Berhenti berarti mati.
Leo mencoba untuk bergegas maju, tetapi pria yang menghadangnya tidak membiarkannya lewat.
"Siapa kau!?"
"Huh... siapa ya?"
Yang berkata begitu adalah seorang pria berpakaian hitam.
Pria itu adalah instruktur yang membunuh Denis di ruang bawah tanah kediaman, tetapi matanya kini berwarna hitam pekat.
Seluruh bagian yang seharusnya tidak hitam kini berwarna hitam.
Pria itu jelas aneh, tetapi lebih dari itu, Leo kewalahan dengan kekuatannya.
Levelnya tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata 'kuat'.
Melihat Leo kesulitan, para kesatria pengawal di sekitarnya ikut membantu, tetapi mereka tetap tidak bisa mengalahkannya.
"Kuh!? Siapa orang ini!?"
"Kenapa ada orang sekuat ini di sini!?"
Tentu saja Leo, para kesatria pengawal yang merupakan pasukan elit Kekaisaran juga bukan petarung biasa.
Seorang pria yang bahkan tidak bisa dilukai oleh mereka yang menyerang bersama-sama.
Keahliannya begitu hebat hingga tidak aneh jika namanya terkenal di dunia.
"Siapa kau?"
Leo bertanya sekali lagi.
Karena para skeleton di sekitarnya bahkan tidak menunjukkan gelagat untuk menyerang pria itu.
"Jika kau menanyakan nama, bagaimana jika kau memperkenalkan dirimu lebih dulu?"
"...Leonard Lakes Adler. Pangeran Kedelapan Kekaisaran."
"Begitu, seorang pangeran, ya. Kalau begitu aku juga akan memperkenalkan diri. Namaku Balam. Jika meminjam sebutan kalian para manusia, aku adalah iblis."
"Iblis!?"
Itu adalah pernyataan yang mengejutkan.
Iblis dianggap sebagai penghuni dunia yang berbeda, yaitu Dunia Iblis, dan dalam banyak kasus, mereka adalah eksistensi yang memiliki kekuatan jauh lebih besar daripada manusia.
Diceritakan bahwa beberapa kali penyihir telah memanggil mereka dan mendatangkan bencana di benua, dan Raja Iblis yang pernah dikalahkan oleh pahlawan juga dikatakan adalah iblis.
Iblis itu kini muncul di tanah ini.
Kenapa?
"Jangan-jangan... monster-monster ini datang dari Dunia Iblis...?"
"Tepat sekali. Ini adalah pasukan perintis. Di pusat kota ini, sebuah gerbang pemanggilan yang menghubungkan Dunia Iblis dengan tanah ini telah terbuka. Suatu saat nanti, sejumlah besar iblis akan datang ke tanah ini. Kalian tidak punya hari esok."
"Kalau begitu, akan kututup!"
Mengatakan itu, Leo menyerang Balam, tetapi Balam dengan mudahnya menahan pedang Leo.
"Menyerahlah. Tidak ada cara untuk menyegelnya."
"Sayangnya, aku baru saja memutuskan untuk tidak menyerah!"
"Huh, bodoh sekali. Sudah terlambat."
"—Belum tentu."
Sebuah suara yang jernih menggema.
Bersamaan dengan itu, tangan kiri Balam melayang di udara.
Balam dengan sigap mengambil jarak dan melihat lawan yang telah menebas tangan kirinya.
"Seorang wanita... siapa kau?"
"Panglima Militer Kekaisaran, Lieselotte Lakes Adler. Kakak Leo."
"Kakanda...!?"
Leo membelalakkan matanya dan menatap Lise yang sudah lama tidak ia lihat.
Dibalut aura semangat, dengan jubah biru yang berkibar.
Itu benar-benar Lise yang ada dalam ingatannya.

10
Waktu mundur sedikit. Saat pasukan terpisah yang dilepaskan oleh Leo menyerbu pasukan skeleton, dan Leo serta pasukannya juga memulai serangan ke arah Bassau.
Saat itu, Lise dan pasukannya baru saja melihat Bassau dari kejauhan.