Bab 2: Menuju Negeri Asing - Bagian 1

Volume 2 - Chapter 4

January 1, 2019


1

Benua Vogel terkadang digambarkan seperti seekor burung yang sedang melebarkan sayapnya.

Hamparan daratan yang membentang ke kiri dan kanan, serta sedikit menjorok ke atas dan bawah, memang bisa dilihat sebagai sayap, kepala, dan ekor. Di bagian tengah Benua Vogel—dengan kata lain, bagian tubuhnya—adalah wilayah kekuasaan kami, Kekaisaran Adrasia. Dari sanalah aku dan Leo diutus menuju bagian ekornya.

Negara yang terletak di selatan benua itu bernama Kadipaten Rondine, salah satu dari dua negara yang ada di bagian ekor.

"Salah satu dari dua negara yang berhasil bertahan dari era perang di Wilayah Selatan, ya...."

Aku sedang membaca dokumen tentang negara tujuan kami di atas sebuah kapal. Kami adalah bagian dari Armada Delegasi Kekaisaran yang dipimpin oleh Duta Besar Berkuasa Penuh, Leo. Armada ini terdiri dari dua kapal, masing-masing membawa buah tangan untuk Rondine. Sesuai prosedur, Leo menaiki kapal yang satu, dan aku di kapal yang lain. Ini adalah langkah antisipasi jika terjadi kecelakaan. Walaupun lautan di sekitar sini cukup tenang, jadi kemungkinan itu sangat kecil.

Namun, di kapal yang kunaiki, ada satu orang yang gemetar bukan main.

"Kalau gemetaran di laut setenang ini, kau tidak akan bisa pergi ke lautan lain, lho?"

"A-aku tidak perlu pergi ke sana...."

Orang yang gemetar sambil meringkuk di bawah selimut di atas tempat tidur itu adalah Erna. Kenapa dia ada di sini, dan kenapa dia gemetaran? Yah, ceritanya tidak panjang.

Singkatnya, sudah menjadi kebiasaan bahwa pengawal untuk Duta Besar Berkuasa Penuh adalah Kesatria Pengawal Kekaisaran. Lalu, kakak-kakakku merekomendasikan Erna untuk tugas ini. Mereka mungkin ingin menyingkirkan orang yang berpihak pada kami dari Ibukota Kekaisaran, meskipun hanya satu orang. Yah, aku sudah menduga hal semacam itu akan terjadi, dan sebagai persiapan, aku sudah menempatkan Linfia di sisi Fina. Seharusnya tidak akan ada masalah.

Mengirim anggota Keluarga Bangsawan Pahlawan yang bisa menggunakan Pedang Suci ke luar negeri sebenarnya cukup bermasalah, tetapi di sisi lain, hal itu juga menunjukkan keseriusan kami dalam misi persahabatan kali ini.

Pada akhirnya, Ayahanda pun menerima rekomendasi ketiga kakakku. Mungkin beliau sendiri juga menganggapnya sebagai salah satu strategi.

Ngomong-ngomong, yang kumaksud 'bermasalah' adalah, pertama, anggota Keluarga Bangsawan Pahlawan yang bisa menggunakan Pedang Suci merupakan salah satu kekuatan militer terpenting Kekaisaran. Jika mereka dikirim ke negara lain, negara tersebut tidak akan punya cara untuk menandinginya. Ini masalah dari sisi negara yang didatangi. Lalu, dari sisi Keluarga Bangsawan Pahlawan sendiri, ada masalah di mana mereka tidak bisa menggunakan Pedang Suci di luar negeri tanpa izin Kaisar. Ini adalah sistem pengaman yang dipasang oleh pahlawan generasi pertama untuk mencegah pengkhianatan atau jika keturunannya menyeberang ke negara lain. Fakta ini tidak banyak diketahui orang, karena anggota Keluarga Bangsawan Pahlawan memang jarang sekali bepergian ke luar negeri.

"Akan kukutuk mereka...! Akan kubenci mereka...! Ketiga orang itu, tidak akan pernah kumaafkan...!"

"Ancamanmu tidak meyakinkan kalau kau mengucapkannya sambil menggigil begitu."

Lalu, alasan kenapa dia gemetaran adalah karena dia benar-benar takut pada laut.

Erna tidak masalah dengan bak mandi, tetapi dia tipe orang yang tidak tahan dengan sungai atau laut. Fobia air, begitulah sebutannya. Bisa dibilang ini adalah satu-satunya kelemahan Erna yang nyaris sempurna. Lebih tepatnya, ini adalah kelemahan yang tidak bisa diatasi oleh Erna yang sangat kompetitif.

Melihat lautan saja bisa membuatnya mual, pusing, dan sesak napas karena cemas. Begitu naik kapal, rasa takut yang luar biasa membuatnya gemetar tak terkendali. Kalau dia keluar dan melihat samudra luas, mungkin dia akan pingsan karena syok.

"Tapi, hebat juga kau bisa menyembunyikannya selama ini. Kukira semua orang sudah tahu."

"A-anggota Keluarga Bangsawan Pahlawan yang memegang Pedang Suci jarang sekali keluar negeri... Kekaisaran juga lebih banyak daratannya, dan karena aku tahu itu, makanya di usia dua belas tahun aku mati-matian berlatih agar bisa memanggil Pedang Suci... Aku tidak mau naik kapal...."

Erna menitikkan air mata. Mungkin dia adalah orang pertama yang berhasil memanggil Pedang Suci karena alasan sepele seperti itu. Dan sekarang, semua usahanya itu sia-sia, benar-benar menggelikan.

"K-kau tertawa, ya...!? Jahat sekali, teman masa kecilmu sedang ketakutan, lho...!?"

"Kalau aku ingat lagi bagaimana kau bisa fobia air, tentu saja aku tertawa. Terutama aku."

"A-Ar juga ikut bertanggung jawab, tahu...!? Aku jadi takut air karena melihatmu tenggelam...!"

Benar sekali, itu terjadi saat kami berumur sekitar delapan tahun. Aku sedang mandi bersama Erna. Saat itu, sepertinya aku mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaannya, sehingga aku harus menerima pukulan body blow darinya. Aku pingsan dan tenggelam di dalam bak mandi, nyaris mati.

Lalu, entah apa yang salah dengan otaknya, melihat kejadian itu justru membuatnya takut pada air, dan dia pun mengalami fobia air. Itu adalah alasan paling tidak masuk akal yang pernah kudengar. Bahkan raja tiran paling kejam sekalipun tidak akan setidak masuk akal itu.

"Itu salahmu sendiri, dan seharusnya akulah yang jadi fobia air. Ini hukuman dari langit, hukuman."

"Uuuh... kejam sekali...."

