Bab 3: Kegelapan yang Meliat

Volume 3 - Chapter 6

January 1, 2019


1

Kira-kira pada saat yang sama ketika Ar dan rombongannya tiba di wilayah Duke Rheinfeld, di Ibukota Kekaisaran, Fina sedang berada dalam situasi yang sangat sibuk.

"H-Hwaaah!? A-Apa yang harus kulakukan! Apa yang sebaiknya kulakukan!? Yulia-san!"

"Tetap diam saja di sana. Itu sudah lebih dari cukup."

"Toko dibukaaaa!!"

Begitu cabang Serikat Dagang Demihuman di Ibukota Kekaisaran dibuka, para pelanggan yang sudah membentuk antrean panjang langsung menyerbu masuk. Tujuan mereka adalah produk baru yang diluncurkan oleh Serikat Dagang Demihuman, yaitu "Air Kecantikan".

Produk itu sendiri sudah sangat unggul, tetapi Serikat Dagang Demihuman menambahkan sebuah slogan untuknya.

"Silaaakan! Air Kecantikan yang juga dipakai oleh Putri Camar Biru! 'Air Kamome' hanya tersedia tiga ratus buah saja!"

Seorang pegawai demi-human berwujud binatang buas mempromosikan produk unggulan itu dengan penampilan yang menggemaskan. Di sana, terdapat botol-botol berisi air bening. Meski air itu mengandung berbagai macam bahan, pandangan para pelanggan justru tertuju pada Fina.

"Benar-benar ada Fina-sama! Aku mau satu!"

"Itu benar-benar dia!! Aku mau tiga!"

"Lima untukku!"

"Repot sekali! Beri aku sepuluh!!"

Air kecantikan yang digunakan oleh wanita tercantik di Kekaisaran.

Bagi para wanita di Ibukota Kekaisaran, kata-kata itu bagaikan sihir. Para pelanggan yang menyerbu masuk ke toko dengan penuh semangat langsung menyambar Air Kecantikan itu, dan dalam sekejap, tiga ratus buah pun habis terjual.

Jika hanya sekadar slogan, mungkin penjualannya tidak akan meroket seperti ini. Namun, dari lantai dua toko cabang, Fina melambaikan tangannya.

Kehadiran sosok aslinya memberikan efek yang luar biasa, dan dalam beberapa hari sejak peluncurannya, Air Kamome menjadi produk kosmetik terlaris di Ibukota Kekaisaran.

"Kerja bagus, Fina."

"A-Aku terkejut sekali...."

Karena strategi yang ia rancang berhasil, Yulia terus tersenyum sepanjang waktu.

Di sisi lain, Fina merasa cemas setiap kali harus melihat para pelanggan wanita yang menyerbu masuk dengan semangat laksana kesatria yang menyerang pasukan musuh.

"Sebelum toko dibuka, semua orang melihat ke arahku... Aku jadi berpikir, bagaimana kalau mereka menyerbu ke arahku...."

"Maaf ya, tapi biasakanlah dirimu. Kau boleh mengharapkan imbalan yang setimpal, kok."

"Baik! Akan kucoba yang terbaik!"

Sosok Fina yang mengepalkan tangannya dengan erat tampak begitu manis, bahkan di mata Yulia yang juga seorang wanita.

Awalnya, banyak pelanggan pria yang berbondong-bondong datang untuk melihat sosoknya sekilas, tetapi karena Yulia tidak mengizinkan siapa pun selain pelanggan wanita untuk masuk, banyak dari mereka yang terpaksa menyerah.

Beberapa di antara mereka ada yang mencoba masuk dengan paksa, tetapi semuanya berakhir diseret keluar oleh para pengawal demi-human kebanggaan Serikat Dagang Demihuman.

Berkat hal itu, kabar bahwa keributan tidak akan ditoleransi di toko itu mulai menyebar di Ibukota Kekaisaran.

Melihat hal tersebut, Yulia memutuskan untuk melancarkan langkah berikutnya.

"Fina. Kita akan beralih ke strategi selanjutnya."

"Strategi selanjutnya? Apa yang harus kulakukan?"

"Sama seperti kali ini. Untuk sementara, lambaikan tanganmu dan tebarkan pesonamu. Keamanannya akan aku gandakan."

"Digandakan...."

Fina melihat sekelilingnya. Sudah ada tiga pengawal demi-human yang tegap di sekelilingnya. Kalau digandakan, berarti akan menjadi enam orang.

Membayangkan dirinya dikelilingi oleh enam demi-human berbadan besar, Fina menunjukkan raut panik.

"N-Nanti aku tidak akan terlihat...!"

"Tidak apa-apa. Selama kau terlihat sekilas. Selama mereka tahu Putri Camar Biru ada di sana, para pria itu akan berdatangan."

"B-Benarkah begitu?"

"Tentu saja. Akan kukuras uang dari para pria bodoh itu. Fufufu, camar yang terbang di langit takkan bisa kau tangkap, tahu."

"T-Tolong jangan berlebihan, ya...."

"Aku tahu. Akan kulakukan secukupnya. Secukupnya."

Sambil berkata begitu, Yulia menyunggingkan senyum licik. Melihat senyum itu, Fina berpikir senyum itu sedikit mirip dengan Ar saat merencanakan sesuatu yang jahil, tetapi ia tidak mengatakannya.

Keesokan harinya, Fina akhirnya berpikir bahwa kelicikan Yulia mungkin melebihi Ar.

"Silaaakan! Cabang Serikat Dagang Demihuman di Ibukota Kekaisaran dibukaaaa!"

Begitu para pegawai demi-human yang mengenakan kostum lucu membuka pintu, para pelanggan pria mengalir masuk ke dalam toko yang cukup besar itu.

Menghadap para pelanggan pria itu, Fina tersenyum kaku sambil melambaikan tangan.

"Uoooooooh!!!! Itu Fina-sama!! Fina-sama secara langsung! Lebih imut daripada yang kulihat di lukisan potret atau Kertas Ilusi!!"

"Cantik sekali! Menyilaukan! Seolah bersinar!"

"Harus kurekam dalam ingatanku! Ini akan jadi kenangan seumur hidup!"

Serikat Dagang Demihuman telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk berpromosi di seluruh Ibukota Kekaisaran, menggunakan poster dengan potret Fina dan juga Kertas Ilusi, sebuah alat sihir produksi massal yang bisa memunculkan ilusi untuk waktu tertentu.

Bisa bertemu dengan Putri Camar Biru walau hanya sekilas. Nilai tambah itu membuat para pelanggan pria bergegas menuju cabang Ibukota Kekaisaran.

Namun, di antara mereka, ada juga yang tidak membaca dengan saksama apa yang tertulis di poster.

"Fina-sama! Tolong lihat kemari! Fina-sama!"

