Bonus: Trik Curang

Volume 2 - Chapter 12

January 1, 2019


Bonus E-book Cerpen Spesial "Trik Curang"

Bonus E-book Cerpen Spesial "Trik Curang"

"Kak, sudah lama kita tidak latihan pedang, kan? Mau latihan?"

"Tidak mau."

Di suatu siang yang terik.

Leo datang berkunjung ke kamarku di waktu yang pas sekali untuk tidur siang. Sampai di situ sih tidak masalah, tapi mengajakku latihan? Apa dia bodoh.

"Ayolah, sesekali tidak apa-apa, kan?"

"Tidak baik. Apa kau pikir latihan antara kau dan aku bisa disebut latihan?"

"Justru karena kupikir begitu, makanya aku mengajakmu."

"Itu salah paham. Kesalahpahaman seperti itu bisa berakibat fatal di medan perang."

Latihan antara aku dan Leo bisa disebut latihan? Konyol sekali.

Sebagai Silver, aku mungkin bisa mengatasinya dengan sihir, tapi sebagai Pangeran Ampas, aku payah dalam semua jenis aktivitas fisik.

Lagi pula, meskipun aku menggunakan sihir untuk membantu, kurangnya bakat bawaanku tidak bisa diapa-apakan.

Misalnya saja satu pukulan. Meskipun aku menggunakan sihir untuk menambah kekuatan otot, cara memukulku tidak akan berubah.

Kekuatannya ada, tapi tekniknya tidak ada. Pukulan seperti itulah yang akan tercipta.

Hal itu sudah menjelaskan segalanya. Karena hal-hal seperti itulah aku dijuluki Pangeran Ampas.

Tapi si bodoh ini malah....

"Aku tahu kok kekuatanmu. Aku tidak bermaksud mengajakmu latihan sungguhan. Aku hanya ingin kita adu pedang ringan saja."

"Bukan aku pun bisa, kan?"

"Latihan dengan Kakak adalah yang paling efektif."

Omong kosong.

Meskipun berpikir begitu, aku menghela napas dan bangkit dari kursi.


Tempat latihan di istana.

Mungkin ini pertama kalinya aku ke sini sejak disiksa oleh Erna.

Saat ini tidak ada yang menggunakannya, jadi hanya ada aku dan Leo. Kami saling berhadapan dengan memegang pedang kayu.

"Kalau begitu, aku mulai, ya~"

Dari suara santai tanpa ketegangan itu, meluncur sebuah serangan yang sangat tajam sampai membuatku terkejut.

Yah, bagi Leo itu mungkin serangan yang sudah sangat ditahan, tapi bagiku itu adalah serangan yang membuatku kewalahan hanya untuk menangkisnya.

Entah bagaimana aku berhasil menahannya, lalu Leo melancarkan serangan berikutnya.

Aku berhasil menangkisnya entah bagaimana.

Pengulangan itu terus berlanjut berkali-kali.

Leo mencoba menembus pertahananku, tapi ia tidak mengandalkan kecepatan atau kekuatan. Ia hanya mencoba menerobos dengan teknik.

Sebagai balasannya, aku memprediksi ke mana Leo akan menyerang, lalu bersiap dan bereaksi.

Leo pasti ingin melancarkan serangan yang tidak bisa kubaca sebagai saudara kembarnya.

Namun, kau masih terlalu hijau seratus tahun untuk menang adu taktik melawanku.

"Kenapa? Seranganmu jadi monoton."

"Hmm, pedas sekali. Kalau begitu, bagaimana dengan ini!"

Sambil berkata begitu, Leo melancarkan sebuah tusukan biasa ke arah tubuhku.

Mudah untuk ditangkis. Tapi pasti ada sesuatu.

Karena itu, sambil menangkisnya dengan pedang, aku sedikit menarik tubuhku ke belakang.

Lalu, pedang Leo meliuk masuk seolah melilit pedangku, dan menyerempet bajuku.

Sedikit lagi mengenai tubuhku, tapi jika aku tidak mundur, pasti sudah kena.

"Nyaris saja."

"Aah, ini juga gagal, ya... padahal sudah hampir berhasil."

"Kau terlalu naif. Aku menang."

Sambil berkata begitu, aku menyombongkan kemenanganku.

Namun, Leo hanya tersenyum cerah padaku.

"Entahlah. Erna, sesuai janji, aku berhasil membawa Kakak ke tempat latihan, lho~"

Apa!?

Aku sontak menoleh ke belakang.

Jika sampai Erna melihatku berlatih di tempat latihan, dia pasti akan berpikir bodoh seperti, "Akhirnya kau niat juga, ya," dan latihan mengerikan akan dimulai.

Gawat! Aku harus segera kabur!

Kesadaranku beralih dari mode bertarung ke mode kabur.

Aku segera mencari sosok Erna, tapi tidak ada tanda-tanda kehadirannya.

Tidak ada!? Jangan-jangan wanita itu sudah mengambil posisi di belakangku!?

Sambil berpikir begitu, aku berbalik dengan panik, dan Leo dengan ringan menyodok dadaku dengan pedangnya.

"Syuut. Aku menang~"

"...Hah?"

Melihat wajahku yang jelas-jelas kesal, Leo tetap tersenyum.

"Yah, aku mencoba menggunakan trik yang khas Kakak, bagaimana menurutmu?"

"...Menyedihkan sekali. Taktik licik itu senjatanya pihak yang lemah, tahu?"

"Benar. Aku sedang terdesak, jadi aku bertarung layaknya pihak yang lemah."

"...Apa tidak apa-apa seorang kandidat takhta seperti itu? Kalau mau mengakui kesalahanmu, sekaranglah saatnya. Kalau kau mengaku kalah karena curang, akan kumaafkan."

"Tidak mau. Aku yang menang. Lagi pula, sebagai seseorang yang mengincar takhta, aku harus bisa melakukan hal seperti ini."

Sambil berkata begitu, Leo meletakkan pedang kayunya dengan ekspresi lega.

Di sisi lain, aku yang tidak terima, mengikuti Leo dari belakang dan terus mengatakan bahwa dia kalah karena curang.

© 2026 Yozuku Novel Admin. All rights reserved.