Erna setengah menangis dengan ekspresi lemah yang jarang sekali kuperlihatkan.

Dasar, kalau memang setakut itu, kenapa tidak menolak saja tugas ini? Kenapa dia ikut juga?

"Kalau kau bilang pada Ayahanda, kurasa beliau akan mempertimbangkannya."

"K-kalau sampai ketahuan pewaris Keluarga Bangsawan Pahlawan takut pada laut, itu akan jadi skandal, tahu...! L-lagipula, kalau aku bilang takut laut, rasanya seperti aku kalah...."

"Memangnya kau sedang bertarung dengan siapa...?"

Saat aku merasa heran, kapal sedikit bergoyang.

Goyangan itu tidak seberapa, tetapi bagi Erna, sepertinya terasa seperti guncangan hebat.

"Kyaaa!? Sakit!?"

Dia terguling di atas tempat tidur kecilnya, lalu kepalanya terbentur dan kini dia meringkuk kesakitan.

Pemandangan seperti ini benar-benar mustahil terjadi di darat, jadi rasanya segar dan menyenangkan.

"Di atas air, kau benar-benar tidak berguna, ya. Kalau kita diserang bajak laut di sini, riwayat kita tamat."

"J-jangan meremehkanku...! Kalau keadaan darurat...! Kyaaa!? Goyangan barusan lebih besar!? Jangan-jangan dasar kapalnya berlubang!?"

"Dalam keadaan darurat pun kau pasti tidak akan berguna. Mana mungkin berlubang. Lain cerita kalau ada Naga Laut yang muncul."

Hal yang paling menakutkan di lautan adalah sang penguasa lautan, Naga Laut.

Naga yang telah beradaptasi dengan laut. Monster naga yang sudah termasuk monster kelas tertinggi, kini mengamuk di lautan. Kengeriannya melebihi di daratan. Tak terhitung jumlah pelaut yang kapalnya ditenggelamkan hingga tewas.

Bahkan pernah ada kejadian di mana armada dari dua negara yang sedang berperang di laut ditenggelamkan sekaligus. Tentu saja, Erna pasti tahu cerita mengerikan itu.

Begitu topik Naga Laut muncul, ekspresinya berubah seolah semangatnya benar-benar patah.

"Aku... akan mati di sini...?"

"Tidak mungkin kau mati, bodoh. Kau benar-benar seperti orang lain. Sebagai Kesatria Pengawal Kekaisaran, bagaimana bisa begini? Seharusnya kau tidak menerima tugas yang akan terganggu oleh kondisimu."

"Tapi...."

"Haaah...."

Yah, aku bisa mengerti perasaannya yang tidak ingin menunjukkan kelemahan. Lagipula, kita tidak akan bertarung di atas laut, dan tidak ada bajak laut yang akan menyerang kapal delegasi dengan pengawalan seketat ini.

Begitu kembali ke darat, dia pasti akan kembali menjadi Erna yang biasa. Sebaiknya aku berhenti menggodanya sampai di sini.

Setelah merasa puas membalas perlakuan biasanya, aku diam-diam memasang kekkai di sekitar Erna. Kekkai yang memisahkan area di dalamnya dari dunia luar. Dengan ini, goyangan kapal seharusnya akan terasa lebih ringan. Biasanya aku tidak akan bisa menggunakan sihir ini, tapi Erna yang sekarang tidak akan menyadarinya, jadi tidak masalah.

"G-goyangannya sepertinya sedikit mereda, ya...."

"Dari awal memang tidak terlalu goyang."

"A-Ar saja yang terlalu tidak peka.... Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana kalau kapal ini tenggelam?"

"Dalam sejarah panjang Kekaisaran, kapal delegasi hanya pernah tenggelam dua kali."

"Tapi tidak ada jaminan kalau hari ini bukan yang ketiga, kan...?"

Berbeda dari biasanya, pemikirannya benar-benar negatif. Kenapa informasi yang kuberikan untuk menenangkannya malah membuatnya semakin takut?

Sepertinya percuma saja mengatakan apa pun lagi. Biarkan saja dia ketakutan sesukanya.

Saat aku sedang berpikir begitu, terdengar ketukan pelan di pintu.

Bahkan suara ketukan itu membuat Erna terlonjak kaget. Karena dia tidak dalam kondisi untuk menjawab, aku yang menjawabnya. Lalu, seorang kesatria paruh baya yang merupakan bawahan Erna masuk.

"Silakan."

"Permisi... umm, di mana Kapten?"

"A-aku masih hidup...."

"Bisakah Anda naik ke geladak?"

"Kau mau aku mati...!? Kalau aku terlempar angin, aku bisa tenggelam, tahu...!"

"Memangnya di kepalamu di luar sedang badai atau apa? Hari ini cerah sekali. Hah... seperti yang kau lihat."

Aku menatap bawahannya dengan heran, dan dia pun balas tersenyum masam. Sepertinya bawahan langsungnya sudah tahu tentang ini. Yah, memang tidak mungkin bisa disembunyikan selamanya.

"Kalau begitu, saya hanya akan melaporkan. Kapal dari Kadipaten Albatro meminta untuk berunding. Kapal kami dan kapal Pangeran Leonard sudah menurunkan jangkar, bagaimana sebaiknya?"

"Kadipaten Albatro, ya. Ternyata kita sudah masuk ke perairan mereka."

Kadipaten Albatro adalah negara tetangga Kadipaten Rondine. Mereka adalah negara maritim yang aktif dalam perdagangan laut. Dulu, mereka pernah membantu negara yang sedang berperang dengan Kekaisaran, sehingga hubungan kami menjadi renggang.

Meminta berunding di saat seperti ini. Mereka pasti tidak ingin kita pergi ke Rondine. Walaupun disebut perundingan, pada dasarnya ini adalah inspeksi.

"S-semua kesatria, masuk ke dalam kamar... jangan memprovokasi mereka...."

"Aku setuju. Apa kata Leo?"

"Itu... Pangeran Leonard juga sepertinya sedang tidak enak badan... jadi saya berniat menanyakan pendapat Kapten."

"Haaah... baiklah. Aku akan berpura-pura menjadi Leo dan menanganinya."

Sambil berkata begitu, aku keluar dari kamar. Di sebelah kami adalah kapal yang dinaiki Leo. Jika kami memberi sinyal untuk menerima perundingan, pihak Kadipaten Albatro akan naik ke kapal kami.

Yah, mereka pasti tidak akan sampai memeriksa seluruh sudut kapal delegasi Kekaisaran, jadi seharusnya tidak masalah.

Setelah pindah ke kapal sebelah, aku menuju ke kamar Leo.