"Hei, brengsek! Kalau kau tidak datang untuk membeli produk, sana pulang!"

"Berisik! Aku tidak berniat membeli produk apa pun!"

Pemuda yang meneriakkan hal itu dengan suara keras langsung ditahan dengan erat oleh seorang pengawal demi-human berbadan besar yang melangkah masuk ke dalam toko.

"A-Apa-apaan ini!?"

"Tuan Pelanggan. Apakah Anda mengetahui catatan peringatan di poster kami?"

"Hah!? Catatan peringatan!?"

Melihat reaksi pelanggan itu, si pengawal menghela napas dengan ekspresi jengkel, lalu menunjuk ke bagian bawah poster.

Di sana, dengan huruf yang cukup besar, tertulis, "Pelanggan yang tidak membeli produk dilarang masuk. Yang melanggar akan dikenai denda."

Pemuda yang tidak membacanya dengan saksama itu langsung pucat pasi, tetapi semua sudah terlambat.

Ia diseret oleh pengawal itu menuju ke belakang toko.

"Y-Yulia-san...."

"Tenang saja, aku tidak akan berlaku kasar. Aku hanya akan menyuruhnya membeli produk. Kalau dia tidak punya uang, akan kusuruh dia bekerja sebagai gantinya."

"O-Oh, begitu ya...."

Fina menghela napas lega.

Melihat keadaan Fina, Yulia tertawa kecil.

"A-Ada apa?"

"Tidak, aku hanya berpikir betapa baiknya dirimu. Biasanya, orang tidak akan mengkhawatirkan orang seperti itu."

"B-Benarkah begitu?"

"Biasanya, ya. Tapi, kurasa kau tidak apa-apa seperti itu. Toh, sudah ada orang licik sepertiku, jadi tidak masalah jika ada anak baik sepertimu, kan?"

"Yulia-san itu sangat baik, kok!"

"Oh ya? Padahal aku hanya memikirkan cara menguras uang dari para pria yang ada di sini, lho?"

"Anda tidak perlu menyembunyikannya! Saya tahu, kok. Saya tahu Yulia-san memprioritaskan pemasangan poster di tempat-tempat orang kaya, atau bagaimana Anda mengadakan pembagian makanan untuk orang-orang di lapisan luar, dan masih banyak lagi!"

Bukan berarti boleh menguras uang dari orang kaya, tetapi tetap saja Yulia tidak pernah menargetkan orang-orang yang tidak punya uang. Itu adalah prinsip dasarnya.

Di Serikat Dagang Demihuman, banyak berkumpul mereka yang tidak bisa berbaur dengan masyarakat manusia dan terisolasi. Banyak di antara mereka yang pernah mengalami kemiskinan yang parah. Karena telah melihat orang-orang seperti itu, Yulia secara rutin mengadakan pembagian makanan untuk kaum miskin yang tinggal di lapisan luar kota.

Itu sudah ia lakukan bahkan sebelum cabang Ibukota Kekaisaran dibuka.

Yulia melakukan kegiatan yang tidak menghasilkan keuntungan itu dengan menggunakan uang pribadinya.

"Kenapa kau bisa tahu hal seperti itu?"

Yulia bergumam dengan ekspresi canggung, tetapi Fina tersenyum cerah dan melihat para pengawal di sekitarnya.

Karena berada di toko cabang yang tidak bisa dibilang lebih aman daripada istana, para pengawal selalu menempel pada Fina. Fina sering mengajak bicara para pengawal itu sambil tersenyum dan berhasil mendapatkan berbagai macam informasi dari mereka.

"Dasar pengawal cerewet."

"Mohon maaf... saya tidak sengaja."

"Haaah...."

"Semuanya memuji Yulia-san! Mereka bilang Anda orang yang hebat! Ada berbagai macam demi-human di benua ini, dan karena berbagai rumor buruk, mereka dibenci oleh manusia. Karena itulah Anda mendirikan Serikat Dagang Demihuman, kan! Agar bisa menjadi wadah bagi para demi-human yang kesepian. Agar bisa memperbaiki reputasi demi-human walau hanya sedikit. Saya sangat terharu!"

"Dasar... kalian menceritakan kisah yang disukai oleh nona muda yang baik hati ini."

"Karena itu adalah fakta."

Yulia menendang kaki para pengawalnya dengan pelan. Hanya itu saja.

Yulia lalu turun ke lantai bawah dengan alasan akan memeriksa hasil penjualan.

"Apa beliau marah, ya?"

"Saya rasa beliau hanya malu."

"Begitu ya. Manis sekali, ya. Yulia-san."

Sambil mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat Yulia marah jika mendengarnya, Fina melambaikan tangan kepada para pelanggan di bawah.

Hal itu berlanjut untuk beberapa saat, dan ketika para pelanggan selesai berbelanja, Fina pun mundur ke bagian belakang toko. Ini karena jika Fina tetap di sana, para pelanggan tidak akan mau pulang.

"Fuh, lelahnya."

"Kerja bagus."

Yulia mengucapkan kata-kata penyemangat kepada Fina sambil menyerahkan secangkir teh.

Di tangannya, ada secarik kertas bertuliskan hasil penjualan hari ini. Angka yang tertulis di sana adalah angka yang jarang dilihat bahkan oleh Yulia yang sudah lama berbisnis.

"Aku salah menilai efek Putri Camar Biru di Ibukota Kekaisaran. Aku harus meninjaunya kembali."

"Apakah efeknya tidak terlalu besar!?"

"Justru sebaliknya. Efeknya terlalu besar. Kalau aku tidak segera memasok barang, stoknya akan habis dalam sekejap."

"Ah, begitu ya! Syukurlah!"

Merasa dirinya juga berguna, Fina meminum tehnya dengan wajah gembira.

Melihat Fina yang seperti itu, Yulia merasa hangat, menganggapnya sebagai gadis yang tulus. Dan pada saat yang sama, ia berharap Fina akan selalu seperti itu.

Namun, ia juga tahu betul bahwa itu adalah harapan yang terlalu indah. Saat ini, perebutan takhta sedang berlangsung sengit. Pihak lawan tidak akan semanis itu untuk hanya diam dan melihat kesuksesan kubu saingannya.

Jika mereka melangkah lebih jauh dengan menjadikan kesuksesan kali ini sebagai pijakan, pasti akan ada gangguan. Masalahnya adalah kapan gangguan itu akan datang.

Mengingat Leo yang memimpin faksi sedang pergi ke selatan atas perintah kekaisaran, mereka mungkin tidak akan melakukan gerakan yang mencolok, tetapi tidak bisa dipastikan mereka tidak akan melakukan apa-apa. Biasanya, tidak akan ada yang berani mengganggu Fina, yang merupakan putri seorang Duke dan kesayangan Kaisar, tetapi lawannya adalah para kandidat takhta. Mereka bukan orang-orang yang akan takut pada Fina.

Urusan kekerasan berada di luar yurisdiksinya. Itu adalah hal yang harus ditangani oleh pangeran kembar. Namun, jika menyangkut urusan bisnis, ceritanya berbeda. Sambil mempertimbangkan kemungkinan adanya gangguan, Yulia mulai memikirkan langkah selanjutnya.

Di tengah-tengah itu, tiba-tiba Sebastian muncul di tempat itu.

"Permisi atas kedatangan saya yang tiba-tiba, Fina-sama. Mohon segera kembali ke istana."

"Apakah terjadi sesuatu?"

"Benar. Putri Christa membutuhkan Fina-sama."

Hanya dengan itu, Fina menyadari bahwa Christa telah melihat masa depan lagi.

2

"Putri Christa, Nyonya Mitsuba. Mohon maaf atas keterlambatan saya."

Setelah kembali ke istana, Fina segera mengunjungi kamar Mitsuba. Di sana, ada Christa yang tidak bergerak sambil memeluk Mitsuba.

"Fina-san... maafkan aku, ya. Tiba-tiba memanggilmu."

"Tidak apa-apa. Jadi, kali ini apa yang Anda lihat?"

Masa depan yang cukup penting sampai harus menggunakan Sebastian untuk memanggilnya kembali dengan tergesa-gesa. Fina merasa tidak ada waktu untuk berbicara santai, jadi ia langsung menanyakan detailnya.

Wajah Mitsuba sedikit mendung. Melihat itu, Fina merasakan firasat buruk. Dan firasat itu tidak salah.

"...Ayahanda mengadakan Rapat Dewan Penasihat tentang keadaan darurat yang akan terjadi di selatan... di tengah-tengah rapat itu... Ayahanda... pingsan...."

Christa, yang gemetar sambil berpegangan pada Mitsuba, memberitahukan masa depan yang ia lihat dengan suara yang seolah dipaksakan. Isinya adalah sesuatu yang bisa mengguncang seluruh Kekaisaran.

"Yang Mulia Kaisar...."

Bergumam, Fina menyadari tangannya gemetar. Dengan tangan yang satu lagi, ia menggenggamnya erat seolah memerintahkan getaran itu untuk berhenti, lalu menarik napas dalam-dalam.

Kaisar pingsan. Itu adalah insiden besar. Namun, ada beberapa kemungkinan skenario dari kata 'pingsan'.

"Apakah itu... berarti Anda melihat kematian Yang Mulia Kaisar?"

"...Bukan... Ayahanda hanya pingsan... Cara kelihatannya berbeda dengan masa depan saat seseorang akan meninggal...."

"Jadi sepertinya ini bukan masalah yang akan mengancam nyawa dalam waktu dekat, ya...."

Fina pernah mendengar bahwa penglihatan masa depan Christa memang tidak pasti, tetapi akurasinya sangat tinggi jika menyangkut kematian seseorang. Jika ia melihat kematian seseorang, hal itu hampir pasti akan menjadi kenyataan. Faktanya, ia juga berhasil meramalkan kematian Pangeran Mahkota yang berada di tempat yang jauh. Namun, saat ini, hal itu justru melegakan. Jika kematian tidak terlihat, kemungkinan Kaisar akan meninggal menjadi lebih rendah.

"Nyonya Mitsuba. Apakah Yang Mulia Kaisar memiliki penyakit tertentu?"

"Tidak, beliau tidak punya penyakit bawaan. Hanya saja, tiga tahun belakangan ini, stamina dan semangatnya terlihat mulai menurun."

"Sejak insiden di Wilayah Timur, Yang Mulia juga menjadi sibuk, jadi mungkin beliau pingsan karena kelelahan. Pemicunya adalah keadaan darurat yang akan terjadi di selatan."

"Kemungkinan itu cukup besar. Membunuh Yang Mulia hampir mustahil. Saat ini, Kesatria Pengawal Kekaisaran menjaganya dengan kekuatan penuh. Racun juga tidak akan berhasil, kurasa. Sebas, apa ada cara lain?"

"Trik-trik kecil tidak akan mempan. Baik itu racun maupun sihir, mustahil bisa melukai Yang Mulia Kaisar. Jika ingin mengalahkannya, menerobos penjaga dengan paksa adalah cara yang paling mungkin. Walaupun kalau itu bisa dilakukan, tidak akan ada yang perlu bersusah payah,"

Mendengar kata-kata Sebastian, seorang pembunuh bayaran kelas atas, Fina menjadi lebih yakin dengan pikirannya. Bukan pembunuhan, melainkan masalah yang timbul dari tubuh Kaisar sendiri. Jika begitu, akan lebih mudah untuk mengambil tindakan pencegahan.

"Kalau begitu, Nyonya Mitsuba. Bisakah Anda memperhatikan kesehatan Yang Mulia Kaisar?"

"Baiklah. Aku akan menyarankan agar dokter istana memeriksanya karena aku khawatir dengan kondisi Yang Mulia. Tapi, kalau Christa sudah melihatnya, kurasa akan sulit untuk mengubahnya."

"Benar. Kemungkinan besar tidak akan berubah. Mengubah masa depan di mana Yang Mulia Kaisar pingsan adalah hal yang mustahil bagi kita. Kita tidak bisa menghilangkan kelelahan yang menumpuk, maupun menghentikan peristiwa di selatan yang menjadi pemicunya. Jika ada waktu mungkin bisa, tetapi jika masalah terjadi di selatan Kekaisaran, kemungkinan besar itu adalah masa depan yang tidak lama lagi."

Hampir pasti akan terjadi sesuatu di selatan, dan Leo pasti terlibat di dalamnya. Waktunya terlalu pas. Dan, hal itu mau tidak mau akan sampai ke telinga Kaisar. Selama peristiwa pemicunya tidak bisa diubah, kondisi kesehatan yang memburuk tidak bisa dihindari.

"Kalau begitu, sebaiknya kita tidak memberitahu Yang Mulia tentang Christa, ya."

Mendengar kata-kata Mitsuba, Fina terdiam sejenak. Sebagai rakyat Kekaisaran, ia merasa ragu untuk diam saja saat mengetahui krisis yang akan menimpa Kaisar.

Bahwa nyawanya tidak dalam bahaya hanyalah sebuah spekulasi. Mungkin saja itu adalah penyakit serius. Kemungkinan itu tidak bisa dikesampingkan.

Pikirannya berputar-putar di kepala. Namun, tidak ada jawaban yang muncul. Tetapi, di tengah kebingungannya, mata Fina tiba-tiba menangkap wajah Christa.

Ekspresi ketakutan. Yang tiba-tiba ia lihat adalah sosok ayahnya yang pingsan. Bahkan tanpa sempat bersiap, ia hanya bisa merasa takut pada masa depan itu.