Di sana, aku menemukan Leo dengan wajah yang sedikit pucat. Dengan wajah seperti ini, dia tidak akan bisa menerima perundingan.

Pakaian yang dikenakan Leo sama denganku. Kemeja hitam dengan jaket biru cerah. Itu adalah seragam duta besar Kekaisaran. Seharusnya hanya duta besar yang memakainya, tetapi kali ini aku yang menjadi ajudan juga mengenakannya. Itu artinya posisiku setara dengan duta besar.

Awalnya aku pikir ini merepotkan, tapi berkat ini aku jadi bisa dengan mudah berpura-pura menjadi Leo.

"Yo, kudengar kau tidak enak badan? Mabuk laut?"

"Iya... sepertinya begitu...."

"Kau ini bukan Erna, sadarlah sedikit."

"Maaf...."

"Untuk sekarang, aku akan berpura-pura menjadi dirimu. Kau istirahat saja di kapal sebelah."

"Tapi...."

"Sudah, pergi sana. Bilang saja Pangeran Arnold sedang tidak enak badan."

"Tapi, jika Anda mengatakan hal seperti itu, reputasi Yang Mulia akan...."

"Tidak apa-apa. Reputasiku tidak akan berubah lagi sekarang."

Setelah menyampaikan pesan itu pada bawahan Erna, aku memindahkan Leo ke kapal sebelah. Tentu saja, di mata orang lain, aku melakukannya sebagai Pangeran Arnold.

Aku yang tersisa merapikan rambut dan pakaianku, lalu dengan ekspresi tegas, aku keluar dari kamar.

"Terima tawaran perundingan mereka. Siapkan semuanya."

"Baik!"

Maka, di tengah lautan, aku pun bertukar tempat dengan Leo.

2

Kapal dari Kadipaten Albatro yang mendekat adalah kapal perang. Jumlahnya tiga buah.

Kapal layar yang dilengkapi dengan Meriam Sihir yang menembakkan peluru dengan kekuatan sihir. Untuk saat ini, itu adalah jenis kapal perang terbaru. Jika mereka menyerang dari jarak jauh, kami tidak akan bisa berbuat apa-apa, kecuali jika mereka mendekat untuk pertarungan jarak dekat.

"Mereka tidak akan menyerang, kan?"

"Jika mereka melakukannya, itu berarti perang dengan negara kita."

"Terima kasih sudah mengantar. Bagaimana kondisi mereka berdua?"

"Keduanya KO. Kalau ini pertandingan, wasit pasti sudah menghentikannya."

Kesatria paruh baya yang mengantar Leo telah kembali ke sisiku. Hanya dia satu-satunya yang tahu tentang pertukaran ini, jadi kehadirannya sangat membantu.

"Kalau begitu, apa aku akan didiskualifikasi karena menjadi pengganti?"

"Selama tidak ketahuan, tidak akan ada masalah. Selama tidak ketahuan."

Dia menjawab pertanyaanku seperti itu.

Untuk ukuran bawahan Erna, dia sangat fleksibel. Sejujurnya, aku ingin dia menjadi bawahanku.

"Begitu ya. Kalau begitu, aku akan berakting dengan total."

"Saya akan menemani Anda."

Dengan itu, aku dan kesatria tersebut pergi untuk menyambut kapal Albatro yang mendekat.


"Terima kasih telah bersedia berunding, Tuan Duta Besar."

Yang naik ke kapal kami adalah seorang gadis dengan rambut cokelat pucat. Rambutnya yang dipotong sebahu sedikit bergoyang tertiup angin.

Usianya sekitar empat belas atau lima belas tahun. Mata hijaunya menatapku dengan penuh rasa ingin tahu.

Aku sedikit terkejut, tidak menyangka akan disambut oleh seseorang yang tampaknya lebih muda dariku.

Menyadari hal itu, gadis itu segera menundukkan kepalanya.

"Maafkan ketidaksopanan saya. Saya Evangelina di Albatro, Putri dari Kadipaten Albatro. Panggil saja saya Eva."

"Ah, Kakak, tunggu...."

"Dan yang lamban ini adalah Julio di Albatro. Adik laki-lakiku."

Julio yang muncul setelahnya memiliki wajah yang sangat mirip dengan Eva. Bukan karena Eva terlihat maskulin, tetapi Julio yang terlihat feminin. Jika mereka berdiri berdampingan, aku akan percaya jika dikatakan mereka adalah sepasang saudari.

Eva adalah gadis yang cantik, tetapi di matanya terpancar kemauan yang kuat. Di sisi lain, Julio tampak pemalu dan ragu-ragu. Agak tidak sopan untuk membandingkan, tapi Julio terlihat lebih feminin. Aku tidak menyangka Putri dan Pangeran Albatro adalah anak kembar. Dan lagi, apa-apaan mereka naik ke kapal kami?

Sambil bersyukur tidak memaksakan Leo yang sedang sakit untuk ikut, aku memberi hormat dengan anggun layaknya Leo.

"Nama saya Leonard Lakes Adler. Saya Pangeran Kedelapan Kekaisaran Adrasia. Kali ini, saya ditunjuk sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh untuk Kadipaten Rondine dan sedang dalam perjalanan ke sana. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Yang Mulia Putri dan Pangeran dari Kadipaten Albatro, serta melihat kapal perang Kadipaten Albatro yang terkenal sebagai negara maritim."

Kami sudah memberitahu Albatro sebelum berangkat bahwa Leo akan diutus sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh ke Rondine. Tentu saja, mereka seharusnya sudah tahu akan hal itu.

Jadi tujuan mereka bukan untuk menghalangi kami. Jika ingin menghalangi, mereka tinggal melarang kami melewati perairan Kadipaten Albatro. Jika mereka mengizinkan kami melewati perairan mereka lalu tiba-tiba melarang kami setelah kami masuk, Albatro akan kehilangan kepercayaan dari negara-negara lain.

Maka dari itu, kedatangan Eva dan Julio kali ini pasti karena tujuan lain.

"Saya juga pernah mendengar rumor tentang Pangeran Leonard. Saat tsunami melanda Wilayah Timur Kekaisaran, Anda memimpin banyak kesatria untuk menyerbu. Seperti yang diharapkan dari pangeran Kekaisaran, Anda gagah berani dan memiliki bakat militer, ya."

"Tidak seperti itu. Itu semua berkat perjuangan para kesatria. Lagi pula, bukankah Anda berdua juga memiliki bakat militer? Rasanya tidak mungkin para pangeran dari sebuah kadipaten sengaja menaiki kapal perang hanya untuk menemuiku, bukan?"

Mendengar jawabanku, tatapan mata Eva sedikit menajam, sementara Julio menunjukkan ekspresi terkejut.

Ternyata memang ada tujuan lain.

Mereka bukan sengaja mendatangi kami, melainkan mereka memiliki tujuan lain dan kebetulan kami melintas. Masalahnya, tujuan apa yang sampai membuat seorang putri dan pangeran turun tangan? Dari gerak-gerik mereka, keduanya tidak terlihat mahir dalam pertempuran.

Yah, Eva sepertinya punya sedikit pengalaman, tapi Julio sama sekali tidak menunjukkan aura seperti itu. Mungkin kalau disuruh memegang pedang, dia lebih payah dariku. Kenapa mereka membawa orang seperti itu?

Saat aku hendak menyelidikinya, Eva langsung mengungkapkan jawabannya.

"Ekspresimu terlalu jelas! Bodoh! Sungguh...."

"M-maaf, Kakak...."

"Haaah... Yang Mulia Pangeran Leonard. Kalau sudah begini, saya akan berterus terang. Saya ingin Anda mengubah arah. Saya tidak akan menghentikan Anda pergi ke Rondine, tapi tolong ambil rute memutar sejauh mungkin."

"Bolehkah saya tahu alasannya?"

"...Saya lebih suka tidak mengatakannya. Karena saya tidak bisa mempercayai Anda ataupun Kekaisaran."

"Begitu rupanya."

Berani sekali dia mengatakan tidak bisa mempercayai Kekaisaran secara terang-terangan. Dibandingkan dengan Kekaisaran, Kadipaten Albatro hanyalah negara kecil. Karena perdagangan maritim mereka yang maju, Kekaisaran tidak menyerang mereka karena akan membuat negara lain menjadi musuh, tapi jika mau, Kekaisaran punya kekuatan untuk menghancurkan mereka.

Kadipaten Albatro pasti tahu itu. Namun, mereka tetap mengatakannya, berarti ini adalah masalah yang sangat ingin mereka rahasiakan. Aku mengamati sekeliling, lalu berkata.

"Ubah arah kapal. Kita akan masuk ke Rondine melalui rute yang lebih jauh dari yang direncanakan."

"Y-Yang Mulia!? Itu akan memakan waktu lebih lama dari jadwal!"

"Tidak masalah. Kita punya cukup persediaan makanan dan air, dan Rondine pasti akan memaklumi sedikit keterlambatan."

"Tetapi!"

"Sudah kuputuskan. Apakah ini cukup, Yang Mulia Putri Eva?"

Melihat Eva yang tampak tercengang, aku tertawa dalam hati.

Jadi begitu. Kalau bertindak seperti Leo, reaksi seperti ini yang akan kudapatkan. Jangan-jangan Leo sengaja melakukannya karena ingin melihat ekspresi terkejut lawan bicaranya?

Reaksi Eva benar-benar selucu itu.

"...Seperti yang diharapkan dari seseorang yang bersaing memperebutkan takhta. Anda sungguh berjiwa besar. Terima kasih atas keputusan bijak Anda, Yang Mulia Pangeran Leonard."

"T-terima kasih."

"Kalau begitu, kami permisi."

"P-permisi."

Setelah urusan mereka selesai, Eva dan Julio pun kembali ke kapal mereka.

Seiring dengan itu, kami juga mulai bersiap untuk berangkat. Sebenarnya aku ingin segera berhenti berpura-pura menjadi Leo, tapi mereka pasti mengawasi apakah kami benar-benar mengubah arah, jadi aku tidak bisa melakukan gerakan yang mencurigakan. Akhirnya, kami terpaksa melanjutkan perjalanan dengan aku dan Leo yang masih bertukar tempat.

Yah, itu bukan masalah besar. Selama aku tetap di dalam kamar, aku tidak akan mencolok. Sejujurnya, sampai kami tiba di darat, baik aku maupun Leo tidak punya pekerjaan apa-apa. Yang menjadi masalah adalah tujuan Albatro.

"Ada apa sebenarnya, ya?"

"Entahlah."

Aku hanya bisa menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan kesatria paruh baya itu.

Sejujurnya, aku tidak punya petunjuk. Mereka mengerahkan tiga kapal perang, tapi yang naik adalah seorang putri dan pangeran. Jika tujuannya bertempur, putri dan pangeran tidak diperlukan. Jika tidak untuk bertempur, tiga kapal perang itu terlalu berlebihan.

Dari situ, yang bisa kupikirkan hanyalah pengintaian bersenjata. Kalau mereka berdua punya kemampuan yang cocok untuk pengintaian, itu masuk akal. Tapi, apa yang mereka intai?

Area ini adalah perairan Kadipaten Albatro, dan aku belum pernah dengar ada kelompok bajak laut besar di sini.

Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba kapal bergoyang dengan hebat.

"Ada apa!?"

"Lapor! Badai!"

"Apa!?"

Mana mungkin. Cuaca cerah sampai beberapa saat yang lalu, kenapa tiba-tiba ada badai?

Sambil berpikir begitu, aku bergegas naik ke geladak. Di sana, angin kencang dan ombak tinggi menghantam kapal. Dan saat aku melihat ke samping, masalah yang lebih merepotkan telah terjadi.

"Kapten! Kita terpisah dari kapal kakakku!"

"Maafkan saya! Kami sudah kewalahan hanya untuk menjaga agar kapal ini tidak terbalik! Tidak mungkin bisa menyusul mereka!"

"Tidak bisakah kau melakukan sesuatu!?"

"Tidak bisa! Ini bukan badai biasa! Muncul tiba-tiba tanpa tanda-tanda! Pasti ada monster laut yang terlibat!"

Mendengar teriakan kapten kapal, aku teringat pada ceritaku kepada Erna.

Aku menceritakan tentang Naga Laut padanya. Kisah yang sering kudengar adalah Naga Laut tiba-tiba menciptakan badai untuk menenggelamkan kapal. Situasinya persis seperti sekarang. Dan yang menguatkan dugaanku adalah sikap Kadipaten Albatro barusan. Seorang putri dan pangeran memimpin tiga kapal perang.

Dan mereka menyuruh kami mengubah arah. Bagaimana jika Kadipaten Albatro tahu bahwa ada Naga Laut di sekitar perairan mereka, dan mereka datang untuk menyelidikinya?

Mereka tidak mungkin memberitahu kami. Perekonomian Kadipaten Albatro bergantung pada perdagangan laut. Tetapi, jika para pelaut dari negara mana pun mendengar ada Naga Laut, mereka tidak akan berlayar ke Kadipaten Albatro. Itu sama saja dengan bunuh diri.

Sampai di situ, aku segera menggunakan sihir deteksi. Aku memeriksa skala badai ini.