Melihat sosok Christa, jawaban di dalam diri Fina pun menjadi bulat.

"...Benar. Ini adalah rahasia yang selama ini Tuan Ar jaga. Jika mengungkapkannya bisa mengubah sesuatu, maka kita harus mengungkapkannya. Tetapi jika tidak, itu hanya akan membawa risiko. Yang Mulia juga seorang manusia. Jika beliau tahu seseorang bisa melihat masa depan, mungkin beliau akan mulai bergantung pada Putri Christa. Itu pasti akan menjadi beban bagi sang Putri. Untuk saat ini, saya rasa cukup dengan tindakan pencegahan berupa Nyonya Mitsuba yang memperhatikan kondisi Yang Mulia Kaisar, termasuk dengan melibatkan dokter istana."

"Terima kasih, Fina-san. Terima kasih sudah memikirkan Christa. Kau sangat membantu. Pasti Ar juga akan mengatakan hal yang sama. Anak itu tidak akan mengungkapkan tentang kekuatan Christa, bahkan jika lawannya adalah Yang Mulia. Kaisar akan memprioritaskan kepentingan Kekaisaran. Sebelum menjadi seorang ayah, ia adalah seorang kaisar. Jika diperlukan, mencoba memanfaatkan kekuatan Christa adalah hal yang wajar sebagai seorang kaisar. Karena Ar berpikir begitu, ia tidak akan memberitahu siapa pun, dan tidak akan membiarkan siapa pun memberitahukannya. Itu tidak terkecuali bahkan untuk Leo. Meskipun, kurasa Leo pasti sudah menduga ada sesuatu dengan Christa."

Ia tidak bertanya karena tidak ada yang memberitahunya. Dan dalam banyak kasus, Ar selalu ada di sisi Christa. Karena itu, Leo tidak pernah bertanya apa pun tentang Christa. Ia memiliki kepercayaan mutlak pada Ar, bahwa jika ada masalah, Ar akan memberitahunya.

Mitsuba juga memahami hal itu. Keduanya saling mempercayai satu sama lain, dan bisa berkomunikasi seolah bisa membaca pikiran masing-masing.

Anak kembarnya terikat oleh ikatan yang kuat. Karena itulah, Mitsuba merasa bersyukur atas kehadiran Fina. Karena bagi mereka berdua, orang yang bisa mereka percayai dengan kuat selain satu sama lain adalah eksistensi yang langka.

"Aku benar-benar tidak akan pernah bisa cukup berterima kasih padamu, Fina-san. Aku senang kau ada di sisi anak-anakku. Baik Ar, Leo, maupun Christa, dan tentu saja aku juga. Kami hanya terus merepotkanmu. Maafkan aku, ya."

"T-Tidak, tidak apa-apa... Tolong angkat kepala Anda, Nyonya Mitsuba."

Fina panik melihat Mitsuba menundukkan kepalanya. Meskipun ia adalah putri seorang Duke, status selir lebih tinggi. Terlebih lagi, ia adalah ibu dari Ar dan yang lainnya.

Tidak tahu harus berbuat apa, Fina melirik ke arah Sebastian. Namun, Sebastian hanya tersenyum seolah merasa geli.

"Uhm, uhm... a-awawa...."

"...Selama kau yang baik hati ada di sisinya, anak-anak itu pasti akan baik-baik saja. Bahkan di tengah perebutan takhta yang penuh dengan tipu daya, fitnah, dan saling menjatuhkan, mereka pasti tidak akan kehilangan jati diri. Aku memang membiarkan mereka melakukan apa yang mereka suka... tapi aku tetap khawatir apakah mereka akan tersesat. Tolong, ya. Aku bisa mempercayakan anak-anakku padamu."

"...Saya bukanlah orang sehebat yang Nyonya Mitsuba katakan. Tetapi... saya akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi harapan Anda."

"Terima kasih. Kata-kata itu sudah cukup. Kalau begitu, ayo kita segera bergerak."

"Baik! Sebastian-san. Maaf merepotkan, tapi tolong gunakan semua koneksi Anda untuk menyebarkan rumor kepada para petualang."

"Rumor seperti apa?"

"Akan ada permintaan besar dalam waktu dekat. Karena itu, lebih baik selesaikan permintaan yang ada sekarang. Tolong sebarkan rumor seperti itu. Dengan begitu, banyak petualang yang akan senggang. Jika Yang Mulia Kaisar pingsan, baik militer maupun kesatria tidak akan bisa bergerak dengan cepat. Yang bisa diandalkan adalah para petualang."

"Baik, saya mengerti."

Mendengar alasannya, Sebastian mengangguk puas. Itu karena jawaban Fina hampir sempurna.

"Dan juga, tolong hubungi Serikat Dagang Demihuman. Katakan pada mereka mungkin kita akan membutuhkan uang."

"Itu juga saya mengerti. Kalau begitu, saya permisi."

Mengatakan itu, Sebastian menghilang dari tempat itu. Dan Fina pun beranjak pergi.

Jika masalah terjadi di selatan Kekaisaran, Ar pasti akan bergerak. Ia harus membantunya. Ia harus melakukan apa yang bisa ia lakukan agar Ar bisa bergerak semudah mungkin.

Karena itu adalah perannya sebagai satu-satunya orang yang berbagi rahasia dengannya.

Sambil bergumam begitu dalam hatinya, Fina pun mulai bergerak.

3

Sebuah daerah perbatasan di selatan Kekaisaran. Di sebuah desa yang terletak di dalam hutan lebat, Leo datang berkunjung.

"Salam kenal, Kepala Desa. Saya Pangeran Kedelapan, Leonard Lakes Adler."

Sambil berkata begitu, Leo menundukkan kepalanya kepada seorang wanita tua berambut putih yang tinggal di rumah terbesar di desa itu.

Wanita tua yang dipanggil Kepala Desa itu menundukkan kepalanya sebagai balasan dengan tubuh kecilnya yang gemetar.

"Saya Mao... Kepala Desa Hiina. Terima kasih banyak, Yang Mulia Pangeran, sudah bersusah payah datang ke desa seperti ini."

"Tidak apa-apa, desa apa pun adalah desa Kekaisaran. Keluarga kekaisaran bertanggung jawab atas semua rakyatnya."

Sambil menjawab begitu, Leo tersenyum lembut.

Mendengar kata-kata Leo, satu orang lagi yang berada di dalam rumah itu bersiul.

"Aku terkejut. Apa bisa kembar tapi begitu berbeda?"

"Bagaimana kelihatannya kakakku di matamu?"

"Sombong."

Yang bersandar di dinding adalah seorang pria berambut merah.

Itu adalah Abel, yang atas permintaan Ar, memimpin para petualang untuk menjaga desa.

Melihat Abel yang berbicara blak-blakan layaknya seorang petualang, Leo mendapatkan kesan yang baik.

"Begitu, ya. Mungkin Anda akan terkejut jika melihat kakakku yang biasanya."

"Kuharap begitu. Pangeran itu menyuruh kami menjaga desa terpencil dengan bayaran yang konyol. Sampai kami tiba di sini, semua orang ketakutan, membayangkan monster apa yang akan muncul."

"Bagaimana hasilnya?"

"Tidak ada monster. Desa yang damai. Hanya saja, seperti yang kudengar, memang ada orang-orang yang sepertinya penculik. Melihat kami menjaga desa, mereka tidak berani menyentuh penduduk desa, tapi sesekali kami melihat mereka. Tetap saja, ini tidak sepadan dengan bayaran yang konyol itu. Permintaan yang mudah."

Seharusnya itu adalah hal yang baik bagi seorang petualang, tetapi Abel tampak tidak puas.

Merasakan profesionalisme di sana, Leo tersenyum kecut.

Jika bayarannya murah, mereka marah, jika terlalu tinggi, mereka tidak puas. Petualang memang makhluk yang merepotkan. Namun, Leo menyukai orang-orang yang hidup bebas seperti mereka.

"Yang sulit baru akan dimulai. Aku akan mengejar organisasi penculik ini. Kemungkinan besar, penguasa wilayah yang seharusnya memerintah desa ini juga terlibat."

"Oh? Apa dasarmu?"

"Aku sengaja tidak mampir ke kota penguasa wilayah, tetapi aku menunjukkan gelagat seolah-olah akan mampir. Saat itu, penguasa wilayah sangat panik dan melakukan gerakan yang mencurigakan. Jika ia hanya tidak mengetahui adanya desa terpencil dan mengabaikan permintaan desa, seharusnya ia hanya perlu menunjukkan gerakan untuk menyambutku. Namun, penguasa wilayah itu mencoba menghubungi seseorang. Gerakan itu sudah cukup untuk memperdalam kecurigaan."

"Mungkin dia hanya terlalu bersemangat?"

"Mungkin saja. Namun, saat aku datang, para bangsawan di selatan seharusnya sudah tahu tujuanku. Jika mereka hanya tidak menyadarinya dan melewatkannya, mereka pasti akan mencoba memberikan respons minimal. Faktanya, para penguasa wilayah lain di dekat perbatasan sudah mengambil tindakan terhadap desa-desa pengungsi. Tapi, penguasa wilayah itu masih belum bergerak."

"Kukira kau hanya mampir-mampir saja, tapi ternyata kau melakukan banyak hal. Kau memang sehebat yang dikabarkan."

"Entahlah soal penilaian itu. Aku belum mencapai apa-apa."

Leo berkata begitu sambil menunduk. Itu adalah perasaannya yang jujur.

Saat Festival Perburuan, meskipun ia memimpin para kesatria, ia tidak bisa menjadi penentu kemenangan. Yang berhasil memenangkan kepercayaan kedua negara sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh juga bukan Leo, melainkan Ar yang menyamar sebagai Leo.

Sejak bergabung dalam perebutan takhta, ia belum mencapai apa pun.

Oleh karena itu, Leo memiliki perasaan yang luar biasa terhadap kasus kali ini. Ia tidak bisa membiarkan seseorang mendudukkannya di takhta. Orang yang tidak bisa menunjukkan tekad untuk menjadi kaisar dan bertindak tidak pantas menjadi kaisar. Jika ia bahkan tidak bisa menyelesaikan masalah di perbatasan selatan, menjadi kaisar hanyalah mimpi di siang bolong.

Kata-kata itu keluar dari perasaan seperti itu.

"Yah, kalau kau berpikir begitu, mungkin memang begitu. Tidak sombong itu hal yang baik. Tapi jangan sampai kau kehilangan pandangan akan esensi masalah karena terburu-buru menyelesaikannya, ya?"

"Tentu saja. Yang pertama kupikirkan adalah desa ini, dan orang-orang yang diculik."

"...Lin adalah anak yang baik.... Meskipun ia yang paling menderita, ia tidak pernah menunjukkannya dan selalu bertindak demi desa."

"...Aku tidak menanyakan apa pun pada Linfia. Aku hanya membayangkan pasti ada kejadian besar yang membuatnya sampai harus meninggalkan desa."

"Benar... penculikan pertama terjadi sebelas tahun yang lalu. Kakak perempuan Lin yang tiga tahun lebih tua darinya. Saat itu Lin masih berusia lima tahun. Dan yang terakhir diculik adalah adiknya yang enam tahun lebih muda darinya. Itu terjadi pada hari saat Lin jatuh sakit dan terbaring di tempat tidur...."

"Kakak dan adiknya diculik...."

"Di antara saudara-saudaranya, hanya dia yang tidak memiliki heterokromia. Mungkin hal itu menjadi beban baginya. Karena anak-anak yang diculik selalu yang memiliki heterokromia. Sebelas tahun yang lalu, banyak pengungsi Dwarf masuk ke negara ini, dan penculikan yang menargetkan demi-human dan anak-anak dengan kekuatan khusus menjadi marak. Setelah Yang Mulia Kaisar mengumumkan bahwa semua pengungsi adalah rakyat Kekaisaran, frekuensinya memang berkurang, tetapi desa kami terus menjadi sasaran. Tidak ada yang menolong kami. Karena kami adalah pengungsi."

Sambil berkata begitu, kepala desa menghela napas dalam-dalam.

Para pengungsi juga tidak menjadi pengungsi atas kemauan mereka sendiri.

Sebagian besar pengungsi yang masuk ke Kekaisaran adalah mereka yang terusir dari tempat tinggalnya selama periode perang di selatan, atau mereka yang menjadi korban kebijakan eliminasi demi-human yang digalakkan oleh Kekaisaran Socal.

Kekaisaran bersikap toleran terhadap pengungsi. Namun, itu karena mereka ingin merekrut demi-human yang unggul, dan juga karena mereka tidak bisa hanya menindak manusia saja. Demihuman dengan teknologi unggul bisa aktif di berbagai tempat, tetapi mereka yang tidak memilikinya hanya bisa hidup diam-diam di perbatasan.

Sampai sebelas tahun yang lalu, mereka dianggap tidak ada. Namun, deklarasi Kaisar mengubah situasi. Para pengungsi bersukacita, tetapi itu tidak berarti segalanya berubah.