Seberapa jauh angin kencang ini bertiup. Saat aku memeriksanya, aku tanpa sadar mendecakkan lidah. Badai ini sangat besar, dan kami berada di tepinya. Artinya, titik kemunculannya bukan di sini.

Kemungkinan besar, pusat badai berada di perairan Kadipaten Albatro. Dan yang lebih merepotkan lagi, kapal kami terus-menerus terseret ke arah pusat badai.

Kalau begini terus, skenario terburuknya adalah kami harus melawan Naga Laut di tengah lautan. Aku tidak mau itu terjadi.

"Kapten! Usahakan keluar dari badai ini!"

"Sedang kami lakukan!"

Maka, aku yang masih menyamar sebagai Leo, akhirnya terseret ke dalam badai.

3

"Kapten, sekarang kita ada di mana?"

Sambil tetap berpura-pura menjadi Leo, aku menanyakan posisi kami saat ini pada kapten kapal. Badai akhirnya reda, tapi kami yang terperangkap di dalamnya terpisah dari kapal Leo dan kehilangan banyak waktu. Hari sudah mulai senja.

Badai itu cukup kuat untuk membalikkan kapal, tapi untungnya ini adalah kapal delegasi Kekaisaran, dan awaknya adalah prajurit terlatih dari Angkatan Laut Kekaisaran. Entah bagaimana kami berhasil melewatinya.

"Kemungkinan besar kita masih di perairan Kadipaten Albatro. Meskipun kita berhasil tidak terbalik, kita terseret cukup jauh. Atau lebih tepatnya, mungkin ditarik. Badai tadi jelas tidak normal."

"Jadi, ini ada hubungannya dengan monster, ya?"

"Ya, saya yakin. Saya sudah menjadi pelaut sejak zaman kakek saya, dan badai tadi sangat mirip dengan badai Naga Laut yang sering diceritakan."

"Badai Naga Laut... seperti apa itu?"

"Seperti namanya, badai yang disebabkan oleh Naga Laut. Katanya, badai itu akan terus menarik kapal ke arahnya. Jadi, meskipun berhasil melewati badai, di ujung sana sudah menunggu Naga Laut. Ini adalah cerita yang membuat semua pelaut ketakutan. Bagaimanapun juga, Naga Laut adalah monster terkuat di lautan. Melihat wujudnya sama saja dengan melihat kematian."

Hmm, cerita yang kudengar dengan badai barusan. Ciri-cirinya cocok. Apakah ini berarti ada Naga Laut di perairan ini?

Kalau begitu, ini masalah besar. Naga adalah monster yang memiliki siklus periode aktif dan periode dorman. Dan siklus periode dormannya jauh lebih panjang. Ada laporan tentang naga yang dorman selama seratus tahun. Mereka tidur lama, dan aktif dalam waktu singkat. Itulah makhluk yang disebut naga. Hal yang sama berlaku untuk Naga Laut.

Aku harus memeriksa catatan, tapi sepertinya Naga Laut yang sedang dorman di sekitar sini telah memasuki periode aktifnya. Masalahnya, Kadipaten Albatro adalah negara yang maju dalam perdagangan laut. Meskipun mereka menjaga jarak dengan Kekaisaran, mereka berdagang secara luas dengan negara lain. Jika Naga Laut muncul di perairan mereka, entah berapa banyak kerugian yang akan ditimbulkan.

Pasti karena tahu hal itu, Kadipaten Albatro melakukan penyelidikan rahasia. Tapi dari situasi ini, sepertinya mereka benar-benar telah memancing amarah sang naga. Mungkin penyebab badai itu adalah Eva dan rombongannya. Badai sebesar itu. Mungkin mereka sudah tidak selamat. Kasihan sekali.

"Begitu ya... kalau begitu kita tidak boleh berlama-lama di sini. Aku juga khawatir dengan kakakku dan yang lain. Segera arahkan kapal ke Rondine."

"H-hei! Lihat itu!!"

Saat aku hendak memberi perintah, salah satu awak kapal berteriak.

Firasat buruk menyelimutiku. Saat aku menoleh, benar saja, puing-puing kapal mengapung terbawa arus.

"Kapal dari Kadipaten..."

"Sepertinya begitu. Mereka juga tergulung badai seperti kita."

"Sangat disayangkan...."

Saat aku hendak mengakhiri percakapan, kesatria paruh baya di sampingku berbisik.

"Yang Mulia... Pangeran Leonard pasti akan memerintahkan pencarian korban selamat...!"

"Tidak ada waktu untuk itu. Mungkin ada Naga Laut di sini, tahu? Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, kan...?"

"Saya mengerti, tapi Anda harus bersikap seperti Pangeran Leonard. Jika sampai ketahuan bahwa Duta Besar Berkuasa Penuh, perwakilan negara, bertukar tempat—meskipun dengan saudara kembarnya—itu akan menjadi masalah besar...!"

"Aku tahu, tapi para awak kapal juga terguncang karena badai tadi. Mereka tidak akan menyadari keanehan dalam diriku...!"

"Justru karena mereka terguncang, Anda harus bersikap seperti Pangeran Leonard. Jika pertukaran ini terbongkar sekarang, kepanikan akan meluas. Mungkin kita tidak akan bisa membungkam mereka, dan entah apa yang akan dikatakan Rondine nanti...?"

Pendapat kesatria paruh baya itu sangat masuk akal. Ya, sangat masuk akal. Tapi, bersikap seperti Leo berarti melakukan hal yang paling tidak ingin kulakukan. Menyelamatkan korban kecelakaan kapal di tempat ini tidak ada untungnya. Kadipaten Albatro bukanlah negara sekutu atau negara sahabat. Melakukan operasi penyelamatan di perairan yang mungkin dihuni Naga Laut demi negara seperti itu adalah tindakan bodoh.

Kami tidak punya waktu luang. Kami sudah kehilangan banyak waktu. Jika melakukan operasi penyelamatan di sini, kedatangan kami di Rondine akan sangat terlambat. Meskipun Leo tiba lebih dulu, tidak ada gunanya. Karena dia sekarang adalah Arnold, dan Arnold adalah pangeran tak berguna. Jika dia memulai negosiasi persahabatan dengan Rondine sendirian, itu akan menimbulkan kecurigaan. Aku benar-benar ingin segera ke Rondine. Meskipun Erna ada di sampingnya, aku juga khawatir apakah Leo bisa memerankanku tanpa ketahuan.

Selain itu, jika kami menyelamatkan banyak orang, kami harus singgah di Kadipaten Albatro. Itu yang paling merepotkan. Apakah Albatro akan dengan mudah melepaskan pangeran Kekaisaran yang mengetahui rahasia yang ingin mereka sembunyikan?