Kaisar saat itu mengakui para pengungsi di Kekaisaran sebagai rakyat Kekaisaran dan membebaskan mereka dari pajak selama lima tahun setelah diakui. Itu adalah kebijakan yang hanya menjadi beban bagi penguasa wilayah, tetapi kenyataannya, tidak ada desa pengungsi yang memiliki kemampuan untuk membayar pajak. Oleh karena itu, dalam lima tahun itu, mereka harus diintegrasikan ke dalam wilayah, melakukan perdagangan dan pembukaan lahan untuk menciptakan kemampuan membayar pajak. Itulah instruksi yang diberikan, tetapi beberapa penguasa wilayah sengaja mengabaikannya.

Karena itu tidak menguntungkan bagi mereka. Leo menunjukkan pemahaman tertentu akan hal itu. Ia berpikir bahwa jika memang begitu, masih ada ruang untuk pertimbangan. Karena penguasa wilayah juga punya alasan.

Namun, kasus kali ini berbeda. Desa ini adalah desa khusus. Banyak yang memiliki heterokromia, ada juga yang unggul seperti Linfia, dan banyak pemburu hebat. Jika ditambahkan ke dalam wilayah, seharusnya ada banyak keuntungan bagi penguasa wilayah. Namun, penguasa wilayah memperlakukan desa ini seolah-olah tidak ada. Padahal jika diselidiki, ia akan langsung tahu.

Itu karena jika ia melakukannya, keberadaan desa ini akan diketahui oleh pusat Kekaisaran. Ada sesuatu yang ingin disembunyikan oleh penguasa wilayah.

"Karena itulah Linfia datang kepada kami. Semuanya adalah tanggung jawab pusat yang tidak bisa memperhatikan sampai ke daerah perbatasan. Mohon maafkan kami."

"T-Tidak! Sama sekali tidak! Saya tidak bermaksud mengatakan itu! Tolong angkat kepala Anda!"

"Sebanyak apa pun saya meminta maaf, luka di hati Anda tidak akan sembuh.... Saya tidak bisa berjanji akan membawa mereka kembali, tetapi saya akan mencari penduduk desa yang diculik dengan sekuat tenaga. Dan saya juga akan mengungkap kejahatan penguasa wilayah. Saat itu, Yang Mulia Kaisar akan memberikan pengadilan yang adil."

"Terima kasih...! Terima kasih...!"

Kepala desa menundukkan kepalanya berkali-kali.

Setelah percakapan selesai, Leo keluar bersama Abel.

"Meskipun kau bilang begitu, ini akan jadi pekerjaan berat, tahu?"

"Kurasa juga begitu."

"Orang-orang yang mengintai desa ini, dari gerak-gerik dan perlengkapannya, mereka profesional. Kukira penculikan itu pekerjaan bandit atau preman, tapi aku belum pernah melihat yang seserius mereka. Itu artinya ini sudah menjadi bisnis yang mapan."

"Benar. Itu berarti ada organisasi besar di baliknya. Penguasa wilayah yang memiliki desa ini bukanlah penguasa besar. Kemungkinan besar, penguasa wilayah itu juga hanya dimanfaatkan."

"Ada kemungkinan bangsawan di seluruh wilayah selatan terlibat. Salah-salah bisa memicu pemberontakan di selatan, lho?"

"Kalau begitu, itu akan jadi kegagalan besar, ya."

Sambil berkata begitu, Leo tertawa. Masalah perbatasan selatan adalah masalah yang cocok untuk mendapatkan perhatian Kaisar. Namun, jika ia membiarkan pemberontakan bangsawan selatan terjadi, tanggung jawabnya bisa beralih ke Leo.

Itu adalah misi yang sangat berbahaya. Tidak masuk terlalu dalam, hanya menyelidiki bagian yang dangkal dan menyelesaikannya.

Itu bisa dibilang sebagai strategi yang efektif. Namun.

"Tetapi, setelah mendengar ceritanya, aku ingin menolong mereka. Apakah orang yang tidak bisa menolong orang yang ingin ia tolong bisa menjadi kaisar?"

"Entahlah. Tapi kalau ditanya kaisar mana yang kuinginkan, aku lebih suka kaisar yang menolong orang yang ingin ia tolong."

"Benar, kan? Karena itulah aku datang ke sini untuk memaksakan kehendakku. Aku sudah membayar bayaran yang tinggi. Maaf, tapi aku akan memintamu bekerja keras, ya?"

"Iya, iya. Sesuai perintah Anda...."

Insting petualangnya mengatakan bahwa ini adalah klien yang merepotkan.

Namun, ia sudah menerima uangnya. Sebagai seorang petualang, ia tidak bisa menolak permintaan yang sudah diterima.

Abel hanya bisa mengangkat bahu dan menjawab kata-kata Leo.

4

Kota Bassau di selatan Kekaisaran. Di sebuah rumah kecil di kota yang ukurannya termasuk kecil di antara banyak ibukota wilayah di selatan, Count Denis von Schitterheim, penguasa yang seharusnya memiliki desa Linfia sebagai wilayahnya, berada dalam kesulitan.

"Jadi... Duke Krüger tidak berniat menolongku?"

"Benar sekali."

Mendengar kata-kata utusan yang datang dari Sven von Krüger, Denis memasang wajah masam seolah menelan empedu.

"Lalu apa yang harus kulakukan?"

"Kami ingin Anda menjadi dalang dari insiden ini. Semuanya akan dianggap sebagai rekayasa Anda."

Utusan yang mengatakan hal seperti itu tersenyum. Ia yakin Denis akan menerimanya.

"Demi wilayah selatan, kah...."

"Tepat sekali. Sepertiga bangsawan selatan, termasuk Anda, telah bekerja sama dengan Duke Krüger. Kami ingin Anda berkorban untuk melindungi banyak bangsawan selatan. Toh, penyelidikan terhadap Anda sudah tidak bisa dihindari lagi."

Kenapa bisa jadi seperti ini? Denis menghela napas dalam-dalam. Denis berusia tiga puluh tiga tahun. Ia menjadi penguasa wilayah sepuluh tahun yang lalu, tetapi sekarang ia hanya merasa malu akan hal itu.

Awalnya, itu adalah wasiat ayahnya. Setahun setelah deklarasi Kaisar yang menjadikan para pengungsi sebagai rakyat Kekaisaran, ayah Denis meninggal dunia. Saat itu, ayah Denis berpesan kepada Denis bahwa meskipun para pengungsi adalah rakyat Kekaisaran, mereka sama sekali bukan rakyat wilayahnya.

Ayah Denis pernah terluka kakinya oleh pengungsi yang mengamuk, dan sejak saat itu, kakinya menjadi cacat. Itu adalah kata-kata penuh dendam yang berasal dari pengalaman itu, dan Denis yang masih muda menerimanya.

Beberapa tahun kemudian, hal itu terungkap oleh Duke Krüger. Diancam akan kehilangan posisinya sebagai penguasa wilayah jika masalah ini terungkap, ia terpaksa membantu organisasi penculik anak.