Kalau aku jadi mereka, aku pasti akan menahan mereka sampai masalahnya selesai. Itu berarti aku dan Arnold harus terus bertukar tempat untuk waktu yang lama. Jelas tidak bisa.

"Korban selamat mungkin sudah tidak ada harapan lagi, jadi sebaiknya kita cepat pergi dari—"

"Lihat! Ada orang berpegangan pada puing-puing! Dia masih hidup!!"

"...."

"Bagaimana, Yang Mulia? Anda akan mengabaikannya?"

Kesatria paruh baya itu menanyakan hal yang sudah jelas. Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain. Aku harus menolongnya. Kenapa masalah selalu muncul di hadapanku! Ah, sial!

Kalau memang ada dewa, akan kukutuk dia!

"Turunkan tali! Segera selamatkan dia! Waspadai sekitar, cari apakah ada korban selamat lainnya!"

Sambil meneriakkan perintah yang terdengar seperti Leo, awan gelap menyelimuti hatiku.

Aku ingin segera mengaku sebagai Arnold dan kabur dari sini. Bukan karena takut. Kalaupun Naga Laut datang, aku bisa melawannya. Tapi, itu akan menimbulkan masalah yang sangat merepotkan. Mungkin akan terjadi kekacauan yang tidak bisa kutangani sendirian. Aku harus menghindari itu.

Namun, si baik hati Leonard tidak akan membiarkanku melakukannya.

"Korban selamat berhasil diselamatkan! Menurutnya, masih banyak korban selamat lainnya!"

Mendengar laporan dari awak kapal, kesadaranku nyaris melayang.

Banyaknya korban selamat berarti waktu kami tertahan di perairan ini akan semakin lama. Kami juga harus menyediakan tempat untuk mereka. Selain itu, perhitungan makanan dan air juga menjadi perlu.

"Kadipaten Albatro ini benar-benar pembawa sial...!"

"Jaga ucapan Anda...!"

"Bagaimana bisa aku tidak mengatakannya...! Ah, sial...! Ini yang terburuk...!"

"Tahanlah diri Anda. Dengan ini, kebajikan Pangeran Leonard akan tersebar luas. Jika Rondine tahu Anda melakukan penyelamatan dalam situasi berbahaya, mereka pasti akan memuji Anda, bukan merendahkan Anda."

"Rondine dan Albatro itu seperti anjing dan kucing, tahu? Mereka sudah lama bersaing memperebutkan kekuasaan di selatan. Apa menolong negara saingan mereka akan mendapat pujian...?"

"Kekaisaran kita tidak ada hubungannya dengan perselisihan di selatan, dan kita adalah negara besar. Kita hanya perlu bersikap percaya diri. Jika Anda sudah mengerti, maka bulatkan tekad Anda."

Didesak oleh kesatria paruh baya itu, aku menghela napas dalam-dalam, lalu mengangkat wajahku, kemudian menunduk lagi sambil menghela napas.

Ah, aku benci ini. Apa tidak ada cara untuk keluar dari situasi ini tanpa merusak reputasi Leo?

Tidak, tidak ada. Leo pasti akan menolong mereka. Bahkan jika harus mengorbankan segalanya.

Kalau dia tipe orang yang memikirkan keuntungan, dia pasti sudah menjadi kaisar tanpa perlu bantuanku.

Dia memang orang yang layak ditolong, tapi saat ini, kebaikan hati dan reputasinya yang baik itu sungguh menyebalkan.

"Kapten. Kita akan menyelamatkan korban yang selamat."

"Anda serius!? Mungkin ada Naga Laut di sini, lho!? Jika kita diserang saat operasi penyelamatan, kita akan habis! Lagipula, monster-monster akan segera mengerumuni mayat-mayat itu! Monster selain Naga Laut juga bisa menjadi ancaman."

"Badai sudah berlalu. Naga Laut itu mungkin sudah puas. Lagipula, monster biasa tidak akan mendekati tempat yang baru saja dilewati monster kuat. Lawannya adalah Naga Laut. Kurasa kita aman untuk dua atau tiga hari."

"Tapi hari sudah mulai gelap! Operasi penyelamatan di malam hari berbahaya! Jika kita menggunakan cahaya, kita bisa memancing Naga Laut!"

"Meskipun begitu, kita akan melanjutkan operasi penyelamatan sebisa mungkin. Tolong tentukan arah berdasarkan informasi dari korban selamat. Maaf, Kapten. Ini adalah perintah sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh. Kita akan menggunakan segala cara yang kita miliki untuk menyelamatkan korban selamat dari Kadipaten Albatro. Tidak akan ada satu pun korban selamat yang terlewatkan."

"...Saya pernah mendengar rumornya, tapi Anda benar-benar orang yang sangat baik hati, ya. Sebagai kapten yang bertanggung jawab atas kapal ini, saya tidak bisa menyetujuinya, tapi jika ini perintah dari Anda, mau bagaimana lagi. Mari kita selamatkan mereka."

Kapten kapal akhirnya menyerah. Aku mengerti perasaannya. Aku juga setuju denganmu. Tindakan ini bodoh. Tapi, inilah Leo.

Mau bagaimana lagi. Jadi tolong jangan menatapku dengan tatapan penuh kebencian seperti itu.

Maka, di tengah perjalanan kami menuju Rondine, entah kenapa kami memulai tindakan yang sangat bodoh: melakukan operasi penyelamatan di perairan yang mungkin dihuni oleh Naga Laut.

4

"Semuanya... bertahanlah... kalian harus hidup...."

Sambil berpegangan pada sekoci yang ada di kapal, Julio berteriak. Tenggorokannya sudah mulai serak karena telah mengucapkan hal yang sama berulang kali. Meskipun begitu, Julio terus bersuara. Dia percaya bahwa itulah tugasnya.

Di sekitar Julio, ada puluhan awak kapal. Korban luka diprioritaskan untuk naik ke sekoci, sementara yang lain berpegangan pada sisi sekoci atau puing-puing.

"Y-Yang Mulia... Anda juga sebaiknya naik ke sekoci...."

"Tidak apa-apa... aku masih kuat...."

Meskipun berkata begitu, Julio sudah tidak punya tenaga lagi. Sudah lebih dari sepuluh jam berlalu sejak kapal mereka hancur dan mereka terlempar ke laut. Mereka berhasil melewati malam yang mengerikan, gemetar karena ketakutan dan dinginnya air, tapi bantuan tak kunjung datang. Tak seorang pun menyangka akan jadi seperti ini.

Setelah mendapat informasi bahwa Naga Laut mungkin telah bangkit kembali, Eva dan Julio berangkat untuk menyelidikinya. Mereka membawa tiga kapal perang sebagai pengawal untuk berjaga-jaga. Tak seorang pun meremehkan Naga Laut. Hanya saja, kewaspadaan setinggi apa pun ternyata tidak cukup.

Apakah Naga Laut telah bangkit kembali atau tidak. Ayah mereka berkata bahwa mereka hanya perlu memastikan hal itu. Alasan mereka berdua yang dipilih adalah karena keduanya memiliki sihir bawaan yang menggunakan suara. Dengan sihir itu, menjelajahi bawah laut adalah hal yang mudah bagi mereka.

Kesalahan perhitungan mereka adalah Naga Laut ternyata datang karena terpancing oleh suara itu. Amarahnya tersulut. Naga Laut menciptakan badai, dan badai itu menghancurkan semua kapal mereka. Untungnya, Naga Laut itu pergi setelah kapal-kapal hancur, tapi itu sama sekali tidak menolong mereka.

"Uwaaa!? Monster!? Tadi ada bayangan monster di bawah!!"

"Tenang! Itu hanya ikan!"

Para awak kapal yang selamat harus berjuang melawan banyak ketakutan.

Ketakutan akan kematian. Ketakutan bahwa bantuan tidak akan pernah datang. Ketakutan bahwa mereka akan mati karena dinginnya air laut. Dan ketakutan bahwa monster laut akan datang dan memakan mereka. Semua ketakutan itu menumpuk, membuat Julio dan para korban lainnya kelelahan dan terkuras tenaganya. Meskipun begitu, Julio tetap bersuara lantang.

"Bantuan pasti akan datang...! Ingatlah keluarga kalian...! Bertahanlah, semuanya...!"

Sambil berkata begitu, Julio terus menyemangati para korban. Kata-kata itu juga dia tujukan untuk dirinya sendiri. Padahal, Julio yang biasa tidak akan melakukan hal seperti itu. Tidak, dia tidak bisa.

Dia punya kepribadian yang sulit untuk mengutarakan pendapat. Dia juga tidak bisa bersikap sombong meskipun dia seorang pangeran.

Orang yang selalu memimpin Julio adalah Eva. Tapi sekarang, Eva sedang terbaring di atas sekoci.

Saat terlempar ke laut, dia melindungi Julio dan terhempas ke air dengan keras hingga kehilangan kesadaran.

Sejak saat itu, Julio terus bersikap tegar seperti Eva. Dia berpikir bahwa dia harus bertahan hidup demi kakaknya yang ada di hadapannya.

Rasa tanggung jawab yang muncul di saat darurat itulah yang membuat Julio bersikap layaknya seorang pangeran.

Meski begitu, sebanyak apa pun Julio menyemangati mereka, itu tak lebih dari sia-sia.

"Bantuan... tidak mungkin datang... bahkan jika berangkat malam hari pun, butuh lebih dari sehari untuk sampai ke sini...."

Salah seorang awak kapal mengeluh. Itu adalah hal yang dipikirkan oleh semua orang di sana.

Kapal penyelamat dari Kadipaten Albatro kemungkinan besar tidak akan tiba tepat waktu. Namun, Julio punya satu harapan.

"Melihat skala badainya, kapal Kekaisaran mungkin juga ikut terseret... pasti Pangeran Leonard akan menolong kita...."

"Kekaisaran akan menolong kita...? Kita ini terus-menerus membantu negara yang sedang berperang dengan mereka, lho...? Sementara mereka berdarah-darah, negara kita justru menjadikan itu sebagai bisnis... mereka tidak akan mencari korban selamat di perairan berbahaya seperti ini...."

"Pangeran Leonard adalah orang yang sangat baik dan terkenal tidak akan meninggalkan orang yang kesusahan... pasti tidak apa-apa! Dia pasti akan datang menolong!"

"Apa mereka akan datang dalam situasi di mana bahkan negara sekutu pun akan meninggalkan kita...?"

"Kalau aku jadi mereka, aku akan langsung kabur begitu badai reda... aku tidak mau berada di perairan yang ada Naga Lautnya."

"Semuanya...."

Semangat semua orang mulai patah. Begitu pula dengan Julio. Dia berusaha menguatkan diri dengan melihat Eva, tapi tenaga dan semangatnya sudah di ambang batas.

Dari segi fisik, Julio jauh lebih lemah dibandingkan awak kapal lainnya. Justru dialah yang paling mungkin menyerah lebih dulu. Namun, Julio bertahan hanya dengan kekuatan tekadnya. Tapi, tekad itu pun mulai layu, terseret oleh keputusasaan orang-orang di sekitarnya.

Mungkin sudah tidak ada harapan lagi. Saat pikiran itu melintas di kepalanya.

Dia melihat sesuatu di kejauhan. Itu jelas sebuah kapal.

"K-kapal...! Ada kapal...!!"

"Aaah!! Kita selamat! Hoi! Hoi!!"

Semangat yang hampir padam kembali menyala. Semua orang berteriak sekuat tenaga dan melambaikan tangan agar keberadaan mereka diperhatikan. Hal itu berlanjut beberapa saat, sampai seseorang bergumam.

"I-itu kapal Kekaisaran...."

Informasi itu cukup untuk membuat mereka berhenti melambaikan tangan. Bendera yang berkibar adalah bendera Kekaisaran.

Dari bentuknya, itu mungkin salah satu dari dua kapal Kekaisaran yang mereka temui kemarin.

Bisa dimengerti kenapa kapal itu ada di sini jika mereka juga tergulung badai.

Dan keberadaan mereka di sini berarti mereka terdorong kembali dari rute normal mereka. Semua orang di sana tahu bahwa tujuan mereka adalah Rondine.

Apakah mereka akan melakukan penyelamatan yang memakan waktu lebih lama padahal mereka sudah terlambat?

Terlebih lagi, Naga Laut bersembunyi di sini, dan tidak ada yang tahu kapan ia akan menyerang lagi.

Semua alasan untuk tidak menolong mereka sudah lengkap.

Dan untuk sesaat, haluan kapal Kekaisaran itu berubah arah. Keputusasaan menghantam dada Julio.

Namun, sebuah suara terdengar di telinga Julio. Suara yang diperkeras oleh alat sihir.

‘Saya Pangeran Kedelapan Kekaisaran, Leonard Lakes Adler. Kapal kami saat ini sedang menyelamatkan korban selamat dari kapal Kadipaten Albatro. Kami akan menyelamatkan kalian secara berurutan, tapi bagi yang masih punya tenaga, silakan berenang mendekati kapal. Bagi yang tidak, mohon bertahan sedikit lagi. Kami pasti akan menolong kalian.’

Mendengar suara itu, air mata Julio mengalir tanpa sadar. Tapi, dia segera menghapusnya.