Sekarang, markas organisasi penculik itu telah dibuat di ruang bawah tanah rumahnya, dan para kesatria di bawah pengaruh Duke Krüger berlalu-lalang di rumahnya untuk mencegah pengkhianatan Denis.

Ia telah terpojok ke dalam situasi di mana ia tidak bisa mundur lagi, dan sekarang, ia akan dibuang.

"Jika aku patuh, apakah keselamatan rakyatku akan dijamin?"

"Tentu saja."

Kata-kata utusan itu terdengar sangat bohong.

Dulu, Denis pernah sekali mencoba mengajukan banding kepada Kaisar karena hati nuraninya. Saat itu, wilayah Count Schitterheim mengalami gangguan distribusi oleh para bangsawan selatan dan hasil panennya dirusak sebagai bentuk pelecehan besar-besaran. Hasil panen tidak tumbuh dengan baik, dan dengan terganggunya distribusi, mereka tidak punya pilihan selain kelaparan.

Denis meminta maaf kepada Duke Krüger dan bersumpah setia. Itu demi melindungi rakyatnya.

Jika ia mencoba berkhianat kali ini, apa yang akan terjadi pada rakyatnya. Karena itu, Denis sudah hampir menyerah.

"Kalau begitu, baiklah. Aku akan ditangkap sebagai dalangnya."

"Terima kasih. Kami tidak akan melupakan pengorbanan Anda demi wilayah selatan."

"Aku tidak butuh kata-kata seperti itu. Kenapa tidak jujur saja bilang demi Duke Krüger? Menguasai hampir seluruh wilayah selatan, bertingkah seperti raja, apa yang sebenarnya ia pikirkan?"

"Itu bukan urusan Anda."

"Bukan tidak ada urusannya. Aku akan menjadi batu loncatan bagi Duke Krüger. Apa dia berencana merebut takhta?"

"Huh... Tuanku tidak berpikir seperti itu. Anggap saja semuanya demi perebutan takhta."

"Begitu... jadi jika saatnya tiba, dia akan mengancam dengan pemberontakan selatan untuk mendudukkan Putri Sandra di takhta. Dengan begitu, Keluarga Duke Krüger akan menjadi kerabat dari pihak ibu yang paling berpengaruh. Mengingat Selir Kelima, dia pasti akan mengangkat orang-orang dari Keluarga Duke Krüger di sekelilingnya. Memang bukan perebutan takhta. Itu adalah pengambilalihan."

Meskipun menerima kritik tajam dari Denis, utusan itu tidak bergeming. Karena hal seperti itu bukan hal yang langka dalam sejarah Kekaisaran. Namun, kaisar yang terlalu mementingkan kerabat dari pihak ibu seperti itu tidak akan bertahan lama. Karena ia akan kehilangan dukungan dari bangsawan lain. Apa yang dipikirkan Duke Krüger tentang hal itu?

Pria yang mengendalikan organisasi penculik di belakang layar dan dengan cerdik merangkul para bangsawan selatan. Ia pasti memikirkan sesuatu. Namun, itu bukan urusannya lagi. Saat Denis mencibir pada dirinya sendiri, tiba-tiba sebilah pedang muncul dari tubuh si utusan.

"Ghoh...."

"A-Apa!?"

"Maafkan aku... Tuan Penguasa."

Yang bergumam adalah seorang kesatria wanita muda. Kesatria berambut cokelat terang mendekati oranye yang ditata sebahu itu, bagi Denis, bukan sekadar kesatria biasa.

"Rebecca!? Apa maksudmu!?"

"Jangan percaya apa yang mereka katakan! Mereka berniat membunuh Tuan!"

"Apa!?"

"Mereka berniat membunuh Tuan setelah membuat Anda menulis surat pengakuan, lalu menyerahkannya pada Pangeran Leonard! Cepat kita kabur!"

Ternyata, selain Rebecca, beberapa kesatria lain juga telah masuk ke dalam ruangan.

Mereka adalah segelintir kesatria yang masih setia pada Keluarga Count Schitterheim di rumah itu.

"Kita pergi ke tempat Pangeran Leonard dan laporkan kejahatan Duke! Pangeran adalah orang yang baik, bahkan tidak meninggalkan para korban di Kadipaten Albatro! Dia pasti akan menolong kita!"

"..."

Denis terdiam sejenak mendengar kata-kata Rebecca.

Mungkin ia bisa melarikan diri dari kota ini. Tapi, apakah ia bisa benar-benar lolos?

Tidak mungkin mereka tidak waspada terhadap pengkhianatan pada saat-saat genting seperti ini. Terlebih lagi, Denis pernah mencoba berkhianat sekali.

Pasti ada pasukan penyergap dalam perjalanan menuju tempat Leonard. Denis membaca situasi itu dan menghela napas dalam-dalam. Lalu ia menertawakan kebodohannya sendiri.

"Hahaha... aku memang pria yang tidak berguna."

"Tuan Penguasa?"

"...Kesatria Rebecca. Aku memberimu tugas."

Mengatakan itu, Denis menginjak lantai di sudut ruangan.

Lantai itu pun terbuka, dan dari dalamnya muncul sepucuk surat. Surat yang ditulis oleh Denis, yang mencatat kejahatan Duke Krüger dan bangsawan selatan lainnya.

Surat itu benar-benar ditulis oleh Denis sendiri, dan dibubuhi Segel Darah sihir yang digunakan saat kontrak khusus. Dengan adanya segel darah itu, kredibilitas surat ini meningkat.

"Bawa surat ini dan pergilah ke Ibukota Kekaisaran."

"Tidak mungkin!? Anda menyuruhku kabur sendiri!?"

"Kau adalah putri sahabatku. Bagiku yang tidak punya anak, kau sudah seperti putriku sendiri... karena itulah aku mempercayakannya padamu. Kumohon, pergilah ke Ibukota Kekaisaran dan serahkan surat ini pada Yang Mulia Kaisar."

"Aku tidak mau! Aku akan bersama Tuan!"

"Tidak boleh. Kau masih muda. Kau tidak seharusnya mati di sini."

Mengatakan itu, Denis mengambil pedang yang bersandar di dinding.

Melihat itu, Rebecca menyadari bahwa Denis berniat untuk mati. Sudah belasan tahun sejak ia kehilangan kedua orang tuanya saat masih kecil. Tuannya yang telah menjadi pengganti orang tuanya akan mati.

Rebecca tidak bisa menerima hal seperti itu.

"Aku juga akan bertarung! Aku akan membalas budi karena telah dibesarkan!"

"Aku tidak membesarkanmu untuk mati! Hiduplah... kumohon dengarkan permintaan dari diriku yang menyedihkan ini."

"Aku tidak mau! Aku tidak bisa mendengarkannya! Setidaknya, Tuan juga harus kabur bersama!"