"Semuanya, ayo pergi! Kita harus segera merawat yang terluka!"

"B-baik!"

"Ayo! Sedikit lagi!"

Maka, Julio dan yang lainnya bergegas menuju kapal Kekaisaran yang terlihat di kejauhan.


Arnold yang memerankan Leo meletakkan gagang alat sihir pengeras suara, lalu menghela napas.

"Semoga ini bisa mempermudah pekerjaan."

"Sepertinya akan sulit. Para korban yang sudah kita selamatkan sejauh ini juga hampir tidak bisa naik sendiri. Mengingat mereka sudah terapung-apung begitu lama, mau bagaimana lagi."

"Aku tahu.... Kapten! Selain penjaga minimal, aku ingin semua orang dialihkan untuk operasi penyelamatan!"

"Lagi-lagi perintah seperti itu...!? Bagaimana jika Naga Laut datang!?"

"Kalau sampai ketahuan, saat itu juga riwayat kita tamat. Lebih baik menyelesaikan operasi penyelamatan dengan cepat daripada hanya mengawasi."

"Bagaimana dengan monster lain!?"

"Tidak ada monster di sekitar sini. Tidak ada monster yang akan mendekati tempat yang baru saja dilewati Naga Laut."

Sambil berkata begitu, Arnold ikut membantu operasi penyelamatan.

Karena Leo pasti akan melakukannya. Dari sudut pandang Arnold, dia lebih suka mengamati situasi dari belakang dan memberi perintah, tapi sekarang dia adalah Leo, jadi dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada pilihan lain.

Mereka baru saja menarik sekelompok empat atau lima orang. Semuanya gemetar kedinginan. Arnold menyelimuti para korban dengan selimut yang telah disiapkan.

"Kalian sudah berjuang keras. Sekarang sudah aman."

"Terima kasih... terima kasih banyak...."

Melihat para awak kapal yang menangis sambil berterima kasih, Arnold bisa membayangkan betapa mengerikan dan menyakitkan pengalaman mereka. Di tengah-tengah itu, informasi baru masuk.

"Sejumlah besar korban selamat di sisi kiri! Ada sekitar lima puluh orang!"

"Lima puluh!? Tidak ada cukup ruang untuk sebanyak itu!?"

Mereka sudah menyelamatkan lebih dari sepuluh orang, dan tambahan lima puluh orang lagi tidak akan muat di kapal ini. Jumlah awak kapal normal saja tidak sampai seratus orang. Ruang di kapal ini jelas tidak cukup.

Karena itu, Arnold dipaksa untuk membuat keputusan. Keputusan tentang apa yang harus dikorbankan.

"Bagaimana, Yang Mulia? Jumlah korban selamat lebih banyak dari perkiraan."

"Yah, aku sudah menduganya... mereka punya tiga kapal, kita hanya satu. Kalau yang beruntung cukup banyak, sudah jelas akan jadi begini."

"Kalau begitu, Anda sudah memikirkan solusinya, kan?"

Kesatria paruh baya itu bertanya dengan penuh harap. Menanggapi pertanyaan itu, Arnold menunjukkan ekspresi masam.

Karena itu adalah keputusan terburuk bagi Arnold. Tapi, dia harus melakukannya.

"Buang semua yang ada di gudang ke laut, kecuali makanan."

"...Termasuk buah tangan untuk Rondine?"

"Tentu saja, semuanya."

Bahkan kesatria paruh baya itu pun terdiam.

Kapal ini adalah kapal yang dinaiki Leo, dan barang-barang yang dibawanya jauh lebih berharga daripada yang ada di kapal Arnold. Senjata terbaru dan harta karun emas perak yang rencananya akan diberikan kepada Rondine. Semua barang yang cukup untuk hidup bersenang-senang seumur hidup itu diputuskan Arnold untuk dibuang ke laut.

"Apakah tidak apa-apa? Melakukan hal seperti itu?"

"Sudah tidak apa-apa sejak awal. Kita tidak bisa pergi ke Rondine dengan membawa korban selamat sebanyak itu. Persediaan makanan dan air tidak akan cukup. Artinya, kita harus singgah di Albatro untuk mengisi perbekalan. Pada titik ini, kita sudah sangat terlambat. Ditambah lagi, Naga Laut bersembunyi di perairan ini. Entah kapan kita akan tiba di Rondine. Meskipun begitu, aku sudah memutuskan untuk menolong mereka. Satu-satunya yang harus kulindungi sekarang hanyalah reputasi Leo. Karena itu, aku akan menolong para korban selamat meskipun harus membuang segalanya. Ini mutlak. Jangan sayangkan harta, sayangkan nyawa. Mereka yang masih hidup sekarang, tak seorang pun boleh mati. Mengerti?"

"D-dimengerti...."

Melihat tekad di mata Arnold, kesatria paruh baya itu sejenak gentar.

Dia tanpa sadar merasa terintimidasi. Sambil terkejut dengan dirinya sendiri, kesatria paruh baya itu teringat akan kejadian hari itu. Sosok Arnold yang melepaskan gelangnya demi Erna.

Erna mengikuti Festival Perburuan Kesatria demi Arnold. Bagi Erna, membuat Arnold didiskualifikasi adalah tindakan yang tidak bisa diterima. Karena itu, Arnold lebih dulu mendiskualifikasi dirinya sendiri agar Erna bisa bergerak bebas. Itu adalah tindakan yang mulia.

Tindakan yang sama sekali tidak terbayangkan dari seseorang yang dijuluki Pangeran Ampas oleh publik.

Dan sekarang pun sama. Dia memerankan Leo dengan lebih dari sempurna. Perintahnya juga tepat sasaran.

"Anda benar-benar elang yang menyembunyikan cakarnya, ya...."

"Kau bilang sesuatu?"

"Tidak. Serahkan pembuangan barang pada Kesatria Pengawal Kekaisaran."

"Ya, aku mengandalkanmu. Semuanya, lanjutkan penyelamatan! Pokoknya, selamatkan siapa pun yang bisa diselamatkan! Aku yang akan bertanggung jawab!"

Sambil memberi perintah, Arnold melihat sekelompok orang yang mendekat. Di atas sekoci ada korban luka, dan di antara mereka terlihat sosok Eva. Di dekatnya, ada juga Julio.

"Putri dan Pangeran selamat, ya.... Dengan begini, bahan negosiasi dengan Yang Mulia Duke bertambah."

Sambil berpikir begitu, Arnold melemparkan tangga tali ke arah Julio dan yang lainnya. Namun, Julio tidak mencoba meraihnya.

"Pangeran Julio! Cepat naik!"

© 2026 Yozuku Novel Admin. All rights reserved.