"Aku telah menelantarkan banyak anak... aku tak lagi berpikir untuk terus hidup. Tentu saja ini bukan kematian yang terhormat. Keluargaku sudah tidak punya kehormatan lagi. Tapi, setidaknya di saat terakhir, aku harus memenuhi kewajibanku sebagai seorang bangsawan."

Mengatakan itu, Denis memandang para kesatria selain Rebecca.

Semuanya memasang wajah siap mati. Awalnya, mereka memang berniat untuk mati demi melarikan diri tuannya. Jika tuan mereka ingin melakukan sesuatu di saat terakhir, tidak ada yang akan menghentikannya.

"Kewajiban bangsawan... apa mati itu kewajiban!?

"Bukan, menyelamatkan. Anak-anak yang dikumpulkan dari selatan semuanya dipusatkan di sini sekali. Karena di sini mereka akan dinilai seberapa berharganya mereka. Masih banyak anak-anak di rumah ini. Aku tidak boleh kabur. Benar, kan?"

"Tapi... kalau begitu aku juga sebagai seorang kesatria!"

"Tugas seorang kesatria adalah mematuhi perintah tuannya. Aku tidak akan mengizinkanmu egois lagi! Pergi! Kesatria Rebecca!"

Nada bicaranya kuat dan tidak bisa dibantah.

Menerima perintah itu, Rebecca berlutut sambil meneteskan air mata dan menerima surat itu dengan hormat.

Lalu, terdengar suara langkah kaki dari luar. Mendengar itu, Denis memberikan instruksi terakhir.

"Keluarlah dari jendela. Selagi kami bertarung, sebarkan kabar bahwa ada pemberontakan di kota. Gunakan kekacauan itu untuk pergi ke Ibukota Kekaisaran!"

"Baik...."

Menerima instruksi itu, Rebecca bersiap di dekat jendela.

Lalu Denis menendang pintu hingga hancur dan mulai bertarung dengan para kesatria di bawah pengaruh Duke Krüger yang bergegas datang.

Merekam punggung itu di matanya, Rebecca keluar dari jendela. Lalu.

"Pemberontakan! Telah terjadi pemberontakan di rumah penguasa! Semuanya, lari!!"

Setelah keluar dari rumah, Rebecca berteriak sambil mulai berlari menempuh perjalanan panjang menuju Ibukota Kekaisaran.


"Uooooooh!!"

Denis menebas seorang kesatria dan menabrakkan dirinya ke kesatria yang lain.

Denis dan yang lainnya sudah berhasil masuk ke ruang bawah tanah rumah.

Ternyata, ada lebih banyak kesatria yang setia pada Denis di rumah itu daripada yang ia kira. Mereka berjuang dengan gagah berani demi tuan mereka dan mengalahkan para kesatria dari Keluarga Duke Krüger yang selama ini berjalan di rumah mereka dengan angkuh.

"Hiiiii!?"

"Minggir!"

Para pedagang budak yang ada di ruang bawah tanah itu ketakutan, tetapi Denis menebas leher mereka tanpa ragu.

Mereka adalah orang-orang suruhan Keluarga Krüger yang menyeleksi anak-anak di ruang bawah tanah rumahnya.

Denis tidak punya belas kasihan untuk mereka.

Lalu, Denis bersama beberapa kesatria akhirnya tiba di penjara tempat anak-anak ditahan.

Di dalam penjara yang remang-remang, puluhan anak-anak mengenakan kalung leher.

Melihat mereka semua kurus kering di dalam penjara yang tidak higienis, Denis dilanda penyesalan karena tidak bertindak lebih cepat.

"Sudah tidak apa-apa! Aku datang untuk menolong kalian!"

Mengatakan itu, Denis mengambil kunci dari penjaga yang telah ia bunuh dan membuka penjara.

Namun, anak-anak itu tetap berkerumun di sudut dan tidak mau bergerak.

Melihat itu, Denis menyarungkan pedangnya dan perlahan masuk ke dalam penjara.

"Sudah tidak apa-apa... aku akan mengeluarkan kalian dari sini...."

"Benarkah...?"

Seorang gadis kecil bergumam. Mata gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun itu berwarna merah dan biru karena heterokromia.

Menyadari bahwa ia mungkin anak dari desa pengungsi, Denis menggigit bibirnya.

"Ya, benar...."

"Bisa pulang ke desa...?"

"Ya, bisa pulang...."

"Bisa bertemu Kak Lin...?"

"Ya, tentu saja. Ada orang baik bernama Pangeran Leonard yang sudah dekat. Dia akan menolong kalian."

Denis mendekati gadis kecil itu dan memeluknya dengan lembut.

"Maaf... maafkan aku...."

"Aku mau pulang... aku mau pulang...."

Sambil mengelus rambut gadis kecil yang terisak-isak itu, Denis mengangguk dalam-dalam.

Denis memandang anak-anak lain dan menyatakan.

"Akan kupulangkan kalian semua. Aku janji."

Mendengar kata-kata itu, senyum muncul di wajah anak-anak. Tapi.

"Tidak bisa begitu."

"Ghoh...."

Seorang pria berpakaian hitam yang datang dari belakang menusuk dada Denis dari punggung.

Denis memuntahkan darah, tetapi ia mengerahkan sisa tenaganya untuk menarik pedangnya dan menyerang pria itu.

Namun, serangannya tidak mengenai sasaran. Pria ini adalah seorang instruktur yang melatih anak-anak berbakat menjadi pembunuh bayaran, dan lawan yang tidak bisa dikalahkan hanya dengan sedikit keahlian berpedang.

Terlebih lagi, dengan dada yang tertusuk dan dalam kondisi sekarat, sudah jelas ia tidak akan bisa menang.

Namun, Denis tidak menyerah. Karena ia tidak punya hak untuk menyerah.

Meski begitu, ada perbedaan kekuatan yang tidak bisa diatasi hanya dengan semangat.

Denis melancarkan tusukan dengan tekad mati.

"Uoooooooooooooooh!!!!"

"Menyedihkan sekali."

Menghindari tusukan itu, sang instruktur menebas leher Denis saat mereka berpapasan.

Kepala itu melayang di udara, lalu menggelinding dan berhenti di bawah kaki gadis kecil dengan heterokromia.

Melihat kepala pria yang mengatakan akan menolong mereka, gadis kecil itu sejenak tidak mengerti apa yang terjadi. Namun, saat matanya bertemu dengan mata Denis yang sedikit terbuka.

Harapan yang rapuh itu hancur berkeping-keping, dan rasa takut serta putus asa menguasai hati gadis kecil itu.

"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!"

Jeritan gadis kecil itu melengking tinggi dan bergema luas.

Bersamaan dengan itu, kedua matanya bersinar, dan penjara itu diselimuti oleh sesuatu yang hitam.

© 2026 Yozuku Novel Admin. All rights reserved.